Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalinan Baru yang Rapuh
Pagi itu, atmosfir di kediaman keluarga Ramiro terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang biasanya menggantung saat Denzel menyiapkan mobil untuk mengantar Leah. Sebaliknya, ada sebuah ketenangan yang palsu, sebuah dekorasi emosional yang sengaja dipasang oleh semua orang. Zefan Ramiro berdiri di teras depan, menyesap kopi hitamnya sambil memperhatikan Denzel yang sedang memeriksa tekanan ban mobil.
"Kudengar kau membawa Seraphina ke acara galeri semalam, Denzel," suara Zefan memecah keheningan pagi. Ada nada kepuasan yang tak tertutup dalam suaranya.
Denzel berdiri tegak, merapikan sarung tangan kulitnya. "Benar, Tuan Zefan. Nona Seraphina sangat menikmati pamerannya."
Zefan tersenyum tipis, menepuk bahu Denzel dengan cara yang jarang ia lakukan. "Bagus. Aku senang kau mulai membuka diri. Seraphina adalah putri dari kolega bisnis yang baik, dan melihatmu bersamanya... itu memberikan citra yang jauh lebih stabil bagi keluarga ini. Jeff juga sempat menyinggung hal itu. Dia bilang dia senang kau akhirnya menemukan 'kesibukan' sendiri."
Denzel hanya mengangguk kecil. Kesibukan. Itulah label yang diberikan pada penderitaannya. Bagi Zefan, hubungan Denzel dan Seraphina adalah aset strategis. Sebuah cara untuk meredam kecemburuan Jeff Chevalier yang berbahaya dan memastikan investasi perusahaan tetap mengalir.
Leah keluar dari pintu besar rumah, mengenakan blazer berwarna gading yang membuatnya tampak sangat anggun namun rapuh. Ia mendengar percakapan kakaknya dan Denzel. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat bagaimana Zefan memperlakukan Denzel sekarang—bukan lagi sebagai bayangan yang dicurigai, melainkan sebagai bidak yang telah berpindah ke kotak yang tepat.
"Ayo, Denzel. Aku ada kelas pagi," ucap Leah datar, melewati mereka berdua tanpa menatap mata siapa pun.
Di dalam mobil, keheningan yang menyelimuti mereka terasa lebih tajam dari biasanya. Jika dulu keheningan itu berisi komunikasi tanpa kata, kini keheningan itu adalah jurang yang dalam. Leah menatap keluar jendela, sementara Denzel fokus pada jalanan.
"Selamat, Denzel," bisik Leah tiba-tiba. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin. "Kak Zefan tampak sangat senang. Misiku berhasil, kan?"
Denzel mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Jika misi Anda adalah membuat semua orang merasa nyaman di atas kebohongan, maka ya, misi Anda sangat berhasil, Nona Leah."
"Jangan panggil aku 'Nona' seperti itu," desis Leah, ia menoleh dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau tahu kenapa aku melakukan ini."
"Saya tahu," sahut Denzel, suaranya kini terdengar seperti logam yang bergesekan. "Anda melakukan ini agar Anda bisa menatap cermin tanpa merasa bersalah saat Jeff Chevalier memegang tangan Anda. Anda memberikan saya pada Seraphina agar Anda punya alasan untuk tidak lagi peduli pada apa yang saya rasakan. Jalinan ini memang baru, Leah, tapi ini sangat rapuh. Dan kita berdua tahu siapa yang akan tertimpa saat ini runtuh."
Leah membuang muka kembali ke jendela. Ia tidak bisa membantah. Bagian dari dirinya memang merasa "tugasnya" selesai. Secara publik, Denzel adalah kekasih Seraphina. Seluruh kampus sekarang tahu. Status media sosial Seraphina dipenuhi dengan foto-foto samar tangan Denzel atau bayangan mereka berdua. Bagi dunia, ini adalah romansa yang manis. Bagi Leah, ini adalah hukuman mati yang ia jatuhkan sendiri.
Sesampainya di kampus, Seraphina sudah menunggu di gerbang fakultas. Begitu mobil berhenti, Seraphina segera menghampiri sisi pengemudi. Denzel turun, dan tanpa ragu, Seraphina merangkul lengan Denzel di hadapan mahasiswa yang berlalu-lalang.
"Pagi, Denzel! Pagi, Leah!" sapa Seraphina dengan keceriaan yang menyilaukan.
"Pagi, Sera," jawab Leah dengan senyum yang dipaksakan. Ia segera berjalan cepat masuk ke dalam gedung, tidak sanggup melihat bagaimana Denzel membiarkan Seraphina menyentuhnya.
Denzel berdiri di sana, memerankan perannya dengan kesempurnaan seorang aktor kawakan. Ia mengangguk pada teman-teman Seraphina yang menggoda mereka. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan basa-basi dengan kesopanan yang tak bercela. Secara publik, ia mengakui hubungan ini. Ia membiarkan gosip kampus mengunci identitasnya sebagai "Pacar Seraphina".
