Penantian selama dua tahun gadis itu akhirnya terwujud. Dia berhasil menikah dengan sang pujaan hati.
Tapi pernikahan mereka harus diuji oleh sesuatu yang sangat krusial. Bukan orang ketiga, bukan juga soal financial.
" Laaah kok nggak bisa berdiri sih kak?" kata si gadis.
" Ya mana ku tahu kalau dia lemes gitu," jawab si pria kebingungan juga.
Malam pertama yang diharapkan terpaksa ditunda atau lebih tepatnya gagal karena sang pria tidak mampu membuat miliknya bertugas sebagaimana mestinya.
" Bagaimana cara membuat itu berdiri," pikir si gadis.
" Apa aku harus melepaskannya karena ketidakmampuanku?" batin si pria.
Bagaimana dua anak manusia ini mengarungi pernikahannya? Akankah mereka berhasil mengatasi ujian berat itu?
Atau menyerah dan memilih saling melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Impoten 16
Seorang perawat yang waktu itu menyapa Airin saat berkunjung ke klinik Dokter Boy kembali menyapa Airin sekarang. Sepertinya perawat tersebut memnag pekerja tetap di sana.
Airin dan Akhza langsung dipersilahkan masuk ke ruangan Dokter Boy. Tidak seperti saat pertama ia datang, Kali ini Airin terlihat lebih santai dan nyaman berada di ruangan tersebut.
Berbeda dengan Akhza, suami Airin nampak gugup. Akhza tidak berhenti menggerakkan kakinya.
" By, santai. Dokter Boy sungguh sangat menyenangkan saat kita mulai konsultasi. Dia ramah dan juga kita akan nyaman berbicara dengannya."
Cekleek
" Selamat siang, waah kamu Airin. Kali ini datang bersama suamimu, apakah benar?"
" Benar Dok, ini suami saya."
Akhza menjabat tangan sang dokter. Seperti yang dikatakan oleh istrinya bahwa doker Boy adalah pribadi yang menyenangkan. Bisa Akhza lihat cara Dokter Boy menatap.
Setelah basa-basi sejenak, AKhza dan Airin pun langsung menceritakan permasalahan inti yang dihadapi. Airin juga menjelaskan apa yang sudah mereka lakukan dan bagaimana terakhir kali mereka berhubungan.
Dokter Boy mendengarkan dengan seksama. Dari cerita yang Airin dan Akhza kemukakan sebenarnya semuanya sudah tidak ada masalah. Bisa jadi kali ini karena faktor psikologis.
" Begini Airin dan Akhza, aku rasa semuanya sudah tidak masalah. Saat Mr. P milik Akhza sudah bangkit dan berdiri lalu mengeras jelas itu merupakan pertanda kamu sudah tidak mengalami Disfungsi Ereksi. Atu bisa dikatakan kamu tidak impoten secara sungguh-sungguh. Terbukti kamu masih merasa kan hasrat dan milikku bereaksi. Mungkin ini faktor pikiran. Banyaknya pikiran negatif yang muncul, ketakutan, was-was itu menimbulkan semuanya bubar."
Akhza setuju dengan pa yang dikatakan oleh dokter yang ada di depannya itu. Ia memang merasakan itu semua. Dia selalu takut tidak melakukan dengan benar. Dia sellau takut jika dirinya benar-benar impoten dan akhirnya harus melepaskan sang istri.
" Saya paham dok, mungkin saya harus mengubah mindset saya."
Dokter Boy tersenyum. Dalam berhubungan terkadang jika sedang banyak pikiran maka akan mempengaruhi kualitas.
" Nah, ayo ubah semuanya itu. Satu hal yang pasti, yakinkan bahwa kamu bisa dan semuanya baik-baik saja."
Airin kali ini baru tahu bahwa suaminya begitu banyak berpikir. Keduanya pun keluar dari klinik dan langsung menuju rumah. Airin sesaat melirik Akhza yang sedang fokus mengemudi.
" Apa yang hubby pikirkan memangnya?" tanya Airin yang sedari tadi sungguh penasaran.
Akhza melambat laju mobilnya dan menepi sejenak. Dia tidak ingin membicarakan hal ini saat posisi tengah mengemudi.
" Ai, aku sempat berpikir untuk melepaskan kamu jika memang aku tidak bisa memberimu nafkah batin."
Deg
Airin sungguh terkejut mendengar pernyataan Akhza. Ia tidak menyangka suaminya berpikir sejauh itu. Sebuah pertanyaan muncul dari Airin mengenai sang suami.
" Apa kakak tidak mencintaiku sehingga kakak berpikiran begitu? Apakah kakak selama ini hanya iba padaku sehingga mau menikahi ku? Apa di sini cintaku hanya bertepuk sebelah tangan bahkan hingga saat ini?"
