(SEKUEL PERFECT HUSBAND)
Dave dan Zea yang akhirnya menyatakan perasaan satu sama lain, akan cinta itu berjalan dengan lancar hingga mereka bisa bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khay_Za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang gagal
Hari makin petang, Zea juga sudah sangat, sangat merasa tidak sabar ingin waktu cepat berlalu. Saat ini gadis itu sedang membongkar isi lemarinya untuk memilih pakaian yang cocok dan pas ia kenakan nanti malam. tentu saja ia ingin terlihat berbeda dan menawan karena malam ini sangat spesial baginya.
"Pake baju apa ya entar malam? Apa warna dasar aja? Dave kan suka warna hitam dan putih. Coba yang ini deh." Ucap Zea mengambil salah satu gaun untuk dicoba.
Zea berdiri didepan kaca besar yang ada di kamarnya. Gadis itu berputar-putar dengan wajah ceria.
"Yang jelek itu bukan bajunya tapi orangnya." Celetuk Calla yang sejak tadi duduk di sofa tunggal milik Zea.
"HEI!!!! Sejak kapan lo ada disini? Gak sopan! Keluar!" Bentak Zea menyuruh adiknya untuk segera pergi dari kamarnya. Namun bukan Calla namanya jika belum membuat Zea serasa ingin menangis.
"Aku tau sesuatu, antara kakak dan bang Dave." Tambahnya lagi tersenyum licik. Mendengar hal itu Zea tentu kaget namun karena malam ini ia dan Dave ikan memberitahu semua tentang hubungan mereka ia tidak lagi khawatir.
"Terus lo mau ngancem gue pake itu? Heh, gak ngaruh." Kata Zea kembali berputar didepan kaca.
"Serius gak ngaruh? Ummmm gimana kalo Daddy dan Mommy tau anak gadisnya tidur sekamar sama cowok waktu liburan di villa." Mendengar hal itu kaki Zea langsung berhenti memutar tubuhnya. Mata gadis itu melebar kaget. Zea langsung menghampiri Calla yang duduk santai itu dan menutup mulut Calla dengan tangannya.
"Sebutin apa mau lo?" Tanya Zea memberikan penawaran agar Calla menutup rapat mulutnya. Tentu saja ia khawatir jika Calla membuka mulut soal ia tidur dalam satu kamar bersama Dave saat mereka liburan di villa. Mendengar negosiasi dari kakaknya wajah Calla tersenyum sumringah penuh kemenangan. Kapan lagi ia bisa dapat kesempatan emas seperti saat ini.
"Harus yang sesuai, kalo gak sesuai aku suka lupa dan mulut aku mode otomatis ngomong ke mommy dan daddy." Sahut Calla melipat kedua tangan di depan dada serasa menjadi raja.
"Ya makanya bilang lo mau apaan? Butuh duit buat top up game?" Tanya Zea mulai terusik dengan ancaman sang adik.
"Kakak kira aku gak sanggup top up sendiri?" Sahut Calla si bocah tengil.
"Nih bocah asli ngeselin banget sumpah." Kata Zea dalam hati menggerutu. Zea menarik nafas panjang lalu duduk disamping Calla.
"Calla Leondra yang ganteng, keren, cool, manis dan baik hati. Adakah yang bisa kakak bantu atau lakukan untuk Calla?" Ucap Zea bernada manis dan lembut terdengar penuh kasih dan sayang, padahal hatinya sangat kesal saat ini.
"Dih, geli dengernya." Ucap Calla cuek tidak perduli.
"Ya terus mau lo apa buruan bilang!" Sontak sikap manis dan lembut Zea tidak akan bertahan lama saat menghadapi bocah berwajah tampan tersebut.
"Aku belum sempat mikir mau aku apa, yang jelas aku gak mau dong sia-siain kesempatan berharga kali ini. Oke, entar aku balik lagi buat ngasih tau mau aku apa. Bye kakak ku yang baik hati, oh iya kakak gak cocok pake warna item muka kakak auto tua." Ucap Calla yang langsung pergi dari kamar kakaknya sebelum Zea menghajarnya.
"Ade gak ada akhlak! Somplak! Bang......" Zea menghentikan ucapannya lalu menarik nafas dalam berusaha tenang.
"Tenang Zea sabar, gak usah denger omongan si bocah tengil itu." Ucap Zea bicara pada dirinya sendiri sambil mengusap dada.
Zea kembali melihat dirinya didepan kaca, gadis itu mulai kembali bingung untuk menentukan pilihan nya.