Namun, di balik topeng itu, jiwanya terasa mati rasa. Setiap kali Seraphina bersandar di bahunya, Denzel merasa seperti sedang mengkhianati setiap sel di tubuhnya yang hanya merindukan keberadaan Leah. Ia melihat Leah dari kejauhan, duduk di bangku taman sendirian, membaca buku dengan pandangan kosong. Denzel ingin berlari ke sana, mengusir semua kesepian dari wajah Leah, namun ia terikat oleh jalinan baru yang ia buat sendiri atas perintah Leah.
"Kau melamun lagi, Sayang," bisik Seraphina, menggunakan panggilan baru yang membuat Denzel merasa ingin muntah.
"Maaf, Sera. Hanya memikirkan jadwal audit Tuan Zefan," Denzel berbohong dengan lancar.
Seraphina tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Denzel. "Kau terlalu serius. Tapi tidak apa-apa, aku suka sisi seriusmu. Aku merasa sangat aman bersamamu."
Aman. Kata itu terasa seperti ejekan di telinga Denzel. Bagaimana mungkin seseorang merasa aman di atas fondasi yang terbuat dari pasir hisap? Jalinan mereka begitu rapuh sehingga embusan angin kebenaran sedikit saja bisa menghancurkannya. Namun bagi Seraphina, ini adalah segalanya. Harapan yang diberikan Denzel—meski palsu—telah tumbuh menjadi keyakinan yang kuat.
Siang itu, Jeff Chevalier muncul di kafetaria kampus. Ia melihat Denzel dan Seraphina duduk bersama. Jeff berjalan mendekat dengan gaya angkuhnya, lalu meletakkan tangannya di bahu Denzel.
"Kerja bagus, Denzel. Aku senang melihatmu sudah menetap," Jeff tertawa kecil, matanya melirik Leah yang duduk tak jauh dari sana. "Keluarga Ramiro memang hebat dalam mengatur... segalanya."
Denzel tidak menatap Jeff. Ia tetap memandang Seraphina, namun suaranya terdengar dingin. "Terima kasih, Tuan Chevalier. Saya hanya menjalankan apa yang seharusnya."
Leah, yang mendengar itu dari mejanya, merasakan ulu hatinya remuk. Apa yang seharusnya. Kalimat itu adalah pengingat bahwa Denzel sedang menjalankan hukuman.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang berulang. Pengakuan publik itu membuat Leah semakin terasing. Ia tidak lagi bisa memanggil Denzel sesuka hati untuk hal-hal sepele. Ia tidak lagi bisa mencari alasan untuk sekadar berbicara lama di dalam mobil, karena sekarang ada Seraphina yang selalu ikut dalam perjalanan pulang atau menunggu di depan rumah.
Denzel benar-benar membatasi dirinya. Ia menjadi asisten yang hanya bicara soal pekerjaan. Ia menjadi kekasih yang hanya bicara soal janji temu dengan Seraphina. Ia menciptakan tembok birokrasi antara dirinya dan Leah.
Leah merasa tugasnya telah selesai. Denzel tidak lagi menjadi sasaran kemarahan Jeff. Zefan mendapatkan ketenangan yang ia butuhkan untuk bisnisnya. Semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan, kecuali hati yang kini harus menanggung beban emosional sendirian.
Malam itu, Leah duduk di balkon kamarnya, melihat Denzel mengantar Seraphina pulang ke rumahnya sendiri (setelah menjemputnya lebih dulu). Ia melihat dari kejauhan bagaimana Denzel berdiri di samping mobil, menatap Seraphina masuk ke dalam rumahnya, namun begitu pintu tertutup, bahu Denzel merosot. Pria itu menundukkan kepalanya, berdiri diam di tengah kegelapan selama beberapa menit, seolah-olah berat dunia baru saja jatuh menghimpitnya.
Leah menyadari dampak emosional yang ia ciptakan. Ia mengira ia sedang menyelamatkan Denzel, namun ia justru sedang memenjarakan pria itu dalam kebohongan yang paling kejam. Dan ia sendiri? Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar memahaminya.
Jalinan baru itu memang telah terbentuk, kuat di mata publik, namun sangat rapuh di dalamnya. Sebuah jalinan yang diikat oleh rasa bersalah, kewajiban, dan cinta yang salah arah. Leah menutup pintu balkonnya, mematikan lampu, dan menangis dalam kegelapan, menyadari bahwa kemenangan yang ia cari hanyalah kekalahan yang dibungkus dengan indah.
Tanpa ia sadari, di bawah sana, Denzel masih berdiri di samping mobilnya, menatap ke arah balkon Leah yang kini gelap. Ia mengepalkan tangannya, berbisik pada angin malam yang dingin.
"Misi selesai, Leah. Kau sudah bebas dari rasa bersalahmu. Tapi siapa yang akan membebaskan aku dari keharusan untuk tidak mencintaimu?"