Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Rumah yang Terasa Sunyi
Pagi itu, rumah kecil yang biasanya dipenuhi percakapan ringan terasa jauh lebih sunyi.
Hanifah keluar dari kamar dengan langkah pelan. Perutnya yang semakin membesar membuat setiap gerakan harus dilakukan dengan hati-hati. Dari dapur, terdengar suara minyak yang berdesis. Arkana sudah lebih dulu bangun dan sedang menyiapkan sarapan.
"Mas..." Hanifah tersenyum kecil. "Mas bangun lagi paling pagi."
Arkana menoleh sambil membalik telur dadar. "Kalau bukan Mas yang masak, nanti siapa?"
Hanifah mendekat, tetapi Arkana langsung mengangkat telapak tangannya. "Berhenti di situ."
Hanifah mengerucutkan bibir. "Mas..."
"Jangan dekat-dekat. Ini masih tumis bawang," cegah Arkana.
Hanifah spontan menutup hidungnya. "Ih... benar juga." Ia buru-buru mundur beberapa langkah.
Arkana terkekeh melihat tingkah istrinya. "Duduk saja dulu. Sebentar lagi matang."
Hanifah mengangguk lalu duduk di kursi ruang makan.
Tak lama kemudian, Bibi Ratna keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Rambutnya disanggul sederhana, sementara tas kerja sudah tersampir di bahu.
"Selamat pagi, Bi," sapa Hanifah sambil tersenyum.
Bibi Ratna hanya menoleh sekilas. "Pagi."
Jawabannya singkat. Tidak ada senyuman seperti biasanya. Hanifah langsung menundukkan pandangan. Arkana yang menyadari perubahan itu memilih tetap diam.
Suasana pagi terasa canggung. Mereka sarapan bersama tanpa banyak percakapan. Sesekali hanya terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring.
Selesai makan, Bibi Ratna berdiri lebih dulu. "Saya berangkat."
"Iya, Bi. Hati-hati di jalan," ucap Hanifah.
Bibi Ratna hanya mengangguk pelan sebelum melangkah keluar rumah. Pintu tertutup. Rumah kembali sunyi.
Hanifah mengembuskan napas panjang. "Aku benar-benar membuat Bibi marah ya, Mas?"
Arkana menghampiri lalu duduk di samping istrinya. "Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Tapi... semalam aku ikut menjawab Bibi."
Arkana menggeleng pelan. "Mas yang bicara. Bukan kamu. Kalau memang Bibi kecewa, biar Mas yang menjelaskan nanti."
Hanifah mengusap perlahan perutnya yang mulai membesar. "Aku cuma tidak ingin hubungan keluarga jadi seperti ini."
Arkana menggenggam erat tangan istrinya. "Pelan-pelan saja. Setiap orang butuh waktu untuk meredakan emosinya."
Hanifah mengangguk. "Mudah-mudahan begitu."
......................
Menjelang siang, terdengar suara salam dari depan rumah. "Assalamu'alaikum."
Hanifah segera membuka pintu. "Wa'alaikumsalam. Eh, Ibu."
Bu Sulastri berdiri sambil membawa sebuah mangkuk besar yang ditutup rapat. "Ibu bikin kolak pisang. Katanya ibu hamil suka yang manis-manis."
Hanifah tersenyum hangat. "Terima kasih banyak, Bu. Masuk dulu, Bu."
Bu Sulastri masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Matanya sesekali memperhatikan wajah Hanifah. "Kamu kurang tidur, ya?"
Hanifah tersenyum tipis. "Kelihatan ya, Bu?"
"Ibu juga pernah muda, pernah hamil. Jadi tahu," kekeh Bu Sulastri.
Hanifah tertawa kecil. "Akhir-akhir ini memang kepikiran terus, Bu."
Bu Sulastri tidak bertanya tentang penyebabnya. Sebagai gantinya, ia mengajak Hanifah duduk di teras belakang. Angin siang berembus pelan. Di halaman belakang, tanaman cabai dan kangkung yang ditanam Hanifah mulai tumbuh menghijau.
"Wah... cabai kamu sudah mulai berbuah," ujar Bu Sulastri kagum.
Hanifah menoleh ke arah kebun kecil itu. "Iya, Bu. Senang rasanya lihat tanaman tumbuh."
"Ibu dulu juga begitu. Kalau lagi banyak pikiran, Ibu lebih sering ngobrol sama tanaman daripada sama orang," cerita Bu Sulastri.
Hanifah tertawa geli. "Memangnya tanamannya menjawab, Bu?"
"Enggak. Tapi hati jadi lebih ringan."
Mereka berdua tertawa bersama. Percakapan sederhana itu perlahan mengusir beban di hati Hanifah.
......................
Sore harinya, Arkana pulang lebih awal. Ia membuka pintu rumah perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di ruang tamu, Hanifah tampak tertidur di sofa dengan sebuah buku tentang kehamilan yang masih terbuka di pangkuannya.
Arkana tersenyum kecil. Ia mengambil selimut tipis lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan hati-hati. Baru saja ia hendak beranjak, Hanifah membuka mata.
"Mas... maaf, aku ketiduran."
Arkana mengusap lembut kepala istrinya. "Capek?"
Hanifah mengangguk pelan. "Entah kenapa belakangan ini cepat sekali mengantuk."
"Itu tandanya tubuhmu sedang bekerja keras. Jadi jangan dipaksa," ucap Arkana lembut.
Hanifah tersenyum kecil. "Iya, Mas."
Menjelang Magrib, suara pintu kembali terdengar. Bibi Ratna pulang bekerja dengan wajah yang tampak lelah. Ia meletakkan tas kerja di atas meja lalu melepas sepatunya.
Hanifah segera berdiri menyambut. "Bi... mau saya buatkan teh?"
Bibi Ratna terdiam beberapa saat, menatap datar. "Gak usah."
Tanpa sepatah kata lain, Bibi Ratna langsung masuk ke kamar. Hanifah menundukkan kepala sedih. Namun, ia tetap melangkah ke dapur untuk membuat teh. Dia tahu, Bibi Ratna selalu butuh teh hangat setelah pulang kerja.
Arkana menghampiri ke dapur. "Biar Mas saja yang bikinkan, Dek."
"Gak usah, Mas. Ini gampang aja kok," tolak Hanifah lembut.
Setelah teh hangat itu siap di dalam gelas, Hanifah membawanya berjalan perlahan menuju kamar Bibi Ratna.