Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.
Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.
Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengurus
Pukul tiga dini hari Amey terbangun dari tidurnya. Perutnya tiba-tiba menggerutu. Ia tersadar jika dirinya belum mengisi perutnya sejak malam. Ia bangun dengan perlahan agar tidak mengeluarkan bunyi yang membuat Arsen terbangun.
Pria itu masih dalam posisinya yang tertidur sambil bersandar di kepala ranjang. Amey mendekati Arsen dan menyelimutinya kembali. Arsen belum mengenakan sehelai pakaian, hanya selimut teballah yang menutup seluruh badan berotot miliknya.
Amey berjalan keluar kamar, ia hendak menuju ke dapur untuk mengisi perutnya. Tiba-tiba ia mendengar ada suara seperti orang yang sedang menangis. "Siapa yang menangis jam begini? Ahh serem!"
Amey terus berjalan dan menuruni lift. Saat pintu lift terbuka, betapa terkejutnya Amey saat melihat Neneknya yang masih asik menatap layar televisi. Ia mendekat dan melihat Soffy yang sedang menangis.
"Hiksss, kenapa Kapten Yoo Si Jin mati? Kasihan Dokter Kang, hikss." gerutu Soffy sembari menyeka air matanya dengan tissue.
"Astaga Nenek! Kenapa belum tidur?"
Soffy menatap sumber suara. "Nenek lagi nonton drakor. Nenek sudah di episode lima belas, tapi Nenek sedih, si abang Si Jin meninggal. Hiksss."
"Owalah Nenek, nanti juga hidup kembali tuh laki!"
"Diam! Jangan spoiler, nanti nggak bakal seru." tukas Soffy. "Ehh btw Apa sudah selesai?"
"Selesai apanya Nek?" tanya Amey bingung.
"Selesai wik wik aw aw." menjulurkan lidahnya.
Amey paham dengan maksud Soffy. "Apaan sih Nek. Arsen keseleo. Aku baru saja mengompresnya agar tidak bengkak."
"Arsen? Siapa Arsen?" mengernyitkan dahi.
Owalahh aku keceplosan! Bagaimana ini?
"Maksud Amey, Arka Nek. Bukan Arsen." tutur Soffy panik.
"Ohyayaya. Nenek punya ramuan mujarab alias manjur."
"Hah? Ramuan untuk apa Nek?"
"Ya untuk suamimulah! Tenang saja nanti Nenek racikkan untuk suamimu."
"Ramuan apa sih Nek?" tanya Amey semakin bingung.
"Biar suamimu tidak cepat lelah. Katamu tadi dia keseleo 'kan? Kau tidak usah mengompres 'itunya' pakai air hangat nanti kualitasnya menurun."
"Astaga Nenek!" menepuk jidatnya.
Nenek Soffy salah paham dengan maksud Amey. Ia bermaksud membuatkan ramuan tradisional untuk memperkuat kejantanan pria agar tidak cepat merasakan lelah saat berhubungan intim.
"Kenapa kau bangun?"
"Aku lapar Nek."
"Owwwww," goda Soffy tersenyum jail, "Benar ... benar. Kau kan lagi wik wik aw aw sama suamimu tadi, jadi mana sempat ingat makan. Hihihi." tutur Soffy cengengesan.
"Nenek salah paham ahh! Aku dan Arka terjatuh tadi. Huffft percuma saja menjelaskan." gumam Amey mendengus kesal.
"Terjatuh macam apa yang jelas-jelas lakimu telanjang dan seperti mau memasukan sesuatu. Haha. Tidak usah malu Sayang, kau 'kan sudah menikah? Jadi jangan malu-malu."
"Terserah Nenek saja. Aku mau makan. Bye!" beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur.
Amey menyentakkan kakinya sepanjang perjalanan menuju ke dapur. "Tuh 'kan benar! Nenek salah paham. Wik wik aw aw apaan! Ishhh ngeri." gerutu Amey.
Ia mengambil sebuah mie instan dan memasaknya. Tak lupa juga ia memasukan telur, dan jadilah mie ceplok tengah malam ala Amey. "Uhhh wanginya. Aku makan di kamar aja deh. Kasian tuh Tuan Arogan, jika dia memerlukan sesuatu, aku bisa mengambilkannya."
Setelah selesai, ia segera menuju ke kamar. Mengingat Arsen yang masih dalam keadaan yang tidak baik. Dalam perjalanannya, ia kembali melewati Soffy yang masih stay di depan TV. "Nek, tidur sana. Kayak anak muda aja nonton drakor segitunya." ledek Amey.
"Nenek juga manusia. Bisa merasakan baper-baper anak muda. Sebaiknya kau cepat kembali ke kamar, dan jinakkan senjata suamimu!"
