Andreas, sosok mafia berdarah dingin yang bergelar duda tampan dan kaya raya. Dia sudah bercerai sebanyak tiga kali karena ulah putra semata wayangnya. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan seorang penari striptis di sebuah club malam. Andreas pun memutuskan untuk menikahinya secara kontrak.
Di satu sisi, Sophia juga sosok single mom yang pekerja keras. Sophia bekerja sebagai penari striptis di sebuah club malam. Pertemuannya dengan Andreas mendatangkan masalah baginya, hingga Sophia memilih menerima segala skenario yang dijalankan oleh Andreas dengan menjadi istri kontraknya.
Lantas apa yang membuat Andreas ingin menikah kontrak dengan Sophia, sosok penari striptis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Dokter tampan, kenapa mommy belum datang juga?" tanya Noah dengan raut wajah tampak murung.
"Mungkin mommy kamu lagi sibuk, makanya dia belum sempat datang menemui Noah." ucap Dokter Jimmy tersenyum tipis dan akan selalu menjawab segala pertanyaan Noah dengan hal-hal yang berbau positif.
Jujur saja dia pun merasa kasihan dengan kondisi Noah, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawatnya hingga sembuh, kalau perlu dia memilih untuk bekerja di rumah sakit tersebut.
"Tapi Noah sudah merindukan mommy, Noah hanya takut mommy kenapa-kenapa." ucap Noah sambil menghembuskan nafas kasar.
Dokter Jimmy tak bisa berkata-kata, dia lekas memeluk tubuh Noah dengan mata berkaca-kaca. Selama satu tahun menangani pasiennya, baru kali ini dirinya takut kehilangan anak laki-laki hebat tersebut.
Baru kali ini dia merasakan sesak yang teramat dalam dari lubuk hatinya setelah mendengar ucapan Noah. Anak sekecil itu lebih memikirkan kondisi ibunya dibandingkan memikirkan kondisi tubuhnya.
"Mommy, hiks.. hiks...hiks" ucap Noah dengan tangis pecah, sejak kemarin dia menahan kesedihannya. Bibir mungilnya terus memanggil-manggil ibunya dan berharap ibunya segera datang ke hadapannya.
Lagi-lagi Dokter Jimmy ekstra sabar menenangkannya sambil mengelus punggungnya yang teramat kurus, hingga tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka lebar dan menampilkan sosok yang dirindukan oleh Noah.
"Mommy!... hiks....hiks..hiks" teriaknya memanggil ibunya. Dokter Jimmy segera melepaskan pelukannya dan tampak terkejut melihat kedatangan Sophia.
Tanpa basa-basi Sophia berlari menghampiri putranya. Saat semakin dekat dia pun langsung berhambur memeluknya dengan tangis langsung pecah.
"Maafin mommy sayang!" ucapnya terisak sambil memeluk tubuh putranya dengan penuh kasih.
"Mommy tidak salah apa-apa, justru Noah yang salah karena selalu menyusahkan mommy sampai sekarang." ucap Noah sesenggukan.
"Tidak sayang, Noah anak hebat kebanggaan mommy." ucap Sophia lalu mencium puncak kepala putranya berkali-kali. Tampak Noah tersenyum mendengar ucapan ibunya.
Sementara Dokter Jimmy memilih menjauh, guna memberi ruang bagi ibu dan anak itu. Setidaknya dokter tampan itu merasa lega akhirnya sosok wanita yang disukainya datang juga menemui putranya.
"Sekarang Noah tidak boleh sedih lagi, karena mommy Sophia sudah bersama Noah." ucap Dokter Jimmy tersenyum.
"Iya dok, terima kasih ya sudah menjaga Noah selama mommy tidak ada. Maaf sudah merepotkan dokter, Noah sampai ngambek tidak mau minum obat. Noah juga sampai mogok makan." sahut Noah dengan antusiasnya, bahkan raut wajahnya tampak bahagia menceritakan nya.
"Sama-sama, pokoknya Noah tidak boleh ngambek lagi kayak kemarin. Oke!" ucap Dokter Jimmy tersenyum.
"Siap dok" sahut Noah.
"Maafin mommy ya sayang, mommy tidak akan mengulanginya lagi. Karena hanya kamu prioritas utama mommy, tidak ada yang lain. Apapun akan mommy lakukan untukmu." ucap Sophia merasa bersalah kepada putranya.
"Mommy harus janji ya tidak ninggalin Noah" ucap Noah sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya, mommy janji nak." sahut Sophia tersenyum.
"Noah sayang mommy." ucap Noah lalu mencium pipi ibunya dan memeluknya kembali.
"Mommy juga sangat menyayangi mu nak" ucap Sophia sambil mengelus punggung putranya.
"Aku juga sangat menyayangi kalian berdua." sahut Dokter Jimmy dengan senyuman tulus diwajahnya.
