Novel yang mengisahkan tentang seorang pria yang masih menduduki bangku SMA. Ketampananannya membuat seorang wanita yang berusia 25 tahun itu jatuh cinta begitu dalam.
Wanita yang memiliki sebuah perusahaan terbilang besar dan terkenal.
Indi Maharani mencintai pria bernama Veric yang usianya jauh lebih muda, berpikir akan mampu membuat sang suami dewasa setelah pernikahan.
Nyatanya sikpa Veric yang masih labil terus membuatnya semakin sakit. Akankah Indi mampu mendapatkan cinta Veric setelah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalanan Menangis Darah
Tak perduli sepanjang jalan cengkraman pada tubuhnya semakin kuat, Veric terus melaju dengan roda dua miliknya. Melewati kendaraan yang berjalan lambat menurutnya.
Kemarahan di wajahnya begitu jelas saat ini, tanpa Indi tahu.
“Ayo turunlah!” Setelah beberapa saat melewati jalanan umum dan melaju menaiki jalanan terjal, kini Veric menurunkan standard motornya.
Ia masih berada di posisi yang sama, wajahnya tak menoleh sedikit pun karena sangking emosi pada sang istri.
Namun, beberapa saat berikutnya tak ada suara sahutan dari Indi. Cengkraman yang semula erat terlepas begitu saja.
Menyadari ada yang aneh, Verix secepatnya turun dari motor meski terasa sulit karena di apit dengan tangki motor serta tubuh Indi.
Tiba-tiba dan tanpa ia duga Indi hampir terjatuh dari motor.
“Hei! Indi!” Teriaknya.
“What?” pekik Veric kaget saat itu juga.
Wajah pucat dan air mata yang sangat deras tanpa henti terus menetes di wajah putih pucat itu. Bibir Indi yang sudah menghilang lipglosnya membuat Veric sadar jika sang istri sedang tidak baik.
Tak ada ucapan yang Indi keluarkan saat itu. Pandangan matanya hanya menatap ke bawah dengan sayu.
“Astaga ada apa ini? Indi, dengakan aku!” Veric mulai gusar.
Seharusnya saat ini ia melampiaskan amarahnya saat berada di daerah ketinggian bersama wanita yang harus bertanggung jawab sebab membuat hatinya terbakar.
Tapi, ketika melihat keseriusan di wajah Indi, Veric kebingungan.
“Indi! Indi!” panggilnya berulang kali menepuk kedua pipi Indi.
Tak lama setelahnya suara isakan dan bibir yang bergetar baru mampu Indi keluarkan saat itu.
Veric membulatkan matanya. Wajahnya takut dan bingung saat itu. Tidak mungkin kan jika Indi kerasukan saat perjalanan ke puncak ini?
“Oke kita pulang.” Veric berusaha mengerti namun Indi semakin menangis kencang. Tubuhnya bergetar hebat kala Veric menyebutnya akan pulang.
Berdua saja berada di tempat sepi membuat Veric kesulitan untuk berpikir. Pada siapa ia harus meminta tolong?
Dan tanpa ia duga, di saat itu juga. Suara motor melaju dengan kecepatan tinggi.
Manik mata Veric menangkap jelas sosok dua bodyguard sang istri.
“Untuk saja ada mereka.” Secercah harapan di wajah Veric kala melihat kedatangan orang-orang kepercayaan sang istri.
Meski ia tidak tahu apa yang terjadi setelah ini.
“Kalian,” sapa Veric berusaha berdamai.
Namun, tangisan Indi di depan Veric yang berusaha ia dekap membuat raut wajah sang bodyguard sangat murka saat itu.
“Kau!”
Bug! Bug!
Pukulan yang masih membekas di perut Veric kini kembali mendapatkan tambahan.
Di detik itu juga Veric tersungkur kesakitan.
“Berani kau membawa Nyonya Indi naik motor? Apa yang kau pikirkan, Veric?!” Boby bahkan berani menyebut nama sang tuan saat itu.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa kalian memukulku? Aku hanya mau menyelesaikan masalahku dengan istriku.” kilah Veric berusaha meluruskan.
