Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandaran di Balik Senyap
Isak tangis Aluna yang semula tertahan kini pecah begitu saja di dalam Kamar 204. Ia tidak peduli lagi dengan perawat yang mungkin akan lewat atau pasien lain di balik tirai sebelah. Seluruh beban berat yang menghimpit dadanya selama dua jam terakhir seakan luruh bersama air mata yang membasahi pipinya. Ketakutan bahwa ia telah ditinggalkan, kecemasan akan ancaman rentenir yang mengerikan, dan luka hati akibat pengkhianatan Kafka, semuanya melebur menjadi satu luapan emosi yang tak terbendung.
Elvan yang melihat reaksi Aluna langsung meletakkan kantong plastik berisi teh hangat dan roti di atas meja nakas. Langkah kakinya yang lebar membawanya mendekati Aluna dalam sekejap. Tanpa ragu, pria tegap itu berlutut di sebelah kursi Aluna, menyejajarkan tinggi tubuhnya agar bisa menatap langsung ke dalam manik mata wanita yang kini telah resmi menjadi tanggung jawabnya.
"Aluna, ada apa? Mengapa kamu menangis sekeras ini?" tanya Elvan, suara baritonnya yang biasa terdengar dingin kini dipenuhi oleh kehangatan dan rasa khawatir yang tulus. Tangan besarnya bergerak ragu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk menggenggam jemari Aluna yang terasa sedingin es. "Apakah ada orang jahat yang datang ke kamar ini saat aku pergi? Atau kondisi ayahmu memburuk?"
Aluna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia meremas cengkeraman tangan Elvan begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, pria di hadapannya ini akan lenyap kembali seperti asap.
"Aku ... aku kira Mas Elvan pergi," bisik Aluna di sela tangisnya yang sesenggukan. Suaranya terdengar sangat parau dan rapuh. "Aku tahu hubungan kita baru dimulai semalam. Aku tahu masalah yang dibawa oleh keluargaku, utang Doni yang sebesar dua ratus juta itu, terlalu besar dan berbahaya untuk orang lain. Aku takut Mas Elvan berpikir ulang lalu memilih untuk pergi menyelamatkan diri sendiri ... Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Mas ..."
Mendengar pengakuan jujur dari bibir Aluna, hati Elvan terasa seperti ditusuk oleh sebilah sembilu. Ada rasa bersalah yang menyelusup di sudut hatinya. Ia menyadari bahwa kepergian rahasianya ke gudang Gito tadi, meskipun bertujuan untuk menyelesaikan masalah secara permanen, telah meninggalkan trauma mendalam bagi jiwa Aluna yang sudah terombang-ambing oleh pengkhianatan masa lalu. Wanita ini telah terlalu sering dikecewakan, sehingga ketidakpastian kecil saja bisa meruntuhkan seluruh pertahanannya
Elvan membawa tangan Aluna yang ia genggam ke depan dadanya, membiarkan Aluna merasakan detak jantungnya yang stabil dan kuat di balik kaus polos hitamnya.
"Dengarkan aku, Aluna," ucap Elvan dengan nada suara yang sangat dalam, mantap, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk keraguan. "Aku memang pria asing yang masuk ke dalam hidupmu dengan cara yang tidak biasa. Namun, sumpah pernikahan yang aku ucapkan di depan wali hakim semalam bukanlah sebuah permainan. Ketika aku mengatakan aku akan menjadi pelindungmu, itu berarti aku telah mengikatkan seluruh hidup dan matiku pada keselamatanmu dan ayahmu."
Elvan menjeda kalimatnya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Aluna dengan lembut. "Masalah utang kakak tirimu ... atau ancaman preman mana pun di luar sana, itu bukan lagi masalahmu sendiri. Itu adalah masalahku sebagai suamimu. Aku tidak akan pernah melarikan diri, Aluna. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi badai ini sendirian. Jadi, tolong belajarlah untuk memercayakan pundakmu padaku."
Kata-kata Elvan yang begitu kokoh laksana batu karang di tengah lautan instan menembus dinding pertahanan ego Aluna. Rasa aman yang sangat pekat, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, bahkan dari Kafka yang selalu berjanji manis namun penuh pamrih, kini mengalir deras memenuhi rongga dadanya.
