Menjalani Takdir Pernikahan yang Begitu Rumit Untuk Sania..
" Katakan Apa Salah Ku Sehingga Kau Memberikan Aku Ujian Seberat Ini! " Sania Terduduk Pilu Saat Menyadari Takdir Pernikahan Nya Tidak Sesuai Dengan Semua Nya....
Mampukah Sania Bertahan Atau Ia Akan Memilih Pergi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-16
( Karna Mencintai Mu Dalam Diam, Itu Tidak Pernah Berakhir )
Sania Membantu Naura Dan Juga Diffa Bersiap, Mereka berdua Mengunakan Gaun Berwarna Tembaga.
" Kalian Cantik Sekali " Sania Mengepang Rambut Diffa Yang Sangat Indah Dan Panjang.
" Kak Sania Juga Cantik " Ucap Diffa Menoleh Sania.
" Terimakasih " Sania Mengusap Dua Anak Berusia Sepuluh Dan Sembilan Tahun, mereka Berdua Sudah Sangat Dekat Dengan Sania.
" Sania Kenapa Kamu Belum Siap-Siap? " Timpal Kak Bella Yang Masuk kedalam Kamar Anak-Anak.
" Iya Kak... Kayanya Aku ngak Bisa Ikut Kak, Tiba-Tiba Aku Ngak Enak Badan " Sania Beralasan, Aslinya Dirinya Tidak Kuat Melihat Pernikahan Sang Suami.
Kak Bella Langsung Mengecek Kening Sania, " Tidak Apa, Kamu Tidak Demam, Ayo pakai Baju Ini, Segera Yh Sania Kami Tunggu Di Bawah " Ucap Kak Bella, Sambil Ia Menggiring Dua Anak Itu Turun.
Dengan langkah Gontai Terpaksa Ikut Ke Acara Pernikahan Aditya Dan Karina, Dirinya Sangat Cantik Memakai Baju Warna Marun Dan Juga Kerudung Hitam.
Aditya Dan Sania Menaiki Mobil Terpisah, Sepanjang Perjalanan Sania Nampak Lesu Ia Menyenderkan Kepala Nya Di Kaca Mobil, Sambil Ia Memeluk Naura.
Sesampainya Di Rumah Kelurga Shada Kusen, Terlihat Acara Nya Sangat Meriah, Ucapan Selamat Datang, Dan Juga Rangkaian Bunga Ucapan Atas Pernikahan Aditya Dan Karina Sangat Banyak Berjejer Dari Orang-Orang kantor Dan Juga Teman-Teman kuliah Aditya Dan Karina.
Dengan Langkah Gama, Sania Turun Dari Mobil, Menggandeng Naura Dan Juga Diffa, Mereka Semua Jalan Beriringan Sania Berdiri Di Depan Kak Bella, Sambil Matanya Nanar Melihat Ke Arah Pelaminan Yang Super Megah Disana.
Sania Memegang Bunga Hiasan Yang Semuanya Asli, Dan Semua tamu Undangan Dari Kelurga Yang Berada Dan Masing-Masing Mengunakan Mobil Pada Masa Itu.
Terlihat Juga Wajah Bahagia Karina Sangat Terpancar Nyata, Sania Yang Melihat Penghulu Datang Ia Langsung Undur Diri Keluar Agar Tidak Melihat Suaminya Ijab Kabul Dengan Wanita Lain.
Aditya Melihat Ke Arah Kelurga Nya, Namun Pandangannya Tersirat Karna Ia Tidak Melihat Sania Ada Disana.
" Dimana Sania? " Aditya Hanya Bisa Membatin, Karna Sekarang Pak Penghulu Juga Sudah Ada di Hadapan Nya.
" Bagaimana Mas Sudah Siap? " Pak Penghulu Menjabat Tangan Aditya.
" Siap-Pak " Ucap Aditya Gugup
Sania Memejamkan Mata, Mengigit Bibir Bawahnya Dalam, Saat Mendengar Suara Aditya Lancar Mengucapkan Ijab Untuk Karina Dan Sekarang Karina Telah SAH menjadi Istri Aditya.
" Ya Allah Aku harus Gimna? " Sania memegangi Dadanya Erat, tidak ada tempat mengadu saat ini, derita dan kepedihan nya hanya ia telan pahit sendiri.
.
.
Gelas yang Di Pegang Bu Lastri Tiba-Tiba Saja Pecah Dan Pecahannya Mengenai Kaki Bu Lastri. " Ya Allah Pertanda Apa Ini? Sania Apa Kau Baik-baik Saja Nak? " Bu Lastri Mrebes Mili. Tiba-Tiba Saja Peluh Bening Jatuh Di Pipi Nya.
Rasanya Ingin Menelfon Lewat Salma Namun Bu Lastri Engan Pada Bu Septi Yang Pasti Akan Marah Lagi Pada Nya.
Bu Lastri Mengambil kaleng Di Lemari Tumpukan Baju, Dan Langsung Membuka Nya Namun Uang Di Dalam Kaleng Belum Cukup Untuk Berangkat ke Kota Menemui Sania.
" Dimana Aku Harus Mencari Uang Lagi Agar bisa Menemui Sania " Bu Lastri Mendekap Erat Kaleng Berisi Uang Yang Tidak Seberapa.
