ceita ini tentang seorang gadis muda, yang rela menikahi bos di tempatnya bekerja. Demi membiayai pengobatan sang adik yang terbaring koma di rumah sakit.
Lelaki yg menikahinya, seorang yang sangat dingin, jarang banyak bicara tapi, sebenernya ramah dan penyayang.
Hanya saja kehidupan rumah tangganya dulu, yang hancur membuat laki-laki itu seakan menutup diri.
Bagaimana gadis ini menjalani rumah tangganya?
Sanggupkah dia bertahan?
mari kita simak sama-sama😊
ini karya pertamaku kak mungkin sedikit berantakan dalam penulisan jadi mohon bimbingannya ya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Waktu makan siang pun tiba, semua karyawan berhamburan mencari makanan untuk mengisi perut mereka.
Begitupun Lisa dan Mona, mereka keluar gedung berjalan mencari warteg di sekitaran kantor.
Di hiruk pikuk kota ini memang sulit mencari makanan yang murah meriah, makanya Mona dan Lisa lebih memilih makan di warteg di banding cafe ataupun kantin. Kalau kata Mona mah
"Lumayan atuh Lis,kalau di warteg harga murah porsi kenyang lagi hehe."
Lisa duduk di samping Mona, kali ini Lisa memesan nasi dengan sayur sop ceker tak lupa krupuk.
Karena dari tadi pagi Mona sudah heboh ingin tau kisah Lisa dan Rendy yang sebenarnya, akhirnya lisa menceritakan dari awal sampai akhir pada sahabatnya itu sambil makan.
"Lis kamu udah nikah sama babang tampan yang kaya raya aja masih irit aja tuh makan." Ujar Mona.
"Yang kaya itu suamiku Mona, bukan aku."
"Ya tetap aya Lisa, masa si babang tampan engga ngasih kamu nafkah, jahat banget sih." kesal Mona
"Aku engga berani minta Mon, soalnya aku juga kerja nih. Mas rendy udah mau ngebiayain perawatannya Egi aja, aku udah seneng." Lisa mulai memakai makanannya.
" Ya engga bisa gitu Lis, tetep aja kamu ini istrinya. Sudah seharusnya dia memberimu nafkah lahir dan batin."
"Mungkin mas Rendy belum sempet ngasih aja Mon, Aku engga ngeharepin lebih."
"emm Lis babang tampan udah ituin kamu belum?." Tanya mona penasaran.
"Ituin gimana? Kamu kalau ngomong yang jelas."
"Ituloh...yang suka di lakuin sama pengantin baru."
"Lakuin apaan?." Lisa di buat tak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya ini.
Mona gemas rasanya, karena Lisa sama sekali engga ngerti apa yang dia ucapkan.
Nih anak polos kebangetan. Batin Mona
"Maksud aku Rendy udah nyentuh kamu belum?. jelas Mona
uhuk..uhuk..
Lisa tersedak mendengar ucapan Mona, dia buru-buru mengambil air di gelas dan meminumnya tanpa sisa.
"Kamu ngomong apaan sih Mon, yang kaya gitu aja di bahas."
"Lah kan aku penasaran Lis?."
"Udah ah, aku udah kenyang nih. Kamu udah belum?." Lisa mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jawab dong Lis, Pasti babang tampan kuat ya? sampai kamu engga mau ceritain." goda Lisa.
"Engga ada yang terjadi apa-apa di antara kami Mona, Kan kamu tau sendiri kami menikah bukan karena cinta. Ya jadi, engga ada apa-apa."
"Ih engga seru, masa engga ada malam pertama."
"Ya memang itu kenyataannya Mona." Lisa mulai geram.
Lisa merogoh saku celananya hendak membayar makanannya.
"Bu berapa semuanya?." tanya lisa
"15ribu neng." jawab si ibu pemilik warteg.
"Ini bu." Lisa menyodorkan uang 5ribu dan 10ribu.
"Makasih ya neng."
"Sama-sama bu."
Lisa melihat sahabatnya masih terdiam mendengar penjelasan darinya.
"Hey ayo bayar, nanti keburu jam 1." ucap Lisa
"Eh iya,ini bu punya saya." ujar mona menyodorkan 2 lembar uang 10ribuan.
Lisa dan Mona kembali ke kantor untuk bekerja kembali.
Namun baru saja Lisa hendak masuk, seseorang yang Lisa kenal memanggil dirinya.
"Lis..Lisa tunggu." ucap Dion.
Lisa menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.
" Eh pak dion, apa kabar pak?" sapa Lisa.
"Baik, Lis kamu kemana aja 2 hari ini. Di telpon engga bisa, ngambil cuti engga bilang aku." tanyanya beruntunan.
"Maaf pak, Lisa ada keperluan mendadak terus hp Lisa ketinggalan juga di rumah. Pas Lisa pulang tau nya, hp nya mati pak." Bohong Lisa.
