Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 : Tekad Risa
Di dalam sebuah ruangan apartemen yang di dominasi warna putih dan gaya minimalis modern, terlihat sepasang insan berbeda gender sedang menikmati suasana di depan jendela kaca besar ruangan kamar yang berdiri megah dan memperlihatkan pemandangan kota tersebut. Si wanita tampak hanya memakai dress putih tipis sepaha dan si pria hanya memakai kemeja putih yang kancingnya terbuka, juga celana hitam panjang yang agak melorot.
Keduanya sedang memegang segelas minuman. Si pria memeluk erat pinggang si wanita, bergelayut manja dan si wanita tak kalah mesra. Ia menyandarkan kepala di dada bidang pria tersebut yang sesekali mencium pipinya.
Namun kemesraan itu terhenti saat suara bel pintu mereka terdengar tak berhenti.
"Siapa sih yang menekan bel terus-terusan begitu? Gak sabaran banget!" Si wanita berceloteh dengan bahasa yang kurang fasih, masih terdengar logat cina pada lidahnya.
"CK, gak tau diri banget!" Si pria menoleh gusar dan melepaskan pelukannya dari si wanita. "Aku cek dulu ke depan ya, kamu di sini aja." Pria itu akhirnya mengancingkan kembali kemejanya dan berjalan ke arah pintu sambil merapihkan posisi celana panjangnya.
"Ya, ya sabar!" Ucap si pria setengah berteriak. "Siapa sih," gumamnya merasa agak kesal sambil membuka pintu ruangan apartemen miliknya.
Ah, alangkah terkejutnya dia saat membuka pintu dan mendapati sosok seorang wanita yang sangat dikenalnya sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah cake kecil berwarna putih, dihiasi stroberi pada bagian pinggiran kuenya yang bertuliskan "selamat menikmati."
"Risa...," ucap pria itu dengan suara yang sedikit gemetar.
"Hai, Dion, sudah lama ya kita gak ketemu." Risa tersenyum manis yang tak biasa.
"Risa aku...." Ya, dia adalah Dion. Pria yang selama ini diagung-agungkan oleh Risa dan sangat diharapkan kedatangannya. Mereka sudah janji untuk menikah.
"Aku punya hadiah untukmu." Risa memajukan sedikit kue ditangannya itu.
"Terimaka--"
PLUKH!!!
Ternyata, tanpa diduga Risa melemparkan kue itu langsung mengenai Dion tepat di wajahnya.
"HAHAHAHAHAHA RASAKAN! SELAMAT MENIKMATI GATAL-GATALNYA! BUAHAHAHAHAH!"
Risa tertawa keras dengan puas dan langsung berlari pergi meninggalkan koridor apartemen.
Semua penghuni apartemen di koridor itu keluar setelah mendengar suara keributan di depan.
"Dion, kau tidak apa-apa!?" Wanita tadi ikut keluar dan terkejut setelah melihat Dion berantakan penuh dengan kue dan krim.
"Sialan!" Dion hanya bisa menggeram sambil mengelap wajahnya dengan tangan.
"Ayo cepat masuk!" Dion segera ditarik oleh si wanita ke dalam agar tak menjadi pusat tontonan sebelum hal ini tercium oleh media.
Sementara Risa dia sudah terlihat sedang berlari menuju area parkir.
Ia segera masuk ke mobil dan tertawa sepuasnya. Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Biar bagaimana pun Risa tak bisa membohongi rasa sakit hatinya sekarang. Tawa pun berubah menjadi tangis yang pecah.
Risa menangis sesenggukan di dalam mobil. Hatinya hancur saat tahu kalau selama ini Dion hanya menipu nya. Membuatnya menunggu lama tapi pria itu justru bersenang-senang dengan wanita lain. Tentu saja dia tahu semua berita tentang Dion di luar sana dan memiliki banyak kedekatan dengan beberapa wanita.
Awalnya dia ingin menapik tapi perlahan dia mulai merasa lelah dan memutuskan untuk berhenti mengikuti semua kabar tentang Dion, hingga akhirnya detik ini Dion ternyata tiba, dia sudah kembali tapi sama sekali tak mengabari, bahkan untuk sekedar berbasa-basi pun tidak. Risa kecewa. Segala harapannya seperti pupus begitu saja.
