PROSES REVISI. KALO ADA CERITA NGEGANTUNG DAN NGGAK NYAMBUNG MOHON DI MAKLUMI, AKAN SEGERA DI REVISI. TERIMA KASIH.
"Jessii, ini permintaan terakhir kakek kamu jangan di tolak dongg!"
"Pliss maa! aku nggak mau di jodohin.. Apa lagi sama orang sombong kek dia!!"
Meliana mengusap dadanya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi sikap keras kepala yang di miliki anak bungsunya itu.
Ya, Jessica Relieta anak dari Meliana dan Reta itu mendapat pesan terakhir dari Kakek Jessica bahwa dia ingin melunasi hutang - hutangnya dengan menjodohkan cucu nya.
Karena dijodohkan dengan keluarga kerajaan Raden Agung Yagsa, seorang Jessica yang pecicilan itu pasti susah untuk mengubah diri menjadi seseorang yang anggun.
Namun karena juga hutang kakek Jessica yang sangat tidak mendukung, mau tak mau Jessica menerima perjodohan itu dengan berat hati.
Tetapi ketika sang pangeran meminta untuk di cintai apakah Jessika bisa mengabulkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari H (REVISI)
Putra sedang berada di mall yang ada di dekat rumahnya. Tidak terlalu dekat sih, sekitar dua jengkal.
Putra melewati lorong demi lorong untuk mencari hadiah yang akan dia hadiahkan kepada Jessica.
Menurutnya, jika ia menghadiahkan sebuah permata atau emas, hal itu pasti akan terlihat biasa saja. Malah bisa di bilang itu menyombongkan kekayaannya.
Jadi untuk menghindari pemikiran itu, dia berjalan bulak - balik ke arah aksesoris perempuan.
"Putra!!"
Putra langsung menoleh ketika ada seseorang yang memanggilnya.
Dia menampakkan wajah yang biasa saja karena sudah ahli dalam bidang mengontrol ekspresi.
Yang memanggil mendekati Putra. Ia tersenyum cerah kepada Putra yang sedang memegang beberapa jepitan rambut.
"Sudah lama ya, kita nggak main." Ucap Velin membuka obrolan.
Putra mengacuhkan basa basi Velin dan melanjutkan aktivitasnya, yaitu mencari hadiah.
Merasa di cuekkan, Velin langsung memeluk tangan kiri Putra dan menyenderkan kepalanya di pundak Putra.
"Kamu kok berubah gini gara - gara mau nikah sama si kudanil? Kamu masih inget janji kita dulu kan?" tanya Vwlin berturut - turut membuat aktivitas Putra terhenti.
Ia menegakkan badannya kemudian melirik ke arah Velin.
"Pertama, lepasin tangan lo." Perintah Putra datar namun terdengar sangat menakutkan.
Velin yang tak kuasa menahan takut langsung melepasnya dan mundur satu langkah lebih jauh.
"Kedua apa?" tanya Velin dengan wajah gembira.
"Jangan jadi pelakor." Jawab Putra yang cuek bebek sambil mengambil salah satu jepitan.
Setelah dirasanya cukup. Putra hendak pergi namun segera Velin tahan.
Putra membalikkan badan nya.
"Apa lagi mau l--"
Cup
Velin mendaratkan kecupan di bibir Putra membuat Putra langsung terdiam membeku.
"Itu tanda kasih sayang aku Putra. Tunggu aku menjemput kamu ya!!" serunya kemudian pergi lebih dulu dari hadapan Putra.
Putra yang menggeram di tempat menahan amarah dan berusaha sabar.
Karena Velin pergi dari arah yang hendak Putra lewati tadi, Putra jadi membalik agar dia tidak akan bertemu Velin kembali.
Saat dia berbalik.
Riana masih membelakkan matanya tak percaya dengan tangan yang memutup mulutnya.
Putra ikut terkejut dengan keberadaan Riana.
"Kak Putra--"
♡♡♡
Hari yang di tunggu telah tiba. Kini hari pernikahan antara Jessica dengan Putra telah datang. Semua pelayan telah mempersiapkannya dengan sangat baik, terutama Jessica dan Putra.
Sekarang Jessica sedang ada di ruang rias. Ia di rias sedemikian mungkin untuk terlihat lebih cantik dari siapa pun.
Putra yang sedang memandang dirinya sendiri di kaca mulai menyesal akan perbuatan Velin kemarin yang dilihat langsung oleh Riana. Sudahlah, mungkin ini kesalah pahaman.
