NovelToon NovelToon
ANA - Terlanjur Salah Pilih

ANA - Terlanjur Salah Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cerai / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Frans Lizzie

DISCLAIMER : Ini bukan kisah tentang sweet romance tetapi DARK ROMANCE...
Jadi bersiap-siap menjadi tegang dan gemas

Berawal dari kisah cinta semanis madu, pasangan Aris-Ana menikah. Dengan berjalannya waktu kisah manis cinta mereka berubah menjadi semakin pahit dan mencekam.

Ana dibuat hancur berkeping-keping karena pernikahannya. Semakin hari semakin mencekam dan tidak masuk akal.

Apakah yang harus Ana lakukan? Bertahan dia akan hancur. Berpisah ibu dan anaknya lah yang hancur. Adakah pilihan lain baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frans Lizzie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Masak-masak di rumah Tiur

Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja untuk mencapai rumah Tiur di Perumahan Dendang Melayu.     

Rumah Tiur adalah tipe 36 hook dengan tambahan tembok yang agak ditinggikan di bagian depan rumah untuk teras dan penambahan atap dan lantai keramik di bagian belakang rumah untuk dapur dan ruang cuci dan jemur.    

Walau sederhana tapi rumah Tiur sangat bersih dan rapi. Adanya pohon kersen yang tinggi di depan membuat rumah itu berudara segar karena sinar terik matahari terhalang oleh lebatnya daun pohon kersen.     

Setelah menegakkan standar motor, Aris dan Ana memasuki rumah Tiur yang pintunya terbuka. Ada suara percakapan yang seru dari arah belakang. Tak lama kemudian muncul Tiur dari belakang rumahnya.    

“Aris. Ana…kalian sudah datang. Kami lagi mempersiapkan bahan-bahan untuk nyate dan bakar jagung nanti.”     

“Ada sate ya? Asyik ..,” sahut Aris.     

“Eh, tas-tas kalian,” sela Tiur. “Kamu simpan di kamarku saja, biar lebih aman. Di luar gini kan pintunya terbuka…yah siapa tau .. diangkut orang.”    

Aris lalu membuka kamar Tiur dan memasukkan tas-tas mereka ke kamar. Cara Aris bertindak terlihat sangat santai seolah-olah seperti di rumah sendiri.     

Hal itu cukup membuat Ana bertanya-tanya. 

“Mas kayaknya sudah biasa banget hapal seluk-beluk rumah Kak Tiur. Mas Aris sering ya main ke sini?” tanya Ana hati-hati sewaktu Aris yang dengan santainya mengambil dua cangkir dan menyeduh kopi sachet an, untuk dirinya sendiri dan juga Ana. “Kayak rumah mas sendiri saja.”     

Aris tertawa dan malah memperkeras suara agar semua yang sudah hadir mendengar.    

“Boru…., ini lho Ana heran kenapa aku kok udah kayak di rumah sendiri aja,... di rumahmu.”     

Tiur yang sedang menyingkirkan kulit luar jagung lalu menusuk tengah jagung dengan tusuk sate menjawab, “Masmu dulu yang bantu renov rumahku. Dia yang hitung-in keramiknya, cat temboknya, plafon, listrik… Dia juga yang atur anak buahnya dari proyek dan dari engineering untuk ngerjain. Hampir semua lah. Sampai rumah tipe 36 ku yang sederhana ini jadi lebih nyaman dan layak buat dihuni. Aku berterima kasih banget lho sama masmu.”   

Yuni menyambung, “Iya syukurlah punya teman yang ngerti soal bangun rumah dan mau bantu. Kalau nggak, kita kita ini cewek yang nggak ngerti soal begituan bisa habis kita di tipu-tipu sama mandor bangunan.”         

Ana mendengarkan semua itu sambil membantu Tiur membuka semua kulit jagung. Oke, kata Ana dalam hati.  Jadi Aris memang sosok pria yang sangat baik, suka menolong, dan membantu teman.    

Karena hal nilai Aris bertambah di hati Ana.

Nilai Aris bertambah lagi di hati Ana ketika mengetahui ketika Aris sangat terampil menyiapkan bumbu racikan sendiri untuk jagung bakar, bumbu sate ayam, juga bumbu sate kambing.    

Dalam diam dan tanpa suara pujian langsung, Ana memperhatikan bagaimana Aris bisa bekerja di dapur dengan gesit sambil bercengkrama dengan Tiur dan Yuni yang sibuk menyiapkan yang lain untuk acara malam nanti.    

Sebetulnya Ana merasa kikuk. Ia tidak memiliki keterampilan memasak sama sekali. Sebab tidak pernah ada seseorang yang mengajarinya memasak.      

