NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 11- Keteguhan hati Kirana

Ep. 11- Keteguhan hati Kirana

Beberapa jam kemudian...

Aroma tanah basah yang baru digali beradu dengan wangi taburan bunga mawar, melati, dan irisan daun pandan yang masih segar.

Terik matahari pagi menjelang siang mulai memancar terik, menembus sela-sela dedaunan pohon kamboja tua yang menaungi area pemakaman.

Di atas tanah merah yang masih meninggi itu, dua nisan kayu tertancap berdampingan, gundukan tanah milik Rendra dan Ayu yang dipisahkan hanya oleh jarak beberapa jengkal.

Sebuah pemandangan yang menghadirkan ironi yang begitu tajam. Di akhir hayat mereka, dua orang yang menjalin ikatan rahasia itu kini beristirahat berdampingan untuk selamanya di bawah kesaksian langit yang bisu.

Adpaun Kirana, iq masih terduduk bertumpu pada lututnya di atas rumput. Pakaian serba hitam yang dikenakannya berdebu oleh tanah yang kering.

Pandangannya terkunci rapat pada nama Rendra Pratama bin Sudirja yang terukir di papan nisan. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak asin dan rasa kebas yang menjalar hingga ke sudut jiwanya.

Di dalam dekapannya, Keisya menangis sesenggukan. Gadis kecil bergaun hitam itu menyembunyikan wajahnya di dada Kirana, jemari mungilnya meremas kain baju sang ibu dengan erat.

Keisya belum sepenuhnya memahami apa arti kematian. Yang ia tau, papanya yang biasa memeluknya setiap malam kini dimasukkan ke dalam lubang tanah yang gelap dan ditimbun dengan rapat.

"Ma... Papa kenapa tidur di dalam sana?" cicit Keisya di sela isakannya yang parau. "Papa nakal ya, Ma? Kenapa Papa gak mau bangun pas Keisya panggil? Keisya mau pulang sama Papa..."

Suara polos Keisya serasa menusuk-nusuk jantung Kirana dengan sembilu yang tak kasat mata. Kirana merengkuh kepala putrinya, mengusap lembut rambutnya yang lepek oleh keringat, lalu mengecup keningnya dengan hembusan napas yang bergetar.

"Papa... sudah tenang, Sayang," bisik Kirana. "Papa tidak nakal... Papa hanya harus istirahat di tempat yang lebih baik. Ada Allah yang menjaga Papa sekarang."

"Tapi Keisya mau Papa, Ma... Keisya mau Papa..." tangis Keisya kembali pecah, suara melengking kecilnya memantul di antara barisan batu nisan.

Di sisi lain makam, beberapa pelayat terakhir dan petugas penggali kubur mulai mengemas peralatan mereka. Area pemakaman yang tadi dipenuhi orang kini perlahan menyepi. Hanya menyisakan desir angin siang yang berembus pelan dan hawa panas yang makin menyengat di kulit.

Mbok Darmi yang berdiri beberapa langkah di belakang Kirana bersama seorang ART muda bernama Tuti menatap majikannya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.

Mbok Darmi kemudian melangkah mendekat secara perlahan, lalu membungkukkan badannya dengan penuh rasa hormat dan iba.

"Bu..." panggil Mbok Darmi, sambil menyentuh pelan bahu Kirana. "Hari makin panas, Bu. Kasihan Non Keisya... wajahnya sudah pucat dan badannya hangat karena kelelahan menangis. Apa kita kembali ke rumah sekarang, Bu?"

Kirana terdiam dalam beberapa detik, lalu menatap kembali dua gundukan tanah merah di hadapannya.

Hatinya seolah ditarik oleh dua kekuatan, keputusasaan yang membuatnya ingin tetap berbaring meratapi takdir, serta tanggung jawab besar sebagai seorang ibu yang harus melindungi anaknya yang tersisa.

"Aku tidak boleh lemah..." bisik batin Kirana yang berusaha meneguhkan pundaknya yang gemetar. "Ada Keisya yang butuh aku. Dan... ada janji pahit yang harus kuhadapi di rumah."

"Iya, Mbok..." sahut Kirana lirih.

Kirana berusaha bangkit berdiri. Namun, kakinya yang kesemutan dan lemas tak sanggup menopang bobot tubuhnya hingga limbung ke depan.

"Aduh, Bu!" Mbok Darmi dengan sigap menahan lengan kiri Kirana, sementara Tuti memegang sisi kanannya, juga Keisya memegang erat rok hitam ibunya sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.

"Saya bantu, Bu... pelan-pelan," ucap Mbok Darmi yang cemas melihat wajah Kirana yang pucat pasi tanpa rona darah.

