Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Menara Gading
Puncak Menara Gading adalah tempat tertinggi di seluruh Akademi Sihir Royal Aethelgard, sebuah struktur yang melayang beberapa inci di atas menara utama, ditahan oleh gravitasi sihir kuno. Untuk mencapainya, seseorang harus menaiki tangga spiral yang terbuat dari awan padat yang bisa membeku jika hati pendakinya dipenuhi keraguan.
Varian (Tubuh Asli) melangkah menaiki tangga itu dengan ketenangan yang tidak wajar.
Di balik pintu kayu mahoni besar yang diukir dengan ribuan rune pelindung, dia merasakan tekanan atmosfer yang berat. Itu bukan tekanan udara, melainkan tekanan Mana. Di dalam sana, duduk entitas terkuat di kerajaan ini.
Pintu itu terbuka sendiri tanpa suara saat Varian mendekat.
Ruangan di dalamnya luas, berbentuk lingkaran, dengan dinding kaca magis yang menyajikan pemandangan 360 derajat seluruh ibu kota kerajaan. Namun, pemandangan indah itu terasa tidak berarti dibandingkan dengan keberadaan pria tua yang duduk di balik meja kayu hitam di tengah ruangan.
Archmage Eldric.
Kepala Sekolah. Usianya konon sudah melampaui 150 tahun. Rambut putih panjangnya tergerai menyentuh lantai seperti jubah sutra, dan jenggotnya dikepang rapi dengan cincin-cincin perak kecil yang berdenting pelan. Matanya putih sepenuhnya, tanpa pupil maupun iris—tanda kebutaan fisik akibat pengorbanan ritual untuk mendapatkan Mana Sight (Penglihatan Mana) mutlak.
Dia tidak melihat wajah Varian. Dia melihat jiwa Varian.
"Masuklah, Varian Valdris," suara Eldric berat dan bergema, seolah-olah ruangan itu sendiri yang berbicara, bukan mulutnya. "Aku sudah menunggumu."
Varian melangkah masuk, lalu membungkuk hormat dengan presisi seorang bangsawan kelas bawah yang sopan. "Terima kasih, Kepala Sekolah. Merupakan suatu kehormatan dipanggil ke Menara Gading."
"Duduk."
Varian duduk di kursi tamu yang empuk di hadapan meja Eldric. Namun, begitu pantatnya menyentuh bantalan kursi, dia merasakan aliran mana halus yang merambat di kaki kursi. Binding Spell (Mantra Pengikat) pasif. Kursi ini adalah perangkap; jika dia mencoba menyerang, kursi ini akan berubah menjadi penjara besi dalam sekejap mata.
Eldric meletakkan pena bulunya. Dia menautkan jari-jarinya, menatap lurus ke arah Varian dengan mata butanya yang menakutkan.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu, Nak?" tanya Eldric.
Varian memasang wajah sedikit bingung namun tetap tenang. "Saya berasumsi ini tentang insiden di Rumah Kaca semalam, Tuan. Saya minta maaf karena merusak properti sekolah. Saya... sedikit lepas kendali saat berlatih, dan Putri Aeliana kebetulan ada di sana."
"Lepas kendali?" Eldric tertawa kecil. Suara tawanya kering, seperti daun musim gugur yang diremas. Tidak ada humor di sana, hanya kewaspadaan. "Kata yang menarik untuk menggambarkan apa yang terjadi."
Tiba-tiba, tekanan udara di ruangan itu meningkat drastis. Buku-buku yang melayang di sekitar ruangan berhenti bergerak. Debu di udara membeku.
"Nak," lanjut Eldric, nadanya berubah serius dan tajam seperti silet. "Semalam, sensor menara ini mendeteksi getaran energi selama kurang dari setengah detik. Getaran itu bukan sihir murid tingkat satu. Getaran itu memiliki frekuensi Anti-Mana. Jenis energi yang bisa merobek realitas dan menelan cahaya."
Eldric memajukan tubuhnya, aura sihirnya menekan dada Varian. "Itu adalah tanda tangan energi dari 'Bencana' yang diramalkan dalam gulungan kuno. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini."
Varian tetap tenang di permukaan, tapi di dalam, otaknya berputar dengan kecepatan penuh. Sial. Orang tua ini lebih peka dari dugaanku. Dia merasakan saat aku menggunakan 'Needle of Nihility' untuk mematahkan tongkat Aeliana, meskipun aku sudah menahannya seminimal mungkin.
