Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.
Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.
Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.
Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?
Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengisi keheningan
Malam belum sepenuhnya membuat Hanum dan Abi mengantuk. Hanum duduk di sofa menatap layar televisi dengan remote yang tergenggam di tangannya.
Abi datang membawa dua cangkir teh panas, lalu duduk di samping Hanum setelah meletakan tehnya ke meja, Abi mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengisi keheningan setelah ibunya tertidur.
"Aku temani ya, Num." Kata Abi yang hanya dijawab senyum serta anggukan kepala oleh Hanum.
Abi mengambil tangan Hanum, lalu ia benamkan sebuah kecupan lembut di punggung tangannya.
Meski rasa cinta masih belum sepenuhnya ada, namun keduanya sama-sama berjuang keras untuk membuat pernikahan mereka berhasil.
Hanum menarik tanganya sambil tersenyum malu, wajahnya kini tampak memerah. "Apaan sih, Bi?"
Abi pun tertawa lucu, lelaki tampan itu masih ada rasa canggung, belum terbiasa dengan status mereka yang dulunya hanya teman biasa dan sekarang tiba-tiba menjadi suami istri.
"Kok, apaan sih? Boleh dong aku buat adegan romantis sama istri sendiri?" Kata Abi yang memunculkan semburat merah di wajah Hanum.
"Aku malu tahu, Bi?" kata Hanum sambil menyembunyikan wajahnya dari Abi.
Abi mengangkat satu cangkir teh, lalu memberikannya pada Hanum. "Minum tehnya dulu biar nggak grogi," kata Abi dengan santainya.
Hanum tersenyum menatap Abi sambil menerima teh itu.
"Tehnya bisa tumpah kalau kamu lihatin aku terus." Goda Abi yang membuat keduanya jadi tertawa.
"Lucu ya, Bi?" kata Hanum.
"Apanya yang lucu?"
"Dulu kamu kebayang nggak, kalau kita akan jadi suami istri?" tanya Hanum yang dijawab gelengan kepala oleh Abi. "Sama, aku juga nggak pernah kepikiran soal ini."
"Siapa?"
"Aku."
"Yang nanya maksud aku," gurau Abi.
"Udah basi candaan itu, Bi." Katanya.
Beberapa saat setelah itu, keduanya terdiam. Rasa canggung membuat mereka seolah kehabisan kata-kata. Kemudian ponsel Abi berbunyi, menandakan ada pesan masuk.
Wajahnya kini tampak berbeda, seperti ada yang sedang ia sembunyikan.
"Siapa yang chat malam-malam begini, Bi?" tanya Hanum santai.
"Nggak, ini Ferdi nanya soal besok." Katanya.
"Siapa Ferdi?"
"Rekan kerja."
"Ooh."
Meski terdengar biasa saja, namun Hanum dapat menangkap wajah Abi yang sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi ia tetap diam dan berpura-pura biasa saja.
"Aku mau telepon Ferdi dulu ya, num?" pamit Abi.
"Iya," jawab Hanum tanpa banyak tanya.
Rasa penasaran semakin bertambah, saat Abi tak kunjung kembali. Hanum merasa berhak tahu siapa yang Abi telepon.
"Bi!" panggil Hanum sambil menepuk bahu Abi, yang membuat Abi terkejut hingga ponselnya terjatuh.
"Hanum?"
"Kenapa kaget gitu?" tanya Hanum sambil mengambil ponsel Abi yang jatuh. "Hati-hati, Abi. Gimana kalau hp mu rusak?"
Melihat wajah tegang Abi, Hanum jadi penasaran. Kemudian dilihatnya layar ponsel Abi.
Ia merasa seperti ditusuk pedang ketika melihat chat di ponsel suaminya. Abi membalas pesan dari Nesa, dengan kata-kata yang terlihat akrab. Bagi Hanum, ini bukan soal isi pesanya, namun mengapa Abi harus berbohong? Berpura-pura pamit akan menelepon Ferdi si rekan kerjanya.
Hanum meneguk salivanya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. "Apa Abi masih menyukai Nesa? Apa aku hanya pelampiasan semata?" timbul pertanyaan seperti itu dalam hatinya.
"Num, ini nggak seperti yang kamu kira, aku hanya—"
Hanum mencoba tetap mengukir senyum, mengambil tangan Abi, lalu meletakan benda pipih itu ke tangannya. "Nggak apa kok," katanya. "Aku ke kamar dulu, ya?"
Hanum beranjak dari Abi sebelum Abi mengatakan sesuatu, membuat Abi merasa takut jika Hanum akan terluka karenanya.
Disusulnya ke kamar. Hanum tampak mengubur tubunya dalam selimut tebal. Dibukanya selimut yang menutup wajah Hanum, namun Hanum segera membenamkan wajahnya ke bantal, untuk membungkam tangisnya.