Lagi pula naik motor bukanlah sebuah hal yang salah menurutnya.
“Kau bukanlah suami yang tepat untuk Nyonya Indi. Menjauhlah jika kau tidak bisa membahagiakannya.” Sekali lagi kaki besar yang berlapis sepatu hitam mengkilat milik Boby menginjak perut Veric.
Tepat sasaran, darah Veric muntahkan dari mulutnya. Kali ini ia merasa bingung sangat bingung.
Sedang Indi yang masih menangis histeris di papah oleh bodyguard lainnya menuruni pegunungan itu yang tidak jauh jalan setapaknya. Disana mobil mewah sudah menunggunya.
“Indi!” Veric berteriak saat semua berjalan meninggalkannya serta dua bodyguard yang kembali menyalakan motor klx tersebut.
Merasa tak kuasa untuk bangun, Veric akhirnya merebahkan tubuhnya di tanah. Perutnya masih terasa begitu sakit saat ini.
Perasaan cemburu yang ia miliki tanpa sadar sudah membuat dirinya ketakutan sendiri. Tanpa tahu apa salahnya membawa sang istri tadi.
“Aku harus segera pulang. Argh! Perutku masih sakit sekali.” keluhnya mencoba bangun namun sang sulit.
Veric yang tak kuasa bangun memilih untuk istirahatkan tubuhnya lebih dulu. Berpikir beberapa saat lagi mungkin ia akan mampu untuk bangun dan pulang dengan motornya.
***
Hingga menjelang maghrib, semenjak kepulangannya dari pegunungan bersama sang bodyguard kini Indi terus berbaring meringkuk di atas tempat tidur. Air matanya terus menetes tanpa henti.
Mengantuk pun rasanya tak mampu membuat matanya tertutup.
Bayangan masa kelam dimana benda yang memiliki roda dua itulah yang membuatnya hampir gila.
Flashback on
Hari minggu pagi yang begitu cerah, menampakkan betapa semangatnya satu keluarga dengan outfit olahraga mereka.
Tiga sepeda telah siap untuk membawa tiga orang itu menelusuri jalanan pagi itu itu. Yah, atas permintaan Indi, gadis remaja cantik yang baru merasakan penatnya berlatih kerja di kantor bersama sang Daddy.
Memiliki satu permintaan sebagai supportnya giat belajar tentang perusahaan.
“Anak Daddy, are you ready?” ucap sang Daddy dengan senyuman cerianya.
Di samping sang Daddy ada wanita yang tak kalah bersemangat dari mereka. Pasangan yang masih cukup muda itu tampak seperti adik dan kakak.
“I’m ready, Daddy!” Teriak Indi dengan mengepalkan tangannya.
“Hati-hati kalian yah,” Suara serak terdengar dari arah pintu rumah.
Dia adalah sang kakek yang hanya mampu duduk di teras rumah menikmati secangkir kopi dengan koran di tangannya.
“Dada, Kakek!” Lambaian tangan Indi pagi itu terbalaskan senyuman hangat dari sang kakek.
Kebahagiaan pagi itu benar-benar menyelimuti keluarga mereka. Tak ada yang tahu jika hari itu adalah hari terakhir mereka merasakan kebersamaan.
Di perjalanan keluar perumahan, tiga sepeda terus beriringan. Dimana sepeda Indi berada di tengah di apit oleh sang Daddy dan Mommy.
Ketiganya fokus menatap jalanan sesuai perintah sang Daddy untuk mengutamakan keselamatan.
Hingga kendaraan roda dua yang mereka ayunkan itu kini menembus jalan besar.
Hari libur bukanlah hal yang menjadi penyebab jalanan sunyi, justri hari minggu pagi seperti ini banyak kendaraan berlalu lalang untuk memulai liburan mereka di suatu tempat.
Laju sepeda ketiganya pun semakin cepat saat menuruni jalanan yang turun gunung. Di depan terlihat jelas lampu merah yang menampakkan lampu hijau.