Eldric mengangkat tangan kanannya. Laci mejanya terbuka, dan sebuah bola kristal seukuran kepala manusia melayang naik. Bola itu bening, namun di dalamnya terdapat kabut yang berputar pelan, seolah menyimpan badai.
Orb of Alignment (Bola Penyelarasan).
"Ramalan kuno berkata: 'Akan lahir anak yang membawa Cahaya Mutlak atau Kegelapan Abadi'. Kita hidup di zaman yang rapuh, Varian. Perdamaian dengan Kerajaan Iblis di selatan sedang di ujung tanduk. Aku tidak bisa mengambil risiko membiarkan bom waktu berjalan di koridor sekolahku."
Eldric menunjuk bola itu dengan jarinya yang kurus dan panjang.
"Letakkan tanganmu di atas bola ini. Alat ini akan membaca esensi jiwamu, melewati segala bentuk ilusi atau penyamaran fisik. Jika warnanya Putih, kau adalah potensi Pahlawan yang diberkati. Jika warnanya Hitam..."
Eldric tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Mana di ruangan itu mulai memadat menjadi tombak-tombak tak terlihat yang mengarah ke leher, jantung, dan mata Varian. Pesannya jelas: Jika Hitam, kau tidak akan keluar dari ruangan ini hidup-hidup.
Varian menatap bola itu. Situasi ini adalah jalan buntu yang mematikan.
Jika dia menggunakan False Divinity (Cahaya Palsu), bola itu akan berwarna Putih. Tapi Eldric bukan orang bodoh. Dia merasakan energi "aneh" dan "gelap" semalam. Jika Varian tiba-tiba terdeteksi murni Putih, Eldric akan curiga Varian menyembunyikan kekuatan aslinya, dan interogasi akan berlanjut lebih brutal.
Jika dia menggunakan energi aslinya (Void), bola itu akan menjadi Hitam pekat. Game over. Dia akan dikeroyok oleh Archmage ini dan seluruh sistem pertahanan sekolah.
Varian harus menciptakan jalan ketiga.
Dia tersenyum tipis. Senyum yang penuh percaya diri, namun ada sedikit kepahitan yang disengaja di sudut bibirnya—ekspresi seseorang yang lelah disalahpahami.
"Bencana? Pahlawan?" Varian menggelengkan kepala pelan. "Dua-duanya terdengar merepotkan, Kepala Sekolah. Saya masuk ke sini hanya ingin lulus dan hidup tenang."
Varian mengangkat tangannya, lalu meletakkannya perlahan di atas permukaan bola kristal yang dingin itu.
Strategi Varian: "Chaos Fusion" (Fusi Kekacauan).
Di dalam sirkuit mana tubuhnya, jauh di bawah kulit, Varian melakukan manuver bunuh diri yang sangat presisi.
Pertama, dia membuka katup energi dari Jantung Naga Api yang baru dia makan. Energinya Merah, Liar, Panas, dan Buas.
Kedua, dia mencampurnya dengan energi Void aslinya. Energinya Hitam, Hampa, Dingin, dan Menyerap.
Ketiga, dia membungkus tabrakan kedua energi itu dengan lapisan tipis False Divinity. Energinya Putih dan Menstabilkan.
Dia mengaduk ketiga energi yang berlawanan itu menjadi sebuah pusaran badai yang kacau balau di dalam inti mananya. Ini sangat menyakitkan. Rasanya seperti darahnya mendidih dan membeku di saat yang sama.
Wuuung.
Bola kristal itu mulai bereaksi. Bersinar terang.
Eldric mencondongkan tubuh, mata butanya terbuka lebar, menanti vonis takdir.
Warnanya bukan Putih.
Warnanya bukan Hitam.
Bola itu berpendar dengan warna Abu-abu Perak yang berputar liar. Di dalam kabut abu-abu itu, terlihat percikan-percikan kilat merah darah dan ungu pekat yang saling memakan, meledak, dan lahir kembali. Bola itu tampak seperti menyimpan galaksi yang sedang kiamat di dalamnya.
Kretak.
Suara retakan halus terdengar. Permukaan bola kristal kuno itu retak sedikit karena tidak kuat menahan konflik energi yang kontradiktif di dalamnya. Meja Eldric berguncang.
Eldric terbelalak. Dia berdiri dari kursinya, wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan keterkejutan yang langka.
"Ini... Apa ini? Bukan Cahaya... Bukan Kegelapan..." Eldric bergumam, tangannya gemetar sedikit saat merasakan aura yang dipancarkan bola itu. "Rasanya... kacau. Tapi seimbang."
