Aileen Grizelle Azalea atau biasa disapa Aileen ini kabur dari rumahnya karena tak mau dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
Saat kabur dari rumah,entah kenapa ia selalu bertemu dengan cowok yang selalu membuat moodnya down.
Hingga pada suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan kedua orang tuanya dan orang tua cowok yang akan dijodohkannya dengannya.Dan mereka kaget karena Aileen kabur tapi malah ditemukan berdua dengan cowok yang akan dijodohkannya.
Setelah itu apakah yang akan terjadi?
Yukkk simak ceritanya...
p.s. Jangan terlalu dianggap serius ceritanya. Ini hanya sebuah fiksi. So, enjoy aja! but, cerita ini masih banyak kekurangan. Dan bagi yang gak suka pernikahan dini, gak usah baca daripada baca tapi berkomentar yang gak enak! Okay?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RiniAngraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah punya suami
Budayakan like sebelum baca...
Happy Reading
.
.
.
"Aileen, bangun!" Vano mengguncangkan bahu Aileen yang masih tidur membelakanginya.
"Hmmm!" Balas Aileen yang enggan bangun dari tidur nyenyaknya.
"Bangun. Kita sholat dulu." Vano tetap berusaha membangunkan sang istri yang kebonya minta ampun.
Namun lagi-lagi dehaman yang jadi balasan. Vano menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi posisi tidur istrinya yang naudzubillah. Seperti tidur lelaki. Bahkan lebih buruk jika lelaki itu Vano.
Tak kehabisan akal, Vano menyalakan lampu kamar yang terang benderang lalu menarik bahu Aileen hingga cewek itu terlentang.
"Arghh! Silau! Gue mau tidur. Matiin lampunya!" rengek Ailen menutup matanya dengan lengannya. Namun lengannya ditarik oleh sang suami. Tak menyerah, Aileen mengambil bantal dan menutup wajahnya. Vano pun tak akan menyerah juga. Pria itu kembali menarik bantal itu.
"Sholat dulu."
"Lo aja sono. Gue masih mau tidur!" Aileen kembali tidur tengkurap.
Vano menghela napas lalu memanggul Aileen seperti karung beras dan membawanya ke dalam kamar mandi. Jika tidak begini mungkin Aileen akan tetap tidur.
"Vanoooo!!!!" Jerit Aileen terkejut ketika ia tiba-tiba merasa kepalanya terbalik. Saat membuka mata, dilihatnya punggung sang suami yang langsung ia hadiahkan pukulan bertubi-tubi.
Vano segera menurunkan Aileen hingga pukulan itu berhenti. Aileen menatap wajah sang suami dengan tangan yang membentuk cakaran. Memang dia sangat ingin mencakar wajah tampan suaminya itu. Tapi ia sayang nanti wajah suaminya yang tampan akan penuh dengan bekas cakaran.
"Sekarang kamu wudhu. Aku tunggu di luar," ujar Vano yang mengembalikan Aileen dari lamunannya.
"Iya iya," balas Aileen dan segera melakukan perintah suaminya.
Sejenak Aileen mengingat kapan terakhir ia sholat. Mungkin terakhir pas sholat Idul Adha. Hal itu tentu saja membuat Aileen meringis. Tapi mulai sekarang sepertinya ia akan melakukan kewajiban itu. Karena sekarang sudah ada yang membimbingnya, yaitu suaminya.
Aileen telah siap dengan mukena warna putihnya. Ia memandang Vano yang juga telah lengkap dengan baju koko dan peci di kepalanya.
Aileen terpana dibuatnya. Aura Vano menguar dengan balutan seperti itu. Terlebih lagi saat ia tersenyum. Rasanya Aileen melting. Lututnya gemetar. Ouh lebay sekali Aileen.
"Aileen?" Panggil Vano membuat Aileen tersadar dan menerjapkan matanya. Aileen segera mengambil posisi di belakang suaminya yang sudah tergelar sajadah. Pasti suaminya yang menyiapkannya. Aileen tersenyum kecil dibuatnya.
Akhirnya mereka sholat dengan Vano yang mengimani. Dengan semilir angin yang lewat di cela-cela jendela yang sedikit terbuka menghiasi kedua insan yang sedang melakukan ibadah itu.
Vano berbalik setelah sholat dan mengulurkan tangannya ke arah Aileen. Hal itu membuat Aileen mengerutkan alisnya.
"Apa?" Tanya Aileen. Beberapa saat ia langsung tersadar dan langsung menyambut tangan suaminya disertai dengan cengiran.
Mata Aileen terbelalak saat Vano menarik pelan kepalanya mendekat. Apa Vano akan mencium bibirnya lagi? Pikir Aileen. Ouh abaikan otak mesum Aileen.
