Setitik Cinta Di Atas Harapan
"Kenapa kau tiba-tiba memintaku datang ke sini? Ada apa? Kelihatannya sangat penting." pria itu bertanya dengan nada bingung.
Seorang gadis muda yang telah menjadi kekasihnya beberapa bulan terakhir ini , tiba-tiba saja meminta bertemu setelah sepulang sekolah di halaman parkir sekolah.
Gadis itu berdiri kaku di tempatnya. Jemari tangannya tak henti meremas ujung rok abu-abunya yang sudah terlihat kusut. Ia bahkan tak berani menatap pria itu. Seolah ingin menyembunyikan raut wajahnya yang gelisah.
"Sebaiknya kita mengakhiri hubungan ini." gadis muda itu akhirnya memberanikan diri untuk menatapnya dengan penuh keyakinan.
Pria itu malah tertawa kecil. Menganggap perkataan itu tak lebih dari sekedar gurauan belakang yang terlontar dari mulutnya.
"Apa kau sedang bergurau? Karena itu sama sekali tidak lucu." ungkap pria muda itu mengerutkan keningnya.
"Aku tidak sedang bergurau. Aku serius, Kak. Aku akan pindah bersama ibuku. Mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi." ungkapnya, berusaha untuk tegar.
"Memangnya kemana kau akan pindah? Kita masih bisa bertemu seminggu sekali atau sebulan sekali. Bagiku itu sangat mudah, Amara. Kita bisa mencari solusi bersama. Tidak perlu sampai berpisah, kan?" Pria itu memegang kedua tangannya. Berharap gadis itu bisa merubah keputusannya.
"Apa! Tidak, Kakak tidak bisa melakukannya." sanggahnya tidak setuju.
"Kenapa? Itu masalah mudah bagiku." balasnya tenang sembari menatap tajam ke dalam mata gadis itu, meyakinkannya bahwa ia bisa melakukan apapun untuk mencegah perpisahan itu tidak benar-benar terjadi.
Gadis itu tersenyum lirih. "Iya, itu memang mudah bagimu karena kakak memiliki segalanya. Justru hal itulah yang membuat perbedaan di antara kita menjadi begitu jelas. Aku tidak cocok dan sepadan denganmu."
Pria itu menatapnya tajam, lalu meremas bahunya tanpa sadar. Meluapkan emosi yang seketika mulai menguasainya.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Ini tidak seperti dirimu. Apa ada yang mengancam mu? Atau mengatakan yang tidak-tidak tentangku?" desis pria itu dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang tertahan.
"Lepaskan aku, Kak! Kau menyakitiku!" Ia meringis, merasakan jemari pria itu menekan kuat kulitnya, namun ia menoleh untuk memalingkan wajahnya dari pria itu.
Pria itu seketika sadar dan menyingkirkan kedua tangannya dengan kasar.
"Maafkan aku, Mara! Aku khilaf." pintanya merasa bersalah.
Gadis itu hanya diam. Keheningan diantara mereka terasa mencekam, hanya deru nafas berat pria itu yang memecah kesunyian diantara keduanya.
"Tapi, apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran . Kemarin kau masih bersikap seperti biasa padaku. Bahkan pagi tadi kau masih menyapaku dengan ramah. Apa yang membuatmu berubah dan minta berpisah? Aku sama sekali tidak mengerti." ia bertanya-tanya karena tidak mengerti apa masalahnya.
Gadis yang dipanggil "Mara" itu tampak gusar menghadapi pertanyaannya.
"Karena ... aku merasa jika kita berdua tidak ada kecocokan sama sekali. Kita masih muda dan punya impian masing-masing. Ini hanyalah sekedar cinta monyet belaka. Nanti ketika kau dewasa dan bertemu dengan wanita yang lebih baik, kau mungkin akan tertawa ketika mengenang kisah kita sekarang. Jadi, kita akhiri saja sampai di sini. Aku sudah mengajukan surat pindah pada pihak sekolah. Lusa aku akan pindah bersama ibuku." jelasnya dengan mata berbinar, bukan karena senang, melainkan untuk menutupi kesedihannya.
"Lusa! Secepat itu? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanyanya bingung.
"Ini rencana mendadak. Maafkan aku, kak! Aku harus pulang sekarang untuk bersiap-siap. Selamat tinggal kak. Terima kasih untuk waktu-waktu berharga yang kau berikan padaku. Aku senang mengenalmu. Maafkan aku jika terkadang aku bersikap egois padamu." pintanya sebelum pergi.
Gadis itu berbalik dan pergi dengan langkah yang terburu-buru. Dia bahkan tidak menoleh lagi untuk sekedar melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.
