NovelToon NovelToon
The Fallen Angel

The Fallen Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:392.6k
Nilai: 5
Nama Author: Poetry Alexandria

Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.

Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.

Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.

Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-15- The Demon Soldiers

-Gabe-

Matahari nyaris terbenam waktu aku baru sampai di California, tepatnya di kota San Fransisco di kawasan Financial District. Dengan berteleportasi segalanya mudah bagiku. Setelah mengantarkan gadis itu ke rumahnya, aku langsung kemari.

"Kau terlambat lima menit, Gabriel," sapa Raphael saat aku tiba. Mata biru pucatnya menatapku jenaka. Ia bersandar di sudut beton dekat tembok pembatas. Kami tengah berada di atap gedung.

"Yeah." Aku mendesah. "Ada sedikit urusan mendadak. Pestanya belum dimulai, kan?"

Raphael mengangkat bahu dan menoleh ke bangunan gedung di seberang. Aku mengikuti arah pandangannya. Dari atas sini, segalanya jadi terlihat jelas di bawah sana.

"Jadi, bagaimana dengan gadis manusia itu? Apa kau berhasil menghapus ingatannya?" tanya Raphael sambil menyugar rambut pirang kelabunya yang panjang melewati bahu.

Aku menggeleng. "Aku tidak ingin mengambil resiko."

Ia menatapku dengan kedua alis terangkat. Sudut bibirnya membentuk senyuman mengejek. "Wah, lihatlah dirimu, Gabriel! Sejak kapan kau jadi pribadi yang tidak tegaan?" Ia tertawa.

"Hei, dia hampir mati tadi gara-gara aku," tukasku. "Ada dua anak buah Lucifer yang berniat membunuhnya."

"Karena itulah kau harus menghapus ingatannya," sergah Raphael.

"Ya, aku tahu. Tapi, bagaimana jika aku tidak berhasil dan malah membuat kewarasannya hilang?"

"Kau tahu bahwa jika itu terjadi, itu bukan salahmu. Itu adalah takdirnya harus seperti itu." Raphael mengangkat bahu santai.

Aku memutar bola mata. "Kurasa itu bukan ide yang bagus."

"Kau yakin dengan membiarkannya mengetahui tentangmu, itu merupakan ide yang sangat bagus?" Raphael menyeringai dan kembali memandang pemandangan di bawah.

Aku tahu dia benar. Tapi, aku tidak bisa membayangkan gadis itu menjadi gila sungguhan. Aku akan pikirkan cara lain, walau mungkin beresiko, seperti harus selalu siap melindunginya kapanpun dan dimanapun. Tapi, aku tidak peduli.

Langit semakin gelap sementara angin terasa sangat kencang berembus di tempat ini. Suara-suara klakson mobil terdengar bersahut-sahutan di jalan raya yang padat merayap dari tempatku berdiri. Cahaya lampu yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit berkelap-kelip, menerangi setiap sudut kota. Terutama gedung di depan kami yang sekarang sudah mulai ramai para manusia pendosa memasukinya. Itu sebuah tempat club malam.

Aku berjalan menghampiri Raphael yang masih mengamati suasana di bawah sana. Udara di San Fransisco lebih hangat dibanding Mineapollis. Di tempat ini musim dingin jarang turun salju dan mengingat bagaimana keadaan tubuh kami sebagai makhluk penyerap cahaya, sebenarnya aku tidak cocok tinggal di tempat yang bersuhu dingin. Maksudku, Mineapollis memang bukan tempat yang tepat untuk mencari kehangatan, tapi aku terpaksa harus ke sana padahal sebelumnya aku cukup lama tinggal di sini. Dan beberapa dekade sebelumnya, aku pernah tinggal di negara beriklim tropis.

Kami tidak pernah menetap di suatu tempat begitu lama, mengingat banyak hal yang kami lakukan selama di bumi dan bagaimana aku harus mencari kunci yang kuhilangkan.

Aku menghilangkannya secara tak sengaja sebenarnya. Kala itu, pasukan Lucifer menyerangku tiba-tiba waktu aku sedang berada di Moskow. Aku ingat itu adalah masa manusia menghadapi krisis peperangan besar, yaitu perang dunia kedua.