Sedari kecil dia dibesarkan dengan seorang ibu yang selalu sibuk berdagang, entah baju jadi, sprei dan sarung bantal untuk mencari nafkah. 

Sedang ayahnya masih suka berkumpul dengan teman-temannya, berjudi atau sekedar sabung ayam.    

Jadi sudah sedari kecil dia selalu sendiri di rumah. Ibunya selalu meninggalkan nasi di dandang. Sayur dan lauk pauk yang dibeli dari warung sekitar rumah. Lauk pauk dan sayur yang sama dari makan pagi, makan siang dan makan malam.     

Terkadang saat makan malam adalah satu dua lauk tambahan  dari ibunya yang sudah pulang dari berdagang. Karena itu sejak kecil, tak pernah ada pelajaran bagaimana cara membuat masakan ini dan itu, tetapi pelajaran bagaimana bisa memenuhi kebutuhan harian makanan dengan budget yang ada. Itulah pelajaran untuk bertahan hidup dari orangtuanya.    

Keadaan  itulah yang membuat Ana saat ini harus menekan rasa malu dan canggung ketika berada di tengah teman-temannya yang sangat cekatan dengan kerjaan dapur. 

Bahkan Aris,  yang seorang laki-laki pun sangat pandai meracik berbagai bumbu, mengiris sayur daging dan ikan.    

Yuni yang melihat bahwa Ana sudah cukup banyak menyiapkan untuk jagung bakar nyeletuk, “Udah cukuplah jagung bakarnya. Sisanya biar dibawa anak-anak pulang buat yang di rumah.”    

Ana semakin kikuk. 

Apa yang harus ia lakukan jika menyiapkan jagung bakar sudah beres. Apa lagi yang bisa dia lakukan. Ana malu jika ketahuan kalau soal masak memasak dia itu nol besar.     

Pada saat-saat kritis, suara Yudi yang baru saja datang mengalihkan perhatian dari Ana yang tampak ‘tidak berguna’.      

“Assalamualaikum.“   

“Walaikumsalam…..” sambut Yuni dan Aris hampir bersamaan.  

Yudi dan Aniek, istrinya yang cantik masuk ke dalam. Tangan keduanya penuh dengan bawaan.   

Aniek terbiasa menerima pesanan snack untuk acara-acara seperti arisan, pengajian, ulang tahun atau semacamnya. Jadi untuk memeriahkan acara ulang tahun Tiur dan kumpul-kumpul orang sales, Yudi dan istri menyumbang kudapan berupa, risol, lemper dan puding.   

Yuni dan Tiur menggosok-gosokkan tangan mereka dengan puas. “Wah udah komplit hidangan kita. Sate, jagung bakar, jajan pasar, buah ada pisang dan jeruk.”    

“Tinggal sayurnya…,” potong Tiur. “Bikin sayur apa ya…??”     

Yuni, Yudi, Aniek dan Tiur memandang ke arah Ana.

Keringat dingin Ana langsung keluar. Apa yang harus dia lakukan? 

Sampai usia 22 tahun kini, satu-satunya sayur yang ia tahu bentuk  segarnya hanyalah wortel dan bayam. Tentu saja ia tak pernah tahu bagaimana prosesnya dari wortel dan bayam mentah sampai bisa matang dan enak dimakan.     

Entah seperti apa warna raut wajah Ana saat itu. Dan entah sudah berapa lama bibirnya terkunci. Ana tak bisa berkata apa-apa.    

Untunglah terdengar suara Aris yang membuka kulkas Tiur. 

“Boru, aku lihat ada wortel, bunga kol, buncis,..ehmm sawi putih juga. Kalau aku memasak cap cay, mau??”    

Tiur terlihat agak ragu. “Untuk membuat cap cay kayaknya aku tidak punya saus tiram lalu apa yang akan dipergunakan agar cap cay enak…tak ada daging atau seafood….”    

“Aku lihat ada pasar kaget di tepi jalan masuk perumahan ini, lalu ada Indomaret. Semoga ada protein segar di sana. Aku pergi ke sana sebentar lah untuk belanja.”    

“Setuju! Setuju!” seru Yudi, Anik dan Yuni bersamaan.     

“Mantap!” Tiur bertepuk tangan. “Makan enak kita malam ini.”  

“Masakan Chef Aris mantap jiwa.”    

Aris tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Yuk Ana, kita belanja dulu buat bikin cap cay.”

Ana ikut beringsut mengikuti Aris keluar. “Aku pergi dulu ya.”   

“Ris, bar blonjo balik mrene lho, ojo malah nyasar neng endi-endi..,” ceplos Yudi seperti biasa. 