Varian menarik tangannya sebelum bola itu meledak sepenuhnya. Dia memegang dadanya, berpura-pura kesakitan dan kelelahan, napasnya memburu.
"Saya menyebutnya 'Kekacauan' (Chaos), Tuan," jawab Varian pelan, suaranya serak.
"Saya lahir dengan cacat mana. Orang tua saya bilang itu kutukan. Mana di tubuh saya tidak stabil. Cahaya dan Kegelapan, Panas dan Dingin... semuanya ada di dalam diri saya, saling bertabrakan, saling mencoba mendominasi satu sama lain."
Varian menunduk, menatap telapak tangannya dengan tatapan melankolis yang sempurna.
"Itulah sebabnya saya kadang terlihat lemah, karena energi saya sedang bertarung di dalam. Dan itulah sebabnya saya kadang meledak kuat tak terkendali seperti semalam... karena kekacauan itu bocor keluar."
Varian mengangkat wajahnya, menatap Eldric dengan mata yang memancarkan kejujuran palsu.
"Saya bukan Pahlawan yang ingin menyelamatkan dunia, Kepala Sekolah. Saya juga bukan Iblis yang ingin menghancurkannya. Saya hanya ingin... mengendalikan kutukan ini agar saya bisa hidup tenang tanpa menyakiti orang lain. Apakah keinginan untuk sekadar bertahan hidup itu salah?"
Eldric terdiam lama. Ruangan itu hening, hanya suara angin yang menderu di luar kaca. Mata buta Eldric memindai ulang tubuh Varian.
Penjelasan itu masuk akal. Sangat masuk akal. Energi yang tidak stabil (Chaos) memang memiliki daya hancur besar dan aneh seperti yang dirasakannya semalam. Dan warna Abu-abu menandakan Netralitas Mutlak—seseorang yang tidak memihak pada dewa maupun iblis karena sibuk bertarung dengan dirinya sendiri.
Eldric menghela napas panjang. Aura membunuhnya perlahan menghilang. Tombak-tombak mana tak terlihat itu buyar menjadi uap.
"Chaos..." gumam Eldric, kembali duduk di kursinya dengan berat. "Kau adalah anomali, Nak. Kau tidak terikat pada takdir."
Eldric menatap Varian dengan tatapan baru. Bukan lagi sebagai ancaman yang harus dimusnahkan, tapi sebagai kasus unik yang perlu dibimbing dan diawasi. Potensi yang berbahaya, tapi juga berharga.
"Baiklah, Varian. Aku mempercayaimu... untuk saat ini," kata Eldric. "Posisi 'Netral' adalah posisi yang paling sulit. Kedua belah pihak—Gereja dan Kultus Kegelapan—akan mencoba memanfaatkamu atau menghancurkanmu jika mereka tahu tentang keunikanmu ini."
"Biarkan mereka mencoba," jawab Varian, mengangkat wajahnya dengan tekad yang dibuat-buat.
Eldric tersenyum tipis. Dia menyukai murid yang memiliki tulang punggung.
"Sebagai Kepala Sekolah, aku memberimu status Pengawas Khusus. Kau bebas mengakses fasilitas latihan Menara Utara di malam hari untuk 'mengendalikan' kekacauanmu itu. Aku lebih suka kau meledakkan ruang latihan yang terlindungi daripada meledakkan asrama dan membunuh teman-temanmu."
Varian berdiri dan membungkuk hormat dalam-dalam. "Terima kasih atas kebijaksanaan dan kepercayaan Anda, Kepala Sekolah. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Varian berbalik menuju pintu. Namun sebelum dia menyentuh gagang pintu, suara Eldric menghentikannya.
"Varian."
Varian menoleh. Eldric menunjuknya, ujung jarinya bersinar dengan mana putih.
"Warna Abu-abu itu tipis. Batas antara kekacauan dan kejahatan sangat samar. Jika suatu hari warna itu berubah menjadi Hitam pekat di mata batinku... akulah orang pertama yang akan memenggal kepalamu. Mengerti?"
Varian tersenyum sopan.
"Dimengerti, Sir. Saya akan pastikan... warnanya tetap seperti yang saya inginkan."
Ya, warna yang kuinginkan, tambah Varian dalam hati saat dia menutup pintu. Warna yang paling kalian semua yaitu warna unggu.
aku jugak penasaran apa rencana Varian selanjutnya ya🤔