"Kenapa kau membohongiku, Dion...," ucapnya lirih. "Kalau kau memang sudah gak menginginkan hubungan ini lagi, kenapa gak bilang langsung? Kenapa harus mengulur waktu dan berbohong!" Risa memukul-mukulkan tangannya pada setir mobil hingga tangannya memerah. Aksinya baru berhenti saat ada telepon berdering, dari ibunya.
"Ya, Ma...." Risa mengangkat telepon dengan perasaan malas.
"Risa kamu di mana? Ini sudah siang! Kenapa kamu gak pulang dan kasih laporannya dari catatan sipil tadi!?"
Ah ya, benar juga. Dia masih memiliki satu masalah lain yang gak bisa dia hindarin lagi.
"Risa bakal pulang sekarang," jawabnya dan langsung mematikan ponsel sebelum sang ibu ngomel-ngomel di telepon.
"Lihat saja Dion, kau pikir hanya kau saja yang bisa bersenang-senang seperti itu? Aku juga bisa!" Dalam hati Risa bersumpah bakal ngelakuin hal yang sama kayak yang Dion lakuin. Dia bakal balas dendam pokoknya dan pamer kemesraan sama cowok barunya yang notabene dia bakal manfaatin Rio nanti (mungkin).
Risa pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat, gak peduli dia nyaris nabrak beberapa motor di jalan pas lewat.
Sementara itu Dion sedang mengumpat kesal karena ulah Risa. Berani betul perempuan itu melempar wajahnya dengan kue. Apa dia tidak tahu kalau wajahnya itu jauh lebih berharga dari apapun? Mukanya itu aset! Dion sama sekali gak berpikir kalau semua ini salah dirinya sendiri yang membuat Risa jadi marah seperti itu.
"Siapa sih yang bikin kamu begini?" Tanya wanita di sebelahnya yang masih sibuk dengan tisu habis mengelap wajah Dion.
"Fans, biasalah, dia kecewa kayaknya tahu aku dekat sama kamu," jawab Rio asal. Ya, dia gak bisa kasih tahu identitas Risa yang sebenarnya. Bisa hancur nanti semua rencana dia.
"Astaga, padahal kita hanya rekan," ucap si wanita geleng-geleng.
"Ya, kamu tahu sendiri lah fans itu kayak apa kalau sudah terobsesi. Sudahlah, kayaknya aku harus mandi lagi," balas Rio sambil berdiri dari tempat duduk.
"Mau aku temani?" Tanya si wanita dengan gaya yang menggoda.
Dion gak menjawab, tapi justru dia langsung merangkul wanita itu dan menariknya.
...****************...
Begitu tiba di rumah, Risa menjelaskan semua prosedur dan hari H pernikahan itu akan dilaksanakan. Sang ibunda tersenyum puas karena semua bisa berjalan lancar, cepat dan tanpa kendala.
"Kalau begitu, selesai akad besok kita langsung ke apartemen baru yang Mama siapkan untuk kalian, dan malamnya kita adakan pesta kecil antar sesama teman saja," tutur wanita itu yang kelihatannya udah enggak sabar menanti hari tersebut.
"Semua Mama atur saja, Risa capek, mau istirahat." Risa lagi gak mau banyak bicara dan memilih untuk melipir ke kamar sebelum ibunya memiliki ide yang lain.
"Risa, tunggu dulu sebentar." Tiba-tiba saja wanita itu berdiri.
"Ada apa lagi?" Tanya Risa yang menghentikan langkah-kakinya sejenak untuk berbalik ke arah sang ibu yang kini berjalan menghampirinya beberapa-langkah.
"Apa kamu sudah tahu kabar Dion? Ibu dengar berita soal dia yang pulang pagi ini." Wajah sang ibu terlihat prihatin. Jelas sekali dia sedang berhati-hati, tak ingin menyakiti hati sang putri.
"Aku sudah gak ada hubungan lagi sama orang itu dan enggak mau tahu, tolong mulai sekarang jangan bahas soal dia lagi," jawab Risa dengan nada ketus.
Setelah itu ia bergegas kembali memutar tubuhnya dan beranjak pergi. Sang ibu hanya bisa menghela napas pasrah. Dia tahu betul kalau anaknya itu sedang sedih dan mungkin sakit hati.
Tapi dia berharap kehadiran Rio bisa membawa cinta yang baru dan berbeda dari Dion. Entah mengapa, dia yakin kalau pemuda yang masih sangat muda itu adalah anak yang baik dan bakal bisa menjaga Risa, bahkan jauh lebih baik dari Dion.
.
.
.
BERSAMBUNG....