NovelToon NovelToon
HIJRAH RASA

HIJRAH RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Azzurry

Ketika perjodohan menjadi jalan menuju impian masing-masing, mungkinkah hati dipaksa untuk menerima?

Faradanila, mahasiswa S2 Arsitektur yang mendambakan kebebasan dan kesempatan merancang masa depan sesuai mimpinya.
Muhammad Al Azzam, seorang CEO muda yang terbiasa mengendalikan hidupnya sendiri—termasuk menolak takdir.

“Kalau Allah yang menuliskan cinta ini di akhir, apakah kamu masih akan menyerah di awal?”-Muhammad Al Azzam.


Di antara keindahan Venezia, rasa-rasa asing mulai tumbuh.
Apakah itu cinta… atau justru badai yang akan menggulung mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzurry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hijrah Rasa -16

Farah menggenggam paper bag berisi dua kebab Turki dan kopi large yang masih hangat. Ia membelinya di kafe langganan tempat mereka tadi bersantai. Untuk Azzam. Ia tidak bilang begitu, tapi Zira tahu.

Langkah mereka menyatu dengan gemericik air kanal kecil di samping lorong. Udara malam mulai menusuk. Zira masih asyik bercerita tentang rencana libur kuliah mereka, tentang laut dan kota-kota kecil yang ingin ia jelajahi.

Hingga tiba-tiba, langkah Farah terhenti.

Bruk!

Paper bag di tangannya jatuh, menghempas paving.

Zira menabraknya pelan dari belakang. “Kenapa sih, Fa... tiba-tiba berhenti di tengah jalan?” protesnya, separuh kaget, separuh kesal.

Farah tak menjawab. Matanya terpaku ke depan, membeku. Zira mengikuti arah pandangannya dan mendadak dadanya ikut sesak.

Di bawah cahaya lampu jalan yang menggantung di dinding bata tua, Azzam dan Sienna berdiri. Dekat. Terlalu dekat. Saling berpelukan mesra. Tatapan mata yang dalam. Wajah mereka hanya sejengkal. Seperti dua manusia yang tidak peduli dunia. Seperti dua kekasih yang lupa bahwa mereka bisa dilihat siapapun.

Zira mengepal tangannya geram. Ia melangkah cepat, siap melabrak, tapi dengan cepat tangan Farah mencengkram pergelangan tangan Zira kuat. Zira menoleh, tetapi tatapan Farah menahanya sekali menggeleng pelan. Seakan berkata Jangan. Zira mengerti ia menggenggam tangan Farah erat, sangat erat.

Dada Farah terasa dihimpit. Detak jantungnya kacau. Rasanya seperti ditampar oleh sesuatu yang tak punya nama.

Kenapa sesakit ini? Padahal mereka tak pernah saling mengikat.

Kenapa terasa seperti saat melihat ibunya berselingkuh dulu? Saat kepercayaan yang ia pegang seperti kaca, pecah dan melukai tangan yang menggenggamnya.

Farah tak sanggup lagi berdiri. Ia jatuh berlutut, lalu duduk, memeluk lutut, menyembunyikan wajah di antara kedua kakinya. Dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Zira berjongkok di sebelahnya. Tangannya mengusap punggung sahabatnya pelan.

Zira tahu luka itu. Ia bisa merasakannya. Tapi tak ada kata yang cukup. Tak ada kalimat yang bisa menghapus perih secepat itu. Kadang, yang dibutuhkan hanya kehadiran. Diam, tapi nyata.

“Mau pulang sekarang?” bisik Zira hati-hati.

Farah mendongak, mengusap pelan air matanya yang sudah mengering di pipi. “Aku bisa tidur di apartemen kamu malam ini?” tanyanya lirih.

Zira mengangguk pelan. “Boleh… biar aku yang ngomong sama Bang Azzam kalau kamu nginap di apartemenku.”

Farah mengulas senyum kecil, tipis dan rapuh. “Makasih, Ra…”

Zira tidak berkata apa-apa. Ia hanya membantu Farah berdiri, menariknya perlahan. Mereka berjalan lagi, menyusuri lorong yang sama, kali ini tanpa kata.

Gedung apartemen mereka berdiri di tepi kanal. Arsitekturnya khas Venezia—tinggi, tua, dengan balkon besi tempa dan jendela-jendela besar. Mereka masuk ke lift. Flat Farah dan Azzam hanya berjarak satu lantai,dan flat Zira di lantai atas, sejak Rayyan datang dua minggu lalu untuk mendampinginya melanjutkan studi di Venezia.

Sesampainya di apartemen, Rayyan membuka pintu. Matanya langsung tertuju pada Farah yang terlihat kacau. Wajah sembab, rambutnya berantakan, masih terlihat jelas bekas air mata di wajahnya, langkah gontai.

Rayyan ingin bertanya, tapi Zira hanya menggeleng kecil. Rayyan mengerti, bahkan tanpa perlu kata.