Aluna menatap mata elang Elvan yang meneduhkan, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni dan tekad yang mutlak.
Aluna perlahan menyeka air matanya dengan ujung saputangan, mencoba meredakan isak tangisnya. "Maafkan aku, Mas ... Aku hanya ... aku hanya terlalu takut."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti," Elvan tersenyum tipis, seulas senyum menawan yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Ia berdiri lalu mengambil cangkir plastik berisi teh melati hangat dari dalam kantong, menyerahkannya kepada Aluna. "Minulah ini selagi hangat. Ini akan membuat hatimu lebih tenang.
Dari atas tempat tidur rawat, Pak Kusuma yang sejak tadi memperhatikan interaksi kedua anak muda itu mengembuskan napas panjang dipenuhi rasa haru. Pria tua itu merasakan kelegaan yang luar biasa melihat bagaimana menantu dadakannya memperlakukan putrinya dengan begitu terhormat dan penuh kasih sayang.
"Nak ... Nak Elvan ..." panggil Pak Kusuma dengan suara yang masih lemah namun terdengar jauh lebih stabil.
Elvan segera menoleh dan melangkah ke sisi tempat tidur Pak Kusuma. "Iya, Pak. Bagaimana kondisi Bapak? Apakah ada bagian tubuh yang terasa sakit?"
Pak Kusuma menggeleng perlahan. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, yang langsung disambut hangat oleh Elvan. "Terima kasih ... Terima kasih karena telah kembali untuk anak saya. Semalam ... saat saya mendengar tentang utang Doni yang begitu besar, saya merasa seperti orang tua yang gagal. Saya takut Aluna akan hancur karena kesalahan kakaknya. Tapi melihat caramu menjaganya hari ini ... saya tahu Tuhan telah mengirimkan pria yang tepat."
"Ini sudah menjadi kewajiban saya, Pak," jawab Elvan dengan sikap membungkuk hormat. "Bapak tidak perlu memikirkan urusan luar lagi. Fokuslah pada terapi dan pemulihan pascaoperasi Bapak. Mengenai masalah rentenir itu ... saya jamin mereka tidak akan pernah mengganggu keluarga kita lagi."
Aluna mendekat, berdiri di samping Elvan sambil memegang cangkir tehnya. "Mas Elvan benar, Ayah. Kita harus optimis. Yang paling penting sekarang adalah kesehatan Ayah."
Meskipun Aluna mencoba mendukung kata-kata Elvan, di dalam hatinya ia masih menyimpan satu pertanyaan besar yang mengganjal. Bagaimana bisa Elvan begitu yakin bahwa rentenir itu tidak akan mengganggu mereka lagi? Apakah Elvan menyembunyikan sesuatu saat ia pergi selama dua jam tadi? Aluna melirik profil samping wajah Elvan, rahang tegasnya yang kokoh dan pembawaannya yang begitu tenang, membuat Aluna menyadari bahwa suaminya ini menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Namun, untuk saat ini, Aluna memilih untuk menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Kehadiran Elvan yang nyata di sisinya sudah lebih dari cukup.
***
Sore harinya, cahaya matahari mulai meredup, digantikan oleh semburat warna jingga kemerahan yang membakar langit barat Jakarta. Dokter spesialis saraf yang menangani Pak Kusuma masuk ke dalam kamar bersama seorang perawat untuk melakukan pemeriksaan rutin pascaoperasi.
Setelah memeriksa refleks mata dan tekanan darah Pak Kusuma, dokter tersebut berbalik menatap Aluna dan Elvan dengan senyum ramah. "Kondisi Pak Kusuma menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Tekanan di dalam kepalanya sudah stabil, dan kemampuan motoriknya mulai kembali perlahan. Jika tren ini berlanjut, dalam waktu tiga atau empat hari ke depan beliau sudah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan di rumah."
"Benarkah, Dok? Alhamdulillah..." Aluna berucap dengan wajah yang berbinar bahagia. Ini adalah berita terbaik yang ia dengar sepanjang hari yang melelahkan ini.