Dengan dibantu Mbok Darmi dan Tuti, Kirana menata kembali posisinya. Ia mengusap pipi Keisya, lalu meraih jemari kecil putrinya untuk dituntun bersama.

Setelah itu, Kirana memalingkan wajahnya dari pusara Rendra dan Ayu dan melangkah meninggalkan komplek pemakaman dengan pijakan kaki yang terasa sangat berat.

**

Di sepanjang jalan setapak berkerikil menuju pintu gerbang pemakaman, beberapa rombongan pelayat yang berjalan lambat mengulurkan tangan saat Kirana melintas.

"Turut berduka cita ya, Bu Kirana... Yang sabar, yang kuat demi Keisya," ucap seorang bapak tetangga komplek seraya mengangguk prihatin.

"Terima kasih, Pak... Mohon dimaafkan segala kesalahan almarhum," jawab Kirana dengan suara pelan dan anggukan yang kaku.

Namun, beberapa meter di depan mereka, tengah berjalan sebuah rombongan kecil yang terdiri dari ibu-ibu tetangga komplek perumahannya.

Langkah mereka lambat, dan perhatian mereka tampak begitu menyatu dalam sebuah percakapan hangat yang dilakukan secara berbisik-bisik.

Mereka tidak menyadari bahwa Kirana, Mbok Darmi, dan Keisya berjalan tepat di belakang mereka dengan jarak yang cukup dekat untuk mendengar setiap kata yang terucap.

"Aduh, Jeng... aku masih penasaran setengah mati," bisik salah seorang wanita yang bergamis biru tua dengan nada bersemangat. "Masa iya dua jenazah dimakamkan berbarengan, berdampingan pula! Kalau bukan istrinya, siapa lagi coba? Ya logikanya, kalau cuma 'kerabat' seperti kata Bu Kirana tadi, mana mungkin dimakamkan satu liang komplek dan dibawa ke rumah duka yang sama!"

"Iya juga ya... Jangan-jangan Pak Rendra memang punya istri simpanan?" timpal wanita lainnya yang memakai kacamata hitam. "Mungkin Pak Rendra punya istri lagi di luar tanpa sepengetauan Bu Kirana!"

"Tapi aneh lho, Jeng... Selama ini keluarga Pak Rendra dan Bu Kirana itu kelihatannya harmonis banget. Pak Rendra terkenal sayang keluarga, rajin ke masjid, tidak pernah kelihatan aneh-aneh atau jalan sama wanita lain."

"Ck!." Ibu bergamis biru mendecakkan lidahnya, seraya melambaikan tangannya dengan gaya dramatis. "Halah, Jeng! Zaman sekarang, laki-laki makin kelihatan alim dan manis di rumah, makin pinter nutupin boroknya! Itu namanya nikah rahasia! Poligami diam-diam! Kasihan sih Bu Kirana, sudah ditinggal mati, baru tau kalau diduakan..."

"Ssshh! Jangan keras-keras, nanti ada yang dengar!" tegur wanita ketiga.

"Alah, Bu Kirana kan masih di belakang dekat makam tadi, mana—"

Ucapannya terhenti saat wanita bergamis biru itu menoleh ke samping untuk membetulkan letak selendangnya dan matanya pun langsung membelalak dengan sempurna. Tepat di samping mereka, Kirana sedang berjalan melintas dengan langkah yang perlahan.

Wajah Kirana lurus menatap ke depan. Tatapan matanya dingin dan hampa. Bibirnya terkatup rapat tanpa mengumbar satu patah kata pun. Tidak ada teguran, tidak ada amarah yang meluap, bahkan tidak ada lirikan mata yang mengarah pada rombongan ibu-ibu tersebut.

Suasana pun berubah jadi canggung luar biasa. Ibu-ibu tersebut seketika bungkam. Wajah mereka memerah karena menahan malu. Mereka salah tingkah dan kebingungan harus bersikap bagaimana.

"E-eh... B-Bu Kirana..." cicit ibu bergamis biru dengan suara yang mendadak gagap dan gemetar. "K-kami... duluan ya, Bu..."

Namun, Kirana terus berjalan melepasi mereka seolah-olah ibu-ibu itu hanyalah terpaan angin yang lalu. Ia tidak menoleh sedikit pun dan membiarkan langkah kakinya membawanya keluar dari gerbang pemakaman menuju mobil yang sudah menunggu.

Di belakangnya, Mbok Darmi sempat melemparkan tatapan tajam dan dingin pada rombongan ibu-ibu tersebut yang kini berdiri terpaku dalam rasa malu yang teramat sangat.

"Dasar ibu-ibu ini," bisik mbok Darmi.

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!