Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Perpustakaan Terlarang dan Bayangan di Distrik 13
Lencana Rank C terasa berat di dada Kael. Bukan karena logamnya. Tapi karena tanggung jawabnya.
"Selamat, Penyihir Kael." Guild Master Eldrin menatap Kael dengan mata tuanya yang tajam. "Dengan rank ini, kau resmi diakui sebagai penyihir kelas menengah Kerajaan Luminar."
"Terima kasih, Tuan Guild Master." Jawab Kael datar.
Eldrin mengusap janggut putihnya. "Dan sebagai hadiah kenaikan rank... kau mendapat akses ke Perpustakaan Terlarang Lantai 3. Selama 3 jam."
Luna yang dari tadi nahan napas langsung bersorak kecil. "Akhirnya!"
Eldrin lalu melirik Grom yang berdiri kaku di belakang. "Dan atas laporan penyelamatan desa perbatasan... Guild memberi pengecualian khusus. Rekan Goblin-mu boleh tinggal di Asrama Tim. Dengan pengawasan."
Grom tidak menjawab. Dia hanya menunduk dalam. Tinjunya mengepal.
Begitu pintu ruangan tertutup, Luna langsung menarik lengan Kael. "Ayo! Kita harus cari info tentang Menara Hitam sebelum jamnya habis!"
Kael tidak langsung bergerak. Pandangannya lurus ke luar jendela.
Di kejauhan, menembus kabut sore, sebuah menara hitam menjulang. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya bayangan pekat yang seakan menghisap semua warna di sekitarnya.
Itu Distrik 13. Rumah Sang Tuan.
"Kael?" Panggil Luna pelan.
Kael berkedip. "Ke perpustakaan."
*Perpustakaan Terlarang Lantai 3*
Tanggaan menuju lantai 3 dijaga oleh 2 golem batu. Begitu melihat lencana Rank C, golem itu minggir.
Pintu besar terbuka dengan suara berderit.
Di dalamnya... hening.
Rak-rak buku menjulang sampai ke langit-langit. Ada puluhan ribu buku. Sebagian disegel rantai. Sebagian memancarkan aura aneh.
Udara di sini 5 derajat lebih dingin. Bau kertas tua, tinta, dan sesuatu yang busuk bercampur.
Di tengah ruangan, duduk seorang wanita. Matanya ditutup kain putih. Di tangannya ada tongkat dari tulang.
"Berhenti." Suaranya serak seperti daun kering. "Nama. Rank. Tujuan."
"Kael. Rank C. Mencari informasi tentang Distrik 13 dan Penyihir Bayangan."
Wanita buta itu mengangguk. "Kau punya waktu 3 jam. Aturan: Jangan sentuh buku bersegel merah. Jangan buka kotak terkunci. Jangan bicara keras. Kalau melanggar... aku yang akan mencabut lidahmu."
Luna menelan ludah. "Siap, Nenek."
Mereka bertiga langsung berpisah.
Luna ke bagian "Portal dan Dimensi". Grom ke bagian "Ras dan Kutukan". Kael ke bagian "Penyihir dan Organisasi Terlarang".
Jam pertama berlalu. Tidak ada hasil. Hanya buku-buku umum tentang sejarah kerajaan.
Jam kedua. Kael mulai frustasi. Tangannya menyapu setiap buku.
Tiba-tiba, di rak paling atas, dia melihat sesuatu.
Sebuah buku. Sampulnya hitam polos. Tidak ada judul. Tidak ada nama penulis.
Buku itu melayang 10cm di atas rak. Seakan menolak untuk disentuh.
Kael mengulurkan tangan. Begitu jarinya menyentuh sampulnya, udara di sekitarnya langsung turun 10 derajat.
[Notifikasi Sistem]
[Buku Terlarang Terdeteksi: "Catatan Sang Pengamat"]
[Peringatan: Membaca dapat menyebabkan efek samping mental]
Kael mengabaikan. Dia membukanya.
Halaman 1-10: Kosong.
Halaman 11: Ada gambar.
Gambar seorang pria berjubah hitam. Wajahnya tidak ada. Hanya kegelapan. Di tangannya dia menggenggam bola cahaya yang berisi ratusan wajah manusia yang berteriak.
Di bawah gambar tertulis:
`'Dia yang memakan desa, memakan juga harapan. Dia yang memakan harapan, akan menjadi Tuhan.'`
Dada Kael sesak. Urat hitam di lengannya tiba-tiba berdenyut sakit.
"Tuan..." bisik Kael.
"Kael! Aku nemu!"
Luna lari menghampiri dengan napas tersengal. Di tangannya ada buku setebal kamus. "Ini buku catatan ekspedisi 100 tahun lalu! Denger!"
Luna membacakan dengan suara bergetar:
`'Tanggal 3 Bulan Salju. Kami menemukan Distrik 13. Tidak ada warga. Hanya Menara Hitam.
Tanggal 4: Tim A masuk. Tidak kembali.
Tanggal 5: Kami mendengar suara dari dalam. Suara anak-anak menangis.
Tanggal 6: Kami putuskan membakar menara. Api kami padam sendiri.
Kesimpulan: Tempat itu hidup. Dan dia lapar.'`
Grom tiba-tiba ada di belakang mereka. Dia menunjuk ke pojok ruangan.
Di sana ada sebuah meja batu. Di atasnya ada kotak kayu seukuran kepala. Kotak itu diikat 7 rantai. Setiap rantai memiliki segel rune yang berbeda.