Tidak ada yang tahu, bahwa Lucifer punya andil alias peranan besar pada peperangan yang terjadi itu. Ia membentuk banyak aliansi dalam jaringan tertutup. Para anggota satanist membantu para korban perang untuk menjadi pengikut mereka dengan menawarkan berbagai macam bantuan. Namun, di sisi lain mereka juga yang menggerakkan massa melalui kaki tangan mereka di pemerintahan agar melakukan gerakan propaganda dan mencetus perang terjadi.

Kami sempat kewalahan untuk mengatasi dampak perang yang terjadi pada manusia-manusia tak berdosa. Saat itulah, pasukan Lucifer menyerangku dan membuatku tak sengaja menjatuhkan salah satu dari tiga pasang kunci yang kujaga. Mereka belum menyadarinya bahwa kunci itu hilang satu dan kuharap mereka tidak akan pernah mengetahuinya sampai aku berhasil merebutnya.

Ada sebuah kabar yang kudengar dari para The Watcher bahwa kunci itu berada di tangan manusia dan manusia itu berniat untuk menjualnya pada kelompok satanist yang akan membelinya dengan harga sangat mahal.

Aku tidak tahu pasti bagaimana manusia itu menjaganya selama ini sehingga membuatku dan rekan-rekanku tidak berhasil melacaknya. Omong-omong, dulunya The Watcher adalah malaikat yang menjaga keseimbangan dunia. Tapi, karena beberapa dari anggota mereka menjadi pengikut Lucifer sebagai Fallen Angel di bumi, mereka akhirnya memilih untuk hidup sendiri. Mengawasi apapun yang sedang terjadi di dunia ini, termasuk pertikaian kami atau peperangan manusia. Mereka tahu banyak hal tentang kehidupan dan cenderung netral, meskipun beberapa dari mereka terkesan memihak. Mereka adalah informan terbaik yang kukenal selama ini.

Di bawah sana, tiga buah mobil sedan hitam berhenti di depan gedung tersebut. Segerombolan manusia keluar dari dalamnya. Salah satunya adalah seorang wanita mengenakan blazer hitam dan rok panjang dengan belahan sampai ke pangkal pahanya. Rambut pirangnya dipotong bergaya Bob sebahu. Ia nampak lebih muda dari usia sebenarnya. Aku sudah sering melihat wanita yang kira-kira berumur 40-an itu pada setiap pertemuan para kelompok satanist di hampir seluruh penjuru Negara Bagian. Aku tidak tahu namanya, tapi kuyakin ia termasuk petinggi dalam kelompok tersebut.

Gerombolan yang berjumlah delapan orang tersebut saling menunjukkan tato masing-masing, lalu masuk ke dalam. Aku dan Raphael saling berpandangan.

"Para penyembah Lucifer!" Raphael menggeram.

"Yeah, tidak terlalu mengejutkan. Kita harus bergerak cepat," kataku masih mengamati keadaan di sekitar gedung tersebut. Lampu-lampu neon membentuk huruf Gold City Club berpendar warna-warni dan berkelap-kelip menyakitkan mata, tergantung di atas pintu masuk.

"Apa menurutmu kita harus masuk ke sana?" Raphael menatapku tidak yakin.

"Kau takut?" Aku balas menatapnya.

Ia menyeringai. "Itu tempat yang sangat terlarang untuk kita. Masuk ke sana berarti masalah."

"Kita sudah terlibat masalah sejak menginjakkan kaki ke bumi." Aku memutar bola mata. "Cepatlah! Kita akan kehabisan waktu."

Kami segera melompat turun dari atas gedung, tentu saja tanpa terlihat manusia satu pun. Raphael mengusap rambut kelabunya seraya tersenyum kecil. Seketika rambutnya berubah warna menjadi hitam.

"Setidaknya, kita jangan terlalu berpenampilan mencolok," ujarnya. "Kau tidak ingin mengubah penampilanmu? Kau terlihat sangat high school."

