NovelToon NovelToon
Setitik Cinta Di Atas Harapan

Setitik Cinta Di Atas Harapan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab lima belas.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih seperempat jam. Pengunjung yang datang juga tidak terlalu banyak. Amara dan Lydia memilih untuk mencatat stok persediaan bunga yang sudah hampir habis.

"Lydia, apa stok mawar merah kita masih banyak?" ia tiba-tiba teringat sesuatu.

"Hmm.. Sepertinya hanya tersisa lima tangkai saja, kak." jelas gadis berambut panjang itu.

"Hanya tersisa segitu ya? Bagaimana dengan stok mawar putih?" tanyanya lagi.

"Mawar putih ada dua puluh tangkai, kak." jawabnya.

Amara mengangguk dan mencatatnya di buku. "Kertas cellophane, kertas krep, pita satin, hmm.. apalagi ya yang kurang?" ia lalu pergi untuk memeriksa gudang belakang.

Sebelum pergi, ia meminta Lydia untuk berjaga di meja kasir.

Lydia sesekali tampak mengecek ponselnya sembari menunggu pelanggan.

Kling!

Lagi-lagi lonceng di pintu kembali berbunyi. Seorang pria masuk ke dalam.

"Selamat datang di D'florist, tu....an!" Lydia tampak terdiam begitu melihat sosok pria yang kini berdiri di hadapannya.

Rasa-rasanya aku pernah melihat pria ini. Tapi dimana ya? Hmm... Ia bertanya-tanya dalam hatinya sambil menatap pria itu tajam.

"Ada ingin membeli apa, tuan?" tanyanya sopan sambil berpikir.

Aha! Pria ini 'kan suaminya kak Mara. Aduh! Bagaimana ini? Bisa gawat kalau kak Mara bertemu dengannya. Hmm...apa yang harus ku perbuat untuk menghindarkan kak Mara dari pengkhianat ini. batinnya tampak berkecamuk.

"Saya ingin membeli satu buket bunga mawar merah." ucap pria itu.

"Mawar merah, tuan? Kira-kira anda ingin membeli berapa tangkai? Kebetulan stok kami hanya tersisa lima tangkai saja. Kalau seandainya anda membutuhkan lebih dari itu, kami mungkin tidak bisa menyiapkannya malam ini, tuan." jelasnya dengan cemas. Pergilah sekarang! Ku mohon. ia tampak melirik ke arah gudang sesekali untuk memastikan bahwa Amara tidak keluar.

"Begitu, ya!" dia tampak menimbang-nimbang.

"Iya, tuan. Atau anda ingin bunga lain sebagai penggantinya, mawar putih atau bunga lili? Jika anda ingin memberikan bunga kepada kekasih anda, anda mungkin bisa memilih salah satunya. Karena banyak juga pelanggan yang memilih bunga-bunga tersebut." jelasnya.

Lydia juga tampak serba salah karena ia tidak bisa menolah pelanggan. Itu bisa saja merusak nama baik toko nantinya.

"Begitu ya. Tetapi dia hanya menginginkan mawar merah." ia kembali berpikir.

Lydia sedari tadi menunggu dengan gelisah.

Tak lama ponsel berdering, ia pun segera mengangkatnya setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

Pria itu memberikan kode pada Lydia dengan tangannya untuk menunggu sebentar.

Ia duduk di kursi sembari menjawab panggilan teleponnya itu.

"Iya, sayang!"

"Kau ada dimana? Kenapa lama sekali? Kau jadi datang ke sini, kan?" terdengar suara seorang wanita yang kesal.

Lydia bisa mendengarnya samar-samar. Ia lalu melirik ke arah gudang dan tampak terkejut melihat Amara sedang berdiri di balik pintu itu.

Ia tampak mematung menatap tajam kearah suaminya yang kini tengah berbicara mesra dengan seorang wanita melalui ponselnya.

"Jangan marah-marah begitu, sayang! Itu sama sekali tidak baik untuk kandungan. Aku sedang berada di toko bunga sekarang untuk membeli bunga kesukaan mu. Jadi jangan marah lagi, oke?" Randi berbicara dengan sangat lembut pada wanita itu.

Bahkan ia terlihat begitu bahagia dengan senyuman yang tak pernah luput dari bibirnya.

"Aku tidak ingin bunga. Aku ingin kue saja. Kau ingat, 'kan kue yang terakhir kali kita beli?"

"Oh, aku ingat sayang. Kebetulan tokonya tidak terlalu jauh dari toko bunga ini. Baiklah, aku akan ke sana sebelum tokonya tutup." jelasnya pada wanita itu.

"Iya, sayang. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, sayang. Tunggu aku, ya."

Setelah bertukar kata-kata romantis, Randi mematikan ponselnya.

"Aku tidak jadi membeli bunganya." ucapnya lalu pergi.

Lydia tampak lega setelah melihatnya pergi. Namun ia merasa tidak tega setelah melihat Amara kini tertunduk lesu setelah kepergian suaminya itu.

"Kau tidak apa-apa, kak?" Lydia tampak menghampirinya dan bertanya dengan hati-hati.

Amara terdiam sejenak. Ia masih tak percaya jika ternyata suaminya itu benar-benar menduakan dirinya. Bahkan wanita itu kini tengah mengandung benih dari suaminya. Entah sejak kapan pengkhianatan ini terjadi. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.

