Kehidupan Naura Anandita ternyata tidak seberuntung anak-anak pada umumnya. Hinaan dan cacian adalah makanan Naura sehari-hari, bahkan penderitaan demi penderitaan tidak pernah absen menghampiri kehidupan Naura. Acara camping sekolah yang seharusnya menjadi momen bahagia, justru menjadi awal penderitaan yang panjang untuk Naura. Naura diperkosa oleh seseorang pria yang mabuk, kehidupan Naura semakin hancur saat Naura diketahui hamil dan diusir oleh orangtuanya sendiri. Ditengah keputusasaannya, tidak disangka Naura dipertemukan dengan orang yang sudah memperkosanya itu. Siapakah dia? Apakah Naura akan meminta pertanggung jawaban orang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Memulai Hidup Baru
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya Naura sampai di Bandung. Naura segera mencari kontrakan terdekat, lagipula Naura sudah tidak kuat lagi berjalan.
"Ya Allah, kuatkan hambamu ini," batin Naura.
Naura tampak celingukan, hingga akhirnya Naura melihat tulisan ada kontrakan. Naura menyunggingkan senyumannya, dan Naura pun segera menuju kontrakan itu.
Terlihat ada seorang Ibu-ibu yang sedang menyapu halaman kontrakan.
"Assalamualaikum Bu, permisi," seru Naura.
"Waalaikumsalam."
"Bu, apa benar di sini ada kontrakan kosong?"
"Iya Neng, ada."
"Alhamdulillah, apa Ibu tahu pemilik kontrakan ini? Soalnya saya mau mengontrak."
"Kebetulan Ibu sendiri pemilik kontrakan ini."
"Oh, kenalkan Bu, nama saya Naura, saya mau mengontrak di sini," seru Naura.
"Silakan masuk Neng."
Ibu-ibu berhijab itu membawa Naura ke sebuah rumah yang diperkirakan adalah rumahnya.
"Silakan duduk, Neng."
"Terima kasih, Bu."
Ibu itu memperhatikan penampilan Naura...
"Maaf, apa Neng sedang hamil?"
"Iya Bu."
"Terus suami Nengnya ke mana, kok gak ikut?"
Naura menundukkan kepalanya, wajah Naura menjadi sedih dan itu membuat Ibu pemilik kontrakan merasa tidak enak.
"Maaf Neng, Ibu tidak bermaksud---"
"Tidak apa-apa Bu."
"Neng, di sini biaya kontrakannya 500 ribu perbulan, kamar mandi ada di dalam cuma kalau biaya listrik bayar sendiri."
"Oh begitu ya Bu."
"Iya, biasanya yang ngontrak di sini harus bayar dulu satu bulan tapi untuk Neng, gak apa-apa mau bayar setengahnya juga," seru Ibu pemilik kontrakan.
Ia merasa kasihan kepada Naura, masih muda sudah hamil, mana ditinggal lagi sama suaminya, begitulah pemikirannya.
Naura mengeluarkan uang yang diberikan oleh Maminya Tristan dan Chris.
"Ibu, ini ada uang 2 juta saya langsung bayar 4 bulan saja soalnya saya takut nantinya gak kebayar, setidaknya menjelang melahirkan nanti, saya tidak perlu memikirkan uang kontrakan," sahut Naura dengan menyerahkan uangnya.
"Ya ampun Neng, tapi buat kebutuhan Neng bagaimana?"
"Saya masih punya simpanan kok Bu, Ibu tenang saja lagipula besok saya juga mau mencoba mencari pekerjaan," sahut Naura dengan senyumannya.
Ibu pemilik kontrakan itu merasa terenyuh dengan keadaan Naura.
"Ya sudah, Ibu terima ya Neng, semoga Neng Naura betah tinggal di sini, kalau ada apa-apa Neng Naura bisa panggil Ibu."
"Iya Bu, terima kasih."
"Mari, Ibu tunjukan kontrakan Neng."
Naura kembali mengikuti langkah Ibu pemilik kontrakan, tibalah di kamar kontrakan yang letaknya di ujung.
"Neng, kontrakan yang kosong hanya ini, tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa Bu, yang penting saat ini saya punya tempat tinggal."
"Neng beruntung, pemilik kontrakan sebelumnya tidak membawa kasurnya jadi Neng bisa memakainya. Ya sudah, ini kuncinya kalau ada apa-apa Neng bisa panggil Ibu saja."
"Baik Bu, terima kasih."
Ibu pemilik kontrakan pergi dan Naura membuka pintu kontrakan itu. Kontrakannya sempit hanya satu kamar tidur, kamar mandi, dan juga dapur kecil untuk masak.
"Alhamdulillah, setidaknya selama 4 bulan ke depan aku punya tempat tinggal dan besok aku harus mencari pekerjaan," gumam Naura.
Naura mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur busa itu, dan saking kelelahannya, Naura langsung terlelap.
***
Sementara itu, Chris tampak frustasi karena dia tidak bisa menemukan Naura bahkan ponselnya pun sudah tidak aktif.
"Kamu ke mana Naura? Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kamu mau pergi," gumam Chris.
Chris terdiam sejenak, sehingga tidak lama kemudian Chris tersentak.
"Apa Mami dan Kak Tristan ada hubungannya dengan kepergian Naura?" gumam Chris.
Chris segera menancapkan gasnya menuju rumahnya, dia yakin kalau mereka berdua tahu akan hal ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Chris sampai di rumahnya. Chris langsung masuk ke dalam rumah, terlihat Mami dan Papinya sedang santai menonton tv.
"Mami, ke mana Naura pergi?" tanya Chris.
Mami Veronika menoleh ke arah Chris dengan senyuman sinisnya.
"Kenapa kamu menanyakan si ****** itu kepada Mami? Mami tidak pernah mengurus dia," sinis Mami Veronika.
"Kamu nanyain siapa, Chris?" tanya Papi Andrew.
"Itu Pi, Chris pacaran sama perempuan yang sudah hamil anak orang," sahut Mami Veronika.
"Apa? Chris, apa benar yang dikatakan oleh Mami kamu?" sentak Papi Andrew.
"Iya Pi, karena Naura hamil bukan akibat pergaulan bebas melainkan karena Naura sudah diperkosa," sahut Chris.
"Astaga Chris, kamu seperti tidak ada perempuan lain saja, mau-maunya kamu pacaran dengan perempuan hamil?" kesal Papi Andrew.
"Pi, apa Papi tahu siapa yang sudah menghamili Naura?"
Papi Andrew memandang Mami Veronika dengan tatapan bingung.
"Maksud kamu apa, Chris?"
"Orang yang sudah memperkosa Naura adalah anak kebanggaan kalian!" sentak Chris.
"Apa?"
"Tidak Pi, Papi jangan percaya, Tristan tidak mungkin melakukan hal menjijikan seperti itu. Papi bisa lihat kan, Tristan sudah mempunyai Dinda yang cantik dan anggun, ngapain Tristan menghamili perempuan seperti dia," seru Mami Veronika.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, dan mereka bisa menebak kalau itu adalah mobil milik Tristan.
"Selamat siang semuanya!" seru Tristan dengan senyuman tanpa dosa.
"Papi, bisa tanya sendiri kepada anak kesayangan Papi ini," seru Chris dengan menunjuk wajah Tristan.
"Ada apa ini?" tanya Tristan.
"Tristan, apa benar kalau kamu sudah memperkosa pacarnya Chris?" tanya Papi Andrew dengan wajah yang memerah.
"Ti-tidak Pi, Papi jangan percaya dengan omongan dia, Chris itu hanya sirik saja sama Tristan makanya dia menjelek-jelekan Tristan seperti itu," sahut Tristan gugup.
Chris mulai emosi, Chris menarik kerah baju Tristan.
"Brengsek, berani-beraninya kamu menyangkalnya. Naura sudah bilang kalau kamu yang sudah memperkosanya!" bentak Chris.
"Kamu percaya dengan omongan perempuan itu? Dia hanya ingin belas kasihan saja, dan dia juga memanfaatkan aku karena dia tahu kalau aku adalah anak orang kaya," sahut Tristan.
"Naura bukan perempuan yang seperti itu!" bentak Chris.
"Hentikan!" teriak Papi Andrew.
"Kenapa kalian malah bertengkar seperti ini? Sekarang sudah zaman modern, nanti setelah anak itu lahir, kita test DNA saja untuk meyakinkan kalau anak itu anaknya Tristan apa bukan," seru Papi Andrew.
"Tapi yang jadi masalahnya, sekarang Naura menghilang Pi, dan aku yakin kalau Mami dan dia yang berada di balik menghilangnya Naura," geram Chris.
"Jangan sembarangan kalau ngomong, bisa jadi dia menghilang karena dia takut dilaporkan kepada polisi karena sudah mengaku-ngaku diperkosa sama aku dan sedang mengandung anakku," sahut Tristan.
"Kurang ajar."
Chris sudah melayangkan tangannya ke arah Tristan, tapi Papi dan Maminya segera menahan mereka.
"Mi, bawa Tristan pergi."
"Baik Dad, ayo Tristan."
Tristan segera masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Chris tampak menahan amarahnya karena Tristan menganggap Naura sebagai wanita murahan.
Chris menghempaskan tangan Papinya dan pergi masuk ke dalam kamarnya juga.
kenapa Andre nggak dikasih jodoh jg..
tapi nanti jadi panjang episode atau babnya..
terima kasih author keren...