Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Midnight Moment
Malam telah melampaui puncaknya, saat lift pribadi menuju penthouse Steel Group berdenting pelan. Pintu terbuka, memperlihatkan Axel Steel dengan wajah lelahnya. Aura otoriternya tetap tak tergoyahkan.
Lelaki itu baru saja kembali dari operasi yang disebut pembersihan. Tujuan operasi itu tidak lain adalah membersihkan parasit bernama Bambang. Operasi itu sebenarnya bisa diselesaikan oleh anak buahnya. Tetapi entah kenapa, Axel merasa harus dirinya sendiri yang melakukannya. Ada perasaan menyenangkan mengalir dalam darahnya, ketika parasit itu berhasil ia basmi, dengan tangannya sendiri. Senyum puas terpatri di wajah lelahnya.
Suasana apartemen mewah itu sunyi, hanya diisi oleh dengung halus sistem filtrasi udara dan cahaya temaram yang sensornya otomatis meredup mengikuti langkah kaki sang tuan rumah.
Axel melepaskan jas, dan menyerahkannya pada asisten robotik di lobi, tangan kekarnya melonggarkan kancing kemeja hitam yang terasa mencekik.
Langkah kakinya ringan tanpa suara, mulutnya bersiul pelan. Walau lelah, suasananya hatinya sedang sangat baik. Tanpa disadari, ia sekarang berada di depan pintu kamar, gadis miliknya.
Butuh waktu 5 detik untuk sosok Axel Steel, sebelum masuk melewati pintu itu. Sang monster sedang mempersiapkan mental untuk bertemu tikus kecil kesayangannya.
Sensor biometrik mengenali kehadirannya, dan pintu baja berlapis kayu itu bergeser terbuka dengan desis minimal yang nyaris tak terdengar.
Di dalam kamar, suasananya tidak jauh berbeda dengan ruangan lainnya. Sunyi. Sang pemilik kamar sudah terlelap sejak tadi.
Tampak cahaya bulan menyelinap melalui celah gorden otomatis, memberikan garis perak pada ruangan yang tenang itu. Axel melangkah masuk, setiap gerakannya sangat hati-hati. Tidak ingin merusak kedamaian gadis kecil yang sedang bermimpi indah.
Di atas tempat tidur king-size yang dilapisi sutra terbaik, Gadis itu terlelap. Tubuhnya tampak mungil di tengah kemewahan yang mengepungnya. Rambut hitamnya tersebar di atas bantal seperti benang-benang sutra hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Napasnya teratur, naik turun dengan ritme yang menenangkan, sebuah frekuensi yang selalu dipantau Axel melalui layar monitor, namun terasa jauh lebih nyata saat ia berada di sana secara langsung.
Sang monster, berlutut disamping tempat tidur. Hanya berlutut, tidak melakukan apapun. Matanya tidak pernah lepas dari memandangi wajah damai gadis itu. Semakin ia memandanginya, maka semakin besar pula rasa cinta dan obsesinya.
Hal ini kentara dari binar mata monster itu. Binar kepemilikan yang tidak bisa diganggu.
Baginya, Sesilia adalah dunia, nafas dan detak jantungnya sendiri. Tanpa gadis itu, ia tidak berarti apa-apa.
"Kau aman sekarang, Tikus Kecil," Bisiknya pelan. Ayah brengsek yang menyakitimu sudah aku jinakkan di bawah telapak kakiku. Tidak akan ada lagi cambuk, tidak akan ada lagi lapar. Hanya ada aku dan kamu.
Tangan sang lelaki yang besar, terangkat dengan sangat ragu-ragu. Jemarinya dengan lembut merapikan anak rambut yang menutupi pipi gadisnya. Sentuhannya seringan sayap kupu-kupu, seolah ia takut bahwa kulit seputih susu dan halus itu akan hancur jika menekannya terlalu keras.
Keinginan Axel untuk memiliki dan melindungi gadis kecil ini, telah berkembang menjadi sesuatu yang tidak bisa diukur.
He can burn the world for her.
Hanya untuk memastikan gadis bernama Sesilia Steel tidak terbangun oleh suara bising manusia lain.
