Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kalimat itu membuat tubuh Aisyah menegang. Kenangan lama yang berusaha ia kubur kembali bermunculan satu demi satu.
Pak Umar melanjutkan perkataannya,
"Waktu itu Ayah hanya bekerja sebagai guru mengaji. Penghasilan Ayah pas-pasan. Bahkan untuk makan sehari-hari saja kita sering kesulitan." Suara pria itu mulai bergetar. "Tapi kamu tetap ingin kuliah." Aisyah menggigit bibir bawahnya. Ia masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.
Pak Umar kembali berkata, "Dan siapa yang waktu itu berkata kepada Ayah, Biarkan Aisyah kuliah, Yah. Salsa yang akan bekerja."
Air mata Aisyah kembali menetes. Nama itu tak perlu disebut, karena ia tahu siapa orangnya. Salsa. Perempuan yang kini masih berlutut di hadapannya.
"Kamu ingat tidak, Salsa menolak beasiswa S2 yang dia dapat. Padahal itu impiannya sejak lama. Dia rela melepaskan semuanya supaya kamu bisa tetap kuliah."
Aisyah memejamkan matanya. Dadanya mulai terasa sesak. Pak Umar seakan membawa Aisyah kembali ke masa-masa yang tak pernah bisa ia lupakan.
Empat tahun yang lalu, hujan turun begitu deras sore itu. Aisyah masih mengenakan seragam SMA ketika pulang membawa surat kelulusan. Ia diterima di universitas negeri yang selama ini menjadi impiannya. Namun, biaya masuknya sangat besar. Ia masih ingat bagaimana dirinya menangis di ruang tamu sambil berkata,
"Yah, Aisyah nggak usah kuliah juga nggak apa-apa. Aisyah bisa kerja. Tolong jangan dipaksakan."
Saat itu, Salsa baru saja pulang bekerja. Begitu mengetahui apa yang terjadi, perempuan itu langsung tersenyum.
"Loh kenapa kamu nangis dek? Aisyah keterima kuliah kan?"
Aisyah mengangguk sambil menangis.
"Tapi kita nggak punya uang." Ucapnya yang membuat Salsa tertawa kecil.
"Siapa bilang nggak punya? Nanti Kakak yang cari. Tapi gaji Kakak juga nggak cukup, ya berarti Kakak cari kerja tambahan."
Semudah itu Salsa mengatakannya. Padahal Aisyah tahu kalau Kakaknya sendiri baru saja diterima bekerja. Namun setelah hari itu, Salsa benar-benar bekerja tanpa mengenal waktu. Pagi hingga sore di kantor, malam harinya menjadi guru les dan akhir pekan menerima pekerjaan administrasi lepas dari rumah. Sering kali saat Aisyah bangun untuk salat tahajud, Ia masih melihat lampu kamar Salsa menyala. Kakaknya belum tidur dan masih sibuk di depan laptop demi menyelesaikan pekerjaan tambahan. Bahkan tidak jarang Salsa tertidur di atas meja dengan berkas-berkas kerjaannya yang masih berserakan. Namun setiap kali Aisyah berkata,
"Kak, istirahatlah."
Salsa hanya tersenyum dan berkata,
"Nanti saja. Kalau Aisyah sudah jadi sarjana, baru Kakak istirahat."
Air mata Aisyah mengalir semakin deras ketika kenangan itu kembali menusuk hatinya. Pak Umar kembali bersuara.
"Kamu juga ingat Aisyah, Berapa kali Salsa menjual barang-barangnya diam-diam supaya uang kuliahmu cukup."
Aisyah menutup mulutnya. Ia ingat, sangat ingat ketika laptop kesayangan Salsa, kalung peninggalan ibunya dan jam tangan hadiah ulang tahun pertamanya, semuanya perlahan menghilang. Dan setiap kali ditanya, Salsa selalu menjawab sambil tersenyum,
"Sudah bosan."
Padahal, Belakangan Aisyah baru mengetahui kalau semua barang itu dijual untuk membayar uang kuliahnya. Pak Umar menatap putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ayah tidak pernah meminta kamu membalas semua pengorbanan kakakmu. Karena Ayah tahu, kasih sayang tidak seharusnya dihitung. Tapi hari ini," Pria itu menarik napas panjang.
"Untuk pertama kalinya, ayah meminta bantuanmu. Bukan demi Ayah, bukan demi keluarga Adhitama, tapi demi kakakmu."
