Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertikaian Adam dan Harun
Ketidaknyamanan atas sikap Adam membuat Hawa memilih mengurung diri di kamar sepanjang hari. Wanita itu gelisah, mondar-mandir di depan jendela, sesekali duduk di tepi ranjang lalu bangkit lagi. Berkali-kali ponselnya digenggam, niatnya hanya satu, bercerita langsung kepada Harun tentang Adam. Namun setiap kali jari-jarinya hampir menekan layar, keraguan kembali menyerang. Ada rasa sungkan, ada ketakutan, juga kegamangan yang tak bisa ia jelaskan.
Sementara itu, di ruangan kerja lantai bawah, Adam dan Harun masih tenggelam dalam pembahasan pekerjaan. Berkas-berkas terbuka di atas meja, layar laptop menyala menampilkan grafik dan laporan keuangan. Mereka bahkan sempat mengadakan rapat online dengan jajaran direksi, membahas proyek dan perluasan bisnis hingga tanpa sadar waktu terus berjalan. Ketika rapat usai, senja telah berganti malam.
Harun menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu menatap Adam dengan sorot mata penuh tuntutan.
“Jadi,” ucapnya akhirnya, memecah keheningan, “kapan kakak membuatkan surat resmi penyerahan PT Jati Super yang di Sumatera? Aku ingin segera semuanya atas namaku.” Nada suaranya terdengar tak sabar, seolah hak itu memang sudah sepenuhnya miliknya.
Adam tak langsung menjawab. Ia tekun menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Fokusnya tertuju pada ujung rokok yang menyala, namun pikirannya berkecamuk hebat. Amarah menyesakkan dadanya pada Harun, sebuah pengkhianatan yang selama ini ditutupi pada Hawa dan pada dirinya sendiri.
“Aku suka pada Hawa,” ucap Adam akhirnya, dingin dan datar. “Ceraikan dia. Biarkan aku yang menikahinya.”
Harun menegang.
“Kalian juga belum melakukan malam pertama,” lanjut Adam tanpa ragu, menatap tajam. “Jadi aku harap, jangan sentuh dia.”
Harun bangkit setengah berdiri, wajahnya berubah drastis.
“Kak, apa sebenarnya yang ada di pikiranmu?” suaranya meninggi. “Kemarin justru kakak yang menyuruhku menikahi Hawa demi iming-iming perusahaan Jati. Sekarang kenapa tiba-tiba menyuruhku menceraikannya?”
Adam tak menjawab. Ia meraih ponselnya, lalu memperlihatkan pada Harun beberapa foto-foto mesra serta bukti pernikahan siri Harun dengan Raisa.
Harun terbelalak. Napasnya tercekat sesaat.
“Tapi bukankah kakak tidak pernah melarang hal itu?” bantah Harun, berusaha tenang. “Apa salahnya aku punya dua istri? Aku yakin aku sanggup.”
Adam memencet puntung rokoknya dengan keras ke asbak hingga padam.
“Kau paham kesepakatan kita atau tidak?” bentaknya tertahan. “Aku menyerahkan perusahaan di Sumatera dengan satu syarat kau menikahi Hawa secara baik-baik. Bukan mempermainkannya seperti ini!”
“Aku memang membolehkanmu menikah siri dengan Raisa, tapi hanya jika kau sudah di ujung perceraian dengan Hawa! Dan kau tahu kenapa kakek menghantuiku, memukulku habis-habisan dalam mimpi? Itu semua karena ulahmu! Karena kau menyakiti Hawa!” bentak Adam keras.
Adam terdiam sesaat, dadanya naik turun.
“Sekarang katakan padaku, apa aku masih pantas menyerahkan perusahaan itu untukmu?”
Harun tertawa singkat, pahit.
“Itu risiko kakak sendiri,” bentaknya.
“Seharusnya dari awal kakak tidak menolak menikahi Hawa!” Ia berdiri tegak, menatap Adam dengan mata penuh amarah.
“Dan aku sudah terlanjur menyukai Hawa, juga Raisa. Aku tidak akan melepaskan Hawa. Soal perusahaan, terserah. Tapi satu yang pasti, kau benar-benar mengecewakan sebagai seorang kakak.”
Tanpa menunggu jawaban, Harun berbalik dan pergi, meninggalkan Adam dalam luapan kekecewaan dan amarah yang membeku.
Malam kian larut. Setelah makan malam, tepat pukul sepuluh, Harun kembali muncul dengan niat yang tak kalah panas. Amarahnya pada Adam ingin ia tumpahkan malam itu juga.
Di dapur, Hawa tengah membereskan piring-piring kotor. Harun menghampiri dengan senyum lembut yang sengaja dibuatnya, mengajak bicara ringan, bercanda, menyelipkan pujian. Perlahan jarak mereka menyempit. Sentuhan kecil, tawa, keintiman tipis yang seolah wajar bagi sepasang suami-istri yang lama terpisah.
Hawa tersenyum kikuk dan bahagia, tanpa sadar Adam berdiri kaku menyaksikan keintiman itu dari lantai dua. Rahangnya mengeras. Dadanya terasa terbakar. Ia tak terima melihat Harun memainkan perasaan Hawa, terlebih ketika melihat mereka tertawa menggelitik ditengah keheningan, begitu dekat, begitu mesra. Api cemburu menjalar liar, menghantam kesadarannya tanpa ia sadari.
Dengan tangan gemetar, Adam meneguk minuman kaleng yang hampir habis, lalu tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkannya ke lantai bawah.
