Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nadir Seorang Istri
"Mama? Tumben Mama ke sini?" tanya Shella ketika baru saja melangkah masuk ke ruang tengah rumahnya.
Langkah kaki Shella seketika terkunci.Di sana, bukan hanya ada Helena dan ayah tirinya, Surya Atmadja. Namun, kedua orang tua Saskia—Om Galuh dan Tante Sekar—juga duduk di sana. Bahkan, Bramantyo dan Saskia pun turut hadir, duduk berdampingan seolah mereka adalah sepasang suami istri yang sah.
"Dari mana saja kamu? Kamu tidak lihat pesan apa yang sudah Mama kirimkan sejak tadi? Duduk dan dengarkan!" titah Helena dingin, tanpa ada sedikit pun kehangatan seorang ibu di matanya.
Helena rupanya telah membahas badai rumah tangga ini bersama kedua orang tua Saskia, dan mereka telah ketok palu membuat sebuah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat.
Helena memutar tubuhnya, menatap lurus pada Bram dan Saskia dengan pandangan muak.
"Bramantyo, Saskia... jika kalian berdua memang sudah kebelet ingin menikah, lakukan saja. Silakan. Tapi ingat satu hal, jika suatu saat kalian berdua menghadapi masalah atau hancur di luar sana, jangan pernah sekali-kali menganggap kami sebagai keluarga lagi. Paham?!" tegas Helena telak.
Bagi Helena, membuang anak kandungnya sendiri yang pembangkang saja dia sanggup, apalagi hanya membuang keponakan parasit seperti Saskia.
Tante Sekar hanya bisa menunduk dalam-dalam, tak mampu menyanggah satu kata pun. Air matanya menetes pasrah karena semua ucapan Helena adalah kebenaran yang mutlak. Selama ini, keluarga Helenalah yang terus mengulurkan bantuan finansial setiap kali perusahaan kecil milik suaminya terancam gulung tikar. Menentang keputusan Helena sama saja dengan menghancurkan dapur mereka sendiri. Jadi, demi keselamatan ekonominya, Sekar terpaksa menumbalkan Saskia.
"Dan kamu, Shella..." Helena beralih menatap anak kandungnya, lalu melemparkan selembar kertas dan sebuah pena tepat ke atas meja di depan Shella.
"Tandatangani surat cerai ini sekarang juga! Buktikan kepada kami semua, kalau kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri tanpa perlu merangkak dan mengemis bantuan kepada keluarga ini, setelah bertahun-tahun kamu dengan bodohnya memilih bajingan seperti Bramantyo!" perintah Helena kejam.
"Tidak! Tidak... Tuhan, tolong jangan sekarang..."Batin Shella menjerit histeris. Dia belum siap. Dia belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Perpisahan? Setelah lima tahun hidupnya ia habiskan untuk mengabdi dan merawat Bramantyo dari titik nol? Dia belum sanggup melepaskannya.
Namun, apa yang sebenarnya sedang ia harapkan sekarang dengan mempertahankan hubungan yang sudah membusuk ini? Shella melirik Saskia, namun sepupunya itu langsung membuang muka dengan tatapan malas. Shella kemudian menatap Bramantyo, namun suaminya itu justru bersedekah dada dengan senyum angkuh, seolah seluruh makian Helena hanya dianggap angin lalu.
"Ma... aku... aku masih sangat mencintainya, Ma..." tangis Shella akhirnya pecah.
Tubuhnya bergetar hebat, ia berlutut di depan suaminya sendiri, mengabaikan tatapan sinis dari keluarga besarnya. "Mas Bram... tolong pikirkan lagi, Mas. Bisa tidak kamu pertahankan rumah tangga kita? Aku mohon, Mas... tinggalkan Saskia. Kalau Saskia diusir dari keluargaku, kamu tidak akan bisa mendapatkan relasi bisnis yang kamu butuhkan. Kamu tidak akan bisa berdiri sendiri ke depannya, Mas!" ratap Shella memohon, mencoba menggunakan logika bisnis terakhirnya untuk mengetuk hati Bram.
Mendengar itu, Bramantyo justru tertawa meremehkan. Ia menepis tangan Shella yang mencoba menyentuh lututnya. "Tidak mampu berdiri sendiri, kamu bilang?" sindirnya, matanya berkilat penuh kesombongan khas orang kaya baru. "Kamu perlu buka mata, Shella! Perusahaanku yang sekarang bahkan nilai asetnya sudah jauh melebihi seluruh aset gabungan dari keluarga mu yang mulai sekarat itu! Jadi jangan gila... jangan pernah berharap aku akan meninggalkan Saskia yang saat ini tengah mengandung darah dagingku, hanya untuk kembali pada wanita mandul sepertimu!"
JLEB.
Kata "mandul" itu kembali diucapkan. "Mas... tega kamu, Mas..."
"Kamu sudah dengar sendiri, bukan?" potong Helena,suaranya meninggi memenuhi ruangan. "Saskia yang bodoh dan Bramantyo yang tidak tahu diri ini sudah menentukan pilihan mereka. Sekarang, Shella... ambil pena itu dan tanda tangani suratnya! Keluar dari rumah ini dan hiduplah seperti apa yang kamu mau!"
"Ma... tolong beri aku waktu sedikit lagi, Ma..." tangis Shella, menatap ibunya dengan tatapan meminta belas kasihan.
Helena menggebrak meja dengan kasar, membuat semua orang di ruangan itu tersentak. "Cinta jangan sampai membuat akal sehat dan otakmu hilang, Shella! Kamu itu dididik untuk jadi wanita terhormat, bukan menjadi orang gila yang tidak punya otak sama sekali karena pengemis cinta! Tanda tangani sekarang atau Mama sendiri yang akan menyeretmu keluar dari garis keturunan keluarga ini!"
Dengan tangan yang gemetar hebat, Shella menggenggam pena itu. Air matanya menetes, membasahi kolom tanda tangan sebelum tintanya sempat menggores kertas. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Shella menorehkan tanda tangannya di atas surat cerai tersebut.
Baru saja ia hendak meletakkan pena, sebuah map lain digeser kasar ke hadapannya.
"Jangan lupa, satu surat lagi... Shella," ujar Bramantyo tanpa belas kasihan.
Shella membaca judul dokumen itu. Isinya menyatakan bahwa seluruh aset, rumah, kendaraan, hingga saham perusahaan, sepenuhnya mutlak menjadi milik Bramantyo. Dada Shella bergetar hebat. Seluruh uang warisan peninggalan almarhum ayah kandungnyalah yang menjadi modal utama untuk membangun perusahaan itu dari nol hingga menggurita seperti sekarang. Namun hari ini, dia dipaksa keluar seolah-olah tidak punya hak sepeser pun di sana.
"Mas..." Shella menatap pria yang dulu berjanji akan menjaganya seumur hidup.
"Kenapa, Shella? Kamu baru merasa tidak bisa hidup tanpa bantuan uang dari Bram ke depannya?" sindir tanpa peduli nasib anaknya. "Bukannya dulu kamu bilang siap menerima segala konsekuensi saat menyerahkan seluruh warisan ayahmu padanya? Sekarang, nikmati saja kebodohanmu sendiri!"
Shella terpejam, menelan bulat-bulat semua caci maki ibu kandungnya. Tanpa suara, dengan goresan pena yang terasa begitu berat, ia menandatangani surat pelepasan aset itu. Detik itu juga, Shella resmi menjadi wanita yang tidak memiliki apa-apa lagi.
Setelah menandatangani surat itu, dia melangkah gontai menuju lantai atas. Di dinding tangga, foto pernikahan mereka yang berukuran besar masih terpajang tegak. Di foto itu, mereka terlihat begitu hangat dan bahagia—senyuman Bram di foto itu tampak begitu tulus, sangat kontras dengan pria berdarah dingin yang ada di lantai bawah saat ini.
Harusnya aku bisa berpikir lebih panjang tentang bagaimana masa depan hidupku sebelum menyerahkan segalanya kepadamu, Mas..." bisik Shella dalam hati, menertawakan kenaifannya.
Masuk ke dalam kamar, Shella mendekati meja rias. Perlahan, ia melepas cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kaca. Cincin yang dulu dipasangkan dengan sejuta janji manis, kini berubah menjadi sampah tak berharga.
Shella mulai mengemasi pakaian-pakaiannya ke dalam satu koper kecil. Hanya pakaian sederhana, bukan gaun-gaun mahal yang dibelikan Bram.
Saat membuka laci paling bawah, jemari ramping Shella menyentuh sebuah kotak beludru merah. Di dalamnya, berkilau sebuah kalung berlian pemberian Bramantyo saat ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Waktu itu, Bram memeluknya erat dan berbisik bahwa Shella adalah satu-satunya wanita yang ia butuhkan.
Jemari Shella meremas kalung itu, memeluknya erat di dada.
"Setidaknya... aku boleh menyimpan ini kan, Mas? Sebagai kenang-kenangan pahit kalau aku benar-benar pernah menjadi orang yang paling kamu cintai, dan orang yang paling kamu butuhkan dulu..."
Dengan menyeret koper kecilnya, Shella melangkah turun ke lantai bawah. Langkah kakinya terhenti tepat di hadapan Bramantyo dan Saskia.
Shella menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang parau agar tidak terdengar menyedihkan di depan para pengkhianat ini.
"Aku pamit, Mas..." ucap Shella lirih namun terdengar begitu tegar. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Bramantyo untuk terakhir kalinya. "Semoga... kalian berdua benar-benar bahagia di atas penderitaanku."
Bramantyo sempat tertegun sesaat melihat ketegaran di mata Shella, ada secercah rasa bersalah yang melintas di wajahnya namun dengan cepat tertutup oleh keangkuhannya. Sementara Saskia, hanya tersenyum sinis sambil mengelus perutnya yang masih rata.