Bacaan Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Taman Bunga Peony
Pria itu akhirnya menangkap basah Sarah. Aksi kejar-kejaran dadakan antara majikan dan pelayannya itu terhenti karena Sarah yang tiba-tiba saja tersandung dan jatuh dengan cukup keras ke tanah basah yang terasa lembab.
Tatapan Bagas teramat tajam, tangannya berkacak di pinggang. Mendengus kasar, Bagas terkekeh sinis kemudian berjalan mendekat ke arah Sarah yang masih terduduk dan tertunduk kaku.
"Selain penggoda, kamu juga penguntit ya Thalia?"
Sembari meremas ujung bajunya yang terkena noda tanah, Sarah menjawab dengan tergagap, "A-nu, tuan maaf saya ti-tidak bermaksud, sa-ya, sa-ya tidak sengaja, tadi saya sed-sedang mencari udara segar."
Dalam hati Sarah sebenarnya muak dengan peran lemahnya ini. Apalagi setelah kejadian di mobil sebelumnya. Sungguh membuat Sarah semakin kesal saat harus bertatap temu dengan Bagas Aryanaka.
Sayangnya Bagas seperti menikmati ketidakberdayaannya saat ini. Karena tampak lelaki itu malah menyunggingkan senyum puas—selayaknya predator yang telah berhasil menyudutkan mangsanya.
Kaki berbalut sandal hitam dari brand LV itu semakin dekat dalam jangkau pandang Sarah yang masih setia menunduk. Tak lama Bagas berjongkok dan kini wajah pria itu sejajar dengan Sarah yang seketika saja memalingkan muka ke arah lain.
Dengan cepat pula Bagas turut bertindak dengan meraih dagu Sarah ke arahnya—seolah tidak membiarkan wanita itu mengabaikan kehadiran dirinya.
"Begitu? Tapi kenapa kamu malah menguping? Dan... Kamu kabur dari saya Thalia. Kamu sengaja hah? Kamu sengaja saya kejar dan ingin menunjukkan tubuh kamu ini kepada saya?"
Sarah melotot tidak percaya. Bagaimana bisa pria di depannya ini berpikir sejauh itu? Yang ada malah ia ingin menjauh dan segera menyelamatkan dirinya.
"Tidak tuan! Saya benar-benar tidak sengaja ada disini dan akhirnya melihat tuan. Saya kabur karena saya takut tuan berpikir macam-macam," jelas Sarah yang kini sudah cukup mampu melawan rasa gugupnya.
Bagas mengangkat sebelah alisnya dan mengerutkan dahi—tanda tidak setuju dengan pernyataan dari salah satu pelayan kediaman Aryanaka itu.
"Lalu apa maksud kamu memakai pakaian terbuka seperti ini Thalia? Bahkan kini saya bisa melihat celana dalam hitam yang sedang kamu pakai," tembak Bagas sembari mengeratkan genggam tangan besarnya pada dagu Sarah.
Sarah tercekat. Ia baru sadar bahwa saat ini dirinya hanya mengenakan gaun tidur putih gading super pendek sebatas paha dengan tali spaghetti tipis yang telah turun akibat ia berlari kencang tadi, sehingga kini belahan dadanya pun sedikit terlihat.
"Pantas saja, matanya dari tadi jelalatan," rutuk Sarah dalam hati.
Sarah bingung harus menjawab bagaimana, karena pasti lelaki itu punya seribu sanggahan yang akan semakin menyudutkan dirinya. Tanpa ia sadari dalam kegundahannya, ia malah secara tak sengaja menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
Lagi dan lagi Bagas pun menyalahartikan tindakannya itu. "Sial! Kamu memang benar-benar mau menggoda dan menjebak saya ya. Bibir ini, sungguh ingin saya gigit dengan keras hmm?" tuduh Bagas tajam sembari ibu jarinya kini sibuk mengelus dan memainkan bibir pucat sang dara.
Sarah mengerjapkan matanya linglung. Rasanya ia benar-benar sudah tidak sanggup menghadapi cecaran Bagas yang membuatnya semakin tidak berdaya.
"Ampun tuan, saya benar-benar tidak ada niatan seperti itu. Maaf tuan, maaf. Saya berjanji tidak akan seperti ini lagi. Biarkan saya pergi tuan," mohon Sarah sambil menggenggam tangan sang tuan—mencoba menghentikan pergerakan intens itu di bibirnya.
Sayang, bukannya berbaik hati dan melepaskannya—Bagas Aryanaka kini malah berbalik menarik kedua tangan Sarah, mencengkramnya kuat, dan tanpa aba-aba menjatuhkan tubuh Sarah ke tanah.