Aku mengangkat bahu. "Setidaknya, aku masih tampan." Tapi, kuusap sedikit wajahku untuk memberikan kumis dan janggut tipis.

"Yeah, itulah kelebihan kita. Tam-pan!" Ia sependapat dan tertawa.

Kami segera menyusuri trotoar dan menyeberangi jalan menuju tempat klub malam itu. Para manusia pendosa sudah banyak yang masuk ke sana. Dua orang penjaga berbadan kekar menatap kami dan meminta kami menunjukkan kartu identitas.

Kuulurkan tanganku pada kepala kedua manusia itu, lalu mulai masuk ke dalam pikirannya untuk mengirimkan sugesti pada benak mereka. Kedua manusia itu mengerjap linglung dan menatap kami berdua, lantas mengangguk mempersilakan kami untuk masuk.

Aku tersenyum pada Raphael, berjalan menyusuri lorong tangga sementara Raphael berjalan di belakangku. Suasana ingar bingar dan gelak tawa menyambut kami begitu di dalam. Beberapa orang wanita berpakaian nyaris telanjang berjalan mendekati kami dan berusaha menggoda.

"Hai! Mau minum bersamaku, Sexy?" tanya yang rambut merah dengan suara selembut mungkin. Napasnya berbau alkohol. Temannya yang lain menghampiri Raphael.

Aku mendorong wanita itu sedikit ketika ia menempelkan tubuhnya ke dadaku seraya tersenyum. "Maaf, aku sibuk. Ada sesuatu yang harus kulakukan."

Ia mundur dengan wajah kecewa dan aku langsung berjalan melewatinya. Kulihat di tengah ruangan ada lima orang penari wanita berpakaian dalam sedang bergelayut pada tiang besi yang terpasang di atas panggung kecil. Para lelaki bajingan bersorak girang di bawah mereka dengan penuh semangat sambil mengangkat-ngangkat gelas minuman serta lembaran-lembaran uang, sedangkan yang lain sibuk menari di bawah sinar lampu yang berkelap-kelip dan musik yang mengentak.

"Tempat yang sangat asyik, bukan?" gumam Raphael, ikut memperhatikan para penari poll dance itu. Wajahnya mengernyit.

"Kurasa Azrael akan memarahi kita jika melihat semua keasyikan ini," kataku sambil menggosok daguku yang terasa agak kasar karena ditumbuhi janggut tipis.

Ia terkekeh. "Yeah. Jangan lupakan Mikhael juga."

Sebenarnya malam ini Uriel juga ingin ikut dengan kami untuk merebut kunci itu dan sengaja tidak mengatakannya pada Azrael. Kami hanya tidak ingin membuat situasi semakin rumit jika para Archangel lain mengetahui.

Mungkin kalian sudah kenal tentang Archangel. Kami adalah pemimpin malaikat di surga. Jumlah kami semua ada tujuh orang. Azrael merupakan pemimpin tertinggi kami. Ia kuat dan cerdas layaknya Azazel waktu masih memimpin kami dulu. Hanya saja, ia selalu kaku dan tidak asyik. Kadang-kadang, kami sering melakukan hal yang---well, sedikit gila tanpa sepengetahuannya. Seperti malam ini contohnya. Bagi seorang malaikat tempat seperti ini adalah tempat terlarang untuk kami masuki. Penuh dengan bermacam dosa dan keburukan yang tidak bermanfaat.

Dan selain Azrael, ada Mikhael yang tidak jauh berbeda dengannya. Namun, Mikhael tidak terlalu kaku. Ia lebih bisa diajak berkompromi dan sedikit toleran.

"Kurasa Uriel tidak datang malam ini." Raphael berkata. Matanya memandang gelisah ke setiap sudut ruangan.

"Mungkin dia punya urusan lain," sahutku, ikut mengedarkan pandangan dan menemukan siluet wanita berpakaian blazer yang kulihat di pintu masuk tadi.

Wanita itu sedang mengobrol dengan beberapa orang berpakaian serba hitam dan bertato banyak. Lalu, ia menghilang di balik pintu besi di sisi ruangan tersebut.

