Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Pergi dari Istana
Helikopter itu membawa berita, bukan tamu.
Albert menerima laporan di ruang kerja Renard saat matahari baru naik. Momo duduk di sofa dekat jendela, jas Renard masih di bahunya karena ia lupa mengembalikannya setelah bangun di atap. Ia sadar terlalu lambat, dan Renard tidak meminta kembali.
"Lokasi Sen terdeteksi," kata Albert. "Pulau kecil di utara. Ia mengumpulkan orang."
Nama Sen membuat ruangan berubah dingin.
Renard berdiri di depan meja. "Berapa banyak?"
"Belum pasti. Tapi cukup untuk menyusup lagi jika kita tetap di sini."
Momo menatap mereka. "Menyusup seperti pengawal di kolam ular?"
Albert menunduk. "Ya, Nona."
Renard menoleh kepada Momo. "Kau tidak aman di Pulau Raja."
Momo hampir tertawa. "Lucu. Pulau ini baru disebut tidak aman setelah lebih dari sebulan jadi penjara."
"Aku akan membawamu pergi."
"Ke mana? Penjara baru?"
"Vila Puncak. Bukit Permaisuri. Jawa Barat."
"Nama indah untuk kandang baru."
Renard berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup membuat Momo sadar pada jasnya yang masih membungkus tubuhnya. "Bukan penjara."
"Kalau aku tidak boleh pergi, itu penjara."
"Rumah."
Momo menatapnya.
"Rumahmu," katanya sinis.
Renard diam sebentar.
"Nanti juga rumahmu."
Kalimat itu tidak keras. Tidak seperti deklarasi "kamu milikku". Justru karena pelan, ia masuk ke tempat yang lebih sulit Momo lindungi.
Momo berdiri, melepaskan jasnya dan meletakkannya di sofa. "Jangan bicara seolah masa depanku sudah kau tulis."
"Aku menulis bagian yang bisa membuatmu hidup."
"Dan aku?"
"Kau selalu merobek halaman yang tidak kau suka."
Momo ingin membalas, tetapi tidak menemukan kalimat.
Mereka meninggalkan Pulau Raja sebelum siang.
Barang Momo tidak banyak. Beberapa pakaian yang masih ia anggap bukan miliknya. Buku Catatan King's Castle ia selipkan diam-diam di tas. Ia tidak tahu kenapa membawanya. Mungkin karena buku itu lebih jujur daripada pemiliknya. Mungkin karena di dalamnya ada anak kecil yang belum menjadi monster.
Di helipad, angin dari baling-baling memukul wajahnya. Laut berkilau di sekeliling pulau. Dari atas, Pulau Raja akan terlihat seperti surga. Dari dalam, Momo tahu berapa banyak pintu yang terkunci, berapa banyak alarm, berapa banyak malam ketika ia menggigit bibir supaya tidak menangis.
Namun ketika helikopter naik, ia tetap menoleh.
Kamar putih tempat ia bangun.
Dermaga tempat Renard menyelimuti tubuhnya.
Tebing tempat Sen melepaskan tangannya.
Kamar medis tempat monster itu menangis.
Kolam ular tempat Renard melompat tanpa berpikir.
Atap tempat ia tertidur di bawah bintang.
Pulau itu bukan hanya penjara. Itu tempat semua kebencian Momo mulai retak dengan cara yang membuatnya takut.
Ia menyentuh Gelang Sakura di pergelangan tangan.
Setengah gelang itu masih terkunci.
"Apa kau menyesal pergi?" tanya Renard dari samping.
Momo langsung menoleh. "Jangan bermimpi."
"Kau menatap terlalu lama."
"Aku memastikan tempat itu benar-benar menjauh."
Renard tidak membantah.
Di depan, Albert berbicara dengan Darren lewat sambungan aman. Nama Sen terdengar sekali, lalu hilang di suara mesin.
Momo menatap laut di bawah. Ia seharusnya merasa bebas karena meninggalkan pulau itu. Tetapi yang ia rasakan lebih rumit. Lega, takut, marah, dan sesuatu yang hampir mirip rindu pada hal yang tidak ingin ia rindukan.
Ia menutup mata.
Mereka meninggalkan Pulau Raja ketika kabut laut masih rendah.