Kael mendekat. Begitu tangannya hampir menyentuh rantai, suara di kepalanya muncul lagi.
`'Jangan... buka... dia akan menemukanmu...'`
Kael mengepalkan tangan. "Aku harus tahu."
Dengan satu tebasan api hitam, 7 rantai itu putus bersamaan.
Di dalam kotak... hanya ada satu benda.
Sebuah pecahan batu mata. Lebih besar dari 3 pecahan milik Kael. Berwarna hitam dengan urat merah di dalamnya. Dan dia... berdenyut. Seperti jantung.
Begitu Kael menyentuhnya, dunia menjadi gelap.
*Visi*
_Angin dingin. Salju.
Sebuah desa di pegunungan. Malam hari.
Pintu rumah kayu didobrak.
Bayangan hitam masuk. Tidak bersuara.
Seorang pria dan wanita dipenggal dalam 1 detik.
Di dalam kamar, seorang anak laki-laki 5 tahun bersembunyi di bawah tempat tidur.
Bayangan itu mengangkat anak itu.
Anak itu menangis. "Ayah! Ibu!"
Bayangan itu tidak menjawab. Dia hanya membawa anak itu ke altar di tengah hutan.
Di atas altar, ada simbol yang sama persis dengan di batu mata.
Bayangan itu meletakkan anak itu. Mengangkat tangan.
Tepat saat cahaya hitam akan jatuh...
Sesuatu meledak. Menara di kejauhan runtuh.
Bayangan itu mendesis marah. Lalu menghilang bersama anak itu._
Visi pecah.
Kael jatuh berlutut. Napasnya tersengal. Darah menetes dari hidungnya.
"KAEL!" Luna berteriak. Dia langsung menyembuhkan.
Grom berdiri di depan Kael, tombaknya mengarah ke pintu. Seakan mengira ada musuh.
Butuh 1 menit bagi Kael untuk sadar.
Dia menatap pecahan batu di tangannya. Tangannya gemetar hebat.
"Itu... aku." Suaranya parau. "Anak kecil itu... aku."
Luna menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. "Jadi... Tuan itu... yang menculikmu? Yang membunuh orang tuamu?"
Kael mengangguk pelan. "Dan dia belum selesai."
Dia berdiri. Urat hitam di lengannya sekarang merambat sampai ke pipi.
"Dia butuh wadah. Desa-desa itu tumbal. Dan aku... aku bahan utamanya."
[Notifikasi Sistem]
[Memori Terkunci Terbuka: 10%]
[Skill Baru: Mata Archmage Lv.1 - Mampu melihat jejak sihir dan kebohongan]
[Efek Samping: Rasa sakit saat menggunakan sihir +20%]
Kael menutup buku "Catatan Sang Pengamat". Dia memasukkan pecahan batu ke-4 ke dalam tasnya.
"Kita pergi." Kata Kael.
"Kemana?" Tanya Luna.
"Distrik 13. Sekarang."
"Tapi ini malam! Dan kita cuma bertiga!" Protes Luna.
"Justru karena malam." Mata Kael sekarang bersinar hitam. "Dia pasti sedang melakukan ritual. Dan aku tidak akan membiarkan ada korban lagi."
Grom mengangguk. Dia sudah bersiap.
*Perjalanan ke Distrik 13*
Jalanan menuju Distrik 13 kosong. Toko-toko tutup. Lampu padam.
Semakin dekat ke menara, semakin dingin. Napas mereka keluar seperti asap.
Di gerbang distrik, ada papan: `DILARANG MASUK. ZONA TERLARANG KERAJAAN.`
Kael menendangnya. Papan itu hancur.
Menara Hitam ada di depan mereka. Setinggi 100 meter. Tidak ada pintu. Tidak ada jendela. Hanya dinding batu hitam yang licin.
Di puncaknya, pusaran kabut hitam berputar cepat. Dari dalamnya sesekali terdengar suara jeritan.
"Ini dia." Kata Kael.
Tiba-tiba, 2 patung gargoyle di sisi gerbang hidup. Matanya menyala merah.
"PENYUSUP TERDETEKSI." Suara menggelegar. "MUSNAHKAN."
Gargoyle itu terbang.
Pertarungan 30 detik. Kael membakar satu. Grom menghancurkan satu lagi dengan tombaknya.
Gerbang di depan mereka tertutup rapat. Tidak ada pegangan.
Kael maju. Dia menempelkan tangan ke gerbang.
Urat hitam di tangannya menyebar ke seluruh gerbang.
"Terbuka."
_BRAAAK_
Gerbang meleleh seperti lilin.
Di dalam... gelap gulita. Hanya ada tangga spiral yang menuju ke atas.
Dari atas, suara itu terdengar lagi.
Suara laki-laki. Rendah. Seperti berasal dari dasar neraka. Bergema di seluruh menara.
"Kael..."
Nama itu disebut dengan nada sayang... dan benci.
"Anakku yang hilang... Akhirnya kau pulang."
Seluruh tubuh Kael membeku. Tinjunya mengepal sampai berdarah.
Luna menggenggam tangan Kael. "Kita bersama."
Grom maju duluan. Menjadi tameng.
Kael melangkah pertama ke dalam kegelapan.
"Baiklah, Ayah." Suara Kael dingin. "Aku datang untuk mengakhiri ini."