"Iya, Mbak. Tapi ingat, setelah pulang nanti, pasien tidak boleh diberikan beban pikiran yang berat atau stres fisik. Pemulihan jaringan otaknya membutuhkan ketenangan total," pesan dokter tersebut sebelum akhirnya pamit keluar kamar bersama perawatnya.
Begitu pintu kamar kembali tertutup, Aluna menoleh ke arah Elvan. Kebahagiaannya mendadak sedikit terusik oleh kenyataan logistik yang harus mereka hadapi. "Mas ... dokter bilang Ayah bisa pulang dalam empat hari lagi. Tapi ... kita tidak mungkin membawa Ayah kembali ke rumah lama kita di gang depan. Tempat itu sudah tidak aman, rentenir atau Doni bisa datang kapan saja. Kontrakan petak kita yang sekarang juga terlalu sempit dan panas untuk merawat orang sakit yang butuh ketenangan total seperti Ayah."
Elvan mengangguk setuju. Ia meletakkan tangannya di dalam saku celana, otaknya yang taktis langsung bekerja menyusun rencana baru. Tentu saja, ia bisa saja langsung memindahkan Pak Kusuma ke salah satu vila mewah atau apartemen penthaus milik Adhitama Group di pusat kota. Namun, melakukan hal itu sekarang akan instan membongkar identitas aslinya di depan Aluna, sekaligus memicu radar pelacakan dari ibu tirinya yang sedang gencar mencari keberadaannya. Ia harus bergerak dengan langkah yang terukur.
"Kamu tidak perlu cemas tentang tempat tinggal, Aluna," ujar Elvan dengan nada tenang yang meyakinkan. "Aku memiliki seorang teman lama yang bekerja di bidang properti. Dia memiliki sebuah rumah paviliun kecil di daerah pinggiran kota yang lebih asri dan sepi. Tempatnya bersih, memiliki taman kecil, dan lingkungannya sangat tenang, sangat cocok untuk pemulihan ayahmu. Harganya juga sangat bersahabat karena temanku itu sedang membutuhkan orang untuk menjaga rumahnya selama ia bertugas di luar negeri."
Aluna menatap Elvan dengan mata berbinar tidak percaya. "Benarkah, Mas? Apakah tempatnya benar-benar aman dari jangkauan orang-orang itu?"
"Sangat aman. Kawasan itu memiliki sistem keamanan satu gerbang yang dijaga ketat," jawab Elvan, menyembunyikan fakta bahwa rumah paviliun yang dimaksud sebenarnya adalah salah satu properti aman milik divisi rahasia perusahaannya sendiri yang telah ia instruksikan kepada Bram untuk disiapkan sore ini. "Besok, aku akan mengurus proses sewanya dan menyiapkan tempat itu agar siap ditempati begitu ayahmu keluar dari rumah sakit."
Rasa syukur yang teramat dalam kembali membuncah di hati Aluna. Pria di hadapannya ini seolah selalu memiliki jawaban dan jalan keluar untuk setiap labirin masalah yang ia hadapi.
Malam pun perlahan turun memeluk rumah sakit umum daerah. Suara bising kota di luar jendela mulai mereda, digantikan oleh kesunyian malam yang khidmat. Pak Kusuma telah tertidur lelap setelah meminum obat malamnya.
Di dalam Kamar 204 yang remang, Aluna duduk di samping dipan ayahnya, sementara Elvan duduk di kursi plastik di dekat jendela, matanya sesekali menatap keluar ke arah kegelapan malam, bertindak sebagai penjaga malam yang tak kenal lelah.
Aluna menatap punggung tegap Elvan yang siluetnya terpapar cahaya lampu koridor yang masuk dari celah pintu. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Aluna bisa merasakan detak jantungnya sendiri berjalan dengan teratur tanpa disertai rasa takut yang mencekik.
Badai besar memang belum sepenuhnya berlalu dari kehidupan mereka, namun di balik remang kamar rumah sakit ini, Aluna tahu ia telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Bersama Elvan, sang suami misterius yang memiliki kekuatan di balik senyap, ia siap melangkah menghadapi apa pun yang telah digariskan oleh takdir di depan sana.