Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Baik, balasnya. Biarkan mereka mengira itu hanya undangan biasa.
Satu minggu setelah kejadian di PIK, rumah itu akhirnya kembali bernapas.
Yuliana masih dirawat di RS Pondok Indah selama beberapa hari karena luka di dekat mata kirinya. Keluarga Lim sibuk menutup mulut para tetua yang sempat melihat pisau di ruang tamu Keira. Hendrawan tidak datang lagi. Vanessa mengirim beberapa pesan panjang yang tidak Keira buka.
Keira belajar satu hal dari minggu itu.
Sunyi bisa menjadi obat, selama orang yang tepat duduk di dekatnya.
Siang itu, papan catur terbuka di meja ruang keluarga. Keira duduk bersila di sofa, rambut diikat asal, sementara Rayhan duduk di seberangnya dengan ekspresi tenang yang mulai membuatnya kesal.
"Skakmat."
Rayhan menatap papan.
Keira bersandar dengan puas. "Tiga kali."
"Saya tahu."
"Kamu kalah tiga kali."
"Saya punya ingatan baik."
"Harusnya laki-laki simpanan memuji majikannya lebih antusias."
Rayhan mengangkat mata. "Selamat. Majikan saya kejam di papan catur."
Keira tertawa. Tawa itu terdengar lebih ringan daripada minggu lalu, dan Rayhan memperhatikan perubahan itu tanpa menunjukkannya.
Ponsel Keira bergetar.
Nama Tan Darren muncul di layar.
Rayhan melihatnya lebih dulu daripada Keira. Matanya menyipit sedikit.
"Ko Darren?" Keira mengangkat telepon. "Selamat siang."
Suara Darren terdengar hangat dan formal dari seberang. "Nona Keira, maaf mengganggu. Saya menghubungi untuk undangan resmi. Akhir pekan ini Tan Corp bersama Oei Patrick akan mengadakan lelang yacht. Ada beberapa slot kerja sama strategis yang mungkin relevan untuk Lim Group."
Keira duduk lebih tegak. "Lelang yacht?"
"Di TITAN. Undangan fisik akan dikirim ke alamat Anda hari ini. Saya harap Anda bersedia hadir."
"Kenapa saya?"
Darren tertawa kecil. "Karena saya percaya Nona Keira bisa membaca nilai lebih baik daripada kebanyakan orang."
Rayhan meletakkan bidak catur yang tadi ia pegang.
Keira meliriknya sekilas. "Baik. Saya akan pertimbangkan."
"Saya tunggu kabar baiknya."
Telepon berakhir.
Keira belum sempat meletakkan ponsel ketika Rayhan bertanya, "Kalian sering bicara?"
Nada suaranya terlalu datar.
Keira menatapnya. "Kalian?"
"Kau dan Ko Darren."
Keira mengedip. Lalu senyumnya perlahan muncul. "Cemburu?"
"Saya bertanya."
"Pertanyaanmu punya aroma cemburu."
"Aroma kayu cendana saya tidak berubah."
Keira tertawa sampai bahunya bergetar. "Ray, kamu lucu sekali kalau pura-pura tidak cemburu."
Rayhan berdiri dan berjalan ke jendela, seolah perlu menerima telepon penting. Ponselnya memang bergetar.
"Ya," katanya setelah mengangkat.
Suara Devin terdengar pelan. "Bos, undangan sudah dikirim. Satu atas nama Nona Keira, satu kosong sesuai perintah."
Rayhan melirik Keira yang masih memperhatikan papan catur. "Orang keluarga Tan tampaknya sangat tertarik pada orang saya."
Devin di seberang terdiam satu detik. "Ko Darren hanya menjalankan perintah Anda, Bos."
"Dia terdengar terlalu ramah."
"Itu tugas sosialnya."
"Kurangi keramahan."
Devin menahan napas. "Siap, Bos."
Rayhan menutup telepon dan kembali ke sofa.
Keira langsung menyipitkan mata. "Siapa?"
"Pekerjaan."
"Perempuan?"
"Devin."
"Oh." Keira mengambil satu bidak catur. "Yang di Singapore itu?"
"Hm."
"Kenapa kamu harus menjauh untuk bicara dengan Devin?"
"Kenapa kau tersenyum saat bicara dengan Darren?"
Mereka saling menatap.
Lalu Keira melempar bidak catur kecil ke arahnya. Rayhan menangkapnya dengan mudah.
"Cemburu," kata Keira.
"Kau juga."
"Aku pemilik kontrak. Aku boleh."
"Saya objek kontrak. Saya juga boleh."
Bel pintu berbunyi sebelum Keira sempat membalas.
Seorang kurir berdiri di luar gerbang membawa kotak undangan hitam dengan logo Tan Corp dan lambang kecil keluarga Oei. Rayhan yang menerima. Kurir itu menunduk lebih dalam daripada biasanya, terlalu dalam untuk sekadar penerima rumah biasa, tetapi Keira sedang membuka kotak sehingga tidak memperhatikan.
Di dalamnya ada dua undangan.
Satu tertulis jelas: Lim Keira.
Satu lagi kosong, hanya dengan cap akses VIP.
Keira mengangkat undangan kosong itu. "Mereka mengirim lebih?"
Rayhan mengambilnya dari tangannya dengan santai. "Untuk pendampingmu."
"Aku belum bilang mau membawa kamu."
"Kau mau membawa siapa? Ko Darren?"
Keira tertawa lagi. "Kamu benar-benar cemburu."
Rayhan memasukkan undangan kosong itu ke saku. "Saya hanya memastikan investasimu tidak dibawa orang lain."
Keira membuka buku kecil daftar lelang yang ikut diselipkan di kotak. Ada lukisan, perhiasan, jam antik, dan beberapa proyek investasi. Ia membalik halaman sambil masih tersenyum.
Namun semakin jauh ia membaca, senyum itu pelan-pelan hilang. Di beberapa halaman tengah, ada daftar peserta lama, nama keluarga bisnis, dan skema kerja sama yang biasanya hanya beredar di antara orang-orang yang sudah diterima dalam lingkaran atas. Keira tahu betul arti akses seperti itu. Satu tanda tangan dari Tan Corp bisa membuat bank yang kemarin ragu tiba-tiba membuka pintu. Satu proyek bersama bisa membuat keluarga Ong kehilangan alasan untuk merasa dibutuhkan.
Rayhan melihat perubahan di wajahnya.
"Menarik?"
"Berbahaya," jawab Keira.
"Kau suka hal berbahaya."
"Aku suka hal yang bisa kupakai untuk hidup."
Rayhan tidak menggodanya lagi. Ia membiarkan Keira membaca, karena sorot mata itu bukan lagi sorot perempuan yang baru menang catur. Itu sorot seseorang yang sedang mencari jalan keluar dari rumah yang berusaha menguncinya.
Senyumnya berhenti di halaman terakhir.
Tertulis dengan huruf tebal:
Lot penutup: slot mitra strategis Tan Corporation. Harga pembuka Rp5 miliar.
Keira membaca kalimat itu sekali lagi.
Jantungnya terasa melewatkan satu detak.
Jika ia mendapatkan slot itu, Lim Group tidak perlu menunggu belas kasihan keluarga Ong.