NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Tiga hari sejak tanah merah mengubur seluruh dunianya, Nadia berdiri di depan cermin kamar mandinya yang remang. Pipi rampingnya tampak lebih tirus dan lingkaran hitam tipis kini menghiasi bagian bawah matanya.

Namun, saat tatapannya beradu dengan pantulan dirinya di cermin, Nadia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu membuka matanya kembali. Kedua sudut bibirnya dipaksa ditarik ke atas, senyum palsu itu kini menjadi perisainya.

​Hari ini adalah hari pertamanya kembali melangkah ke kampus setelah masa izin dukanya usai, mengenakan kemeja polos yang sedikit longgar dan tas ransel kanvas yang terasa lebih berat dari biasanya, Nadia melangkah keluar dari gang rumahnya.

​Sesampainya di gedung Fakultas Desain, suasana koridor yang biasanya biasa saja mendadak berubah. Begitu Nadia berjalan menyusuri lorong, beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya menghentikan langkah.

Tatapan-tatapan mata mereka kini tidak lagi hanya menyimpan rasa kagum pada kecerdasannya, melainkan dipenuhi oleh rasa iba yang amat pekat.

​"Nadia, kami turut berduka cita ya...," ujar salah satu teman seangkatan yang berpapasan dengannya, menepuk bahunya pelan.

​Nadia segera menangkupkan kedua tangan di dada, menganggukkan kepala berkali-kali sambil mengulas senyum lebarnya yang terpasang rapi, jemarinya bergerak lincah membentuk isyarat. 'Terima kasih banyak atas doanya', disertai anggukan mantap seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia baik-baik saja.

​Saat melangkah masuk ke ruang kelas, suasana yang tadinya bising seketika hening sejenak. Dosen pengajar hari itu, Profesor Rahardjo yang biasanya berwajah dingin dan kaku, menatap Nadia saat gadis itu berjalan menuju bangkunya.

​Profesor Rahardjo berjalan mendekat ke meja Nadia sebelum memulai kuliah. Pria paruh baya itu menatap mahasiswi terbaiknya dengan pandangan hangat dan penuh keprihatinan.

​"Nadia," panggil Profesor Rahardjo dengan suara pelan yang amat jarang ia gunakan di depan kelas.

"Saya dan seluruh civitas akademika turut berduka atas musibah yang menimpa orang tuamu, kalau kamu masih butuh waktu untuk menenangkan diri atau merasa belum siap mengikuti materi, kamu boleh mengambil waktu istirahat," ucap Profesor Rahardjo.

​Nadia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Wajahnya diperagakan dengan gestur penuh semangat, ia mengambil spidol bor di meja depan dan menuliskan kalimat singkat di papan tulis kecil fasilitasnya:

​[Terima kasih banyak, Prof. Saya sudah siap dan bersyukur bisa kembali belajar hari ini!]

​Profesor Rahardjo menatap tulisan itu, lalu mengangguk bangga. "Semangatmu luar biasa, kami semua ada di belakanganmu," pujinya.

​Di jam istirahat, saat Nadia berjalan menyusuri selasar menuju perpustakaan, sebuah bayangan jangkung menghentikan langkahnya. Roy berdiri di sana, mengenakan jaket himpunan dan membawa sebuah amplop cokelat serta sejumput bunga kering yang ditata rapi.

​"Nadia," sapa Roy dengan artikulasi bibir yang sengaja diperlambat agar Nadia mudah membacanya. Wajah pria berkarisma itu memancarkan rasa simpati yang amat tulus.

​Nadia berhenti dan menatap Roy dengan senyuman lesung pipit yang biasa, ​Roy menyerahkan amplop cokelat serta sebuah kertas diatas amplop itu.

[Ini dari teman-teman pengurus BEM dan perwakilan fakultas. Mami mengumpulkan sedikit bantuan buat kamu. Dan... ini bunga dari aku, aku tahu tidak ada kata-kata yang bisa menggantikan rasa kehilanganmu, tapi aku ingin kamu tahu kalau kamu tidak sendirian di kampus ini.]

​Nadia terpaku menatap amplop dan bunga di tangannya, hatinya terenyuh oleh perhatian itu. Namun, di saat yang bersamaan, nuraninya berbisik ragu. Ia menolak secara halus amplop tersebut dengan mendorongnya pelan kembali ke tangan Roy, lalu mengambil pensil dan buku dari tasnya.

​[Terima kasih banyak atas perhatian dari teman-teman BEM. Bunga ini aku terima dengan senang hati, tapi untuk bantuan dana, tolong alokasikan saja untuk mahasiswa lain yang lebih membutuhkan. Aku masih memiliki tabungan beasiswa dan masih mampu.]

​Roy tertegun, ia menatap gadis tunawicara di hadapannya dengan rasa kagum yang kian membuncah. Di saat banyak orang memanfaatkan simpati atas musibah, Nadia justru berdiri tegak menjaga harga dirinya dengan senyuman yang tak pernah padam.

​"Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Nadia," ucap Roy, menatap lurus ke dalam iris mata Nadia yang jernih.

​Nadia hanya tertawa tanpa suara, menepuk dada Roy pelan sebagai tanda persahabatan, lalu pamit melanjutkan langkahnya.

​Namun, Nadia tidak menyadari, dari balik pilar gedung rektorat yang tak jauh dari sana, ada sepasang mata yang menatap interaksi itu dengan kilatan kebencian yang mendalam. Tamara berdiri bersedekap dada, meremas pinggiran tas bermereknya hingga kulit tas itu terlipat.

​"Lihat kan, Tam?" bisik Hesti yang berdiri di samping Tamara.

"Si bisu itu makin pintar cari perhatian. Pakai drama orang tua meninggal segala, sekarang Roy makin nempel sama dia," ucap Erika.

​"Bener, Tam! Roy sampai bela-belain galang dana di BEM cuma buat si bisu itu. Kalau dibiarkan, Roy bisa benar-benar jatuh cinta sama cewek cacat dan miskin kayak dia," ucap Hesti.

​Rahang Tamara mengeras, tatapan matanya yang tajam mengawal sosok Nadia yang kian menjauh, rasa iri dan gengsi sebagai primadona kampus yang diabaikan oleh Roy membakar seluruh akal sehatnya.

​"Gue udah cukup sabar karena kasihan sama status dia yang cacat, tapi kalau dia sudah berani memanfaatkan rasa kasihan Roy buat mendekatinya, gue nggak bakal tinggal diam. Mulai besok, kita kasih dia pelajaran yang sebenarnya," desis Tamara dengan suara dingin menusuk.

"Siap," jawab Hesti dan Erika, mereka beradu pandang dan tersenyum licik.

​Nadia, yang berjalan dalam keheningan dunianya, sama sekali tidak menyadari bahwa badai baru yang jauh lebih kejam tengah menunggunya di depan mata, topeng senyum palsunya akan segera diuji oleh kekejaman manusia yang sesungguhnya.

.

Keesokan harinya, awan hitam bergantung rendah di atas kota Bandung, seolah mengisyaratkan ketegangan yang mulai mengintai keseharian Nadia. Pagi inj, Nadia tiba di kampus lebih awal dari biasanya. Suasana koridor lantai dua gedung Fakultas Desain masih sepi, hanya terdengar gemerisik dedaunan yang tertiup angin dari arah taman tengah.

​Nadia melangkah menuju loker mahasiswanya untuk mengambil perpustakaan digital dan peralatan lukis yang ia simpan di sana. Dengan senyum tipis yang terpasang otomatis di bibirnya, ia memutar kode kombinasi loker dan menarik pintunya.

​Namun, dalam detik berikutnya, senyum Nadia seketika membeku. ​Dari dalam loker yang baru saja terbuka, meluap aroma busuk yang menyengat hingga membuat matanya perih.

Sampah busuk, sisa makanan basi, cairan saus yang mengering, hingga potongan bangkai tikus ditumpuk secara sengaja di dalam lokernya. Seluruh buku catatan riset Tesis, papan sketsa berharganya dan pakaian ganti yang biasa ia simpan di sana hancur dan basah kuyup oleh cairan keruh yang berbau amis.

​Nadia mundur satu langkah, jemarinya menutup hidung dan mulutnya refleks. Dadanya bergemuruh hebat. Bukannya pertolongan yang datang, dari balik sudut lorong muncul Tamara bersama Hesti dan Erika. Ketiganya melangkah dengan angkuh, melipat tangan di dada seraya melempar tatapan merendahkan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!