Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
...Jam dinding di kamar apartemen mewah itu telah menunjukkan waktu tujuh malam....
...Kamar yang semula tenang kini diselimuti atmosfer yang dingin dan penuh determinasi....
...Ratri berdiri tegak di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri....
...Pakaian santai milik Devandra telah berganti dengan seragam pilot kebanggaannya yang kini sudah kering, bersih, dan rapi sempurna berkat bantuan Thomas....
...Kedua tangannya bergerak tenang namun pasti, menyematkan kembali atribut kapten dengan empat garis emas di pundaknya....
...Setiap detail seragam itu terpasang gagah, seolah mengembalikan marwah dan otoritas yang sempat luruh berderai air mata semalam....
...Wajah pucatnya pagi tadi kini berganti dengan riasan tipis yang tegas, menyembunyikan rapat-rapat luka emosional di balik tatapan matanya yang sedingin es....
...Di ambang pintu kamar, Devandra berdiri bersandar....
...Pria itu menatap Ratri dengan binar kagum dan rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. Aura tangguh sang kapten telah kembali....
...Devandra melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam ponsel Ratri—benda yang masih dalam keadaan mati total....
..."Ini senjatamu, Kapten," ucap Devandra dengan suara rendah penuh penekanan....
..."Ingat, malam ini adalah penerbangan paling krusial bagi masa depanmu. Tidak boleh ada keraguan saat kamu menarik tuas kendali."...
...Ratri menerima ponsel itu, menggenggamnya erat, lalu mengangguk mantap....
..."Aku tidak akan jatuh untuk kedua kalinya, Dev."...
...Tak berselang lama, mereka berdua sudah berada di dalam mobil mewah Devandra yang melaju membelah kegelapan malam Jakarta menuju ke kediaman Ratri....
...Sepanjang perjalanan, suasana kabin terasa hening namun sarat akan ketegangan tak kasatmata....
...Sambil sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, Devandra membuka suara untuk mengingatkan strategi mereka....
..."Aku akan memantau dari luar pagar rumahmu. Ponselku selalu aktif. Masuklah dengan kepala tegak dan biarkan mereka mengeluarkan watak aslinya terlebih dahulu. Tapi ingat, begitu situasi mulai tidak terkendali atau bajingan itu berani menyentuhmu..." Devandra menjeda kalimatnya, sorot matanya menajam, "...detik itu juga aku yang akan masuk dan meruntuhkan tempat itu."...
...Ratri memalingkan wajah dari jendela, menatap Devandra dengan senyum tipis yang sarat akan makna....
...Badai sudah di depan mata, dan malam ini, sang kapten siap menerjangnya tanpa ampun....
...Indra, Imelda, Tasya, dan Gabriel berkumpul di ruang tamu yang biasanya terasa hangat, namun malam ini atmosfernya berubah mencekam....
...Tasya dan Gabriel baru saja pulang dengan wajah kecut dan ditekuk dalam-dalam....
...Sisa-sisa ketakutan dan rasa malu akibat insiden di kafe siang tadi masih membekas jelas di wajah mereka....
...Kartu debit dan kredit mereka mendadak ditolak, memaksa mereka menguras habis uang tunai satu juta dari Imelda hingga pas-pasan tanpa sisa sepeser pun untuk ongkos pulang....
...Di tengah ruangan, Indra mondar-mandir seperti orang gila....
...Langkah kakinya menghentak kasar ke lantai, sementara tangannya tak henti memaki-maki Ratri....
..."Sialan! Benar-benar sialan wanita itu! Dia sengaja mematikan ponselnya! Dia sengaja terlambat mengirimkan uang sepuluh juta itu agar kita semua dipermalukan!" raung Indra dengan urat leher yang menegang merah....
...Imelda, dengan keberanian yang tak tahu tempat, berusaha menenangkan kekasih gelapnya....
...Tanpa memedulikan keberadaan Tasya dan Gabriel, ia dengan santai duduk di pangkuan Indra dan memeluk erat tubuh pria itu untuk meredam emosinya yang meledak-ledak....
..."Sudahlah, Mas. Sabar. Begitu dia pulang nanti, kita tuntut dia ganti rugi berkali-kali lipat," bisik Imelda manja....
...Bukannya meredakan suasana, Tasya dan Gabriel justru ikut mengompori....
...Rasa kesal karena gengsi mereka hancur di depan teman-teman kuliah membuat mereka kehilangan akal sehat....
...Gabriel meludah ke lantai, menyumpah serapah dengan kasar....
..."Dasar wanita tua! Gak tahu diri banget bikin kita malu di kampus karena kartunya gak bisa dipakai! Kerjaannya cuma menyusahkan keluarga saja!" bentak Gabriel berapi-api, disetujui oleh anggukan kepala Tasya yang berwajah kecut....
...Ceklek!...
...Tepat di puncak perdebatan kotor mereka, pintu depan terbuka perlahan tanpa ketukan....
...Suara gesekan engsel pintu berpadu dengan ketukan langkah sepatu pantofel yang tegas, bergaung ritmis di atas lantai marmer hitam....
...Bunyi itu seketika memotong kalimat makian yang baru saja hendak keluar dari mulut Gabriel....
..."Siapa yang kamu sebut wanita tua, Gabriel?"...
...Sebuah suara dingin, datar, namun sarat akan otoritas mutlak memotong keheningan....
...Suasana seketika membeku bagai disambar petir di malam hari....
...Seluruh pasang mata di ruangan itu menoleh kaku ke arah pintu....
...Wajah Gabriel dan Tasya yang semula membara oleh amarah, detik itu juga langsung berubah pucat pasi, seputih kertas....
...Indra dan Imelda juga tampak terkejut ketika melihat Ratri yang mereka kira masih di Belanda....
..."M-mama..?" gumam Gabriel dengan bibir gemetar hebat....
...Di ambang pintu, Ratri berdiri dengan anggun. Seragam dinas pilotnya yang lengkap melekat pas di tubuh tegapnya....
...Empat garis emas di pundaknya berkilau tajam di bawah lampu ruang tamu, seolah menegaskan siapa pemilik takhta sesungguhnya di rumah ini....
...Tatapan mata Ratri yang sedingin es langsung tertuju lurus ke arah sofa....
...Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Imelda masih dalam posisi memeluk tubuh Indra secara intim di atas pangkuannya....
...Tidak ada lagi lemari yang menghalanginya, tidak ada lagi air mata yang menyamarkan pandangannya....
...Ratri berjalan mendekat dengan langkah pelan namun sarat intimidasi....
...Setiap ketukan sepatunya seolah meremukkan sisa-sisa keberanian orang-orang di depannya....
...Ia berhenti tepat di ujung karpet mewah, menatap mereka satu per satu dengan senyum sinis yang menggidikkan....
..."Jadi seperti ini kelakuan kalian kalau aku sedang bekerja bertaruh nyawa di angkasa, ya?" tanya Ratri, suaranya begitu tenang namun justru terdengar mengerikan....
...Ia menatap Gabriel, anak laki-laki yang dulu ia timang dengan penuh kasih....
..."Panggilan 'wanita tua' dari mulut putra kandungku sendiri yang aku besarkan dan aku kuliahkan dengan uang hasil keringatku..."...
...Pandangannya bergeser perlahan ke arah wanita yang kini kelabakan turun dari pangkuan suaminya....
..."Dan seorang sahabat karib... yang sedang asyik memeluk tubuh suamiku di rumahku sendiri, menggunakan baju yang kubeli."...
...Terakhir, matanya menancap lurus ke arah Indra yang mendadak terkunci lidahnya....
..."Sangat hebat sekali. Sandiwara yang luar biasa."...
...Plok... Plok... Plok......
...Ratri bertepuk tangan secara perlahan. Suara tepuk tangannya terdengar begitu nyaring, menggema, dan menakutkan di tengah keheningan ruang tamu yang mendadak mencekam....
...Setiap pukulan telapak tangannya seolah menjadi lonceng kematian bagi kenyamanan yang selama ini mereka nikmati....
...Ratri menurunkan tangannya, menatap keempat parasit di hadapannya dengan binar mata yang membakar habis seluruh rasa cinta masa lalunya. Tirai peperangan resmi dibuka....
...Setelah keterkejutan awal, Indra, Tasya, dan Gabriel langsung mengubah taktik mereka....
