Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungguh berani
**
Keesokan harinya, Elara baru saja kembali dari sekolah. Namun gadis itu segera menghentikan langkahnya,mendadak.
DOR!
Elara tersentak. Jantungnya berdegup kencang.
“Apa itu?” gumamnya.
Belum sempat Elara bergerak, suara tembakan kembali terdengar—beruntun, kasar, dan tanpa peringatan.
Elara menjatuhkan sepeda yang tengah dituntunnya itu.
“Tidak… itu dari arah hutan.”
Tanpa berpikir panjang, Elara berlari. Napasnya tersengal saat kakinya membawanya masuk ke hutan belakang wilayah itu—tempat yang biasanya dipenuhi kicauan burung.
Elara berhenti mendadak.
Matanya membelalak.
Beberapa burung tergeletak di tanah. Sayap mereka terbuka kaku, bulu-bulu halus ternoda darah. Sebagian masih tampak hangat.
“T-Tidak…” suara Elara bergetar.
Elara berlutut perlahan, tangannya gemetar menyentuh tanah di dekat burung kecil itu.
“Kenapa kalian harus mati seperti ini…” bisiknya lirih.
Air mata jatuh, satu demi satu.
Diwaktu bersamaan, suara langkah kaki berat terdengar dari balik pepohonan.
Elara berdiri perlahan, menyeka air matanya, lalu berbalik.
Sosok Marquis Lucein muncul di hadapannya. Mantel gelapnya tersampir rapi, senapan masih tergenggam di tangannya. Wajahnya tenang, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah hal sepele.
“Apa yang kau lakukan di sini?”ucapnya datar.
Elara menatap senapan itu, lalu kembali menatap wajah Lucein dengan mata memerah.
“Aku seharusnya yang bertanya,” jawabnya menahan amarah. “Apa yang Tuan lakukan?”
Lucein melirik burung-burung di tanah.
“Berlatih.”
“Dengan membunuh mereka?” suara Elara meninggi.
“Mereka tidak menyerang Tuan. Mereka tidak mengganggu siapa pun.”
“Mereka hanya burung,” sahut Lucein dingin.
“Hanya burung?” Elara tertawa kecil, getir.
“Bagi Tuan mungkin demikian. Tapi bagi mereka, ini adalah hidup.”
Lucein melangkah mendekat. “Dunia ini tidak dibangun atas dasar belas kasihan, nona wyhther...”
“Namun dunia juga tidak seharusnya dijalankan tanpa hati,” balas Elara tajam.
“Tuan memiliki kuasa, tapi itu bukan alasan untuk bertindak kejam.”
“Kau terlalu emosional, Elara.”
“Dan Tuan terlalu dingin,” jawab Elara tanpa gentar.
“Jika memiliki kekuatan berarti boleh mengambil nyawa sesuka hati, maka Tuan tidak lebih baik dari pembunuh.”
Hening menyergap hutan.
Angin berdesir pelan, menggerakkan dedaunan dan bulu-bulu yang berserakan di tanah.
Lucein menatap Elara lama, lalu bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, dingin dan sulit ditebak.
“Kemarahanmu tidak akan menghidupkan mereka kembali, Elara.”
Elara mengepalkan jemarinya.
“Aku tahu,” jawabnya lirih.
“Namun setidaknya aku tidak membungkus kekejaman dengan dalih latihan.”
Lucein tertawa kecil, singkat dan dingin.
“Kau sungguh berani menasihatiku.”
Kalimat itu menghantam kesadaran Elara seperti siraman air es.
Wajahnya seketika memucat.
Apa yang telah kulakukan… batinnya tercekat
Elara baru menyadari sepenuhnya dengan siapa ia sedang berhadapan. Bukan sekadar seorang pria bersenjata, melainkan Marquis Lucein—pemilik seluruh wilayah ini, tuan yang memiliki kuasa mutlak atas setiap orang yang hidup dan bekerja di bawah naungannya.
Kata-kata tajam yang barusan meluncur dari mulutnya mendadak terasa begitu berbahaya.
Jika dia murka… bukan hanya aku yang akan menanggung akibatnya.
Bayangan wajah Paman Alden muncul di benaknya. Kehormatan, kedudukannya, dan seluruh pengabdian pria itu bisa hancur hanya karena kelancangannya.
Elara menelan ludah. Tanpa menunggu lebih lama, gadis segera menundukkan kepala.
“Maaf, Tuan Marquis,” ucapnya cepat, suaranya bergetar. “aku telah bersikap lancang.”
“Aku terlalu terbawa emosi dan melupakan siapa tuan. Sekali lagi tolong maafkan aku”
“Sekarang kau ingat siapa aku?” tanya Lucein datar.
“Iya, Tuan, aku sungguh menyesal.”
Elara tetap menunduk, jemarinya mencengkeram ujung rok.
“Baiklah. Anggap ini peringatan, tapi lain kali, jangan mencampuri urusanku.”
"Terimakasih tuan, aku janji tidak akan mengulanginya." Ucap Elara yang masih tetap menundukkan kepalanya.
Lucein melangkah mendekat. Sepatunya berhenti tepat di hadapan Elara.
“Angkat wajahmu,” perintahnya.
Dengan ragu, Elara mengangkat kepala.
“Ingat ini. Di tempat seperti ini, emosi bisa menjadi bencana, Elara.”
“Aku akan mengingatnya, Tuan,” jawab Elara pelan.
Lucein berbalik. “Pergilah. Sebelum keberanianmu membuatku berubah pikiran.”
Elara memberi hormat singkat lalu berjalan menjauh.
Di belakangnya, Lucein berhenti sejenak, menatap punggung Elara yang menghilang di antara pepohonan.
“Gadis yang menarik,” gumamnya.