Vano mengecup pelan kening Aileen dengan mata terpejam. Aileen ikut memejamkan matanya merasakan kecupan itu. Ouh rupanya romantisme setelah pernikahan tak kalah yang pacaran di luaran sana. Malah lebih baik karena sudah sah.
Aileen tersenyum manis saat Vano telah menjauhkan kepalanya. Tapi senyuman itu berganti ringisan saat mengingat apa yang dipikirkannya tadi. Mencium bibirnya? Mesum sekali dirinya.
xxx---
Mulai hari ini Vano dan Aileen sudah kembali sekolah.
Jam sudah menunjukkan pukul 6.33. Aileen dan Vano telah siap dengan pakaian sekolah mereka. Aileen segera mengambil tasnya dan meraih lengan Vano untuk turun sarapan.
Mereka disambut sapaan dan senyuman oleh kedua orang tua Aileen. Apa lagi Vina, dia sangat senang melihat pandangan di pagi ini. Yaitu ketika Vano dan Aileen begitu mesra memasuki ruang makan. Ia semakin tidak merasa bersalah atas tindakannya yang menjodohkan mereka.
"Ma, Pa, Vano sama Aileen berangkat dulu," pamit Vano mencium kedua tangan mertuanya setelah sarapan yang diikuti Aileen.
"Iya. Hati-hati di jalan ya. Semangat juga belajarnya," balas Vina tersenyum senang.
Vano sudah akan beranjak keluar namun ia mengurungkan niatnya saat Aileen mengadahkan tangannya ke arah Vina dan Bagas.
"Uang jajan," ucap Aileen menggerak-gerakkan jarinya yang meminta uang.
Bagas baru saja mau merogoh dompetnya namun suara Vano menahannya.
"Nggak perlu, Pa. Biar Vano yang kasih," tukas Vano menarik tangan Aileen.
Aileen memandang Vano dengan tatapan protes. Namun Vano hanya memandang lurus ke arah Bagas. Sama sekali tak melirik Aileen.
"Tidak apa-apa Vano," balas Bagas melanjutkan niatnya yang tertunda tadi.
"Nggak, Pa. Sekarang Aileen adalah tanggung jawabku karena ia adalah istriku. Jadi biar Vano saja. Alhamdulillah Vano punya penghasilan kecil dari kafe," tolak Vano halus.
Bagas dan Vina tersenyum mendengarnya. Sungguh beruntung mereka memiliki menantu seperti Vano. Tak sia-sia mereka menjodohkan Vano dan Aileen. Vano akan menjadi imam yang baik.
"Yasudah. Tapi kalau kalian butuh apa-apa jangan sungkan bilang sama Papa dan Mama ya," balas Bagas.
"Iya, Pa. Kalau begitu kami berangkat Pa, Ma," pamit Vano sekali lagi lalu menarik Aileen dengan lembut keluar rumah.
Selama diperjalanan menuju sekolah hanya dihiasi keheningan. Sejak kejadian di ruang makan tadi Vano belum mengeluarkan suara sepata kata pun.
"Apa Vano marah?" Batin Aileen melirik Vano di ujung matanya. Tak ada ekspresi marah atau menahan emosi. Hanya wajah datar yang dilihatnya. Tak ada ekspresi apapun. Hal itu membuat Aileen menghembuskan napasnya dengan berat.
Apa salah jika ia meminta uang pada papanya? Toh papanya juga tak masalah. Tapi kenapa Vano mempermasalahkan itu? Bukankah jika Aileen meminta uang pada papanya, Vano jadi bisa menyimpan uangnya. Tak perlu memberikannya pada Aileen.
Aileen bingung saat ini. Ia sama sekali tak mengerti dengan pemikiran orang-orang yabg dewasa. Ia hanya gadis yang berusia 17 tahun. Masih remaja yang labil dan keras kepala.
Namun dinikahkan oleh kedua orang tuanya. Disaat ia masih ingin menikmati masa remajanya. Bagaimana ia bisa menjadi sitri yang baik. Aileen saja tak ada pemikiran untuk menikah di usia sedini ini. Ia tak tau bagaimana harus menjadi istri yang baik. Bagaimana mengurus rumah tangga. Bagaiman cara menyelesaikan masalah rumah tangga. Bagaimana mengatur keuangan rumah tangga. Semuanya Aileen tak bisa.
Kenapa Aileen serba salah? Ia dituntut ini itu tanpa diizinkan mengutarakan isi hatinya? Mengapa semua orang tak memikirkan perasaannya? Aileen bertindak sesuai keinginannya yang dirasa benar. Jika ada yang salah, Aileen hanya ingin mereka mengatakannya dengan baik-baik. Tak usah tersirat yang harus membuat Aileen kesulitan mencari tahu maknanya.
-TBC-
Haloo semua. Jangan lupa like, vote, & favorit ya. 1 like dari kalian sangat berharga.
See u next part :*
di hp dulu x ya... 🤗🤗🤗
padahal disini dy yg paling nyebelin