Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN DI UJUNG TANDUK
BAB 13: KEPUTUSAN DI UJUNG TANDUK DAN BADAI ASH-VOLCANIA
Wajah Grand Master Alden seketika berubah pucat pasi.
Kepanikan yang sangat jarang membelai garis wajah tuanya mendadak menyeruak, sebelum akhirnya ia memaksakan napasnya untuk kembali tenang.
Sepasang mata tuanya yang tajam menyipit, sementara pikirannya berputar cepat menghitung segala bentuk dampak dan kemungkinan terburuk.
Situasi Guild Scar Horizon saat ini berada di titik paling kritis.
Guild sedang mengalami krisis personel yang teramat parah akibat banyaknya misi tingkat tinggi yang menguras anggota senior ke wilayah perbatasan lain.
Di dalam markas saat ini, praktis hanya tersisa Kapten Gareth—seorang petarung veteran di Ranah Emas—serta Kael dan Hugo yang baru saja memulihkan wadah jiwa mereka dari badai spiritual.
Kael dan Hugo adalah dua pemuda yang belum memiliki pengalaman tempur nyata di medan perang luar dinding.
Sedangkan untuk membiarkan para pendiri bergerak turun tangan secara langsung... hal itu adalah hal yang benar-benar mustahil.
Grand Master Alden dan dua tetua pendiri—Leluhur Drune dan Leluhur Trene—berdiri sebagai pilar penyeimbang absolut.
Kehadiran aura Berlian Puncak milik mereka bertiga di markas ini adalah satu-satunya hal yang membuat kawanan Beast ganas di lapisan terdalam tetap terkendali dan menahan diri untuk tidak menginvasi zona peradaban.
"Alden... sebaiknya kau cepat mengambil keputusan," sebuah suara berat dan berwibawa memecah keheningan.
Leluhur Drune, pendiri tua pelindung Naga Petir, melangkah satu tapak maju. Sepasang mata tuanya menatap lurus ke arah Alden dengan raut tegang.
"Di saat kau masih sibuk berpikir dan menimbang risiko di sini..." tegur Leluhur Drune.
"Elena, Ren, dan Suna bergerak semakin dekat ke arah pusat kemunculan labirin tanpa tahu ada neraka membantai yang menanti mereka!"
Tidak jauh dari sana, Leluhur Trene—sang pelindung Raja Badai yang berdiri dekat di samping Kael—mengangguk setuju, mengiyakan ketegasan rekan seperjuangannya.
"Ya, Alden," sambung Leluhur Trene.
"Gareth, Kael, dan Hugo... kombinasi mereka akan menjadi tim bala bantuan yang setidaknya memberikan sedikit celah kemungkinan bagi anak-anak itu untuk lolos dari maut."
Pandangan Leluhur Trene kemudian beralih, menatap dalam-dalam ke arah Kael dan Hugo.
"Aku percaya anak-anak ini tidak akan bertindak ceroboh. Aku memperhatikan karakter Kael; anak ini memiliki pikiran yang sangat jeli, teliti, dan selalu menganalisis situasi di tengah tekanan," puji Leluhur Trene.
"Ditambah dengan pengalaman tempur Kapten Gareth yang berada di tingkat Emas, mereka memiliki fondasi pertahanan yang cukup."
Mendengar penilaian itu, dada Hugo berdesir hangat, sementara Kael hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tetap tenang.
Kael dan Hugo yang telah pulih total berkat khasiat luar biasa dari pil penguat jiwa kini menatap lurus ke arah para petinggi guild.
Sorot mata kedua pemuda itu memancarkan antisipasi dan harapan yang membara, menantikan keputusan resmi untuk menjalankan tugas pertama mereka di dunia luar.
Grand Master Alden menarik napas panjang.
Ia perlahan berbalik, menatap Kapten Gareth yang berdiri tegap dengan zirah besinya, lalu beralih memperhatikan Kael dan Hugo, sebelum akhirnya mengunci pandangannya kembali pada Kapten Gareth.
"Gareth..." ucap Grand Master Alden dengan nada yang sangat berat dan dipenuhi pertaruhan besar.
"Pastikan anak-anak ini kembali dengan selamat. Berapa pun taruhannya!"
Kapten Gareth mengepalkan tangannya di dada, melepaskan dentingan zirah besinya yang tegas.
"Serahkan penuh kepada saya, Master! Juga kepada Anda berdua, Para Leluhur!" seru Kapten Gareth mantap.
Grand Master Alden mengangguk pelan, memberikan rida resminya.
"Segera persiapkan diri kalian. Jangan buang-buang waktu lagi..." perintah Alden tegas.
"Langsung berangkat sekarang!"
Tidak ada lagi kata-kata fana yang terbuang.
Usai menyusun perbekalan logistik dan zirah seperlunya dalam waktu singkat, bertiga—Kapten Gareth, Kael Ardyn, dan Hugo—melangkah mantap, keluar menembus dinding formasi pelindung markas guild menuju perbatasan luar.
Di sepanjang langkah kakinya menembus kabut Lapisan Kedua, Kael mengepalkan jemarinya erat-erat.
Bukan rasa khawatir atau ketakutan yang menguasai dadanya saat ini, melainkan rasa percaya yang sangat kuat.
Kael yakin betul... Suna, Elena, dan Ren pasti sanggup bertarung dan mengulur waktu sampai tim mereka tiba di lokasi pertempuran!
Sementara itu, di belahan wilayah lain yang berjarak belasan mil di barat... atmosfer di perbatasan Kerajaan Ash-Volcania telah berubah menjadi neraka di bumi.
BOOOM! BAAAM!
Suara ledakan api membumbung tinggi ke langit kelam, menguapkan kabut tebal menjadi jelaga hitam yang menusuk hidung.
Bau amis darah dan hawa terbakar menyelimuti tanah berpasir di depan celah ngarai batu—titik tempat retakan struktur Labirin Kuno terpancar secara liar.
"Mati kau, Beast sialan!"
Ren meraungkan makian penuh gairah bertarung yang bercampur amarah.
Wajah kurusnya telah tercoreng darah dan jelaga hitam.
Di balik punggungnya, wujud ilusi Kraken Rin mengibaskan tentakel-tentakel energinya, menghantam tiga ekor Beast bertanduk tunggal hingga tubuh mereka hancur berkeping-keping menghantam dinding batu.
Namun, belum sempat Ren menarik napas untuk menyapu keringat di pelipisnya, puluhan pasang mata merah menyala kembali muncul dari balik celah kegelapan ngarai.
Kawanan Beast tingkat Perunggu dan Perak terus merangsek keluar tanpa ada habisnya, melompati tumpukan bangkai sesama mereka dengan raungan yang memekakkan telinga.
"Ren! Jangan terlalu maju! Jaga formasi!" jerit Suna dari barisan belakang.
Gadis berambut pendek itu bergerak secepat kilat.
Animanya—seekor Cheetah kinetik Kelas Tinggi—melompat melingkari pergerakan Ren, menebas leher dua ekor Beast yang mencoba menyergap titik buta pemuda rambut merah itu dari samping.
Di pusat formasi pertahanan mereka, Elena berdiri dengan wajah ketus yang kini diselimuti ketegangan luar biasa. Keringat dingin mengalir di pelipisnya yang bersih.
Di belakang pundaknya, burung Phoenix purba Pyrael mengepakkan sayap apinya yang membara, melemparkan gelombang ombak api menyapu barisan depan kawanan Beast.
"Cih! Jumlah mereka sama sekali tidak masuk akal!" gerutu Elena, suaranya terdengar serak menahan sesak di dada akibat terkurasnya energi spiritual.
Meski sebagian besar Beast yang menyerang hanyalah kategori Kelas Rendah dan Perak Awal yang bisa mereka atasi, jumlah masif yang bagaikan gelombang pasang tanpa henti ini perlahan-lahan mulai menggerogoti stamina dan batas Ranah Jiwa mereka bertiga.
ROAARRRRR!
Bumi di bawah kaki mereka mendadak berguncang hebat.
Dari dalam kedalaman celah retakan labirin yang paling gelap, sebuah tekanan aura yang jauh lebih pekat dan berkuasa meledak ke udara.
Langkah puluhan Beast kecil mendadak terhenti, memberi jalan bagi sesosok bayangan raksasa berukuran delapan meter yang merangkak keluar dari kegelapan.
Sesosok Beast Puncak berzirah batu hitam dengan sepasang mata merah darah yang berkilat mematikan melangkah keluar, melepaskan raungan yang menggetarkan fondasi tanah ngarai.
Elena, Ren, dan Suna tersentak. Pupil mata mereka membesar seketika.
"Puncak Perak..." bisik Suna dengan suara tercekat, mengepalkan belatinya erat-erat saat merasakan tekanan gravitasi Beast raksasa itu mengunci pergerakan mereka.
Elena menggertakkan giginya rapat-rapat, mengabaikan rasa panas yang membakar pembuluh darah jiwanya saat ia memaksa Pyrael mengepakkan sayap lebih lebar.
Di tengah kepungan miliaran Beast yang tak ada habisnya dan kemunculan Beast Puncak Perak yang siap meremukkan tubuh mereka, ketiga remaja itu berdiri saling membelakangi di atas tanah berdarah—terkunci dalam sebuah pertempuran hidup mati yang menjadi ujian terkejam sebelum bantuan tiba.