inilah kisah cinta perjalanan rumah tanggaku. yang awalnya begitu sangat indah dan sempurna di mataku kini berubah menjadi malapetaka. kehadiran mertuaku yang mendambakan sosok seorang cucu membuatku harus menerima cacian dan makian tiap harinya.
Hingga pada saat titik di mana mertuaku terus mendesak suamiku harus menikah lagi demi mendapatkan seorang keturunan. Hancur sudah hati yang selama ini aku jaga, hancur sudah rumah tangga yang di bangun kokoh dengan cinta karena kehadiran seorang wanita yang akan menjadi istri dari suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Maharani memutuskan untuk memeriksakan kandungannya di temani oleh Sri, dan sama seperti biasa, tanpa sepengetahuan Maharani ternyata Ramayani mengikuti mereka.
Dan saat Maharani telah sampai di rumah sakit, dia langsung menuju ruang poli kandungan, menunggu antrian.
Ramayani terus mengawasi dari jauh, dan juga sesekali mengambil foto.
"Dasar wanita mandul. Buat apa dia periksa jika tahu hasilnya akan tetap sama." Cercah Ramayani sambil senyum sinis, karena sudah pasti hasil yang di perolah dari Maharani akan sama seperti lima tahun belakang ini. Negatif, walau Maharani tidak datang bulan, dan selalu membuat mereka bahagia, tapi semua kebahagiaan itu akan sirna dengan hasil dokter yang menyatakan jika hasilnya negatif.
Saat Bastian mendapat kabar, jika Maharani keluar dari rumah dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Bastian tanpa pikir dan langsung menancap gas mobil miliknya, karena sudah berapa lama dirinya tidak pernah melihat Maharani.
•••
"Selama bu Maharani, anda sedang mengandung." Kata dokter yang membuat Maharani terdiam sambil membulatkan matanya. Sungguh sampai detik ini, Maharani belum bisa mencerna kata dokter yang menyatakan jika dirinya mengandung. Mungkin saja, Maharani saat ini hanya salah mendengar saja.
"Nyonya, selamat. Nyonya hamil." Kata Sri sambil menggenggam tangan Maharani sambil menitihkan air matanya. Setelah penantian yang cukup lama kini nyonya nya di nyatakan hamil.
"Dokter. Coba periksa ulang. Apa mungkin ada yang salah?" Tanya Maharani yang tidak ingin kebahagiannya sesaat menjadi hancur kala dokter hanya salah dalam memeriksa kandungannya.
Dokter tersenyum sambil mengulang lagi pemeriksaan di perut Maharani. Lalu dengan lembut dokter berkata. "Lihat lah bu, layar monitornya. Ibu sudah mengandung kurang lebih enam belas minggu. Dan bayi yang ada dalam kandungan ibu alhamdulillah sehat. Air ketuban cukup. Ibu hanya perlu datang kontrol bulan depan lagi." Ucapan dokter mampu membuat Maharani menitihkan air matanya. Air mata kebahagiaan yang kini bercucuran membasahi pipi mulusnya. Penantian selama lima tahun lebih kini membawakan hasil yang sejak lama di nanti-nanti. Kini ungkapan mandul dari mertuanya sudah dapat di tepis dengan berhasilnya bayi yang berkembang di dalam rahimnya.
"Bi Sri, aku hamil. Aku hamil Sri." Kata Maharani sambil tersenyum dan menangis. Perasaan campur aduk kini di rasakan oleh Maharani.
"Selama nyonya."
Di luar sana. Ramayani merutuk karena merasa bosan menunggu Maharani yang lama berada di dalam poli kandungan.
"Kenapa sih mandul itu sangat lama." Ucap Ramayani dan memutuskan untuk keluar dari rumah sakit karena sudah yakin jika saat ini Maharani di dalam sana pasti menangis karena apa yang dia harapkan tidak menjadi kenyataan. "Negatif, hahahah. Kau mandul tidak akan mungkin bisa hamil." Ejek Ramayani sambil keluar dari rumah sakit, namun langkah kakinya terhenti kala melihat Bastian keluar dari mobil. "Pria itu. Bukan kah dia kekasih Maharani." Gumam Ramayani sambil membuka kaca mata hitamnya. Kini niat Ramayani untuk pulang menjadi batal. Baginya ini adalah kesempatan emas untuk kembali memperkerut hubungan Agam dan Maharani. "Lihat saja, setelah ini aku yakin Agam akan menceraikan mu." Kata Ramayani sambil diam-diam mengikuti Bastian.