Tanpa ragu kuikuti wanita itu cepat-cepat. Kudorong pintu besi membuka sementara Raphael mengikuti di belakang. Sebuah lorong cukup panjang menyambut kami di balik pintu itu. Aku berjalan menyusurinya sambil bersikap waspada.

Lorong itu tidak terlalu terang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu kuning yang tergantung di langit-langit berplafon rendah. Dinding-dindingnya dicat hitam dengan simbol-simbol pentagram besar berwarna merah yang kelihatannya sengaja digambar. Suara musik di belakang sana masih terdengar, tapi tidak berhasil menyembunyikan suasana mencekam di dalam sini.

"Hei, kau yakin The Watcher itu tidak menjebakmu?" Raphael bergumam di sebelahku. Sorot matanya nampak was-was memandang sekeliling dengan kedua alis berkerut muram.

Aku tahu apa yang dimaksudkannya. Tempat ini sepertinya tempat pemujaan organisasi satanist. Aku bisa merasakan aura gelap dan dingin yang menyelimutinya, sementara mataku terus mencari keberadaan wanita tadi.

"Entahlah. Kurasa Ramiel tidak akan sepicik itu," kataku. Tapi, aku bisa merasakan nada tidak yakin pada suaraku sendiri.

Raphael menyeringai. "Aku tidak pernah mempercayai mereka lagi semenjak sebagian dari mereka menjadi pengikut Azazel."

"Yeah, aku tidak punya pilihan. Aku harus mendapatkan informasi dan menemukan kunciku," sergahku.

"Kau selalu punya pilihan, Gabriel. Tapi, kau memilih pilihan yang buruk," tukasnya seraya mengambil pedang kecil dari balik saku jaketnya. Diputarnya sedikit benda itu sehingga pedang tersebut secara otomatis memanjang dan membesar digenggamannya. Ia menoleh padaku dan nyengir. "Paling tidak, kita harus bersikap siaga."

Aku mendengus. Ikut mengambil busur panahku dari balik jaket dan memanjangkannya. Kusampirkan benda itu di bahuku.

Langkah kami terhenti ketika dua orang pria berperawakan tinggi besar dengan rambut panjang yang diikat ke belakang, keluar dari balik tikungan di ujung lorong dan menghadang.

"Ada keperluan apa, Sir? Bisa kalian tunjukkan identitas?" Salah seorang pria yang berdiri paling kiri bertanya kasar. Suaranya besar dan dalam.

Aku dan Raphael berjalan mendekat ke arah mereka, sedikit menengadah untuk menatap matanya. Cukup mengerti identitas apa yang dimaksud pria itu. Tato pentagram.

Aku langsung menyelami pikiran kepala kedua pria itu untuk membuatnya terhipnotis, tapi aku keliru. Dengan gugup, kukerjapkan mataku. Dua pria itu bukan manusia. Aku menyadarinya waktu mendongak melihat mereka. Mata kedua pria itu mendadak berubah warna menjadi hitam legam tanpa sedikit pun selaput putih di bola matanya.

"Hello, Gabriel!" sapa mereka bersamaan sambil menyeringai lebar, lantas menoleh pada Raphael yang sedikit terkejut. "Dan kau, Raphael!"

Sial! Bagaimana mungkin aku tak menyadari kedua makhluk sialan itu sedang menyamar menjadi manusia?

"Terkejut?" Salah seorang dari mereka tertawa sumbang. Sedetik kemudian, ia menendang dadaku hingga membuatku terpelanting ke belakang dan menabrak dinding lorong.

Raphael menggeram dan menerjang kedua makhluk iblis itu. Pedangnya berhasil menusuk dada dan perut mereka hingga mereka mati terbakar.

Aku langsung bangkit, setengah berlari menuju ruangan tertutup yang terletak di depan sana. Ketika terbuka, makhluk-makhluk iblis lain menerjang. Raphael langsung menyerang mereka dengan pedangnya. Mataku melebar waktu kulihat wanita berpakaian blazer keluar dari dalam sana dengan beberapa orang manusia lain berpakaian serba hitam. Kebanyakan mereka masih muda dan remaja.