Amey menggeliang saat mendengar ucapan Soffy. Tanpa menggubris, ia segera masuk ke dalam lift. Setibanya di kamar, ia kembali menatap Arsen yang masih tidur dengan posisi semulanya. "Apa badannya tidak pegal?" gumam Amey.
Amey meletakkan makanannya di atas nakas. Tiba-tiba Arsen memegang pergelangan tangannya. "Kau ke mana saja?" lirih Arsen dengan mata yang masih terpejam.
"A--aku dari dapur. Apa kau lapar?"
"Hhmm." mengangguk. "Suruh Elis buatkan aku makanan."
"Sekarang?"
"Tahun depan! Ya sekaranglah. Aku lapar." tukas Arsen sembari melotot ke arah Amey.
Giliran udah bangun, arogannya kumat!
"Elis sudah tidur."
"Aku menggaji mereka."
"Baiklah ... baiklah! Aku yang akan membuatkan makanan untukmu."
Arsen terdiam. Ia berusaha untuk berdiri namun Amey menghadangnya. "Kau mau ke mana? Kakimu belum sembuh!" celutuk Amey.
"Kau senang melihatku bertelanjang bukan?"
"Apa yang kau bicarakan, hah? Aku hanya ingin kau berdiam di tempat tidur. Kalau kau banyak bergerak nanti kakimu tambah sakit. Aku juga yang repot!"
Shit! Baru kali ini aku terlihat lemah dihadapan perempuan. Memalukan!
Arsen kembali terdiam. Ia menatap kakinya yang masih membengkak. "Ambilkan aku pakaian." perintahnya dingin.
"Baik. Tunggu di sini."
Amey berjalan menuju lemari tempat baju Arsen. Pria itu menatap belakang punggung Amey. "Apa dia tulus membantuku? Padahal aku selalu memperlakukannya dengan kasar. Ahh bodoamat! Lagian dia melihatku sebagai Arka, jadi wajar kalau dia baik." gumam Arsen.
Amey mengurus Arsen dengan sepenuh hati. Ia mengobati kaki Arsen, mencarikannya pakaian, bahkan memasak untuknya. Sebenarnya Amey tidak ingin merepotkan Elis yang sudah di alam mimpi, makanya ia menawarkan dirinya untuk membuatkan Arsen makanan sesuai dengan seleranya.
***
Malam yang cukup berat bagi Amey. Ia harus bangun tengah malam untuk mengurus suaminya. Ia tertidur di sofa karena sangat lelah.
Gelap berganti terang. Pagi itu Arsen telah bangun dari tidurnya. Ia mendapati Amey sedang terlelap di sofa. Arsen mencoba beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.
Brukkkk
Arsen terjatuh di lantai. Mendengar suara benturan yang keras, Amey pun terbangun dari tidurnya. "Astaga! Kenapa kau tidur di lantai?" tanya Amey terkejut.
"Aku mau pipis." ucap Arsen malu-malu.
Amey berdecak. "Ck. Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku bisa mengantarmu ke kamar mandi."
"Aku bukan tipe orang yang merepotkan." tutur Arsen dingin.
"Akan lebih repot jika kau tidak meminta bantuanku. Lihat saja kau masih lemah, dan sekarang kau terjatuh! Bukankah itu merepotkan?" tukas Amey sembari mengangkat tubuh Arsen.
Dan sekarang harga diriku hancur di depan wanita ini! F*ck! Aku akan membalas budinya. Aku tidak ingin berhutang kepada siapa pun!
Amey menggandengnya dan menuntun Arsen ke kamar mandi. Ia membalikkan badannya saat Arsen mulai mengatur gaya membuang cairan dari dalam perutnya.
"Sudah?" tanya Amey memerah.
"Belum sekilo keluarnya."
"A--apa?" gugup. "Ehm, baiklah. Katakan jika sudah."
Beberapa saat kemudian badan Arsen menggeliang. "Sudah."
Amey segera menuntun Arsen kembali ke ranjang.
"Aku mau mandi. Siapkan semuanya."
"Baiklah. Tapi aku akan mengantarmu ke tempat tidur. Jika sudah aku akan menjemputmu kembali."
"Terserah." tutur Arsen datar. "Ohya, kau juga harus bersiap. Aku akan mengajakmu keluar."
"A--apa? Keluar ke mana?"
"Jangan banyak tanya! Nanti kau juga akan tahu. Cepat lakukan tugasmu. Aku sudah tidak sabar untuk mandi."
"Baik Tuan Arogan!"
Amey mendengus dan segera menuju kamar mandi. "Ke mana dia akan membawaku?" gumamnya.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