Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.
Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.
Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.
Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.
Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.
Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekaguman
Setelah memastikan kejutan yang sudah ia persiapkan, Bassta pun merasa tenang dan setelah menunggu tiga puluh menit, akhirnya sosok yang ia tunggu pun muncul. Jema, dengan tunik berwarna hitam di atas lutut, ia memakai topi juga masker untuk menghindari tatapan mereka yang mengenalinya. Memang, Jema belum siap untuk mengumumkan pada dunia tentang hubungannya dengan Bassta. Ia masih terikat kontrak yang membuatnya harus kembali menunda keinginannya supaya bisa menikah dengan Bassta dalam waktu dekat ini. Dan untuk tahun depan, ia ingin pernikahannya berlangsung di tahun itu.
“Itu dia,” ucap Sally, ia menunjuk dengan ekor matanya.
Jema tersenyum, matanya membola melihat Bassta yang sedang menunggu dengan raut wajah berbahagia itu. Tangan Bassta bertaut ke belakang, Jema sudah bisa menebak bahwa pastinya Bassta menyembunyikan kejutan untuknya di belakang punggungnya. Tas mahal, jam, sepatu, atau apa? Jema berusaha menebaknya dengan sangat keras sembari melangkah cepat.
“Uuuuuh, Jem.” Bassta tersentak saat Jema menghambur memeluknya, erat, menarik perhatian sekitar.
“Aku kangen banget sama kamu.” Jema mempererat pelukan, ia terkikik kemudian Bassta membalasnya.
“Aku juga,” kata Bassta, ia daratkan juga sebuah kecupan manis di kening Jema.
Jema langsung tersipu, pelukan pun terlepas, Bassta mengulurkan tangannya sekarang. Ia yang sedang memegang buket bunga mawar untuk kekasihnya itu dengan senyuman yang mengembang sempurna.
Jema terdiam, menerima dengan senyuman kecil.
“Terima kasih,” ucap Jema dan Bassta mengangguk.
“Ada sesuatu yang sudah aku siapkan buat kamu, Jem.” Bassta tersenyum dan Jema begitu antusias mendengarnya.
“Apa itu, Bass?” Jema berucap sembari merangkul lengan Bassta.
“Ini kejutan dan akan menjadi rahasia sampai kamu melihatnya sendiri,” kata Bassta dan Jema terkekeh.
Jema menoleh kepada Sally, mengisyaratkan untuk lekas meninggalkan Bandara. Mereka pun lekas meluncur menuju apartemen milik Jema.
***
Sesampainya di Apartemen. Mata Jema berbinar melihat Apartemennya dihias sedemikian rupa. Balon berwarna putih dan merah, kue ulang tahun berukuran besar di atas meja yang diletakkan dengan begitu teliti. Belum lagi aroma semerbak harum buah-buahan yang sangat disukai Jema membuat wanita itu semakin terpana melihatnya. Itu adalah kejutan ulang tahun untuknya dari Bassta, meskipun ulang tahun Jema sudah terlewat sebulan lalu.
“Bass.” Jema yang sedang dirangkul pinggangnya oleh Bassta itupun menoleh, melebarkan senyum. “Apa ini? Kamu nyiapin ini semua buat aku?” Dia sangat senang.
Bassta mengangguk halus.
“Selamat ulang tahun, Jem,” ucap Bassta dan Jema langsung mencium bibirnya sekilas.
Sally dan beberapa orang di sekitar mereka pun bersorak kegirangan. Bassta tampak malu-malu dengan apa yang dilakukan Jema. Seberani itu ketika ada orang lain apalagi ketika sepi.
“Bass, ulang tahun aku udah terlewat jauh.
“Nggak apa-apa, ini sebagai ucapan maaf juga karena waktu kamu ulang tahun. Aku nggak bisa datang buat ngerayain,” kata Bassta dan Jema menggenggam tangannya erat, Bassta membalas kemudian mereka mendekati kue tiga tingkat itu. Sally memberikan korek api, Bassta menyalakan lilin dan mereka semua merayakan ulang tahun Jema dengan begitu ceria.
Ngomong-ngomong tentang hadiah, Bassta juga sudah menyiapkannya. Ia berniat untuk memberikannya kepada Jema nanti saat mereka tinggal berdua. Bassta ingin leluasa, tanpa diganggu Sally dan yang lainnya.
Bassta berbahagia tetapi tidak dengan Larisa di tempat berbeda..
***
Sudah malam, Larisa belum juga pulang. Asih sudah mondar-mandir di teras rumah, menanti majikan wanitanya yang entah pergi ke mana. Pamitnya ingin membeli sesuatu ke minimarket tapi seharian sampai malam begini Larisa tak kunjung kembali.
Asih yang khawatir pun akhirnya memutuskan untuk menelepon Bassta yang juga entah ke mana. Namun, panggilan darinya tidak ada jawaban sampai-sampai Asih harus mengirimkan pesan berisi aduan. Asih berharap Bassta langsung pulang dan mencari di mana keberadaan Larisa.
Yang Asih lihat dari Larisa sebelum pergi adalah Larisa begitu terlihat kacau, sedih dan galau. Ditanya apa yang terjadi padanya pun, Larisa tidak menjawab, hanya memberikan senyuman tipis sebagai balasan.
Di tempat Larisa berada, ia sedang duduk di atas tangga sebuah taman. Menjinjing kantong plastik berisi makanan yang baru saja ia beli, tampak lezat, masih hangat tapi saat ingat bahwa Bassta sedang menikmati waktunya dengan wanita lain.
Matanya sudah sangat sembab juga perih, hari ini entah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan.
“Hmmm,” pekik Larisa saat kakinya tersentuh oleh sesuatu yang membuatnya kegelian. Saat dia melongok ke bawah, itu kucing, bergelayut manja di betisnya.
Larisa diam, mengamati, kucing itu mendongak dan menatap kemudian mengendus kantong plastik yang dia jinjing. Merasa terhibur dengan tingkah lucu kucing itu, Larisa pun tersenyum, seulas senyuman tipis.
“Makan yang banyak,” ucap Larisa, memberikan dua samosa berisi suwiran daging ayam juga sayuran.
Sekarang ia diam, melihat kucing yang begitu lahap menikmati makanan yang dia berikan.
Saking seriusnya, Larisa kembali melamun, isi pikirannya kembali terisi dengan hal yang membuatnya stres itu. Dari jauh, sebuah mobil berhenti, kacanya menurun dan dari dalam si pengemudi memerhatikan Larisa dengan mata memicing.
“Apa itu Larisa?” ucapnya, dia Hanung yang baru pulang bekerja. “Kenapa malam-malam dia di sini?” katanya lagi kemudian menyelia sekitar tempat Larisa berdiam diri, sekilas pun Hanung tidak menemukan sosok Bassta.
“Yang benar saja kalau dia beneran sendirian,” kata Hanung cemas.
Hanung keluar dari mobilnya, berjalan perlahan kemudian terhenti dan mengamati Larisa dengan baik. Betapa seriusnya wanita itu sedang menonton kucing makan sampai tidak menyadari kehadiran pria yang tidak jauh darinya.
Hanung tersenyum melihat apa yang dilakukan Larisa, terus memperhatikan dengan penuh kekaguman.
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu