Sebuah karya yang menceritakan perjuangan ibu muda.
Namanya Maya, istri cantik yang anti mainstream
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.Fahlefi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar
Maya juga nggak mood satu harian akibat sebel. Ia pergi ke ladang untuk melupakan kejadian itu.
Di ladang, lagi-lagi Maya dibuat tidak tenang akibat kedatangan Bu Sumi secara tiba-tiba.
"Ada apa lagi bu? Aku lagi badmood?!" Ucap Maya setelah Bu Sumi tiba dengan langkah serius.
Bu Sumi alias bu kades duduk untuk menarik nafas.
"Kok marah-marah sih May, maksud kedatanganku kesini baik, bukan ngajak ribut." Balas Bu Sumi mengatur nafas.
Maya minta maaf, sadar akan kelancangannya.
"Oh iya maaf bu, aku khilaf. Maklumlah, banyak sekali pekerjaan yang mau diurus." Kata Maya. Ia baru sadar kalau sekarang bu Sumi sudah jauh lebih baik sejak insiden kemarin.
Bu Sumi mengangguk, wajahnya sekarang tampak lebih bersahabat meski masih menyisakan sedikit ke judesan disana.
Bu Sumi datang untuk meminta pendapat Maya tentang pemilihan kepala desa tahun depan. Bu Sumi ingin mencalonkan diri dan meminta dukungan Maya.
"Nggak bisa bu! Sebagai ketua program petani andalan saya barus bersikap netral." Kata Maya menolak dengan halus.
"Tapi May, kau tahu sendiri kan kalau warga sini sudah nggak mungkin lagi memilih suamiku, atau memilih saya? Kalau saya terpilih, saya berjanji program petani andalan ini akan semakin maju!"
Maya bergeming, menimbang-nimbang. Memang secara kandidat tidak ada yang lebih berpengalaman di desa kecuali pak kades sekarang. Rata-rata warga desa tidak punya pendidikan yang tinggi.
"Gimana May?" Desak Bu Kades.
Maya tetap menggeleng, "Tidak bu, itu diluar kemampuanku. Aku takut bu Bupati bakalan marah kalau tahu aku mendukung salah satu calon."
Bu Sumi menghela nafas, wajahnya yang bersahabat mulai berubah muram.
"Ya sudah, kalau kau nggak mau." Kata Bu Kades jengkel, kemudian meninggalkan Maya.
Maya mengelus dadanya sendiri, sungguh manusia cepat sekali berubah.
Perihal desas-desus pemilihan kepala desa memang sudah beredar di masyarakat. Sampai sekarang belum ada tokoh yang bisa diajukan menjadi calon untuk bersaing dengan Bu Sumi. Pak kepala desa sendiri juga nggak mau lagi mencalon, ia digantikan oleh istrinya.
"Kalau mau, kau saja yang jadi calon May!!" Ucap Laras ketika Maya menceritakan pertemuannya dengan Bu Sumi.
Maya menggeleng, "aku nggak mau Ras. Itu diluar akal sehatku."
"Tapi, kalau bukan kamu siapa lagi? Pak Dadang? Pak Jamal? Kau tahu sendiri mereka nggak bisa baca!"
Maya memandang langit siang, silau. Ia kembali menatap Laras.
"Gimana kalau kau saja Ras yang menjadi calonnya?"
Laras menjitak kepala Maya.
"Hussst, boro-boro mau jadi kepala desa, kepala rumah tangga saja aku nggak punya!"
Maya mengangguk, benar juga.
Perihal pencalonan itu pun masih tetap mengganggu pikiran Maya. Bukan karena ia pengen jadi kepala desa, tapi ketika orang lain yang tidak kompeten maju, maka program andalan yang Maya kerjakan bisa terganggu. Dan jika ia memilih untuk mendukung bu Sumi, maka itu juga akan membuat integritasnya runtuh, oh my god.
Tidak sampai disitu, ketika pulang ke rumah Maya juga dibuat pusing oleh Sari yang sedari tadi diam saja. Sari merajuk dan nggak mau ngomong. Kalau ditanya jawabnya hanya sekilas.
"Sari, ambilin baju kotor di kamar nak," ucap Maya.
Sari mengambilnya, memberikannya pada Maya dan pergi begitu saja.
"Sari, matikan tv nak."
Sari mematikan tv, kemudian balik ke kamar begitu saja.
Maya terganggu. Baru kali ini Sari seperti ini. Maya sudah membujuk dan mengajak Sari berbicara, namun Sari tetap dingin dan merajuk. Anak kecil itu tidak marah, tidak banyak menuntut, ia hanya diam. Tapi itulah yang justru membuat Maya makin pusing.
Maya tahu kalau Sari benar-benar ingin ke Jepang.
Saat malam tiba, Maya menceritakan semua hal yang dialaminya pada Gilang. Tentang percakapannya dengan Mirna yang runyam, tentang bu Sumi yang minta dukungan, tentang Laras yang mengusulkannya menjadi calon kepdes, juga tentang Sari yang merajuk seperti trenggiling.
Maya menceritakan itu semua dengan hidung kembang-kempis. Hingga akhirnya ia berhenti berbicara dan menunggu respon dari Gilang.
"Menurut abang gimana? Aku wajar pusing nggak sih?"
Tapi apesnya, Gilang ternyata sudah ngorok duluan.
Maya merengut, "Dasar lakik!"