Vina adalah seorang single mother. Karena pernah gagal membuatnya menutup pintu hati. Bukan dirinya tidak ingin mempunyai kehidupan uang baru tapi kali ini Vina lebih hati hati untuk melabuhkan hati karena tidak ingin gagal untuk kedua kalinya.
Saat cinta datang dari masa lalunya justru ada banyak halangan yang menguji titik sebarannya dan itulah hidup tak seindah cerita cinta sinderella seperti dalam dongeng.
SELAMAT MEMBACA..
Jika suka dengan novel in jangan lupa like, komen dan berikan ❤️ serta jangan lupa di Vote ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Ervinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16. Dika sakit
Kini Vina sudah tiga bulan bekerja di perusahaan Dirgantara. Vina sudah jadi karyawan tetap sudah habis masa training.
Hari ini Vina ada meeting, sebagai sekretaris tugas Vina mencatat hal hal penting selama meeting berlangsung .
Meeting berlangsung selama tiga jam lamanya dari jam 12 siang sampai 3 sore.
Setelah meeting selesai Vina bergegas menuju meja kerjanya. Selama meeting berlangsung Vina tidak fokus perasaannya risau, gelisah. Vina takut terjadi sesuatu, maka setibanya di meja kerja Vina langsung mengambil Hpnya di dalam handbag miliknya.
Di layar depan Hp Vina sudah terpampang jelas foto Dika dengan ekspresi yang menggemaskan. Wajah imut Dika inilah yang selalu buat Vina semangat bekerja.
Ada beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan dari ibu Riska. Vina membuka pesan ibu Riska dengan perasaan cemas.
"Vina, maaf mama ganggu waktu kerja kamu. Sekarang mama lagi dirumah sakit, Dika sakit sayang. Kalau boleh cepat pulang, mama ada di rumah sakit. Dika deman panasnya tidak turun turun disertai muntah muntah. Mama takut, makanya mama cepat cepat membawa Dika ke rumah sakit ."
Setelah membaca pesan dari mamanya Vina langsung meminta ijin bos pada pak Munawir.
Vina meminta ijin pulang lebih awal dengan alasan Dika masuk rumah sakit. Pak Munawir memberikan ijin kemudian dengan cepat Vina menuju rumah sakit menggunakan taxi.
Tidak butuh waktu lama Vina sampai dirumah sakit. Vina langsung menuju kamar dimana Dika dirawat. Vina mencari nomor kamar sesuai yang sudah beri tahu ibu Riska lewat chat. Dengan tergesa gesa akhirnya Vina menemukan kamar dimana Dika dirawat.
Vina membuka pintu kamar dengan air mata yang sudah berkaca kaca dari bola matanya. Melihat Dika yang terbaring diranjang rumah sakit dengan keadaan lemas, tangan yang dipasang infus. Vina menghampiri Dika yang tertidur dengan wajah yang sangat pucat membuat bathin Vina sebagai seorang ibu sangat tersiksa.
Vina duduk diatas ranjang Dika berbaring sambil mengusap ngusap wajah polos malaikat kecilnya. Butiran air mata menetes dengan sendirinya yang tidak mampuh Vina tahan.
"Dika, maafkan bunda sayang. Maafkan bunda yang membuat kamu menderita seperti ini. Bangun sayang ini bunda sudah datang buka matamu sayang ." ucap Vina dengan bergelinang air.
"Sayang jangan begitu kasihan Dika. Kamu harus kuat jangan seperti ini. Dika sudah ditangani dokter biarkan Dika istrahat ." tegur ibu Riska yang berdiri dihapan Vina.
"Iya sayang kita berdoa semoga Dika lekas sembuh, kamu jangan sedih terus ." lanjut ibu Mega memberi dukungan untuk Vina
Ibu Mega dan pak Angga sudah datang bersamaan dengan Dika. Karena orang pertama yang dihubungi ibu Riska adalah kedua orang tua Dion. Dikarenakan Vina dan Dion tidak bisa dihubungi.
Dengan cepat ibu Mega dan suaminya sampai di rumah sakit.
"Sebentar lagi Dion sampai, tadi mama sudah menelpon Dion. Kebetulan dua hari ini Dion ada di Lombok,kamu jangan terlalu risau.
Menurut kata dokter Dika sudah tidak apa apa beruntung Dika cepat dibawah ke rumah sakit ." lanjut ibu Mega
Terdengar suara pintu kamar terbuka. Sosok Dion muncul dari balik pintu dengan raut wajah sedih berjalan mendekati ranjang tempat Dika terbaring lemah.
Vina yang melihat Dion ada dihadannya langsung membuang muka. Vina tidak ingin menatap lelaki yang sudah manyakitinya.
Hati Vina terlalu sakit untuk berhadapan dengan Dion, akhirnya Vina memilih bangun dari ranjang membiarkan Dion duduk mengantikan dirinya.
Setelah Vina bangun dari ranjang Dion langsung duduk. Dion memandang wajah pucat anaknya sambil mengusap rambut Dika. Sebagai seorang ayah tentu Dion ikut sedih melihat anaknya terbaring lemas dirumah sakit. Dion menggenggam tangan mungil Dika dan berkata,
"Dika maafkan ayah,maafkan ayah yang tidak memperhatikanmu. Maafkan ayah yang tidak bisa selalu berada didekat kamu, ayo bangun sayang ini ayah sudah datang. Ayah datang untuk Dika, ayo buka matamu sayang ." ucap Dion dengan berlinang air mata
"Vina, mama mau pulang kerumah.Mama mau ambil keperluan Dika juga baju ganti untuk Dika. Tadi mama terburu buru baju dan keperluan Dika yang lainnya mama tidak sempat bawa. Kamu jaga Dika dulu, nanti mama cepat kembali ." ucap Ibu Riska, kemudian ibu Riska pamit pulang kepada semua orang yang ada di dalam ruangan.
Kedua mertua Vina juga ikut pamit pulang, mereka takut kemalaman dijalan.
Kini tinggal Vina, Dion dan Dika yang berada didalam ruangan.
Rasa canggung terlihat jelas didalam ruangan baik Dion maupun Vina tidak saling menyapa.
Vina memilih duduk disofa menunggu mamanya kembali dari rumah.
Sekitar Satu satu jam ibu Mega pergi akhirnya kembali sekitar jam 10 malam.
Vina menyuruh mamanya kembali rumah untuk istrahat dirumah. Walau awalnya ibu Riska tidak mau tapi karrna sudah dibujuk Vina akhirnya ibu Mega menyerah.
Yang menjaga Dika tinggallah kedua orangnya. Mereka tidak saling menyapa walau hanya sekadar saling bertegur sapa.
Aq mampir nih, Kak