NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP

Tidak ada yang lebih cepat daripada warga memberi jabatan kepada orang yang kebetulan membawa tangga.

Lima menit setelah lampu mati, aku sudah disebut penanggung jawab penerangan gang, ketua teknisi, dan dalam satu versi yang dibisikkan ibu-ibu, orang yang sengaja mematikan lampu agar mendapat proyek.

“Aku belum menyentuh apa-apa,” kataku.

“Makanya cepat sentuh,” jawab Mak Sendok.

Liza menyalakan senter ke arah tiang. “Tidak ada yang menyentuh sebelum aliran diperiksa.”

Aku mengangkat tespen merah dari kotak. “Ini namanya memeriksa.”

“Tes dari panel dulu.”

“Tiangnya di sini.”

“Panelnya sumber.”

Perdebatan kami ditonton dua belas warga, tiga anak kecil, dan seekor anjing yang menggonggong setiap kali Binsar memindahkan tangga.

Binsar mengenakan helm proyek yang kebesaran. Ia memasang lampu kepala di atas helm, tetapi arah cahayanya justru menyorot ke langit.

“Turunkan lampumu,” kataku.

“Sudah.”

“Itu menerangi awan.”

Ia menundukkan kepala terlalu jauh hingga cahaya menyorot kakiku. “Sekarang?”

“Sekarang kau interogasi sandal.”

Fadli memegang tangga sambil menguap. “Cepatlah. Motorku tak bisa lama-lama diam. Dia merasa ditinggalkan.”

Motor di belakangnya mengeluarkan bunyi batuk panjang meskipun mesin sudah dimatikan.

Di tiang kedua, aku menemukan dudukan lampu yang retak dan kabel gulung dibiarkan terikat rapat di atas palang. Panas terperangkap di antara lilitan. Saat kuturunkan, seorang warga berkata kabel itu dipasang saat gotong royong tahun lalu.

“Siapa teknisinya?” tanyaku.

“Ramai-ramai.”

“Ramai-ramai bukan nama teknisi.”

“Kalau dikerjakan ramai, murah.”

“Kalau terbakar, apinya pun ramai,” kata Liza.

Mak Sendok menyuruh dua anak menjauh dari tangga. Salah satunya bertanya apakah aku bisa membuat lampu berubah warna. Aku menjawab bisa, asal ayahnya mau membayar. Ayahnya langsung menarik anak itu pulang.

Kami mengikuti kabel dari lampu ke kotak sambungan di dinding rumah kosong. Rumah itu sudah tidak dihuni lebih dari setahun. Catnya mengelupas, jendelanya ditutup papan, dan halaman dipenuhi rumput setinggi lutut.

Kabel utama tampak tua. Kulitnya retak di beberapa tempat dan dibungkus potongan isolasi dengan warna berbeda, seperti luka yang ditutup berkali-kali tanpa pernah dibersihkan.

“Ini bukan cuma lampu putus,” kataku.

Liza mengambil foto. “Jangan simpulkan sebelum selesai.”

“Aku bisa melihat.”

“Dulu kau juga melihat kabel pesta dan bilang aman.”

Warga di belakang kami mendengar. Seseorang tertawa kecil.

Aku menahan balasan. “Terima kasih mengingatkan di depan umum.”

“Supaya efektif.”

Aku membuka kotak sambungan. Di dalamnya, jalur lampu gang bercampur dengan kabel lain yang masuk ke rumah kosong. Salah satu sambungan terbuka dan menghitam.

“Siapa yang pasang ini?” tanyaku.

Tidak ada yang menjawab.

Seorang ibu berkata, “Dulu orang lingkungan datang.”

“Orang lingkungan siapa?”

“Ya orang lingkungan.”

“Namanya?”

Ia mengangkat bahu. “Kalau tahu namanya, kubilang dari tadi.”

Binsar mendekat. “Aku pernah lihat model sambungan begini di gang belakang. Kabelnya masuk dari meter rumah kosong, lalu dibagi ke beberapa tiang.”

Liza langsung menoleh. “Kapan?”

“Beberapa bulan lalu. Aku ikut kawan angkat tangga.”

“Kau mengerjakannya?”

“Tidak. Aku cuma angkat tangga. Tangga tidak punya tanggung jawab hukum, kan?”

“Orang yang mengangkatnya punya mata,” kataku.

Binsar mengusap tengkuk. “Waktu itu kukira proyek resmi. Ada orang pakai rompi.”

“Rompi apa?”

“Rompi oranye.”

Fadli menyahut, “Di Medan, rompi oranye bisa petugas, tukang parkir, panitia jalan santai, atau orang jualan kartu internet.”

Liza mencatat keterangan Binsar. Aku mengikuti jalur kabel yang keluar dari rumah kosong. Kabel itu tidak menuju satu tiang. Ia bergerak di atas dinding, masuk ke gang sempit, lalu bercabang.