Kalimat terakhir itu membuat air mata Aisyah kembali pecah. Ia menoleh kepada Salsa. Perempuan itu masih bersimpuh, masih menggenggam kedua tangannya, masih menangis tanpa suara dan pemandangan itu benar-benar menghancurkan pertahanan hati Aisyah sedikit demi sedikit.
Lorong rumah itu kembali diliputi kesunyian.
Tak ada lagi suara selain isak tangis yang silih berganti memenuhi udara. Aisyah masih terpaku di tempatnya. Tatapannya jatuh pada sosok perempuan yang sejak kecil selalu menjadi tempatnya bersandar. Perempuan yang kini justru sedang berlutut di hadapannya. Pemandangan itu terasa begitu menusuk bahkan lebih menyakitkan daripada semua perkataan yang sejak semalam ia dengar.
"Kak..." Suara Aisyah bergetar hebat. "Tolong berdiri."
Namun Salsa kembali menggeleng pelan.
Air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Tidak, Dek. Selama kamu belum mau membantu Kakak, Kakak tidak akan berdiri."
Kalimat itu membuat Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat. Ia kembali teringat semua kenangan yang baru saja diungkapkan ayahnya. Kenangan itu datang begitu saja satu demi satu seolah sengaja menghancurkan benteng yang selama ini berusaha Aisyah pertahankan. Air matanya jatuh semakin deras.
"Kenapa?" bisiknya lirih. "Kenapa Kakak selalu mengalah untuk Aisyah?"
Salsa hanya menangis dan tak sanggup menjawab karena baginya, semua yang pernah ia lakukan memang tidak pernah terasa sebagai pengorbanan. Aisyah adalah adiknya, Satu-satunya adik yang sejak kecil selalu ingin ia lindungi. Melihat Aisyah menangis, hati Salsa ikut hancur. Andai saja masih ada jalan lain, Ia bersumpah tidak akan pernah meminta hal sekejam ini kepada adiknya. Namun kenyataannya, Ia benar-benar sudah berada di ujung harapan. Pak Umar mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata.
"Aisyah," Suara itu terdengar lirih."Ayah tidak akan memaksamu. Keputusan tetap ada di tanganmu. Tapi..." Pria itu berhenti sejenak.
"Lihat kakakmu. Lihat bagaimana dia mempertaruhkan harga dirinya di hadapan adiknya sendiri. Selama hidupnya, Salsa tidak pernah meminta apa pun darimu. Ini pertama kalinya."
Kalimat itu seperti pisau yang menusuk tepat ke dalam dada Aisyah. Benar, selama hidup mereka, Salsa memang tak pernah meminta balasan apa pun. Semua yang diberikan kepada Aisyah selalu dilakukan dengan tulus tanpa pernah mengungkitnya, tanpa pernah berharap dibalas. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, perempuan itu memohon bukan sekadar meminta, melainkan memohon sambil bersimpuh di lantai. Aisyah tak sanggup lagi melihatnya. Air matanya mengalir semakin deras. Perlahan ia kembali menggenggam kedua tangan Salsa, tangannya dingin, sama dinginnya dengan perasaannya saat ini.
"Kak..." Suara Aisyah hampir tak terdengar dan membuat Salsa perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka kembali bertemu.
Mata keduanya sama-sama merah, bengkak dan sama sama dipenuhi luka.
"Aisyah," Salsa kembali berbisik. "Tolong Kakak."
Kalimat itu menjadi titik terakhir yang menghancurkan seluruh pertahanan hati Aisyah. Perempuan bercadar itu menundukkan wajahnya, tangisnya pecah sangat lama hingga tubuhnya bergetar hebat.
"Ya Allah," bisiknya lirih."Maafkan aku."
Tak ada seorang pun yang mengerti kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan. Apakah kepada Allah atau kepada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, Aisyah mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya kini tertuju kepada Salsa.
"Kak," Suaranya serak dan kalimat berikutnya terasa begitu berat keluar dari bibirnya, namun akhirnya bisa keluar juga. "Aisyah akan menikah dengan Mas Ammar."
Suasana terasa sunyi setelah Aisyah mengatakan hal itu. Tak ada seorang pun yang langsung bereaksi seolah mereka semua membutuhkan waktu untuk mencerna kalimat yang baru saja terdengar. Aisyah menarik napas panjang sementara air matanya kembali jatuh.
"Aisyah akan membantu Kakak. Jadi," Ia menggenggam kedua tangan Salsa lebih erat.
"Aisyah mohon tolong berdiri. Kakak jangan bersimpuh di hadapan Aisyah seperti ini lagi."