...Sadar bahwa sumber finansial utama mereka kini sedang berada di ujung tanduk, ketiganya kompak memasang wajah memelas dan menumpahkan air mata buaya demi mencairkan hati sang kapten....
...Gabriel maju selangkah dengan tangan gemetar, mencoba memasang ekspresi tertuduh yang paling menyedihkan....
...$M-mama, maksud aku... Bukan mama yang kami sebut wanita tua tadi. Mama salah dengar... Tadi kami cuma khilaf karena emosi sesaat."...
...Ratri menyilangkan tangan di dada, menatap putranya itu dengan pandangan jijik yang amat pekat....
..."Bukan mama? Lalu siapa? Setahu saya, di rumah mewah yang dibeli dengan keringat dan uang saya ini, tidak ada wanita tua lain selain ibu kandung yang melahirkan anak kurang ajar sepertimu."...
...Mendengar bentakan dingin itu, Tasya tidak mau kalah....
...Ia langsung menjatuhkan diri, bersimpuh di dekat karpet, lalu meremas ujung seragam Ratri dengan air mata yang mengucur deras....
..."Mama, tolong maafin kami! Tadi kami cuma emosi karena stres di kampus, Ma. Dan soal Tante Imelda... kami cuma kasihan karena Tante Imelda lagi ada masalah, makanya Papa datang menghibur."...
...Indra yang melihat kedua anaknya mulai terdesak segera ikut mengambil peran dalam sandiwara murahan itu....
...Pria bermuka dua tersebut memasang wajah paling melankolis yang ia punya, melangkah mendekat dengan gestur tubuh seolah dialah korban yang tersakiti oleh keadaan....
..."Rat, ini semua salah paham besar. Imelda cuma datang ke sini untuk mengantarkan berkas penting kuliah anak-anak. Aku bersumpah di hadapan Tuhan, tidak ada apa-apa di antara kami! Tolong jangan putus kartu kami, Rat... Kasihan anak-anak, masa depan mereka terancam kalau fasilitasnya dicabut begitu saja," ratap Indra tanpa tahu malu, masih terus mencoba menggunakan darah dagingnya sendiri sebagai tameng finansial....
...Ratri menarik ujung seragamnya dari cengkeraman Tasya dengan sentakan kasar, membuat anak perempuannya itu terjerembap kecil di lantai marmer yang dingin....
...Ia menatap Indra, Tasya, dan Gabriel bergantian dengan kilatan kemarahan yang membakar....
..."Mulai sekarang kartu kalian aku putus, dan kamu, Mas... mulai malam ini kita resmi bercerai."...
...Indra, Tasya, dan Gabriel tersentak ngeri mendengar vonis mati tersebut....
..."Ini bukan salah paham?" Ratri terkekeh hambar, suara tawanya terdengar begitu menusuk gendang telinga, dingin tanpa ampun....
..."Kalian pikir aku buta? Atau kalian pikir aku sebodoh wanita tua dalam makian kalian tadi?"...
...Ratri maju satu langkah lagi, berdiri tepat di hadapan Indra yang secara refleks langsung memundurkan langkahnya karena terintimidasi oleh aura mengerikan dari sang kapten....
..."Berkas kuliah mana yang harus diantarkan sampai ke atas ranjang kamarku, Indra? Dan menghibur macam apa yang membuat seorang sahabat karib harus menanggalkan seluruh pakaiannya di depan suamiku?" desis Ratri tepat di depan wajah Indra, suaranya berbisik tajam namun menghujam telak....
...Mendengar kalimat telak itu, seluruh ruangan seketika hening mencekam....
...Udara di ruang tamu seolah tersedot habis. Wajah Indra yang tadinya memelas seketika berubah menjadi pias kelabu, mirip mayat hidup. Rahangnya jatuh lemas....
...Di belakangnya, Imelda yang sejak tadi berusaha bersembunyi pun ikut membelalakkan mata lebar-lebar dengan tubuh gemetar hebat hingga giginya bergemeretuk....
...Seketika itu juga, mereka tersadar satu hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kehilangan uang: Ratri sudah melihat semuanya. Pertahanan mereka runtuh total, tanpa sisa....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