"Tleng!"
Suara kaleng yang menghantam lantai menggema nyaring, memecah suasana rumah besar itu. Harun dan Hawa terdiam seketika, kepala mereka terangkat bersamaan, mata tertuju ke arah asal suara.
Keheningan mencekam menggantung di udara.
Harun tersenyum sinis puas melihat Adam terbakar api cemburu demi meluapkan kekecewaannya.
Adam turun dari lantai atas dengan wajah gelap dan sorot mata penuh amarah. Langkahnya cepat, napasnya berat, berjalan mendapatkan Harun yang santai dan masa bodo. Adam tidak berkata apa-apa langsung mencengkeram kerah baju Harun.
"Brak!!"
Pukulan keras mendarat tepat di wajah Harun hingga tubuh pria itu tersungkur ke lantai.
“Sudah aku katakan, jangan sentuh dia!” bentak Adam dengan suara menggelegar, dipenuhi kemarahan yang selama ini ditahan.
“Mas!” teriak Hawa panik. Wajahnya memucat melihat Harun terkapar. Ia pun berlari menolong Harun, Kedua bangkit bersama, Hawa menatap Adam, matanya memerah oleh amarah dan luka batin.
“Dia itu suamiku! Kami sudah menikah! Kenapa kamu memukulnya?!” suara Hawa bergetar, antara marah dan tak percaya.
Adam membalas dengan tatapan tajam, tak terima disalahkan, dadanya naik turun. Tanpa berkata apa-apa, ia membuka ponselnya dan memperlihatkannya ke arah Hawa.
“Lihat baik-baik!”
Hawa gemetar saat tangannya menangkap ponsel itu. Di layar terpampang foto-foto yang membuat dunia seolah runtuh: foto pernikahan siri Harun dengan Raisa, lalu foto-foto mesra yang tak terbantahkan.
“Suami yang kau anggap setia sudah mengibulimu dari belakang!” hentak Adam dengan suara parau penuh dendam.
Hawa terdiam. Lututnya terasa lemas. Matanya menatap layar itu lama, seakan berharap semua hanya ilusi. Bibirnya bergetar, napasnya tercekat.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Harun bangkit dengan wajah penuh amarah. Dalam satu gerakan cepat, tinjunya melayang menghantam kepala Adam.
"Buk!"
Adam refleks sempoyongan ke belakang.
“Kau jangan sok paling suci!” teriak Harun liar.
“Kau sendiri suka bergonta-ganti wanita! Justru aku lebih baik, punya dua istri tapi masih sah!”
Kata-kata itu menghujam Hawa lebih kejam daripada tamparan.
“Jadi… benar Mas Harun sudah menikah?” suara Hawa lirih, nyaris tak terdengar.
Wajah Harun mengeras tajam
Adam terlihat melemah karena memang kondisi fisiknya masih masa pemulihan, Harun kembali mencengkeram kerah Adam dan meninjunya bertubi-tubi, meluapkan dendam yang selama ini terkubur.
“Kurang mengalah apa aku sebagai adik, hah?!” teriak Harun. “Semua perusahaan kau kuasai! Aku hanya kau jadikan budakmu! Aku hanya minta perusahaan di Sumatera tapi kau beri syarat menikahi Hawa! Sekarang kau menyuruh aku menceraikannya?!”
“Apa…?” Hawa terhentak hebat dengan ucapan Harun. Dunia serasa berhenti berputar sedang mencambuk hatinya. Fakta itu menghantamnya tanpa ampun, pengorbanannya ternyata hanya bagian dari transaksi kejam. Ia merasa seperti mainan yang sedang dipinjamkan.
“Bangsat!” Adam bangkit dengan sisa tenaganya, menerjang Harun hingga pria itu kembali tersungkur.
Tubuh mereka sama-sama tinggi dan besar. Pukulan, tendangan, dan teriakan saling beradu, menggetarkan ruangan menggema seisi rumah.
“Kau hanya pintar menuntut hasil tanpa pernah tahu sekeras apa proses ku merintisnya dan kalau bukan aku yang memegang kendali perusahaan ini, kau sudah jadi gembel di jalanan!” bentak Adam..
“Kakek pernah memberimu kepercayaan mengurus perusahaan di Sumatera! Tapi apa hasilnya?! Hancur lebur! Kau hanya memetik hasil jerih payahku!”
Perkelahian itu bukan lagi soal Hawa semata. Ada cemburu, harga diri, dan kekuasaan yang saling menghancurkan. Harun menerjang Adam membabi buta. Adam terhantam meja kaca.
"Prang!"
Pelipis Adam robek, darah mengalir deras. Namun Harun tak berhenti menghajar Adam.
“Aaaaaa!!” jerit Hawa tak sanggup melihat perkelahian yang amat mengerikan itu.
Tangan Harun meraih sebilah pisau di meja. Emosional tinggi menguasai.
Matanya merah, akal sehatnya lenyap. Ia lupa jika Adam adalah kakaknya sendiri.
“Mas Harun! Jangan, aku mohon jangan, dia kakak mu!” Hawa menjerit histeris menangis memohon.
Hawa berlari ketakutan, memanggil Pak Arga dengan suara pecah, air matanya bercucuran.
Adam masih berusaha memberikan perlawanan kepada Harun.
"Brush!"
Harun menusuk perut sebelah kiri Adam. Ia mengerang keras, tubuhnya limbung lalu ambruk ke lantai.