"Penyusup!" teriak wanita itu. Mereka serentak mengeluarkan pistol dari balik pakaian mereka dan menembak ke arah kami.

Brengsek!

Peluru-peluru dari lontaran pistol tersebut mengenaiku dan cukup membuatku merasa sakit, walau tidak akan melukai. Rasanya seperti kau ditembak peluru mainan. Tidak membunuhmu, tapi berhasil membuat kulitmu perih.

"Gabe, sepertinya kita masuk ke tempat yang salah," seru Raphael sambil menyabet pedangnya pada salah satu iblis yang menyerangnya.

"Yeah, shit happens! Kita terjebak!" Aku menjawab, memanah beberapa dari makhluk sialan itu. Mereka keluar dari ruangan itu banyak sekali.

Aku ingat ucapan Azrael tentang tempat-tempat yang biasa didatangi para iblis-iblis laknat untuk bersenang-senang di bumi. Aku benar-benar dalam masalah karena menyadari bahwa kami masuk ke dalam salah satu sarang mereka.

Kutembakkan panahku pada dua orang laki-laki yang datang menyerbuku. Mata hitamnya membeliak lebar begitu panahku berhasil menembus kepalanya dan membuatnya terbakar.

Suara letusan pistol kembali terdengar. Kualihkan pandanganku pada kelompok manusia pengikut satanist tadi. Mereka sudah berbelok ke lorong lain. Wanita itu yang memimpin jalan. Aku harus mengejar mereka. Aku yakin kunci itu ada pada wanita itu.

"Seharusnya kau jujur padaku bahwa kita akan masuk ke sarang mereka!" gerutu Raphael. Terdengar suara pedangnya menyabet sesuatu.

"Kalau aku tahu, aku tidak akan kemari, Raph!" jawabku dan berbalik sejenak untuk membantu Raphael.

Kutembakkan panahku pada makhluk yang paling dekat denganku. Ia langsung terbakar dan menjadi abu seketika. Dua yang lain muncul. Kali ini mereka berwujud merah dengan sayap kelelawar dan sepasang mata kuning menyorot tajam. Aku benar-benar benci pada yang berjenis ini karena mereka sangat menyebalkan.

Dammit!!!

"Hallo, malaikat tengik! Apa kau sedang tersesat kemari? Atau kau sengaja mengantar nyawamu pada kami?" Salah satu dari mereka menyeringai. Yang lainnya tertawa melengking. Suara tawanya menusuk gendang telingaku.

Aku mengatupkan rahangku rapat-rapat. Situasi ini benar-benar membuat kami terpojok karena rekan-rekannya yang lain kembali muncul mengelilingi Raphael dan aku.

"Raph, kau punya ide?" teriakku pada Raphael. Suara sabetan pedangnya terdengar berbenturan pada sesuatu yang keras. Aku menoleh sebentar ke arahnya dan melihat ia sedang menebas kepala seorang iblis bertubuh merah di dekatnya.

"Entahlah, Gabe. Melarikan diri mungkin!" balas Raphael terengah-engah.

"Bukan ide yang buruk." Aku mengernyit, kembali menatap iblis sialan di hadapanku saat ini. Tiga dari mereka bergerak untuk menerjang dan aku langsung berteleportasi meninggalkan lorong itu.

Sedetik kemudian, aku telah berada di luar di bagian belakang gedung. Raphael menyusul kemudian. Tangannya terkepal dan seberkas cahaya kebiruan muncul di telapak tangannya. Ia menjentikkan jarinya. Sebuah petir besar menyambar ke atap gedung tersebut dengan bunyi menggelegar. Suara jeritan dan pekikkan terdengar dari dalam sana.

Manusia-manusia berlarian ke sana kemari dengan panik. Titik-titik api muncul dari sudut bangunan dan menyebar menjadi api besar yang menjalar ke segala penjuru. Beberapa anak buah Lucifer yang tersisa ikut keluar dari dalam dengan wajah penuh amarah. Mereka menggerung, kemudian terbang menghilang. Sementara suara sirene mobil pemadam kebakaran sayup-sayup terdengar di kejauhan.