Bagas segera menindih kuat. Posisi mereka berdua saat ini benar-benar rawan. Apalagi napas hangat pria itu telah menerpa wajah Sarah— terasa amat menggebu dan panas.
Tidak seperti saat di mobil sebelumnya. Kini Sarah benar-benar melawan. Ia mencoba melepaskan diri dengan bergerak kesana-kemari. Kedua kakinya yang bebas mencoba menendang pria brengsek diatasnya.
Akan tetapi, walau telah mengeluarkan seluruh tenaganya, Sarah tetap tidak berhasil menyingkirkan badan besar yang menindihnya itu.
Keduanya tangannya ditahan diatas kepala dengan satu tangan sang tuan. Sedangkan tangan yang lainnya kini mulai bermain menjamah pinggul, dan perlahan naik meraba halus perutnya dengan gerakan memutar nan menggoda.
Sarah hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya lagi guna menahan desahan yang hendak keluar.
"Thalia, kamu memang suka menggigit bibirmu sendiri ya? Apakah seenak itu? Saya jadi penasaran ingin mencobanya," celetuk Bagas yang sontak membuat Sarah terkejut hingga membuka matanya lebar.
Belum sempat menolak, Bagas sudah melancarkan aksinya. Dengan cepat wajahnya mendekat. Hidung keduanya telah bersentuhan. Sarah yang seketika menjadi tegang, memilih untuk menutup matanya erat.
Detik demi detik kian berlalu, namun hanya terpaan napas halus yang Sarah rasakan. Merasa penasaran, ia pun memberanikan diri untuk membuka mata. Namun, belum sempat melakukannya, pria yang merupakan ayah putrinya itu kini berbisik geram di telinganya.
"Oh bitch, kamu pikir saya mau mencium kamu hmm? Sayang sekali, melihat kamu yang hanya pasrah dan bertindak murahan seperti ini, membuat saya bosan. Kamu pikir saya akan mengkhianati tunangan cantik saya hanya untuk gadis rendahan macam dirimu? stay on your dream, jalang."
Tajam dan menusuk. Harga diri Sarah terasa tertikam akan perkataan putra tunggal Aryanaka itu. Ia yang disebut rendahan ini—adalah wanita yang dulunya pria itu amat agung-agungkan. Wanita yang telah memberikan harta paling berharga yakni pewaris sah keluarga Aryanaka—Thalia Aryanaka.
Terguncang akan amarah, Sarah yang merasa muak, mendorong lelaki diatasnya itu dengan keras.
Sepertinya Bagas juga tidak ada niatan untuk menahannya lebih lama. Syukurlah.
"Terserah apa kata Anda. Tapi saya bukan perempuan murahan seperti yang Anda katakan tuan Bagas Aryanaka yang terhormat. Suatu saat nanti, saya pastikan tuan akan menyesal telah mengatakan itu semua!" seru Sarah tegas sebelum dengan cepat berjalan meninggalkan Bagas yang hanya berdiri dengan raut datarnya.
Bagas disana hanya terdiam. Masih memandang kepergian si pelayan yang baru beberapa waktu lalu ia jamah beberapa bagian tubuhnya.
Kedua tangan Bagas senantiasa berada di saku celana. Raut wajahnya tidak terbaca—tatapan matanya seakan menyimpan sesuatu, namun sungguh seperti tidak ada emosi tertentu.
Sebenarnya, apa yang sedang pria itu pikirkan?
Sedangkan disisi lain, tampak Sarah tengah berjalan cepat sambil terus mengusap wajahnya yang telah basah karena air mata yang kian turun semakin deras. Dadanya terasa sesak karena mengingat ucapan Bagas yang teramat menyakitinya.
Tetapi, Sarah seharusnya sadar untuk tidak menghiraukan segala perkataan atau sikap mantan suaminya itu—mengingat bahwa Bagas yang sekarang bukanlah sosok Bagas yang ia kenal dulu. Seorang suami yang sangat menghormatinya dan selalu menjaga ucapannya. Seorang pria yang ia tahu akan selalu memuliakan dan memberi seisi dunia hanya untuknya.
Bahkan saat ini ia pun melewati deretan bunga Peony yang sengaja ditanam untuknya. Taman yang dibangun dan dipersembahkan empat tahun yang lalu, sebagai wujud cinta kasih kepada Sarah Aryanaka.
"Mengapa sakit sekali. Mengapa takdir tuhan seperti ini hikss," racau Sarah yang akhirnya lelah—terduduk di tanah sambil memukul dadanya keras—berharap rasa sesak itu akan menghilang.