Tak mungkinkan Lisa menceritakan yang sebenarnya, kalau dia cuti karena akan menikah dengan pemilik kantor ini.
Mona yang paham akan siatuasi ini memilih diam, Mona yakin Lisa pasti tau apa yang harus dia lakukan.
"Kan kamu bisa hubungi saya pas kamu pulang ke rumah, saya khawatir terjadi sesuatu sama kamu."
Memang terjadi sesuatu pak sama Lisa, tapi maaf Lisa engga bisa cerita, karena ini privasi Lisa. Batin Lisa.
"Hehehe pak dion bisa aja, engga terjadi apa-apa kok pak. Lisa baik-baik aja." ujar Lisa.
"Ya sudah, tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya." ucap dion.
"Saya masuk duluan ya." Lanjut Dion yang di balas anggukan oleh Lisa.
Kini Dion telah hilang dari pandangan mereka, Lisa hanya diam memandang punggung lelaki yang selalu setia mendengarkannya, semenjak Lisa di terima bekerja di sini.
"Sudah ayo masuk." ajak Mona.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi, di balik jendela nya Rendy melihat interaksi antara istri dan Dion.
Dia tak kesal ataupun marah, hanya saja kenapa Lisa begitu bisa terlihat senang bahkan bisa tersenyum dan tertawa dengan lelaki itu.
Apa lelaki itu kekasihnya?
Tapi Lisa tak pernah membicarakan ini sebelumnya?.
Ah pusing gue, biarin ajalah toh sekarang gue yang jadi suaminya. Batin Rendy.
Rey menerobos masuk ke ruangan bos nya itu, dia memang bebas masuk kapan saja, karena Rey adalah orang kepercayaan Rendy.
"Oi..lo diem di situ, mau bunuh diri lo?." ucap Rey.
Rendy tersentak mendengar suara sahabat laknatnya ini.
"Lo kalau masuk ucap salam dulu kek." jawab Rendy lalu duduk di sofa bersama Rey.
"Ya maaf, gue buru-buru mau ngasih ini." Rey menyodorkan satu dokumen ke Rendy.
"Apaan ini?." Rendy mengambil dokumen dan membukanya.
"Itu pengajuan grup Angkasa Jaya yang minta kita bekerja sama dengan mereka." ucap Rey
"Tunggu...bukannya Angkasa Jaya itu milik Farhan bukan?."
"Iya Farhan temen kampus kita dulu."
"Bukannya mereka juga perusahaan besar, buat apa mereka kerjasama sama kita?." Tanya Rendy heran.
"Ya mana gue tau, lo tanya aja sendiri."
TUK
Rendy menggetok kepala sahabatnya ini, kalau Rendy tau mana mungkin dia nanya.
"Sakit woy, jahara lu." Rendy mengusap kepalanya yang baru saja di pukul Rendy.
"Gue nanya malah nanya balik lo".
"Lagian gue beneran engga tau, tapi gue rada curiga juga sama si Farhan ini. Soalnya kan dia tua kesel beut ke lo sama gue pas dari jaman kuliah juga, gara-gara dia kalah mulu sama lo."
Memang dulu Rendy ini bintangnya kampus, bukan karena ketampanannya saja tapi kejeniusannya dia yang sulit di kalahkan oleh teman-teman sebayanya.
"Jangan dulu suudzon lu,engga baik. Mungkin dia lagi membutuhkan bantuan kita." ucap Rendy.
"Ya gue mah nebak aja."
"Udahlah mending gue pelajari dulu nih proposalnya dia, kalau bagus baru kita pertimbangkan." jawab Rendy.
"Gue sih terserah lo Ren kan elu direkturnya di sini."
"Ya udah ini gue simpen dulu."
Rendy bergegas menghampiri mejanya kemudian membuka laci dan menyimpan proposal itu.
Rendy dan Rey kembali ke pekerjaan masing-masing. Hening dan fokus itu yang terasa, Rendy selalu serius setiap bekerja, karena dia sudah didik dari kecil oleh papahnya.
Rendy mengambil hp nya di atas meja lalu menelpon Rey.
"Udah mau sore kita balik Rey."
Rey melihat arloji di tangannya, ya benar saja waktu begitu cepat berlalu.
"Ok gue ke ruangan lo." jawab Rey di ujung telpon.
Rey segera merapihkan meja kerjanya, lalu berlalu menuju ruangan Rendy.
...****************...
BERSAMBUNG
Maaf ya aku cuman bisa nulis 1000 atau lebih dikit perbab nya, soalnya kadang hp author suka ngehange kalau lama-lama nulis😁
Maklum hp nya minta ganti😂
Makasih ya yang masih setia baca novelku🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Like,Coment&Vote nya kaka😊
SELAMAT MEMBACA😊😊