Sudah Satu Bulan Sania Pergi Dan itu Karna Kemauan nya Namun Entah Kenapa Setiap Malam Dirinya Selalu Di Hantui Rasa Bersalah Karna Telah Melepaskan Anak Semata Wayangnya.
" Maafkan Ibu Nak' ibu Hanya Tidak mau Dirimu Bernasib Sama Seperti Ibu Nak " Hanya Penyesalan Yang Bu Lastri Dapatkan Saat ini, Namun ini Semua Karna Ada Alasan Lain Karna Bu Lastri Tidak Ingin Sania Bernasib Sama Seperti dirinya di Tingalkan Oleh Ayahnya Sania Dulu.
Sementara Di Rumah Bu Septi, Salma Dan Juga Kasim Sedang Tidak Baik-baik Saja, Karna Besok Mereka Akan Di Kirim Ke Kota oleh Bu Septi Untuk Menempuh Pendidikan Lanjutan Mereka.
" Buk' Apa Ibu Yakin Keputusan Mu Udah Bulat akan Membuat Anak-Anak Semakin Jauh Dari Kita, Dan itu Semua Hanya Demi Ambisi Ibu Saja " Pak Hamad Berusaha Membujuk Sang Istri
" Bapak ini Ngomong Apa sih? Ibu Begini Kan biar Mereka Semua Jadi Orang Pak Ngak Kaya Bapak Yang Cuman Setiap Hari Mencangkul Sawah " Hardik Septi Tak Berperasaan.
" Tapi Anak-Anak Akan jauh Dari kita Bu, Kalau Masalah Pendidikan Kan Bisa Mereka Lanjutkan Di Kota Kabupaten Saja, tidak Perlu Di Kirim Ke Jakarta " Dengus Pak Hamad kesal
" Tidak pak keputusan Ibu Sudah Bulat, Mereka Harus. kuliah Ke Kota " Serka Bu Septi Tidak Mau mendengar ucapan Siapa pun lagi Dirinya Langsung Masuk Ke Kamar Dan membanting Pintu.
" Bapak Yang Sabar yah Pak " Kasim Dan Salma Memeluk Pak Hamad.
Memang Jika Sang Ibu Sedang Kesal Pak Hamad lah Yang Jadi pelampiasan Nya.
" Sudah Kalian Istirahat Yah, Besok Bapa Akan Antar Kalian Ke terminal " Ucap Pak Hamad Sambil Mengusap Air Matanya.
.
.
Suara Adzan Subuh Berkumandang Kasim Dan Juga Salma Sudah Bersiap Akan Berangkat Ke Terminal, Mereka Keluar Dari Rumah Jam Lima Subuh, Pak Hamad juga Sudah Bersiap Sedangkan Bu Septi Tidak Mau Mengantarkan sampai Terminal, Hanya Sampai Depan Rumah Saja.
" Eh.... Salma, Kasim Pan Arep Ngendi? " Sapa Ibu-ibu Yang Akan Berangkat ke Sawah ( Salma, Kasim Mau Kemana? )
" Niki Bu, Arep Pangkat Jakarta Lanjutke Pendidikan Maring Kota " Ucap Kasim Ramah ( ini bi, Mau Berangkat Ke Jakrta Melanjutkan Pendidikan Ke Kota )
" Iya Biar Jadi Wong!" Ucap bu Septi Sambil Tersenyum Miring.
" Ya Alhamdullilah.. Bibi Do'akan Semoga Di Sana Dapat Ilmu Yang Bermanfaat "
" Matur'suwun Bi..." Jawab Kasim Dan Salma
" Halah, Doa Wong Buat Apa Penting Yah Duit " Bu Septi Berpaling Wajah.
Bi Samil Hanya Bisa Mengusap Dada, Dan Seegera Melanjutkan Jalan, Sedangkan Kasim Dan Juga Salma Tentu Saja Malu Tidak Enak Hati Melihat Kelakuan Ibunya
Setelah Mereka Berpamitan Pada Bu Septi, Pak Hamad Langsung Menyalahkan Mesin Mobil Nya, Dan Segera Menuju Terminal.
Sedangkan Bu Septi Selepas Anaknya pergi ia Langsung Bergosip Ke Rumah Tetangga,
" Pak Kami Pamit Dulu Yah Pak " Salma Dan Juga Kasim Menyalami Sang Bapak Mereka Yang Kini Usia nya Sudah Tidak Muda Lagi, kulitnya Kering Dan Sedikit Keriput karna Setiap Hari Sang Bapak Berada di Sawah.
" Iya Nak' Kalian Hati-Hati... Ingat Kabari Bapak Jika Kalian Sudah Sampai Di Kota " Pak Hamad Mengusap Kepala Putra Dan Putri Nya.
Air Mata Nya Tidak Bisa Di Bendung Lagi Saat Salma Dan Kasim Telah Masuk Kedalam Bus Yang Sudah Siap Berangkat Ke Jakarta.
" Bue...Bue... Koe Kok Tega Anake Dewek malah Di Kirim Nang Kota " Gumam Pak Hamad Sambil Melambaikan Tangan Pada Salma Dan Juga Kasim.
.
.
.
" Bersambung "