Abi duduk di tepi tempat tidur, tepat disebelah Hanum, dengan wajah yang penuh penyesalan. "Aku tahu aku salah, aku nggak seharusnya begini," ucapnya lembut sambil mengangkat tangan Hanum. "Maaf, Num."
Wajah Abi saat menerima pesan masuk itu, masih terngiang di kepalanya. Hanum menarik tangannya dari Abi, memberi tanda bahwa dia tidak ingin di sentuh oleh Abi yang langsung membuat Abi mengerti maksudnya.
Abi sangat menyesal telah membuat air matanya mengalir membasahi bantal. Ia merasa seperti menusuk dirinya sendiri saat melihat itu.
Hingga pagi pun tiba....
Hanum mencoba tersenyum, dan bersikap seperti biasanya. Namun, Abi masih saja merasakan sebuah kesunyian yang mendalam.
"Hati-hati ya, Bi?" kata Hanum sebelum Abi berangkat.
Abi mengangguk sambil tersenyum tipis, "soal semalam aku minta maaf, ya?" ucap Abi yang di balas senyum tipis oleh Hanum.
Kemudian Abi pamit pada ibunya yang sedang berbelanja sayuran di depan rumah tetangganya. Sementara Hanum masuk ke dalam tanpa menunggu Abi benar-benar pergi.
Ponselnya berdering, setelah dilihatnya ternyata ibunya yang menelepon, ia segera menggeser tombol hijau demi menghubungkan panggilan.
"Assalamualaikum, ibu."
"Waalaikumussalam. Hanum, ibu mau memberi kabar bahagia, siang ini juga ayah mu sama keluarga pak Karto akan membuat kesepakatan, akhirnya Nadia yang akan menikah sama Rendra. Keluarga kita akan besanan sama pak Karto." Kata bu Risa di ujung telepon.
"Alhamdulillah, itu berarti pak Karto sama ayah sudah berdamai."
"Iya, Hanum. Ibu senang sekali, kamu datang ke sini, ya?" titah bu Risa dengan gembira.
"Insya Allah, bu. Tapi mungkin aku agak terlambat, soalnya sekarang aku harus menyelesaikan tugas-tugas rumah dulu." Kata Hanum sambil tertawa kecil, dia merasa masih perlu banyak belajar mengurus rumah dari ibu mertuanya.
"Iya, nggak apa-apa, yang penting kamu datang." Kata bu Risa sebelum mengakhiri panggilan.
Kemudian Hanum segera menyelesaikan kewajibannya dalam mengurus rumah, lalu berpamitan pada ibu mertuanya, bahwa ia akan pergi ke rumah ibunya.
* *
Siang itu keluarga pak Karto kembali mendatangi rumah pak Haris, mereka ingin memastikan bahwa pak Haris sungguh-sungguh dengan ucapanya tempo hari.
Kini mereka semua duduk di ruang tamu, Rendra memandang wanita bertubuh semampai itu tanpa berkedip, sepertinya laki-laki itu tidak menyesal gagal menikahi Hanum, tetapi mendapatkan Nadia, adiknya Hanum yang selalu berpakian sedikit terbuka itu.
Begitu pun dengan Nadia, wanita itu memiliki sifat yang bertentangan dengan kakaknya. Mengandalkan penampilan, dia selalu menginginkan laki-laki kaya, yang dapat memenuhi semua keinginannya.
"Lumayan juga, nggak lebih tampan dari Reza, sih. Tapi kalau aku jadi istrinya pasti aku akan dapatkan apa yang aku mau." Bathin Nadia sambil tersenyum manis saat menatap Rendra.
Pak Karto mulai membuka obrolan, "pak Haris, sepertinya Nadia dan Rendra akan cocok." Kata pak Karto setelah mengamati ekspresi wajah mereka saat bertemu pandang. "Bagaimana menurut, pak Haris?"
Pak Haris tertawa kecil, "kalau saya terserah mereka saja, pak Karto. Saya dan istri sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak-anak kami."
"Baiklah, kalau begitu kita langsung urus pernikahan mereka saja, tidak usah menunggu lama, saya takut anak bapak keburu diambil orang lagi. Memang harus saya akui, kedua putri pak Haris memang sangat cantik, jadi wajar saja kalau mereka banyak yang mau." Kata pak Karto yang memicu gelak tawa dari semuanya.
Kedua keluarga itu telah sepakat akan menggelar acara pernikahan yang cukup mewah. Rendra sang pewaris tunggal, dan sukses diusia yang cukup muda, berjanji akan menuruti permintaan Nadia yang muluk-muluk, bahkan Rendra akan memberikan lebih dari yang Nadia minta.
...****************...