Ponsel Bastian berdering, dengan segerah ia menjawab panggilan dari orang kepercayaannya yang selama ini ia tugasnya menjaga Maharani dari kejahuan.
"Tuan, seorang wanita mengikuti tuan." Kata pria itu.
"Siapa?"
"Dia mertua nyonya Maharani." Kata nyonta di tekan kuat. Karena Bastian mengatakan jika Maharani bukan wanita biasa-biasa di dalam dirinya.
"Biarkan saja." Ucap Bastian lalu memutuskan sambungannya dan kembali melanjutkan langkahnya hingga berhenti tepat di apotik rumah sakit. "Maharani." Tegur Bastian dengan pura-pura terkejut padahal Bastian sudah tahu jika Maharani berada di sini. "Apa yang kau lakukan? Kau sakit apa?" Tanya Bastian dengan panik.
"Bastian, apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang sakit?" Jawab Maharani dengan sebuah pertanyaan.
"Aku???" Bastian melirik mencari cela. "Aku ingin mengambil obat." Bohong Bastian. "Oh ya, Maharani apa yang kau lakukan di sini?" Tanya ulang Bastian.
"Aku." Maharani tersenyum sambil mengusap perutnya. "Aku hamil Bastian. Aku hamil." Jawab Maharani dengan penuh kebahagiaan.
Mendengar Maharani perempuan yang ia cintai hamil membuat Bastian kini hilang harapan. Tidak ada lagi celah untuk dirinya. Kini penantian Maharani telah berbuah manis. "Selamat Maharani akhirnya kau hamil juga." Ucap Bastian dengan senyum ketir karena menahan rasa sakit.
•••••
Dengan penuh semangat, Maharani melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan kabar gembira ini pada Agam. Namun langkah kaki Maharani terhenti kala Agam, Arini dan juga Ramayani telah berdiri tepat di depan pintu kamar Maharani. Maharani menatap penuh dengan tanda tanya, karena melihat ketiganya yang saat ini sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sepertinta tidak suka.
"Mas." Panggil Maharani.
"Dari mana saja?" Tanya Agam
"Aku dari rumah sakit mas." Jawab Maharani sambil tersenyum dan mengusap perutnya. "Mas, aku hamil mas. Aku ham...."
Plakkk... Satu tamparan mendarat di pipi Maharani. "Dasar wanita tidak tahu diri. Berani sekali kau bertemu dengan selingkuhan mu itu,."
"Mas.." Sentak Maharani sambil memengan pipi nya yang terasa panas karena tamparan yang di berikan oleh Agam.
"Kau wanita murahan Maharani. Menyesal aku menjadikan mu istri." Ucap Agam dengan penuh penekanan, dan langsung pergi meninggalkan Maharani
Tubuh Maharani bergetar seketika mendengar ucapan dari Agam. Wanita murahan. Sehina itu kah Maharani di mata Agam sampai berkata demikian.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Kau sudah mengandung anak pria lain dan dengan santainya kau mau mengatakan jika anak itu anak Agam. Tidak, aku tidak akan terima itu." Ucap Ramayani lalu pergi dari sana.
"Maharani. Sampai kapan pun aku akan selalu unggul darimu. Jadi jangan pernah mencoba mengambil posisiku. Ataupun posisi calon bayiku." Kata Arini.
Kaki Maharani kehilangan kekuatan untuk menopang dirinya. Tiba-tiba Maharani duduk di lantai dan terus saja menangis. Anak yang selama ini di nantikan kini sudah tidak mendapatkan pengakuan sama sekali.
"Mas, kau tega. Kau sangat tega mas.." Lirih Maharani.
"Nyonya." Sapa Sri sambil berlari menghampiri Maharani dan membantu Maharani masuk ke dalam kamar. "Nyonya yang sabar. Jangan hiraukan perkataan mereka. Ingat, ada bayi dalam perut nyonya yang harus di jaga." Kata Sri menguatkan Maharani agar tidak terpuruk dengan sikap dan perilaku yang di berikan oleh suami mertua dan juga madunya.
"Aku lelah bi. Kapan penderitaan ini akan berakhir."
aduh...
tolong perbaiki lagi dan cari info lagi jangan asal nulis GK tau hukum bisa juga ntar orang pada meniru saat hamil di nikahi
kecuali author GK usah pakai ijab Kabul
mungkin beda tanggapan ku