Pria itu hanya berdiri mematung di tempatnya. Ia bahkan tak berusaha untuk mengejarnya karena masih terlihat bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ini sangat aneh!" gumamnya pelan.
...****************...
Itu adalah terakhir kalinya ia melihatnya di sekolah. Gadis itu benar-benar tidak menampakkan wajahnya lagi di sekolah. Ia bertanya-tanya pada teman sekelasnya, tetapi gadis itu bukanlah gadis yang populer. Ia bahkan tidak punya banyak teman dekat di kelas. Gadis itu memang dikenal sebagai gadis pendiam. Tak banyak orang yang bicara padanya. Sehingga tidak ada yang tahu tentang keberadaannya maupun keadaannya.
Bahkan mereka semua selalu bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa tertarik pada gadis sepertinya?
Pria itu sangat populer di sekolah karena latar belakangnya yang berasal dari keluarga berada. Ayahnya bahkan adalah salah satu pemilik saham di sekolah ini. Bagaimana mungkin ia bisa tertarik pada gadis seperti itu. Bahkan ia tidak populer.
Anehnya pria itu bahkan baru tahu hal itu hari ini. Selama ini ia hanya sibuk membanggakan dirinya sendiri di hadapan gadis muda itu tanpa pernah tahu bagaimana perasaan gadis itu sebenarnya. Apakah ia merasa senang atau justru sebaliknya, merasa terpaksa menerimanya.
Pria itu sungguh menyesal. Tanpa pikir panjang, ia memilih untuk bolos di jam istirahat untuk menyusul ke rumah gadis itu.
Satu-satunya hal yang ia tahu tentang gadis itu hanyalah alamat rumahnya saja. Karena ia pernah beberapa kali mengantarkannya pulang. Tetapi sepertinya ia terlambat karena rumah itu terlihat sepi. Bahkan pagarnya sudah di gembok.
Apa mereka sudah pergi? Ia bertanya-tanya dalam hati.
Mereka pergi dengan apa? Kereta atau pesawat?
Pria itu lalu menelepon seseorang. Dan memintanya untuk mencari informasi.
Mereka pergi dengan kereta api. Dan akan berangkat siang ini pukul sebelas. Ia masih punya waktu setengah jam untuk sampai ke sana.
Ia mengendarai sepeda motornya dengan sangat laju, menembus padatnya jalanan siang itu. Bahkan ia tak memperdulikan makian dari beberapa pengguna jalan yang hampir ia tabrak.
Ia ingin cepat sampai dan ingin menyampaikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.
Ia sampai di stasiun kurang dari setengah jam. Ia lalu mencari gadis itu di setiap sudut. Di loket tiket, di kursi-kursi tunggu, dan di kereta yang akan berangkat, namun ia belum berhasil menemukannya.
"Dimana dia?"
Pria itu juga tak bisa menghubungi sejak pagi tadi. Gadis itu mungkin sengaja menonaktifkan ponselnya agar ia tak bisa dihubungi.
"AMARA!!!" Ia berusaha untuk menyerukan namanya di setiap sudut stasiun.
Harap-harap jika gadis itu mendengarnya. Namun ia tak juga menemukannya. Bahkan sampai kereta berangkat pun, ia juga tak berhasil menemukannya.
Kenapa hubungan mereka berakhir seperti ini. Ini tidak masuk di akal.. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Aku pasti akan menemukanmu suatu hari nanti." ia berjanji pada dirinya sendiri mulai saat itu.
...****************...
Hallo!
Ini adalah novel terbaru yang saya buat setelah menyelesaikan "cinta untuk Ayana".
Harapannya semoga saya bisa terus konsisten untuk menulis bab setiap harinya. Semoga semuanya berjalan lancar. Aamiin.
Dan untuk para pembaca setia, jangan lupa sisihkan waktu untuk memberi dukungan pada saya ya. Jangan lupa untuk subscribe ♥️ agar kalian gak ketinggalan lanjutan ceritanya.
Terima kasih untuk waktu dan dukungan ya.
*Setitik cinta di atas harapan*
By Mutia Ratnasari.
Happy reading guys ♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Athena
jangan2 si mara di ancem keluargamu dan di ksh uang agr pergi dr hidupmu.
2025-10-28
0
Athena
Hrusnya km membuat dirimu pantas bersanding dgnya, jgn mlh insecure gini. buktikn pda dunia bhwa wlwpun km ank dr org tk punya t km punya prestasi yg bs di banggakan
2025-10-28
0
MARDONI
Judulnya aja udah lembut banget, Setitik Cinta di Atas Harapan… semoga ceritanya juga penuh rasa😍
2025-12-30
0