Randi bahkan tahu apa saja yang disukai oleh wanita itu. Hatinya benar-benar merasa terpukul karena selama ini dirinya seperti dianggap tidak pernah ada. Randi bahkan tak tahu apa yang ia sukai maupun yang tidak di sukai olehnya. Untuk sekedar bertanya pun tidak pernah.

Apa di mata suaminya ia sama sekali tak berharga?

Perlahan air matanya kembali mengalir. Dadanya terasa perih tak berperi.

"Kak!" Lydia hanya bisa memeluknya.

Gadis muda itu bahkan tampak kebingungan menghadapinya karena tak punya pengalaman apa-apa. Ia hanya mampu mengucapkan kata "sabar" padanya.

Kling!

Lagi-lagi lonceng itu ber berbunyi. Mereka berdua serentak menoleh bersama.

"Permisi." seorang pria muda masuk ke dalam toko.

"Kak Mara!" seru pria itu yang ternyata adalah Wahyu.

Mara langsung menghampirinya.

"Kakak kenapa menangis?" tanyanya cemas.

"Tadi kakakmu ke sini." ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Kau kesini naik apa?" tanyanya kemudian.

"Aku meminjam motor temanku. Kenapa, kak?" tanyanya bingung.

"Lydia, apa kau tidak keberatan jika menunggu toko sendirian sebentar?" tanyanya pada gadis muda itu.

"Iya, tidak apa-apa, kak. Kakak mau pergi kemana?" tanyanya penasaran.

"Kakak mau menyusul suami kakak." jawabnya dengan raut wajah marah.

"Baiklah." Lydia menyanggupinya.

"Ayo, Wahyu! Kita susul kakak kamu. Masalah ini harus selesai malam ini juga." ia tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Baik, kak."

Mereka berdua lalu pergi.

"Semoga semuanya bisa segera berakhir. Kasihan kak Mara." Lydia tampak cemas padanya.

...****************...

Sementara itu di rumah Dina.

Randi baru saja tiba dengan membawa kotak kue yang berisikan bermacam-macam kue krim kesukaan kekasihnya itu.

"Kenapa mas lama sekali? Bayi kita sudah lapar." wanita itu tampak merengek dengan manja sambil mengusap perutnya.

"Iya, tadi tokonya lumayan ramai. Ayo kita masuk ke dalam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan bayi kita." ajak pria itu.

Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah. Dina tak lupa menutup pintu rumahnya.

Mereka lalu duduk di sofa. Dina sudah tak sabar untuk memakan kue itu. Ia membuka kotak dan mengambil satu potong kue coklat.

"Kira-kira sudah berapa minggu usia kehamilan mu?" tanyanya sambil memegang perutnya.

"Kok belum kelihatan?" tanyanya heran karena perutnya masih terlihat rata.

Dina tiba-tiba tersedak. Randi yang panik langsung mengambilkan minuman untuknya.

"Pelan-pelan makannya, sayang." pintanya sambil menyodorkan gelas itu padanya.

"Terima kasih, sayang." ia merasa lega kembali.

"Aku cuma kaget. Kau tanya apa tadi? Lanjutnya.

"Aku hanya tanya usia kehamilan kandungan mu." ia mengulangi pertanyaannya.

"Oh, usianya baru berjalan 2 minggu, sayang. Makanya perutku masih terlihat rata." jelasnya canggung.

"Oh. Kapan kau harus pergi lagi untuk kontrol kandungan?" tanyanya.

"Hmm... S-sebulan lagi. Iya, sebulan lagi. Memangnya kenapa?" tanyanya panik.

"Mas mau menemani mu untuk kontrol. Mas juga ingin melihat bagaimana perkembangan janinnya." jelas Randi.

"Oh." Dina tiba-tiba salah tingkah.

Tok...

Tok...

Tok...

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu di tengah pembicaraan mereka.

"Ck.. Siapa yang datang berkunjung malam-malam begini? Aku rasa aku tidak sedang menunggu seseorang." Dina tampak heran.

"Coba dilihat saja, sayang." pinta Randi.

"Baiklah."

Dina lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.

Ketika pintu itu terbuka, reaksinya langsung terkejut seperti sedang melihat hantu.

"K-kau!"

"Di mana mas Randi? Aku mau bicara padanya."

...****************...

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Telur ular gw sediain buat Lo. gw campur pake sambel lalu gw masukin ke mulut lo.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih najis banget mertu kayak begini bikin menguras mental 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
aku mampir dulu ke karya mu yang lain sambil nunggu 2 novel kamu yg entah kapan itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
pret ah cek kamu we ngomong mudah, kesonona mah kagak tahu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya akhiri aja, lagian nggak jelas kan.
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Semangat ya dek
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
SANG
Bintang lima untukmu dek. Semangat ya, aku berharap mendapatkan rangking
SANG
Astaga
SANG
Widih
SANG
Like iklan plus komen💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Hadir dek
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Novel baru semangat baru💪👍
Fathir Albiansyah
ceritanya menarik gsk bosan
-Thiea-: terimakasih 🙏🏿
total 1 replies
MULIANA 💦
Berarti amara gak marah? syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!