Meliana membuka knok pintu kamar Jessica yang memunculkan seorang pengantin wanita dengan kebaya putihnya.
Meliana tersenyum ketika melihat Jessica sudah mengenakan pakaian adat Indonesia, dan sudah di dandan hingga terlihat cantik.
Meliana pun mendekati Jessica dan duduk di kasur yang berada di sebelah meja rias.
Meliana mengelus pelan rambut Jessica.
"Jessi sayang," panggil Meliana.
Jessica menoleh.
"Jika kamu tertekan akan pernikahan ini, kamu tidak boleh memaksanya. Apa lagi semua ini karena mama, mama benar - benar tidak butuh uang mereka, yang mama butuh cuman kebahagiaan kamu untuk selamanya." Ucap Meliana dengan lembut.
Jessica yang tak kuat menahan sedih langsung menumpahkan air matanya.
"Jessi kamu nggak boleh menangis, nanti riasan kamu luntur." Meliana mengusap lembut pipi Jessica dan langsung memeluknya.
"Mama, walau aku tertekan akan perjodohan ini, dan Mama nggak butuh uang mereka, dengan Mama sembuh, sehat, dan tetap ada sampai aku tua nanti, itu lah yang membuat aku bahagia untuk selamanya." Jawab Jessica terisak - isak. Meliana langsung ikut menumpahkan air matanya.
"Jessi nggak bisa itung, berapa banyak pengorbanan yang mama kasih buat Jessi, tapi Jessi nggak mau jadiin semua itu hutang. Jessi mau membayarnya walau cuman sedikit." Jelas Jessica.
"Terima kasih sayang, mama tidak akan pernah menyia - nyiakan perjuangan kamu." Ucap Meliana menenangkan Jessica.
Meliana pun melepas pelukannya.
"Hapus dong air matanya, ntar mereka curiga liat kamu matanya merah." Seru Meliana dengan senyuman.
Jessica pun ikut tersenyum. Ia menghapus air matanya dan mengedipkan matanya berkali - kali.
***
Tirta masuk ke dalam ruangan pengantin pria milik Putra. Ia melihat sang anak sedang menatap kosong ke arah jendela yang ada di kamarnya itu.
Tirta masuk tanpa izin dan mendekat ke arah putra tunggalnya itu.
"Putra," Tirta memegang pundak Putra. Putra pun menoleh tanpa menjawab.
"Kamu tau kan tugas seorang suami itu seperti apa?" Tanya Tirta. Putra mengangguk.
"Ingat lah! Seorang suami tidak hanya bertugas untuk memberi uang tapi juga kebahagiaan. Dan cara membahagiakan seorang istri itu sangat berbeda - beda.
Jessica adalah anak yang sayang kepada keluarganya. Dia meminta uang untuk mamanya berobat kanker rahim stadium empat. Itu lah cara kamu membahagiakan Jessica, Putra. Bukan karena Jessica matre atau semacamnya, tapi dengan membuat ibunya sembuh dan sehat, dia pasti akan selalu bahagia." Jelas Tirta panjang lebar.
Putra tertegun dengan apa yang di katakan ayahnya. Ia benar - benar telah salah paham kepada calon istrinya yang membuat masalah besar antara keduanya.
Putra melirik ke arah ayahnya.
"Apa aku suami yang jahat?" Tanya Putra.
Tirta terkekeh. Bukan nya menjawab, ia justru malah memeluk Putra dalam - dalam.
"Kamu baru menjadi calon, bukan suami yang sungguhan. Kamu tau kan sekarang bagaimana cara membahagiakan calon istrimu? Lakukan lah sebelum Jessica membencimu. Karena jika sampai kalian mati tidak pernah tumbuh cinta di dalam diri kalian, maka keturunan yang kau hasilkan tidak akan pernah menjadi pewaris tahta." Jelas Tirta.
Putra mengangguk dalam pelukan ayahnya. Ia membalas pelukan itu dan mengeluarkan bulir mutiara dari mata tajamnya.
♡♡♡
Semua telah siap dengan acara akadnya. Putra sudah duduk di meja akad juga seluruh saksi dan orang tua.
Namun masalahnya, penghulunya belum juga menampakkan diri. Semua sangat panik karena sang penghulu sudah telat satu jam lima belas menit.
Semua benar - benar khawatir karena jika penghulunya di ganti akan merusak peraturan nomor dua ribu tiga, gorengan.
"Bagaimana ini Pak, penghulu tidak ada kabar." Ucap salah satu saksi.