"Masa gak cocok sih warna hitam? Apa warna putih aja ya?" Ucap Zea langsung berpindah ke deretan baju-bajunya yang berwarna putih. Zea mengambil selembar gaun cantik berwarna putih dan langsung mencobanya.
"Zee...." Panggil Luna didepan pintu kamar Zea. Zea yang baru selesai mengganti baju langsung berlari membuka pintu kamarnya.
"Iya mom." Sahut Zea tersenyum.
"Kamu cantik banget, mau kemana?" Tanya Luna melihat penampilan anak gadisnya.
"Eh masa sih Mom? Cocok gak sama Zea?" Tambah Zea memamerkan pada Luna sambil ia berputar.
"Perfect." Sahut Luna mengacungkan jempol membuat Zea tersenyum sumringah.
"Oh iya mommy lupa tanya, acar entar malem itu resmi atau gimana?" Tanya Luna yang masih berdiri didepan pintu.
"Oh acara santai kok mom."
"Oh ya udah kalo gitu mommy telepon daddy dulu ya." Zea mengangguk lalu pergi.
***
Sementara itu Dave juga sedang sibuk memilih beberapa baju, tidak jauh berbeda dengan yang dilakulan Zea hanya saja baju yang dimiliki Dave paling banyak berwarna gelap.
Pria berwajah tampan itu meraih ponselnya lalu berbaring dan menghubungi Zea. Tidak begitu lama menunggu telepon langsung tersambung.
"Kamu ngapain?" Tanya Dave penasaran.
"Gak ada, santai aja dikamar." Ucap Zea sambil menggantung baju-bajunya, meletakan kembali ke dalam lemari. Tentu ia tidak akan berkata jujur pada Dave jika saat ini ia sedang mencoba baju-baju untuk dikenakan nanti malam.
"Kamu gak nanya aku ngapain?" Ucap Dave lagi, mendengar hal itu Zea langsung bertanya apa yang sedang dilakukan oleh Dave.
"Kamu ngapain?" Tanya Zea.
"Aku lagi sakit." Sahut Dave, mendengar hal tersebut sontak Zea kaget dan khawatir.
"Kamu sakit apa? Terus udah minum obat belum? Udah makan?" Tanya Zea secara beruntun. Mendengar semua pertanyaan dari Zea Dave tertawa.
"Kok malah ketawa? Kamu bohongin aku?" Tanya Zea bernada kesal.
"Siapa yang bohong sih bunny, aku tuh beneran sakit."
"Terus kenapa ketawa? Aku ada salah ngomong?"
"Aku sakit, nahan perasaan kangen ini. Pengen banget bisa cepet-cepet ketemu." Sahut Dave, Zea menarik nafas panjang, siapa yang menyangka jika seorang Dave yang terkenal sangat dingin, ketus dan cuek bisa bersikap manis dan bahkan terkesan seperti seorang tukang gombal.
"Apaan coba, astaga kamu punya hobi baru sekarang. Hobi ngegombal." Sahut Zea pura-pura bersikap biasa padahal saat ini kedua pipinya terlihat sangat merah menahan malu dan bahagia yang datang bersamaan.
"Kan yang aku gombal kamu, pacar aku sendiri." Jawab Dave.....Mereka terus mengobrol hingga lupa waktu bahkan karena lelah Zea sampai tertidur saat mendengar Dave bernyanyi untuknya.
***
Malam yang di nanti-nanti pun tiba dua keluarga itu sudah siap, namun masing-masing tidak ada yang tau jika mereka akan bertemu nantinya.
Zea terlihat sangat dengan balutan gaun berwarna putih dan rambut yang terurai rapi begitu juga dengan Dave yang terlihat sempurna mengenakan kemeja berwarna putih. Mereka mengenakan baju berwarna senada padahal tidak janjian.
Dave saat ini sedang di kamarnya, 10 menit lagi ia dan keluarganya berangkat. Tiba-tiba hp Dave berdering, panggilan itu dari Davin. Saat ini Davin menang tidak berada di rumah.
"Kemana aja lo?" Tanya Dave saat menerima panggilan telepon tersebut.
"Cih! Jadi lo sodara dari si bang*at ini? Sodara lo bentar lagi mam*us di tangan gue. Lo mau denger suaranya untuk terakhir kalinya gak? Nih lo denger puas-puas." Kata seseorang yang bicara lewat telepon milik Davin.
Dave Mendengar teriakan Davin, pria itu sepertinya sedang dipukuli habis-habisan oleh beberapa orang.
