Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.
Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.
Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Sang Kakak
Setelah mengantar orangtuanya kedepan Ardan lansung masuk kekamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Zahwa terlebih dahulu menuju dapur untuk menyiapkan makam malam untuk Ardan.
Saat dirasa semua sudah siap, Zahwa lansung memanggil Ardan ke Kamar sekalian untuk membersihkan diri.
Sampai di Kamar dilihatnya Ardan telah rapi dengan pakaian rumahannya sedang bersantai di sofa.
"Mas makanannya udah siap, kalau mas mau makan duluan gak papa, soalnya aku mau bersih-berah dulu mas"
"Mas nungguin kamu aja, nanti kita makan bersama. Lagian mas belum lapar kok"
"Kalau gitu aku mandi dulu mas" Ardan hanya mengangguk memberi jawaban untuk istrinya.
***
"Mas tadi kakakku nelfon dia bilang dia sudah wisuda dan kemungkinan dalam minggu ini dia pulang" Zahwa begitu bersemangat memberi kabar bahagia itu pada suaminya.
"Kamu duduk dulu baru cerita" jawab Ardan menarik tangan Zahwa untuk duduk disampingnya.
"Aku terlalu senang mas, akhirnya setelah 4 tahun aku bisa barengan lagi sama dia" Kata Zahwa saat telah duduk disamping suaminya itu.
"Sepertinya kamu dekat sekali ya sama kakak kamu?" tanya Ardan saat melihat betapa bahagianya Zahwa mendengar kepulangan kakaknya.
"Bahagia mas, pakai banget malah. Mas tau dari kecil dia selalu menyayangiku, semua yang dia miliki selalu diberikan padaku katanya sebagai tanda sayangnya padaku"
"Aku juga masih ingat saat pertama kali Mama dan papa memasukkan kita ke Pesantren dulu, aku selalu menangis ingin pulang karena tidak ada mama dan papa yang menemaniku, tapi dia selalu menghiburku dan bilang kalau dia yang akan menjadi mama dan papa untuk menjagaku disana" Zahwa kembali mengenang saat-saat masa kecilnya bersama sang kakak, hingga tak terasa air mata mengalir dipipinya mengingat kasih sayang yang begitu besar diterima dari kakaknya.
Ardan yang mendengar cerita dari Zahwa juga cukup terharu, merasakan bagaimana saling menyayanginya kakak beradik itu. Selama ini dia tak pernah merasakan bagaimana punya kakak ataupun punya adik, tapi setelah mendengar cerita Zahwa dia seakan bisa merasakan cinta dak kasih sayang seorang saudara.
"Jadi penasaran seperti apa saudara kamu itu"
"Mas tenang aja nanti aku kenalin sama kakakku" jawab Zahwa dengan senyum kebahagiaannya.
Ardan bahagia melihat kini Zahwa sudah lembali bahagia, sejak kepergian Dimas ini pertama kalinya dia kembali melihat pancaran kebahagian yang keluar dari istrinya tanpa ada kesan paksaan seperti yang biasa Ia tunjukkan. Ardan juga berharap setelah kepulangan kakaknya nanti hanya tawa bahagia yang dirasakan Zahwa, sungguh Ia sakit saat melihat kesedihan yang dirasakan istrinya itu.
"Oh ya mas, kamu udah dapat kabar dari ayah sama bunda belum?"
"Udah tadi saat kamu nerima telfon dari kakak kamu, ayah ngabarin mas kalau mereka udah sampai disingapur"
"Syukurlah mas kalau mereka udah sampai" Zahwa menghela nafas lega menerima kabar mertuanya, dari tadi Ia sedikit cemas mengingat bagaimana cuaca akhir-akhir ini.
"Mas sendiri tumben gak sibuk?" Zahwa kembali bertanya biasanya dijam-jam segini pastinya itu tengah sibuk diruang kerjanya yang ditemani tumpukann-tumpukan berkas.
"Semua udah beres, semua mahasiswa tingkat akhir sekarangkan lagi sibuk-sibuknya mengurus skripsi jadi mas terlalu sibuk sama tugas-tugas sekarang. Palingan bentar lagi sibuk memeiksa skripsi mereka"
"Kamu sendiri gimana skripsinya?"
"Alhamdulillah sejauh ini lancar aja sih mas, walau masih ada yang harus diperbaiki lagi, tapi bimbingan dari dosen yang ngebimbing cukup membantu sih mas"
"Baguslah kalau gitu, kalau kamu maaih punya kendala atau butuh bantuan mas akan selalu bantu kamu kok"
"Itu sudah pasti mas, masa iya punya suami dosen tapi aku stres ngurus skripsi. Aku juga gak mau malu-maluin kamu kali mas, gimana kata orang nanti punya suami dosen tapi skripsi aku hancur kan gak etis banget mas. Yang ada nanti malah fans-fans kami itu ngatain aku lagi" Zahwa terlihat manyun saat menyebutkan kata-kata yang terakhir.
"Ya ampun kamu itu ada-ada aja ya, emang mas artis gitu sampai punya fans segala" Ardan mengacak rambut istrinya yang tak berbalut hijab itu dengan gemas.
"Mas kan lihat sendiri tu di Kampus, semuanya udah tau kalau mas itu udah nikah, tapi masih aja tetap kecentilan gitu narik perhatian mas"
"Itukan mereka, mas juga gak peduli sama mereka yang mas peduliin itu cuam ostri cantik mas ini, udah cantik gemeain lagi" jawab Ardan sambil mencubit hidung Zahwa gemas.
"Ihhh mas, sakit tau ntar kalau hidung aku makin kecil gimana? atau malah panjang gara-gara dicubit terus gimana?"
Bukannya merasa bersalah Ardan malah semakin gemas dengan sikap manja Zahwa. Sikap yang jarang ditunjukkan, karena selama ini Zahwa selalu bersikap dewasa juka sudah diluar tapi akan berubah manja bahkan kekanakan saat bersama orang-orang terdekatnya.
.
.
.
.
.
.
langsung saja aku kasih vote
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas