Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Someone special
Enrico menatap ke arah sofa yang ada di depannya. Madam Gavany, seorang wanita bertubuh montok dengan tinggi badan yang sangat kurang dan wajah yang memerah sedang duduk dengan tawa yang sepertinya sangat bahagia karena bertemu dan sedang memeluk Alan.
Penyambutan untuk dirinya sendiri masih sama. Enrico menyeringai ketika mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Madam Gavany. Saat itu ia sedang mencari keberadaan Ally yang menghilang dan dibawa pergi oleh Lucius. Wanita pemilik restoran tempat Ally dulunya bekerja itu menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak mau memberitahu kemana dan bersama siapa Ally pergi.
Madam Gavany saat itu mengira ia mencari Ally untuk dijadikan wanita simpanan. Sehingga sekuat tenaga Madam Gavany merahasiakan kemana Ally pergi. Namun aksi tutup mulut wanita itu tidak bertahan lama ketika anak buah Enrico telah mengeluarkan pisau-pisau tajam mereka untuk mengancam Madam Gavany. Wanita itu terpaksa bersuara. Rasa marah dan ketakutan wanita itu sepertinya berubah menjadi dendam berkepanjangan, karena di setiap kunjungan Enrico setelah kejadian itu, wanita itu tidak mau bersikap ramah padanya. Meski Madam sudah tahu bahwa ia adalah wali dari Ally dan Alan.
"Cleome sudah besar," ucap Alan sambil memandang seekor kucing yang ada di pangkuannya.
"Ya. Sepertinya ia rindu padamu Alan." Madam Gavany tersenyum melihat kucing kesayangannya bergelung dan menggosokkan kepalanya ke tangan Alan.
"Aku juga rindu padanya. Dulu aku yang selalu memberinya makan."
Madam Gavany menganggukkan kepalanya. "Kau mengurusnya dengan baik saat itu, Alan."
"Bagaimana kalau kau berikan saja kucingnya pada Alan?" Enrico mencoba memancing pembicaraan dengan Madam Gavany. Sesuai dugaannya, ia kembali diabaikan. Seringai kembali hadir di bibir Enrico.
"Ayo Alan, minum jusmu. Kuenya juga dimakan. Sini, letakkan dulu Cleome di kandang." Madam Gavany mengambil Cleome dari pangkuan Alan, lalu memasukkan kucing tersebut ke sebuah kandang yang ada di sudut ruangan kantor kecil miliknya itu.
"Sini, cuci dulu tanganmu,"ucap Madam Gavany sambil menarik tangan Alan dan menuntunnya masuk ke sebuah pintu. Beberapa saat kemudian keduanya keluar dan kembali duduk di tempat semula. Madam Gavany mengambil gelas jus Alan dan mengulurkannya ke bibir bocah itu, dengan tersenyum Alan menghirup dengan kedua tangan memegang tangan Madam yang memegang gelas.
"Apa kau punya anak, Madam? Atau cucu?"
Hening. Madam Gavany sengaja tidak menjawab. Wanita itu mengambil sepotong kue dan memberikannya pada Alan. Bocah itu tersenyum lebar sambil memandang Enrico yang diabaikan.
"Apa Anda tidak menawariku minum, Madam? Aku juga haus."
Madam Gavany hanya menunjuk pada gelas kosong dan satu pitcher berisi jus yang sudah setengah di atas meja.
"Itu minuman anak-anak. Aku yakin Anda punya anggur yang sangat bagus."
Madam Gavany mendelik ke arah Enrico. "Kau pemilik gudang anggur, Tuan. Seharusnya kau bawa kemari jika kau mau minum anggur! Aku tidak akan memberimu minuman itu."
"Ah, panggil aku Rico, Madam. Jangan panggil aku Tuan. Sudah kubilang padamu, sekarang kau sudah masuk ke dalam daftar wanita favoritku."
Madam Gavany mendengus keras mendengar kata-kata manis Enrico, juga senyum manis penuh rayuan yang muncul di wajah pria tampan tersebut.
"Aku tidak bangga mendengarnya, dasar kau pria brengseek. Tidak usah merayuku. Aku tidak tergoda dengan semua kata-kata manismu. Kau tetap jadi orang teratas dari daftar pria menjengkelkan yang ada dalam hidupku!"
Enrico meletakkan sebelah tangan ke atas dadanya, memasang wajah menyesal sambil sedikit memajukan tubuhnya. "Sekali lagi maafkan kelakuanku di masa lalu, Madam. Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkan pria malang ini. Aku ingin sekali jadi temanmu, seperti Alan dan Ally."
Madam Gavany mengangkat dagunya sambil menyipit menatap Enrico. "Kau? Pria malang? Bukan kau yang malang, Tuan Besar! Tapi para gadis dan wanita yang tergoda karena bibir manis mu itu. Sudah kubilang aku tidak mempan kau rayu. Kau tidak akan jadi temanku." Sekali lagi Madam Gavany mendengus.
Enrico kembali menyeringai, ia mengedipkan matanya sebelah kepada Alan yang tertawa kecil mendengar pertengkaran Madam Gavany dengan pamannya itu.
"Bagaimana kalau kukirimkan anggur-anggur terbaikku kemari? Apakah kau akan suka?"
Madam Gavany hanya mencibirkan bibirnya. Ia mengambil kue dan menggigit sambil menatap tajam ke arah Enrico.
"Ah, tidak mau!? Kau wanita yang sulit ternyata Madam Gavany. Andai kau masih muda, aku pasti akan mengejarmu habis-habisan."
Madam Gavany menaikkan kedua alisnya, wanita itu sekuat tenaga menahan agar ia tidak tersenyum mendengar kata-kata Enrico.
"Aku akan datang setiap hari untuk merayumu, membawa bunga, anggur, kue, lalu membelikanmu gaun, perhiasan, tas, sepatu, kemudian mengajakmu makan malam romantis dengan lilin dan kemudian berdansa dan menari denganmu."
"Apa itu yang kau lakukan dengan para gadis dan wanita yang kau kejar?"
Enrico tersenyum sambil mengedipkan mata pada Madam.
"Pantas saja sampai sekarang kau belum menemukan istri."
Enrico hanya menatap Madam dengan senyum miring. Menunggu Madam Gavany kembali bicara.
"Para gadis dan wanita itu dengan mudah mengikutimu, dengan makan malam romantis dan rayuanmu mereka semua meleleh. Dan semua itu membuatmu jenuh bukan? Tidak ada yang cukup menarik perhatianmu untuk dijadikan istri. Mereka pasti cantik-cantik, mereka manis, manja dan menggemaskan. Teman makan malam yang menyenangkan, atau teman menari yang sangat bersemangat. Tapi di sanalah kau kehilangan minatmu. Bukan begitu, Tuan Besar?"
Enrico menumpukan ujung sikunya di atas lutut, lalu meletakkan dagunya di atas telapak tangan. Termangu memandang Madam Gavany dengan wajah sendu memelas.
"Kau juga sangat tahu apa yang terjadi padaku. Pengertian sekali. Kurasa kalau kau masih muda, aku benar-benar akan jatuh cinta."
Madam Gavany tidak dapat menahan tawa geli dari bibirnya. Ia terkekeh sambil menutup mulut. Lalu segera ia menelan ludah dan kembali mengangkat dagu.
"Aku yakin aku tidak akan jatuh cinta, Anak Muda! Tidak ada yang dapat mengalahkan ketampanan dan kegagahan mendiang suamiku, Alberto. Aku yakin dia akan mengalahkanmu."
Enrico membalas dengan tertawa, lalu mengangkat kedua bahunya sambil kembali menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Kau butuh seorang istri, Mr. Costra! Kau dengar itu! Istri yang membuat matamu yang selalu menggoda para wanita cantik itu tidak bisa berpaling dari menatap dirinya seorang. Membuat hatimu yang selalu mengembara mencari cinta ke setiap wanita anggun di muka bumi ini berhenti dan terpaut hanya pada dirinya seorang. Meski aku kasihan dengan wanita yang nantinya akan jadi istrimu itu," ucap Madam Gavany sambil mencibir.
Enrico tersenyum, entah kenapa bayangan sosok Vivianne melintas di kepalanya ketika mendengar penuturan Madam Gavany. Tanpa sadar ia menguulum senyum dengan mata termenung menatap piring kue di atas meja. Membayangkan mendengar tawa merdu gadis itu, lalu senyumnya yang amat cantik dengan matanya yang berbinar memuja ketika menatap Alan. Ya, menatap Alan, bukan menatap dirinya. Bagaimana jika tatapan itu ditujukan padanya? Tawa kecil lolos dari bibir Enrico ketika ia memikirkan hal itu.
"Well ... well ... well. Sepertinya kau sudah punya seseorang dalam pikiranmu itu, Tuan Besar. Siapa dia? Sampaikan rasa simpatiku padanya. Katakan padanya, sebaiknya ia lari sebelum ia tertangkap olehmu."
Enrico mengangkat kepalanya dan menatap Madam Gavany. Wanita itu menyipitkan mata memandangnya dengan tatapan tajam, menyelidik wajah Enrico seolah mencari kebenaran dari ucapannya. Tawa Enrico menggema beberapa saat kemudian.
"Akan ku sampaikan padanya rasa simpatimu, Madam. Tapi aku tidak akan membiarkannya lari. Ia akan tertangkap bahkan sebelum ia menyadarinya."
"Ah ... jadi benar rupanya. Sudah ada seseorang yang spesial di hatimu? Aku kasihan sekali pada gadis itu," sindir Madam Gavany.
Enrico kembali tertawa sambil mengedipkan sebelah mata pada wanita yang menatap penasaran ke arahnya itu.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Yang pengen tahu kenapa Madam Gavany masih menyimpan kejengkelan pada Enrico bisa mampir ke Love Seduction ya. Di season duanya pertemuan pertama mereka diawali dengan sebuah pisau tajam yang diletakkan ke leher Madam oleh suruhan Enrico. Yuk ... kisah LS gak kalah seru🤗🙏
Tekan like, love, vote, bintang lima dan komentar kalian ya. Kritik dan saran juga boleh. Author ucapkan terimakasih.
Salam hangat, DIANAZ.
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.