Kutatap Raphael yang cuma nyengir di sebelahku.

"Hei, aku tidak tahu kalau petir itu akan membuatnya terbakar sehebat ini," ia cepat-cepat membela diri.

"Kau membuat suasana semakin runyam, Raphael," kataku disela gigi terkatup rapat.

Ia cuma mengangkat bahu. "Sebaiknya, kau berikan pelajaran pada The Watcher yang memberimu informasi. Ia menjebakmu, Bung."

"Yeah. Dan kau membuat segalanya jadi semakin baik," tukasku sarkastik.

"Sori ... kurasa, aku harus pergi sekarang." Ia meringis. Kedua sayap abu-abunya mengembang. "Sampai nanti, Gabriel!"

"Terima kasih atas bantuanmu, Sobat!" balasku dan sempat kudengar dengus tawanya sebelum ia menghilang.

Aku memandang berkeliling seraya mendesah. Malam ini benar-benar jadi malam yang buruk. Aku mengacaukannya. Lucifer dan anak buahnya pasti akan membalas dendam. Mereka akan semakin senang mengejarku. Sial memang!

Sungguh sulit dipercaya kalau The Watcher itu betul-betul menipu dan menjebakku. Aku harus menghampiri mereka. Setidaknya, mereka harus memberikan penjelasan.

Kutatap asap hitam pekat yang membumbung ke angkasa. Bersiap untuk segera pergi dari tempat ini. Namun, sudut mataku menangkap wanita yang mengenakan blazer itu. Ia terlihat berlari mengitari jalan dan masuk ke sebuah mobil Volkswagen hitam seri Golf. Lalu, mobil itu melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

Sejenak, aku sempat berpikir untuk mengejarnya, tapi segera kuurungkan. Aku harus kembali ke Mineapollis dan juga menemui para The Watcher brengsek yang menipuku!

🍁🍁🍁

1
R
still a good novel ✨
Just human
lanjut kak suka bgt sm critanyaa T_T
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟
oii authorr mana ini kelanjutan nyaa
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟: oii thorrr
total 2 replies
Muse
Cepat juga datangnya Messias ini, gak pake basa basi lagi...Keana pasti shock bgt...gak sabar nunggu next chapternya Kak Author...
Muse
aduuh Calvin kenapa itu, berubah jadi Demon kah ?
Muse
Ceritanya keren banget...romancenya dapet...tegangnya paling dapet dech...karakternya kuat kayak pas banget sama tokohnya. Tentu paling suka sama Gabe yang sweet bgt cara dia ngetreat Keana. Sama Calvin juga sebenarnya badboy yg brokenhome. Ceritanya rumit tapi bisa dijabarkan dengan baik...jadi enak bacanya ngalir aja...Goodjob kak Author 👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
Akhirnya Keana ingat juga sama Gabe...
Muse
semoga Keana bisa hidup lagi...
Muse
Jangan mati donk Keana...
Muse
sayang sekali para angel kena jebakan...terus gimana sama Keana donk...
Muse
Gabe.. so sweet...
Muse
kok bisa sich Calvin ikut jadi member satanist...apakah ibunya Calvin wanita yg ditemui Gabe sama Raph di sarangnya Lucifer waktu itu yaa...
Muse
waduuuh itu kan pamannya Calvin...jangan² dia bukan kabur dari RS tapi diculik anak buahnya Lucifer...
Muse
kenapa mau sich Keana...Lucifer itu kan licik bgt...pilihan yang sulit memang dan sepertinya keluargamu juga akan dalam bahaya kalo kamu sampe mengingkari kesepakatan itu ...huftt dilema berat pasti...
Muse
Kasian Gabe...
Muse
Apa gak dihukum sama gurunya kok sering bgt ada pembullyan disekolah yaa...
Muse
Emang Gabenya mau sama kamu Sharon ?
Muse
kasian juga si Calvin padahal sepertinya dia tulus sama Keana...
Muse
campur aduk bacanya...ya tegang...ya ngakak...ya kaget...goodjob kak author...👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
setiap part sungguh menegangkan...seruuuu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!