Everything just for her.
Even if it meant selling his soul to the devil.
Axel mendekatkan wajah pada Sesi-nya. Dari jarak sedekat ini, Ia bisa mencium aroma lili putih dan sabun mandi yang ia pilihkan khusus untuk sang gadis. Memejamkan mata, ia membiarkan aroma itu mengisi paru-parunya, menjadi candu yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang setelah seharian berperang di dunia bisnis yang kejam.
Perlahan namun pasti, monster itu mendaratkan ciuman di kening gadisnya. Ciuman itu lama, penuh tekanan lembut yang mengandung janji, perlindungan, dan pengabdian yang gila. Ciuman itu seolah menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menjadi perisai yang tak tertembus bagi Sesilia.
Saat ia menarik wajahnya kembali, kata penuh kelembutan mengalun indah dari bibirnya.
"I love you, sayang..."
Suaranya sangat rendah, hanya berupa getaran lembut di udara malam yang dingin.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan perasaan, itu adalah sumpah kesetiaan dari seorang penguasa kepada ratu satu-satunya
Axel berdiri, menatap Sesi-nya sekali lagi dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara cinta yang mendalam dan kepemilikan yang mengerikan.
Sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari ruangan dalam keheningan yang sama.
...
Begitu pintu berdesis menutup dan suara langkah kaki Axel menghilang di kejauhan koridor, ritme napas Sesilia mendadak berubah. Kelopak matanya bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan, memperlihatkan mata yang jernih namun dipenuhi oleh kebingungan yang luar biasa.
Gadis itu tidak sedang tidur nyenyak. Ia telah terbangun sejak sensor pintu mendeteksi kehadiran Axel.
Ia tetap memejamkan mata, melatih pernapasan vagal yang ia pelajari untuk menipu jam tangan biometrik di pergelangan tangannya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan monster itu saat ia mengira mangsanya sedang tidak sadarkan diri.
Namun, apa yang ia dapatkan justru hal yang menghancurkan dinding pertahanannya sendiri.
Gadis itu menyentuh keningnya, tepat di tempat di mana bibir Axel mendarat tadi. Kulitnya masih terasa hangat, seolah jejak ciuman itu telah terbakar masuk ke dalam jiwanya. Ia mendengar semuanya, mendengar bagaimana lelaki yang ia anggap monster mengerikan itu menyentuhnya dengan kelembutan yang mustahil dimiliki oleh monster sepertinya. Gadis itu juga mendengar ungkapan cinta lelaki itu.
Selama ini, Sesilia menyakini bahwa Axel Steel hanyalah laki-laki yang terobsesi memiliki dan mengontrolnya. Tidak memiliki perasaan semacam cinta.
Namun, pengakuan yang baru saja ia saksikan adalah hal diluar perkiraan gadis itu. Ia benar-benar tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
Hatinya yang keras kepala, yang beberapa waktu ini bersumpah untuk tidak pernah memaafkan pria yang telah menculik dan memonopoli kebebasannya, kini mulai retak. Ada sebuah konflik besar yang meledak di dalam dadanya. Ia ingin terus membenci Axel sebagai monster yang mengurungnya, namun ia mulai melihat bahwa penjara ini dibangun bukan oleh rasa benci, melainkan oleh jenis cinta yang begitu ekstrem hingga tidak mampu dipahami oleh logika manusia normal.
Air mata jatuh di sudut matanya. Ia merasa terpojok bukan oleh kekuatan fisik Axel, melainkan oleh ketulusan yang mengerikan dari pria itu. Bagaimana ia bisa melawan seseorang yang mencintainya dengan cara yang begitu diluar nalar, bahkan sampai ke titik gila?
Malam itu, Sesilia tidak bisa kembali tidur. Ia menatap langit-langit kamar, menyadari bahwa tembok pertahanannya telah luluh lantak bukan oleh serangan besar, melainkan oleh satu ciuman lembut dan satu bisikan tulus di tengah malam. Sang Ratu mulai menyadari bahwa musuh yang selama ini ia hadapi mungkin adalah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar akan mati demi dirinya.
bau bau bucin😍😄