Zira mengajak Farah ke kamar tamu, yang ada di apartemennya.

“Istirahat dulu,”ucap Zira setelah membantu Farah duduk pada tepian kasur.

“Ra… kok rasanya sakit ya?” Suara Farah bergetar.

Tanpa aba-aba Zira langsung memeluk Farah. Menepuk pelan pundak gadis itu.

“Ra… kenapa aku harus sakit lihat mereka? Aku nggak cinta sama Mas Azzam, Ra,” lirih Farah, tangannya mendekap erat tubuh Zira.

Zira menenangkan Farah, mengelus lembut surai sahabatnya itu. “Nggak apa-apa kecewa, Fa… asal kecewanya sama orang yang tepat,” ucap Zira.

Perlahan Farah merenggangkan pelukannya, menatap Zira dengan mata berkaca-kaca.

Zira mengulas senyum, mengusap pelan pipi Farah yang basah. “Nggak ada yang salah sama perasaan kamu, Fa… Bang Azzam suami kamu, bukan suami orang.”

“Tapi kami menikah bukan karena cinta, Ra. Aku mau nikah sama Mas Azzam karena Venezia,” imbuh Farah.

Senyum samar terlukis di wajah Zira. “Jangan pernah lupa peran Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, Fa,” kata Zira.

“Aku tahu kepercayaanmu pada Allah sudah hilang, Fa… tapi aku yakin kamu tahu apa yang aku maksud,” sambungnya.

Diam. Itu yang Farah lakukan saat ini.

Zira benar—Allah sedang melakukan tugas-Nya.

Pernikahan yang didasari dengan kebencian itu kini mulai memupuk rasa baru yang seharusnya tidak pernah ada.

***

Matahari pagi menyemburat di langit Cannaregio, Venezia—kota kanal yang tenang di permukaan, namun menyimpan riuh tak terdengar di bawahnya. Suara gondola menggesek air, dan aroma espresso dari kafe sudut jalan menyelinap ke udara.

Farah melangkah cepat di lorong apartemen itu. Hanya derak sepatunya yang terdengar menggema. Apartemennya hanya satu lantai dari apartemen tempat ia tinggal bersama Azzam, tapi pagi ini entah mengapa terasa lebih jauh dari biasanya.

Klik.

Pintu terbuka saat Farah menekan knopnya. Tanpa ragu, ia masuk.

Azzam sudah duduk di meja pantry—dengan segelas susu dan sepotong sandwich yang belum disentuh. Tubuhnya santai, seolah tak ada yang perlu dipertanyakan pagi ini. Tanpa menoleh, tanpa bicara, ia tetap menatap lurus ke meja.

Farah pun tak berkata apa-apa. Ia langsung menuju kamar. Berganti pakaian, memilih buku, yang akan di bawah ke kampus hari ini. Sesekali tangannya menyentuh dadanya pelan menyembunyikan detak jantung yang sedikit terlalu cepat.

Beberapa menit kemudian Farah keluar, bersiap pergi. Tapi langkahnya terhenti.

Azzam berdiri. Tegap. Dingin. Menghadang jalan keluar.

Farah mendongak perlahan. Mereka hanya berjarak satu langkah, tapi rasanya seperti berdiri di dua sisi dunia yang tak sama. Ia menatapnya tanpa bicara.

Azzam mengulurkan sebuah tote bag berwarna cokelat.

Alisnya terangkat tipis. “Ambil. Ini buat sarapan kamu di kampus. Sebagai ganti makanan yang kamu belikan buat saya semalam.”

Farah menoleh sebentar ke arah tote bag, lalu kembali menatap Azzam.

Farah tahu. Zira pasti sudah bercerita soal semalam. Tentang Azzam. Tentang Sienna.

Dan meski ia pura-pura tak peduli, hatinya tak bisa mengabaikan begitu saja.

Dengan tenang, Farah meraih tote bag itu. “Terima kasih,” ucapnya singkat. Langkahnya kembali bergerak menuju pintu.

Lalu...

“Sudah saya peringatkan. Jangan melibatkan hati dalam pernikahan ini,”suara Azzam datar, tapi cukup untuk menghentikan langkah Farah.

Gadis itu membisu.Tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya, menggenggam tote bag itu lebih erat. Bahkan sangat erat.

Farah berbalik dan berucap pelan namun jelas.

“Harusnya kamu katakan itu pada pacarmu, Mas… bukan ke aku. Suruh kuatin mentalnya. Di mana-mana, endingnya istri sah yang menang… bukan pelakor.”

Farah melangkah pergi.

Namun baru dua langkah, tiba-tiba tangan Azzam menahan lengan Farah membuat gadis itu langsung berhenti.

“Kamu yakin… kamu yang bakal menang?”Ujar Azzam tajam.

***

Holaa...

janga lupa tinggalin jejak ya..

Kamsahammida.

1
Wilana aira
keren ceritanya, bisa belajar sejarah Islam di Italia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!