"Bagaimana tidak ada kabar?! Coba hubungi lagi!" Seru Tirta.
Saksi itu menggeleng.
"Sudah di hubungi lebih dari empat puluh kali tapi tetap tidak ada jawaban." Jelasnya.
"Lalu bagaimana ini?! Akan menunggu sampai kapan lagi?!" Seru Tirta gemess.
"Ada apa? Kenapa akadnya belom di mulai juga?" Tanya Jessica yang sedang di dalam kamar bersama dengan teman - temannya.
"Penghulunya belum dateng." Jawab Bianca.
"Lah, ngurek dulu apa tu penghulu? Lama amat dateng nya!" Sewot Camila.
"Panggilan alam dulu kali." Jawab Riana.
"Positif thingking aja, mungkin lagi luluran." Sambung Jessica.
Semua tertawa atas jawaban masing - masing.
"Masih rebahan apa tu penghulu." Ucap Bianca.
"Ya bagus lah, penikahannya sedikit ketunda." Sambung Jessica.
"Eh!! Lo kok malah bersyukur! Makin lama makin buruk!! Bukannya ini tanggal yang baik buat acara pernikahan menurut buku yang lo baca?!" Seru Riana.
"Iya sih, tapi maksudnya, gue bisa rebahan dulu gitu." Jessica hendak tiduran namun langsung di tahan oleh teman temannya.
"Nggak boleh tiduran!! Ntar tu rambut riksek lagi!! Kacian kan para perias udah repot nyusunnya!!" seru Bianca.
"Iya, Jess, cape banget loh ngebenerinnya!!" balas Riana.
"Udah lo nyender aja ke kursi." Jawab Camila yang di setujui oleh teman - temannya.
Putra berdecak karena bosan sudah menunggu lama pak penghulu yang tak ada kabar, kek dia.
Putra pun membuka ponselnya yang penuh dengan pesan dari teman - temannya dan "Velin?"
"Putra, pak penghulu sudah datang! Siapkan diri mu!" Seru Tirta.
Putra yang terkejut akan seruan itu langsung buru - buru menyimpan ponselnya dan duduk dengan tegap untuk menghadapi masa ketegangan.
Pak penghulu itu dengan buru - buru langsung menempati kursi yang tersedia untuknya.
"Sebelumnya apa kami bisa meminta penjelasan mengapa pak penghulu bisa terlambat?" Tanya Tirta.
"Mohon maaf yang mulia, mohon maaf yang sebesar - besarnya. Putri saya meninggal dunia."
Deg!
Jantung Putra langsung berdegup dengan kencang. Hatinya langsung tak tenang mendengar seseorang yang meninggal dunia.
"Hah?! Apakah-"
"Tidak apa Pak. Saya akan melaksanakan kewajiban saya terlebih dahulu." Jawab penghulu dengan cepat.
"Baiklah. Nak Putra, sekarang kita belajar dulu ya, tenangkan diri Nak Putra." Perintah penghulu. Putra mengangguk.
"Ikuti apa yang saya bicarakan." Perintahnya yang di balas anggukan kembali.
"Saya terima,"
"Saya terima,"
"Nikah dan kawinnya,"
"Nikah dan kawinnya,"
"Raden Agung Mehputra Yagsa,"
"Raden Agung Mehputra Yagsa,"
"Bin Raden Agung Tirta Yagsa,"
"Bin Raden Agung Tirta Yagsa,"
"Dengan,"
"Dengan,"
"Jessica Relieta,"
Putra terdiam. Tirta pun menepuk paha Putra pelan.
"Jessica Relieta,"
"Binti Reta Muhammad,"
"Binti--Reta Muhammad,"
"Dengan maskawin,"
"Dengan maskawin,"
"Seperangkat alat solat,"
"Seperangkat alat solat,"
"Dan uang tunai sebesar,"
"Dan uang tunai sebesar,"
"Satu milier rupiah," banyol.
"Satu miliar rupiah,"
"Dibayar tunai!"
"Dibayar tunai."
"Nah, coba nak Putra ulang sendiri." Perintah pak penghulu kembali.
Putra menarik nafasnya dalam - dalam.
"Saya terima.. nikah dan kawinnya, Raden Agung Mehputra Yagsa bin Raden Agung Tirta Yagsa dengan Ve--"
Botol sih jadi orang.
Tirta, Taya, tidakkah kalian berkomunikasi dengan Putra? Bahkan besan meninggalpun tak ada yang muncul.