Momo berdiri di dekat helipad dengan jaket tebal di bahu. Kali ini jaket miliknya, bukan jas Renard, tetapi aroma cologne pria itu tetap ada di kerah. Tentu saja. Semua barang di sekitarnya seolah punya tanda tangan Renard, bahkan ketika tidak ada namanya.
Para pelayan menunduk. Pengawal memeriksa koper. Albert berbicara lewat radio. Semua tampak teratur, cepat, dan sunyi.
Momo menoleh ke arah bangunan utama.
Kamar putih. Pintu penghubung. Perpustakaan. Ruang musik. Atap. Dermaga. Kolam ular.
Pulau itu seharusnya hanya menjadi tempat mengerikan yang ingin ia lupakan. Tetapi ketika helikopter menunggu, Momo menyadari ada bagian kecil dirinya yang tidak sekadar ingin pergi. Bagian itu ingin memastikan buku King's Castle tidak tertinggal, ingin tahu siapa yang akan memberi makan tanaman di rumah kaca, ingin melihat apakah kamar Renard benar-benar kosong setelah mereka pergi.
"Jangan terlihat sedih," kata Renard di belakangnya.
Momo langsung menoleh. "Aku tidak sedih."
"Aku bilang jangan terlihat, bukan jangan merasa."
"Kamu sangat berbakat membuat orang ingin menendangmu."
"Kau sudah beberapa kali mencoba."
"Belum sungguh-sungguh."
Renard mendekat. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya lebih hidup. "Vila Puncak lebih terbuka."
"Lebih mudah lari?"
"Lebih banyak hal yang bisa membuatmu celaka."
"Jawaban khas penculik."
"Jawaban khas orang yang tahu Sen masih hidup."
Nama itu menghapus sisa kehangatan pagi.
Momo menatap helikopter. "Kamu pikir dia akan datang?"
"Ya."
"Untuk membunuhku?"
"Untuk memakai kamu."
"Semua orang memakai aku."
Renard diam.
Momo menunggu bantahan, klaim, atau kalimat milikku yang sudah terlalu sering membuatnya ingin berteriak. Namun Renard hanya berkata, "Aku juga."
Kejujuran itu tajam.
"Bedanya?" tanya Momo.
"Aku sedang mencoba berhenti."
Momo menatapnya, tidak siap untuk kalimat itu.
Renard mengulurkan tangan membantu naik ke helikopter. Ia tidak menarik. Tidak memaksa. Hanya menunggu.
Momo bisa naik sendiri.
Ia tahu itu.
Tetapi angin baling-baling kencang, lantai logam licin, dan tangan Renard terbuka di depannya seperti pertanyaan yang terlalu lama ia hindari.
Ia meletakkan tangannya di tangan Renard.
Genggaman itu langsung menutup, kuat, hangat, tidak lama. Cukup untuk membantunya naik. Cukup untuk membuat dadanya berkhianat lagi.
Saat helikopter terangkat, Pulau Raja mengecil di bawah mereka. Momo menyentuh Gelang Sakura, melihat laut yang menjauh, lalu melihat Renard di kursi seberang. Pria itu tidak menatap pulau. Ia menatap Momo.
Seperti semua arah di dunianya selalu kembali ke sana.
Momo membuang muka ke jendela.
Pertanyaan itu datang tanpa izin.
Renard tidak meminta kembali tangannya segera.
Hanya satu detik lebih lama dari perlu. Satu detik yang bisa disangkal sebagai keseimbangan, keselamatan, kebiasaan. Momo tetap merasakannya. Ia merasakan ibu jari Renard menekan punggung tangannya, singkat, seperti tanda yang tidak boleh dilihat orang lain.
Ia menarik tangan lebih dulu.
Renard membiarkan.
Itu justru membuatnya lebih sulit bernapas.
Helikopter naik melewati atap istana putih. Di bawah sana, Pulau Raja terlihat indah seperti lukisan mahal, seolah tidak pernah menelan teriakan, darah, air laut, dan rahasia. Momo menempelkan telapak ke kaca.
"Selamat tinggal," bisiknya.
Ia tidak tahu kepada siapa. Pulau itu. Diri lamanya. Atau rasa benci yang kini tidak lagi sesederhana saat ia bangun di kamar putih.
Apa aku sudah mulai gila juga?