Dela tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menghadapi kenyataan pahit saat ia menemukan sang suami berselingkuh dengan wanita lain dengan kedua mata kepalanya sendiri. Dela benar-benar hancur dan terluka namun rupanya tidak cukup sampai di situ karena suaminya merencanakan sebuah pembunuhan padanya. Setelah dipikir Dela sudah meninggal dunia akibat sebuah hal yang direkayasa oleh sang suami, muncul seorang wanita yang mirip sekali dengan Dela hingga membuat sang suami terkejut bukan main. Bagaimanakah akhir kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi Balas Dendam
Seusai penandatanganan itu, Ariandra mengantarkan Astrid sampai pintu depan hotel, namun ia terkejut bukan main saat melihat wanita yang wajahnya sangat mirip sekali dengan mendiang istrinya tengah berbincang dengan Astrid.
“Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ariandra yang membuat Astrid dan wanita itu menoleh padanya.
“Apakah yang dikatakan olehnya tadi benar?” tanya Astrid pada wanita ini.
“Iya Tante, sebelumnya pria ini pernah bertemu denganku ketika aku tengah berjalan, dia menyebut sebuah nama yang asing di telingaku,” jawab wanita itu.
“Maaf waktu itu saya pikir kamu adalah orang yang saya kenal, rupanya kalian adalah orang yang berbeda, saya minta maaf.”
“Tidak masalah, nama saya Kimmy.”
“Ariandra.”
Ariandra dan wanita itu berjabat tangan beberapa saat sebelum akhirnya Astrid membawa Kimmy masuk ke dalam mobilnya, Ariandra masih terdiam di tempatnya menyaksikan wanita itu masuk ke dalam mobil bersama dengan
Astrid.
“Jadi dia adalah keponakannya nyonya Astrid?”
****
Denis sudah kembali ke rumah bersama dengan Maya, untuk satu minggu ini Denis dan Maya akan tinggal di rumah ini sebelum mereka akan pindah ke rumah yang sudah Denis persiapkan untuk rumah tinggal mereka.
Denis yang niatnya ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum, secara tidak sengaja mendengar obrolan mamanya lewat telepon dengan seseorang.
“Wanita itu dekat dengan nyonya Astrid?”
“Iya Ma, aku pikir dia adalah keponakan nyonya Astrid.”
“Ya Tuhan, sangat sulit dipercaya jadi selama ini keponakan nyonya Astrid itu wajahnya mirip sekali dengan Dela?”
Denis nampak terkejut ketika mendengar ucapan mamanya barusan, ia terlalu asyik menguping pembicaraan sampai-sampai tidak menyadari kalau mamanya sudah selesai bertelpon dengan Ariandra.
“Denis, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Oh, aku mau ambil air minum.”
****
Ariandra tidak bisa fokus bekerja karena memikirkan sosok Kimmy yang wajahnya begitu mirip sekali dengan mendiang istrinya, walaupun wajah mereka mirip namun sifat keduanya sangat bertolak belakang. Dela yang ia kenal adalah wanita lemah lembut dan pemalu jika berhadapan dengan lawan jenis namun Kimmy adalah kebalikan dari Dela, wanita itu nampak begitu tegas dan tidak sungkan menatap lawan bicaranya walaupun lawan bicaranya
itu adalah seorang pria.
“Kenapa aku jadi memikirkan wanita bernama Kimmy itu, ya?”
Tidak terasa jam pulang kantor sudah tiba, Ariandra hendak pulang ke rumah namun ia mendapatkan telepon dari Eva, awalnya ia tidak mau menjawab telepon dari wanita itu namun kalau dirinya tidak menjawab telepon
dari Eva maka bisa dipastikan wanita itu akan mengamuk dan justru memicu masalah baru lagi.
“Ada apa, sayang?”
“Malam ini kamu ada waktu kan? Aku mau makan malam bersamamu.”
“Harus malam ini?”
“Iyalah, memangnya kapan lagi?”
Ariandra nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan ajakan makan malam dari Eva barusan, selepas mengakhiri percakapannya dengan Eva yang singkat itu Ariandra menghela napasnya panjang.
“Mengganggu saja,” gumamnya sebelum melangkahkan kaki keluar dari ruangan kerjanya.
****
Ariandra nampak setengah hati dalam mendengarkan cerita Eva dan tentu saja sikap Ariandra itu membuat Eva kesal, Ariandra beralasan bahwa saat ini dia sedang lelah dan ingin cepat pulang untuk beristirahat di rumah.
“Aku jadi curiga padamu, jangan-jangan kamu sudah mulai bosan denganku, ya?”
“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?”
“Habisnya sikapmu itu membuatku jadi curiga.”
“Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa aku sedang lelah? Apakah kamu tidak mempercayaiku?”
Ariandra berusaha membujuk Eva supaya mau percaya dengan apa yang ia ucapkan dan untungnya Eva kemudian mau percaya, Ariandra mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya dulu sebelum kembali ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Ariandra mengomel dengan sikap Eva yang terlalu kekanakan, tentu saja ia sengaja tidak mengatakan hal itu secara langsung pada Eva karena takut menyinggung perasaan Eva. Hingga akhirnya ia tiba di rumah menjelang tengah malam, namun yang membuatnya terkejut adalah sang mama yang masih menunggunya pulang.
“Mama masih bangun jam segini?”
“Mama tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang kamu katakan tadi lewat telepon.”
“Apakah menyangkut soal wanita yang bernama Kimmy itu?”
****
Dela begitu bahagia karena bisa memperkenalkan diri lagi di hadapan Ariandra sebagai Kimmy dan pria itu sepertinya percaya saja dengan ucapannya. Kini Della akan mulai menyusun rencana untuk membuat Ariandra
membayar semua yang sudah ia lakukan padanya.
“Selamat pagi, Della,” sapa Astrid.
“Selamat pagi, Tante,” ujar Dela yang sudah membiasakan diri memanggil Astrid dengan sebutan tante.
“Bagaimana tidurmu semalam?”
“Aku bisa tidur dengan nyenyak semalam.”
“Syukurlah, Tante pikir kamu tidak bisa tidur.”
“Memangnya kenapa aku tidak bisa tidur? Aku bisa tidur justru karena bisa menunjukan diriku secara langsung lagi dengan identitas baru di hadapan Ariandra.”
“Ini baru awal, jangan berpuas diri dulu.”
“Iya, aku mengerti.”
Vicko datang ke meja makan dan menyapa keduanya, selepas itu Vicko mengatakan pada sang mama bahwa hari ini adiknya akan kembali dari Inggris dan ia akan menjemputnya di bandara.
“Dia sudah menelponmu?”
“Iya semalam dia sudah menelponku, pagi ini pesawatnya mendarat di bandara.”
“Baguslah kalau begitu, Mama sangat merindukannya, namun sayangnya Mama tidak dapat menjemputnya di bandara karena ada urusan bisnis.”
“Tidak apa, aku akan menjemputnya di bandara.”
Dela hanya diam saja mendengarkan percakapan antara Vicko dan Astrid barusan sampai akhirnya Astrid mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
“Mungkin Dela bisa menemanimu dalam menjemput Grace di bandara.”
“Apa? Aku?”
“Iya, kamu bisa ikut dengan Vicko ke bandara untuk menjemput Grace supaya kalian juga bisa berkenalan secara langsung.”
“Aku… aku ….”
“Kalau memang Della tidak mau, maka jangan memaksanya, Ma.”
“Mama sama sekali tidak memaksa Della kok, kalau kamu mau pergi dengan Vicko silakan saja.”
Dela masih bingung dengan jawaban apa yang harus ia putuskan sementara Vicko sudah sebentar lagi akan berangkat ke bandara untuk menjemput adiknya.
“Jadi bagaimana keputusanmu, Della? Vicko sudah mau berangkat ke bandara sebentar lagi,” ujar Astrid ketika Vicko sudah selesai sarapan dan bersiap pergi sementara itu dirinya masih saja belum mengambil keputusan.
“Aku… aku ….”