“Jalanan macet, Dadd.” ucap Indi yang melihat di depan sana banyak sekali kendaraan panjang.
“Putar balik saja yah nanti?” tanya sang Mommy yang merasa perjalanan mereka begitu jauh sudah.
“Oke. Di depan ada putar balik kok, Momm.” sahut Indi.
Akhirnya setelah melewati lampu merah yang berubah hijau mereka pun mendapati arah putar balik. Indi berada di belakang, kedua orangtuanya memutar lebih cepat.
Tanpa mereka duga,
“Dadd, itu mobil di depan sebelah jalan kenapa begitu jalannya?” Pertanyaan Indi saat melihat satu mobil dari arah jalan yang sebelumnya mereka lewati tampak melaju tak tentu arah.
Dan saat yang bersamaan pula,
Tin! Tin! Tin!
Klakson motor tiba-tiba berbunyi, Indi dan kedua orangtuanya menoleh ke belakang.
“Aaaaaa!!” Teriakan dan hempasan kendaraan tak terelakkan lagi.
“Daddy!” Indi menjerit melihat sepeda sang Daddy sudah terhempas ke trotoar dengan orang yang terseret laju mobil. Motor yang sebelumnya menglakson pun ternyata gagal menghindari mobil alhasil menabrak sepeda sang Daddy.
“Mommy, awas!” Indi yang bernapas lega melihat sang Mommy berusaha melajukan sepeda masih memiliki harapan.
Namun, kecelakaan beruntun itu nyatanya tak sampai di situ. Kendaraan motor lagi-lagi yang melaju dari belakang tanpa bisa menghentikan kini menabrak tepat menghantam kepala wanita yang baru Indi panggil.
“Mommy! Daddy!” Indi menjerit histeris.
Dengan mata kepanya ia melihat bagaimana motor itu melaju dari arah belakang menyerempet sang Daddy dan menabrak sang Mommy hingga terseret oleh mobil.
Tak hanya motor dan dua sepeda, beberapa kendaraan turut tertabrak oleh mobil itu.
“Daddy! Mommy!” Isak Indi yang berusaha menghentikan laju sepedanya kala sadar kecelakaan sudah berhenti.
Ia membanting sepeda berlari dan mendekat pada Mommynya yang lebih dekat dengannya saat ini.
Kepala yang sudah tak utuh membuat Indi bergetar ketakutan. Untuk memegang pun ia tak memiliki keberanian.
Sungguh ini seperti mimpi. Dilihatnya helm sepeda sang Mommy terkalungkan di lehernya. Kemudian Indi berlari lagi mendekat dimana mobil membawa sang Daddy.
“Daddy!!” Jeritnya histerisk kembali melihat tangan dan kaki sebelah kanan sang Daddy sudah terlindas ban mobil.
Hari itu, menjadi sejarah jalanan menangis darah. Korban sebanyak 35 orang yang tertabrak di jalanan dinyatakan tak ada yang selamat.
Indi memilih duduk di jalanan tanpa berniat bangun. Satu-satunya korban yang selamat hanyalah dia.
“Kenapa harus ada motor itu? Kenapa harus motor itu menabrak Daddy dan Mommy? Seharusnya kita selamat dan pulang bersama Daddy…Mommy!”
Flashback off
MAKANYA LO RIC,, JGN SMPE LO DPISAHKN SAMA INDI, NYESAL LOO
INILH AKIBAT SALAH DIDIK, SALAH GAUL.. BOCAH MUSLIM SAJA BNYK YG KYK SETAN DAJJAL, APALAGI SI VERIC BOCAH KAFIR, MNA TAU MORAL & AHKLAK... TAUNYA HIDUP FOYA, PESTA2,,CLUBING2, BKN ISI WAKTU DGN HAL YG BRMANFAAT..
SUPAYA LO GK GENGSI SAMA INDI, HRSNYA LO GIAT2, BLAJAR..
begitu saja......
ngak ada kata pentup....
😁😁😁😁😁