“Ini mengambil listrik dari meter siapa?” tanyaku.

Seorang bapak tua menunjuk rumah kosong. “Dulu pemiliknya Pak Ramlan. Sudah meninggal. Rumahnya ditinggal anak-anak.”

Aku menyenter meter di samping pintu. Segelnya tampak lama, tetapi angka digital masih menyala. Ada konsumsi listrik pada rumah yang tidak dihuni.

Liza memotret nomor meter. “Catat semua.”

“Aku sudah hafal,” kataku.

“Catatan tidak mengandalkan gengsi.”

Aku mengambil buku kecil. “Nomornya berapa?”

Ia menyebut angka perlahan.

Dari ujung gang muncul cahaya mobil. Kepling turun bersama dua laki-laki bertubuh besar yang memakai jaket hitam. Senyumnya sudah siap sebelum kakinya menyentuh jalan.

“Wah, cepat kali Konslet Medan bekerja,” katanya.

“Kami cuma memeriksa,” jawab Liza.

“Bagus. Warga butuh tindakan.”

Aku menunjuk sambungan terbuka. “Jalur ini tidak aman. Lampu gang mengambil arus dari rumah kosong.”

Kepling melihat sekilas, lalu mengalihkan perhatian ke warga. “Ini instalasi lama. Yang penting malam ini lampu hidup dulu.”

“Siapa yang memasang?” tanyaku.

“Sudah lama. Data nanti kita cari.”

“Meter rumah kosong masih aktif.”

“Nanti.”

“Jalurnya bercabang ke mana?”

Salah satu laki-laki di belakang Kepling melangkah mendekat. “Bang, disuruh ganti lampu, ya ganti lampu.”

Aku menghadapnya. “Kau teknisi?”

“Tak perlu jadi teknisi untuk mengerti perintah.”

Liza berdiri di sampingku. “Kami belum menerima perintah atau kontrak.”

Kepling mengangkat kedua telapak tangan. “Jangan tegang. Kita semua ingin gang terang.”

“Kalau cuma ganti lampu, sambungan terbuka ini tetap ada,” kataku.

“Rapikan yang perlu. Jangan bongkar semua.”

“Apa yang tak boleh dibongkar?”

Senyumnya berhenti sepersekian detik. “Tidak ada yang bilang tak boleh.”

Aku mengikuti kabel lain yang keluar dari kotak. Jalurnya menempel pada pagar, lalu masuk ke gang belakang. Binsar mengangkat tangga, Fadli mendorong motor, dan Liza terus memotret. Warga ikut seperti rombongan menonton pawai.

Kepling memanggil dari belakang. “Jefri, cukup sampai sana.”

“Kenapa?”

“Area itu bukan titik pekerjaan.”

Aku berhenti di depan kotak distribusi kecil yang terpasang pada dinding gudang kosong. Catnya baru dibandingkan dinding di sekelilingnya. Kabel-kabel lama masuk dari atas, tetapi dua kabel baru keluar dari bawah tanah.

Kotak itu dikunci dengan gembok mengilap.

“Kalau bukan bagian proyek,” kataku, “kenapa jalur lampu masuk ke sini?”

Kepling mendekat. Dua orangnya berada beberapa langkah di belakang.

“Itu aset lingkungan.”

“Isinya apa?”

“Distribusi.”

“Distribusi ke mana?”

“Kau banyak tanya.”

Aku menyorot gembok. Merek dan permukaannya masih baru. Bahkan debu belum menempel sempurna.

Liza berdiri dekat nomor seri meter yang terpasang di samping kotak. Ia memotret cepat sebelum salah satu orang Kepling menghalangi.

“Jangan foto sembarangan,” katanya.

“Ini berada di ruang publik,” jawab Liza.

Kepling mengubah nada suaranya menjadi lembut. “Malam sudah larut. Warga menunggu. Ganti lampunya saja. Besok kita bicara resmi.”

Dari belakang, Mak Sendok berteriak, “Kalau bicara resmi, bawa uang resmi!”

Warga tertawa. Kepling tidak.

Aku berjongkok dan melihat bekas tanah yang baru ditutup di bawah kotak. Ada kabel besar menuju arah rumah-rumah di gang sebelah. Ukurannya tidak masuk akal untuk sekadar beberapa lampu.

Fadli berbisik, “Lek, ini bukan urusan bohlam lagi.”

Aku mengetuk gembok dengan gagang obeng. Bunyi logamnya tajam di tengah gang.

Di depanku berdiri kotak distribusi yang seharusnya tidak ada dalam gambar proyek, terkunci dengan gembok baru, dan Kepling NATO tiba-tiba sangat ingin kami berhenti melihat.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!