Seharusnya dokter tampan yang jadi Daddy Noah, tapi mommy sudah terlanjur menikah dengan Daddy Andreas yang juga punya anak, otomatis kasih sayang mommy terbagi antara aku dan kak Kenzo. Tapi tidak apa-apa, yang jelas mommy bahagia bersama keluarga baru nya. Batin Noah dengan pikirannya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di negara lain, Andreas bersama rombongannya berhasil membantai seluruh anak buah tuan Marco. Hanya saja, tuan Marco berhasil kabur darinya setelah tangan kanannya datang menyelamatkannya menggunakan helikopter.
Tampak beberapa rombongan The Cartel JXX sibuk memasukkan barang-barang ilegal hasil perdagangan di negara tersebut ke dalam mobil kontainer.
"Daniel bereskan semua mayat ini, kalau perlu bakar semuanya bersama tempat ini, agar tidak tercium oleh pihak kepolisian. Satu lagi, jangan lupa bawa anggota kita ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka-luka mereka" ucap Andreas sambil memegangi dada bagian kirinya, hingga terlihat darah segar bercucuran di bajunya.
"Baik tuan, tapi sebaiknya tuan juga ke rumah sakit." ucap Daniel dengan penuh hormat dan terlihat menghawatirkan tuannya. Pasalnya tuannya juga terkena tembakan saat mencoba melindunginya.
"Tidak perlu, sebaiknya kita kembali ke hotel" ucap Andreas dengan tatapan dingin.
"Baik tuan!" sahut Daniel dengan anggukan kepala.
Andreas sama sekali tidak memperdulikan luka tembak di tubuhnya, dia berjalan dengan santainya menuju mobilnya. Namun sesekali dia menghentikan langkahnya sambil menekan luka di tubuhnya.
Diluar dugaan salah satu anak buah tuan Marco yang berpura-pura mati, diam-diam sedang mengeluarkan sebuah belati kecil dari saku jaketnya. Dia harus balas dendam atas kematian rekan-rekannya.
"Ujung belati nya sudah ku baluri racun. Aku pastikan belati ini tertancap di jantungnya, ketua The Cartel JXX harus mati ditangan ku." ucap pria itu tersenyum mengerikan sambil mengepalkan tangannya.
Saat dirasa aman, pria itu langsung melempar belati kecil ditangannya kearah Andreas dan lemparannya tepat mengenai perut bagian kiri Andreas.
Sreekkk
"Akkhh...Sial" Andreas langsung melepaskan belati kecil yang bersarang di perut bagian kirinya, lalu membuangnya secara asal. Andreas mengalihkan pandangannya dan langsung menembak mati pria yang sudah melemparinya belati.
Kemudian dia pun melanjutkan langkahnya, namun baru beberapa langkah tiba-tiba seluruh tubuhnya mendadak kaku dan begitu sulit menggerakkan tangan maupun kakinya.
"Apa yang terja..." Andreas tidak melanjutkan ucapannya, tubuhnya sudah ambruk terjatuh di atas aspal hingga tak sadarkan diri.
Daniel yang melihatnya segera berlari menghampiri bosnya yang sudah terkapar di atas aspal, dan langsung bergerak cepat membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Kini Andreas sudah berada di rumah sakit dan sedang ditangani oleh dokter. Sudah dua jam lebih Andreas berada di ruang operasi dan belum juga siuman sampai detik ini, bahkan tekanan darah dan detak jantungnya tidak stabil yang terkadang berhenti berdetak. Membuat semua orang yang berada di ruang operasi begitu panik dibuatnya.
"Pasien dalam kondisi kritis."
"Benar, segera lakukan tindakan"
Sementara diluar ruang operasi, Daniel tak berhenti mendoakan kesembuhan bosnya, dia bahkan menghubungi ayahnya untuk memberinya solusi atas masalah tersebut.
"Bodoh, harusnya kau melindungi tuan Andreas bukan sebaliknya. Jika tuan Andreas tak kunjung siuman, sebaiknya segera bawa dia pulang. Jangan sampai musuhnya mengetahui keberadaannya." ucap Tuan Thomas di ujung telepon.
"Baik ayah" sahut Daniel di ujung telepon hingga panggilan telepon mereka berakhir.
Malam itu juga, Daniel segera membawa paksa bosnya kembali ke negara xxx dalam kondisi kritis. Itu semua demi keselamatan bosnya sendiri. Jangan sampai musuhnya mengetahui keberadaan bosnya yang sedang terbaring koma.
Sekitar empat jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Andreas. Hari sudah berganti pagi, namun suasana rumah masih sangat sepi tanpa adanya pelayan berlalu lalang.
"Cepat bawa tuan ke kamar" ucap Daniel kepada anak buahnya.
"Baik tuan" ucap kedua pria berkepala plontos itu dengan hormat lalu segera mengikuti perintahnya.
****
Sementara Sophia sendiri memilih menginap di rumah sakit untuk menjaga putranya. Dia memilih mengabaikan tugas pokok yang diberikan Andreas tempo hari untuknya. Bahkan dia memilih kabur dari rumah demi bisa menemui putranya di rumah sakit