Tiur dan Yuni menatap kedua suami istri itu sambil mengangkat alisnya karena mereka kurang paham bahasa Jawa.

“Mas Yudi bilang supaya Mas Aris balik ke sini sehabis belanja, jangan malah nyasar ke….,” Aniek kembali cekikikan. “Mas Yudi sering cerita di rumah. Katanya banyak cowok-cowok di hotel yang naksir Mbak Ana. Mas Aris salah satunya.”     

Itulah yang sayup-sayup sempat tertangkap telinga Ana sebelum ia naik membonceng motor Aris.

1
strawberry 27
Yudi kepingin Ana jadi langsing lagi e malah di kasih donat wkwkwk
strawberry 27
Ana beruntung punya kk ipar spt mbak Yati yg baik hati , biasanya kk ipar perempuan rata² pd jht
strawberry 27
seharusnya Ana jujur saja soal Aris tidak ngasih nafkah setahunan ini ke mbak Yati, bukan mau mempermalukan atau merendah kan Aris tapi kenyataan seperti itu, soal nanti mbak Yati menyanggah membela Aris adik nya begini begitu urusan blakang, yg penting Ana sudah jujur katakan apa ada nya ke mbak Yati
strawberry 27
Aris mulai kelihatan sifat asli nya, yg sabar ya Ana
Frans Lizzie
sendirian lagi. Makanya para lansia harus jaga kondisi agar tetap fit dan lincah di masa tua💪
strawberry 27
Jadi penasaran kisah selanjutnya Ana & Aris bgmn, mama Sherly pulang ke Jogja nya bgmn ya sendiri an lagi atau ada teman nya
strawberry 27
Mario orang baik, knp Ana ngga sama Mario saja
strawberry 27: sebetulnya masih ada waktu, hanya pihak Aris pasti marah besar, dan misal itu terjadi, Ana jadi tau bgmn sifat Aris yg sesungguhnya sebelum menikah, sebetulnya tanda dari Dita pun tidak Ana abaikan
total 2 replies
strawberry 27
lanjut author,seru nich
strawberry 27
makin lama makin penasaran gue🤭
strawberry 27
Apa maksud Aris ya, merasa bangga bisa menaklukkan Ana gitu dan bikin heboh kawan² nya
strawberry 27
Cerita Ana & Aris selalu ku nanti² kan lho kak , selalu bikin penasaran, Aris yg kliatan baik tapi pelit hahahaha
strawberry 27: pelit buat beli kaos oblong satu atau dua biji hihihi
total 2 replies
strawberry 27
Aris bisa bayari Ana makan² ,tapi knp nggak beli kaos 1 atau 2 biji buat ganti² hehehe,,,,biar nggak kebauan klo Ana ada di dekat Aris, termasuk pelit ni si Aris 🤭 wkwkwk
Frans Lizzie: perut lebih penting kali buat Aris
total 1 replies
strawberry 27
di tunggu kelanjutannya kak , bikin penasaran
strawberry 27
di tunggu keseruan selanjutnya author
strawberry 27
Klo Aris tidak ada niat buruk ke Ana, dan niat nya tulus nganterin Ana liat² Batam, tidur di rumah Hendra pasti mau, ini Aris sudah pertama ke Tanjung Pinang ,Ana yg bayar i , SPT nya gue tau niat busuk Aris apalagi KLO bukan pingin melancarkan aksi nya di hotel sama Ana
strawberry 27: salah paham sy dgn author nya, maksud sy bukan pertama x Aris ke Tanjung Pinang tapi ,dari awal yg Aris minta duit 200 ribu buat bayar PP itu lho hehehe,,,
total 2 replies
strawberry 27
Wah Aris ada mau nya sama Ana tu, sudah ke Tanjung Pinang minta di bayar i , e Hendra baik banget nawari bermalam di rumah nya di tolak, hati² Ana , si Aris ada niat busuk ke Ana, Aris pasti pingin nginep di hotel berdua an sama Ana, dah gitu x aja Ana yg di suruh bayari hotel bukan itu aja, Aris punya niat buruk ke Ana , Ana hati². sama Aris buaya darat
strawberry 27: iya bikin penasaran aja si Aris mau ngapain ke Ana 🤭🤭
total 3 replies
strawberry 27
waduh si Aris kok pelit ,nggak bayari Ana yg 200 ribu buat ke TP😠
strawberry 27: Aris ternyata cuma pingin menaklukkan Ana doank, habis itu ya sudah
total 4 replies
Frans Lizzie
Terima kasih buat dukungannya.😍😍
strawberry 27
lanjut kak,,,nunggu in nich
strawberry 27
wah ,,Tiur perlu bingit blajar basa Jawa thor biar makin seru KLO ngobrol bareng 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!