Airin mengatakan itu dengan penuh emosional. Bahkan mata gadis cantik itu sudah berembun dan air mata siap terjun bebas. Akhza tentu terkejut melihat reaksi Airin.
" Tidak Ai, bukan begitu sayang bukan. pa yang kamu pikirkan tidak benar. Semua itu tidak benar. Aku mencintaimu Ai sungguh. Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika kau benar-benar kehilanganmu. Ai kau hanya berpikir realistis, Aku tidak mungkin mengurung dirimu, di dalam rumah tangga ini jika kau memang tidak bisa memberimu nafkah batin. Aku tentu tidak boleh egois bukan?"
Airin tergugu, ia paham apa yang disampaikan oleh sang suami. Seketika gadis itu memeluk suaminya dan menumpahkan air matanya.
" Jangan berpikir untuk melepaskan aku by. Ini masih awal, masih banyak yang bisa kita lakukan. Aku akan menunggu, aku akan menunggu sampai kamu berhasil. Aku pun tidak bisa membayangkan jika berpisah denganmu."
Air mata Akhza pun ikut luruh. Ia tahu istrinya begitu mencintainya, pun dengan dirinya. Dalam hati keduanya bertekad bahwa mereka akan berusaha untuk mencoba banyak cara yang bisa dilakukan.
Akhza melerai pelukan Airin, ia lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya. Sebah ciuman lembut ia daratkan di kening Airin. Akhza juga menghapus air mata istrinya itu dengan kedua tangannya kemudian ia mencium kelopak mata Airin bergantian.
" Mari pulang, kamu butuh istirahat."
Akhza kembali membetulkan posisi tubuhnya pun dnegan Airin. Ia menyalakan mobil nya lalu melajukan untuk pulang ke rumah.
Sekitar satu jam perjalanan, mobil Akhza akhirnya sampai di pekarangan rumah. Ia memarkirkan mobilnya di garasi. Dilihatnya Airin tertidur pulas. Ia pun turun terlebih dulu untuk membuka pintu lalu kemudian kembali lagi ke mobil dan mengangkat tubuh sang istri.
" Maafkan aku Ai, sungguh aku minta maaf. Seharusnya setelah menikah denganku banyak sekali beban yang harus kamu tanggung dan kamu simpan."
Akhza bergumam lirih sambil terus membawa istrinya itu ke kamar. Ia merebahkan tubuh Airin perlahan di ayas kasur. Akhza juga melepaskan sepatu Airin. Ia kini duduk di sebelah sang istri. Dilihatnya wajah istrinya itu lamat-lamat.
" Apa kau harus pergi dulu untuk sesaat. Menenangkan pikiranku. Tapi aku yakin kamu pasti akan sedih. Kamu pasti tidak setuju jika aku pergi."
Akhza menyingkirkan surai rambut yang mengenai wajah istrinya. Saat ini banyak sekali yang ia pikirkan. Banyak option yang muncul di kepalanya. Tapi satu hal yang jelas dan yang harus ia lakukan saat ini adalah mengumumkan pernikahannya kepada publik.
Akhza jelas tidak suka dan tidak mau jika banyak tuduhan buruk kepada Airin. Maka dari itu hal tersebut harus segera dilakukan.
" Baiklah istriku, aku akan mengabarkan ke semua orang bahwa kamu memanglah milikku. Biarlah aku egois untuk sesaat. Aku pun tidak ingin melihatmu di dekati pria-pria itu."
Di tempat lain seorang pria tengah melamun. Ia menatap layar ponselnya yang sedari tadi hanya ia pegang. Setiap mengetik pesan selalu ia hapus kembali, dan bukan hanya sekali tapi sudah berulang kali ia melakukan itu. Ingi menelpon, ia pun urung.
" Apa dia akan menerima permintaan maafku?" ucapnya lirih.
Drtzzzz
Kali ini ponsel miliknya bergetar. Pria itu jelas terkejut saat menerima panggilan itu. Panggilan dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya itu tiba-tiba menghubunginya.
" Halo boy, apa kabar?"
" Baik pa, papa apa kabar. Tumben nelpon, masih ingat sama Pram kah. Ku pikir papa lupa?"
Orang di seberang sana terkekeh mendengar penuturan putra semata wayangnya. Hubungan mereka memang sempat tidak baik saat Pram tidak mau mengikuti keinginan sang papa untuk menjadi dokter dan memilih mengembangkan perusahaan peninggalan sang kakek.
" Ya inget lah son, bagaimanapun kamu putra papa. Ya kali papa lupa sama anak sendiri. Bagaimana perusahaan kamu lancar kan."
" Sejauh ini lancar, laah tumbenan papa nanyain perusahaan. Emang pasien sepi? Biasanya begitu sibuk dnegan pasien-pasiennya sehingga untuk anak sendiri saja lupa."
TBC
terimakasih untuk tulisan indah mu thor