"Udah puas? Gue rasa itu cukup untuk mengenang saat dia udah mati." Ucap orang tersebut sambil tertawa.
"Bang*at! Sedikit aja lo berani nyentuh badan sodara gue, gue habisin lo!" Ucap Dave murka, namun pria yang ada ditelepon memilih untuk mematikan sambungan telepon daripada menggubris ucapan Dave. Dave langsung melacak keberadaan Davin lewat sinyal handphone dan setelah menemukan posisi Davin, Dave buru-buru pergi kesana.
"Bunda, ayah. Maaf banget, acaranya di cancel ya. Ada urusan mendadak." Ucap Dave buru-buru sambil mengenakan jaket lalu pergi. Sedangkan Dara dan Daniel benar-benar dibuat bingung oleh anaknya itu.
Dave juga kemudian menghubungi Zea untuk membatalkan acaranya malam ini.
"Halo sayang, maaf banget. Acara malam ini ini kita cancel dulu ya soalnya ada urusan mendadak. Nanti aku hubungi kamu lagi, dah I love u." Dave langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Zea karena ia benar-benar sangat terburu-buru saat ini.
Setelah menerima telepon tersebut Zea langsung merasa kecewa. Gadis itu bahkan langsung menangis karena rasa kecewanya pada Dave...
"Kak, kamu belum siap? Ini udah jam 8 lho. Ayo kita berangkat, Daddy dan Calla udah nungguin tuh." Kata Luna mengetuk pintu kamar Zea.
"Gak jadi Mom. Acaranya di cancel, maaf ya Mom, Dad. Zea juga capek mau tidur duluan." Sahut Zea dari dalam kamar enggan membuka pintu karena saat ini ia sedang menangis. Mendengar hal tersebut Luna diam, ia tau saat ini anak perempuannya itu sedang tidak baik-baik saja. Walau ia memaksa agar Zea bercerita hal itu akan sia-sia maka ia lebih memilih untuk diam dan memberikan waktu untuk Zea.
"Ya udah kalo gitu gak apa-apa. Kakak rehat aja dulu biar besok enakan." Sahut Luna lalu pergi dari tempat itu.
***
Akhirnya Dave sampai disebuah tempat yang cukup jauh dan sepi. Tempat ini seperti pergudangan yang tidak lagi digunakan.
Dave turun dari motornya lalu mencari keberadaan Davin. Dave mulai memeriksa gudang satu persatu namun belum juga menemukan Davin. Sungguh saat ini perasaannya sedang bercampur aduk. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Davin.
Tidak lama, ia mendengar teriakan Davin seperti orang sedang kesakitan. Tanpa berfikir panjang Dave berlari kearah asal suara dan benar saja saat ini Davin sedang dikeroyok oleh beberapa orang dan satu orang sedang tertawa sambil menontoni adegan yang tidak berprikemanusian tersebut. Dave langsung berlari kearah lima pria yang sedang memukuli tubuh Davin saat itu, Dave menyerang salah seorang pria bertubuh besar yang ingin melayangkan sebuah balok kearah kepala Davin.
"Wooow, lo pengen ikutan mati sama kembaran lo? Woah, ternyata ikatan kalian sebagai anak kembar cukup kuat." Kata pria yang sejak tadi menontoni Davin. Pria itu bernama Richard.
Tanpa membuang waktu Dave menghajar kelima pria itu. Perkelahian terjadi 5 melawan 1 bukanlah hal yang sulit bagi Dave, pria itu bahkan tidak perlu membuang banyak tenaga untuk menghadapi kelima pria bertubuh besar tersebut.
"Mam....pus kan lo, dah gu e bil ang jang an telepon di a. Dia it u lebih gil a dari pad a gu e." Kata Davin terbata-bata sambil tertawa melihat adiknya menghajar orang-orang tersebut.
Melihat semua anak buahnya dikalahkan oleh Dave, Richard mulai kebingungan. Pria itu mengeluarkan sebilah pisau dan pelan-pelan berjalan kearah Dave yang sibuk menghadapi dua orang yang tersisa.
"DAVE!!!!" Teriak Davin.....
**BERSAMBUNG.....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Mari penasaran berjamaah hayo tebak²an Dave selamat apa kenapa???? Hayooo jangan ngomel² di komentar, entar authornya keselek 🤒🤣🤣🤣🤣🤣 Silahkan menunggu untuk kelanjutannya 🏃🏃🏃🏃🏃**
Bonus biar gak pada ngomel
bener gak tuh anaknya Davin ???