NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara rindu dan benci

"Security... Usir penyusup kampungan ini...!"

Lengkingan panjang terdengar nyaring, mendobrak pendengaran, memecah kesunyian, menyambut langkah Satria yang baru saja tiba di sana.

Matanya segera mencari sumber keributan, dan napasnya seketika tertahan, tak percaya melihat sosok yang berdiri tegak di tengah kerumunan. Vivian...?

Dahinya berkerut dalam, kebingungan. Bukankah kemarin ia menolak datang di pernikahan pamannya, beralasan ibunya sendiri mengikat janji suci di hari yang sama persis? Kenapa dia justru ada di sini, di pernikahan pamannya?

Tanpa menunggu lama, Satria segera melangkah cepat menerobos kerumunan, lalu menarik lengan kekasihnya menjauh.

Tatapannya beralih tajam pada wanita di hadapan mereka, kekasih sepupunya yang mulutnya tak pernah bisa diam, dan sikapnya selalu penuh sindiran menyakitkan.

"Vivian, apa yang terjadi...? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya pelan namun mendesak, matanya menatap lekat wajah gadis itu, mencoba membaca apa yang disembunyikan di balik tatapan tegarnya.

"Ayo kita pulang!" ajak Satria lagi, tangannya masih erat menahan lengan gadis itu, berniat membawanya menjauh dari keributan yang belum jelas ini.

Namun Vivian menepis pelan, lalu mundur selangkah menjauh. Wajahnya tegas, tak ada keraguan sedikit pun.

"Tidak. Aku tidak ingin pulang denganmu" tolaknya dingin, matanya tak berani menatap lurus ke manik mata Satria. Ada gejolak yang sekuat tenaga ia tahan, ia bentengi.

"Aku harus masuk ke dalam" sambungnya.

Satria tertegun, semakin bingung melihat bagaimana Vivian terus menjaga jarak, seolah ada sesuatu yang tak sanggup ia sampaikan. Biasanya gadis itu bersikap lembut dan selalu nurut dengannya, tapi sekarang...

Setiap kali ia mencoba mendekat atau memegang tangannya, gadis itu selalu memalingkan wajah atau melangkah mundur lagi.

"Vivian, kenapa kamu terus menghindar?" tanyanya pelan, suara bergetar menahan kecemasan.

"Baiklah kalau kamu memang ingin masuk. Ayo!" ucap Satria akhirnya, mengalah meski masih menyimpan ribuan tanya di benaknya.

Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam aula. Begitu melangkah melewati pintu, seketika semua mata tertuju pada Vivian.

Satria pun tertegun, baru menyadari betul perubahan penampilan kekasihnya hari ini, dia tampak begitu cantik, anggun, dan bersinar, jauh berbeda dari biasanya.

Gadis yang biasa mengenakan pakaian tertutup kini tampak lebih berani. Wajahnya dipoles indah, semakin menonjolkan kecantikannya.

Hatinya berdesir takjub, lalu diam-diam membimbing tangan gadis itu menuju sudut ruangan yang sepi dan tersembunyi.

"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Vivian pelan.

"Sebentar Sayang. Mas rindu..." bisiknya lembut.

Satria melingkarkan lengannya erat, memeluknya dari arah belakang. Gerakannya mendesak, menghimpit tubuhnya hingga sesak.

Napas hangat terdengar jelas. Kian lama kian mendekat, menyapu permukaan kulit, hampir menyentuh lehernya.

Namun detik itu juga, bayangan adegan menjijikkan siang tadi tiba-tiba melintas tajam di kepala.

Rasa mual dan jijik menyergap seketika, pada apa yang pernah ia alami. Ia ingin mundur, ingin menjauh, tapi tubuhnya terasa beku tak berdaya, terjebak di antara kerinduan yang mendalam dan rasa hina yang menyiksa.

"Mas, lepasin... Ini tempat umum"

"Sebentar saja sayang..." ia terus mendesak, sementara Vivian masih berperang antara kerinduan dan penolakan.

"Satria..."

Suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.

Sosok pria berwajah sedingin es berdiri tak jauh dari sana, menatap lurus ke arah Satria dengan tatapan tajam yang tak bisa ditolak.

"Temuin ayah!" ucapnya singkat, nada bicaranya datar namun berwibawa.

Satria mendengus kesal, terpaksa melepaskan pelukannya. Ia menatap Vivian sejenak, masih ingin bertanya banyak hal, tapi ia tunda.

"Tunggu aku di sini ya, jangan kemana-mana" ucapnya pelan, lalu berjalan pergi dengan langkah tergesa.

Pria dingin itu melangkah melewati Vivian. Sebelum menjauh, ia sempat menoleh sekilas, menatap wajah gadis itu lekat sejenak, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun tak terucap, lalu melangkah pergi meninggalkan keheningan yang kuasai Vivian.

Vivian menghela napas panjang, tubuhnya terasa lemas sekali. Ia memilih duduk di bangku sudut ruangan yang agak remang, menunduk diam memeluk lutut.

Perang batin di dadanya belum usai, rasa mual dan sakit hati masih membekas nyata. Serta sedikit rindu yang ia tepis berkali-kali tapi tak mau pergi.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat.

"Vivian! Ibu cariin kamu kemana-mana, eh malah duduk di sini," sapa ibunya dengan nada lembut, lalu segera menggenggam tangan gadis kesayangannya.

"Ayo masuk ke dalam, banyak tamu yang mau kenalan sama kamu."

Vivian menggeleng pelan, suaranya lirih dan lemah. "Vivian lagi nggak enak badan, Bu... Kepalaku rasanya pusing sekali"

Wajah ibunya seketika berubah khawatir. "Kamu pasti kecapean habis perjalanan jauh kan. Ya sudah, nggak usah paksakan diri. sana, kamu istirahat dulu saja di kamar sampai pulih."

Ia menyelipkan kartu akses masuk salah satu kamar ke tangan Vivian, lalu mengusap lembut pipi anaknya.

"Tenang saja, nanti Ibu nyusul kamu kalau sudah selesai acaranya. Istirahat yang cukup ya, sayang."

Vivian mengangguk pelan, menggenggam kartu itu erat. Setidaknya untuk sesaat, ia bisa lari dari semua tatapan, rasa sakit, dan kenyataan pahit yang menghancurkan hatinya.

Iyah, hanya sesaat. Karena selanjutnya guncangan itu akan lebih dahsyat...

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!