Bahagia. Satu kata, sarat makna yang belum pernah dikecap oleh seorang Anastasya. Berkubang dalam lara, hingga gadis itu lupa akan arti bahagia.
Kisah ini bagian dari Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Make Over
Seorang gadis dalam pembaringan mulai menggeliat, meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku. Sepasang netranya menggerjap, sesekali ia tampak menguap lebar. Anastasya melirik kesela jendela kaca dengan tirai sedikit terbuka. Terlihat jika langit masih dalam keadaan gelap.
Anastasya mulai bangkit dan menurunkan kaki polosnya menyentuh lantai. Kepalanya sedikit terasa pusing, mengingat semalam gadis itu tak mampu memejamkan mata hingga pagi menjelang. Entah mengapa, meski berusaha abai, nyatanya apa yang terjadi pada Sarah semalam membuatnya tak henti bertanya-tanya.
Melangkah gontai, Anastasya mulai mengiring tubuh menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selepas sepuluh menit, gadis itu pun keluar dengan handuk yang masih terlilit di tubuh. Dipilihnya satu stel pakaian lusuh, namun masih layak untuk dikenakan.
Selama beberapa bulan hidup dan bekerja di kota, meski pun memiliki penghasilan nyatanya Anastasya tak semena-mena mengunakan uang jerih payahnya untuk menyenangkan diri sendiri. Gadis itu lebih memilih untuk mengirim sebagian besar gajinya untuk keluarga di kampung. Kemudian sisanya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup di kota. Hingga kini pun pakaian yang ia miliki tak lebih dari pakaian-pakaian lusuh yang ia bawa dari kampung.
Setelah berpakaian rapi, Anastasya keluar dari kamar dan menuju kearah dapur. Akan tetapi ia masih tak menemukan keberadaan bi atun di sana. Mengingat hari yang masih pagi, mungkin saja bi atun memang belum bangun dan memulai pekerjaan.
Anastasya pun berinisiatif untuk membersihkan seluruh ruangan sembari menunggu Bi Atun bangun. Tangan kecilnya bergerak lincah mengayunkan sapu dan juga alat pel, hingga ruangan yang semula tampak kotor kini bersih sempurna.
"Ana, kau yang mengerjakan semuanya?" Atun terperangah. Antara senang juga malu. Bagaimana tugasnya, justru Anastasya_lah yang mengerjakannya.
Gadis itu tersenyum tipis, menatap kearah Atun dan menyimpan alat pel ketempatnya semula.
"Tidak apa-apa bi. Hitung-hitung olahraga."
Melihat Atun yang masih terpaku ditempatnya, Anaatasya pun menarik tangan perempuan paruh baya itu menuju dapur.
"Bibi ingin membuat sarapan? Yuk, Ana bantu." Gadis itu tersenyum kearah Atun, yang mana membuat perempuan paruh baya itu kian tak nyaman.
"Ana, jangan seperti ini. Kau tamu di rumah ini, dan seharusnya akulah yang melayanimu." Terhitung beberapa hari setelah memasuki apartemen Sarah, seluruh tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya, justru lebih separuhnya dikerjakan oleh Anastasya. Atun tak enak hati, bagaimana pun ia tak ingin menguras tenaga Anastasya, meski ia tau jika gadis itu sengaja ditampung sang majikan di apartemennya untuk sementara waktu.
"Hust, apa yang bibi katakan. Lagi pula, membersihkan rumah sudah menjadi rutinitasku selama ini."
Atun tak menjawab. Memilih diam sebab tak ingin berdebat dengan Anastasya.
Bel aparetem berbunyi. Atun bergerak menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
"Spadaaa," sapa salah satu pria yang muncul dari balik pintu yang terbuka.
Atun terkesiap. Selepasnya ia hanya menghela nafas dalam dan memberi ruang cukup lebar untuk jalan para tamu majikannya.
"Silahkan tuan dan nona."
"Terimakasih." Seorang pria setengah wanita itu berjalan anggun memasuki ruangan sementara satu tangannya menggadeng sang teman wanita yang datang bersamanya.
"Bi Atun, mana gadis itu?" Pria setengah wanita itu tampak celingukan mencari keberadaan seseorang.
"Maksud tuan, Ana?"
Tak menjawab, pria itu justu mengarahkan jari telunjuknya ke bibir atun.
"Bi atun, berhenti memanggilku tuan," sunggut pria itu sembari memanyunkan bibir.
"Baik Inces, eh maksud saya non Inces." Atun bahkan nyaris muntah menyebut namanya.
"Hahaha, itu baru benar." Inces bahkan menunjukkan dua jempol tangannya.
"Ah sudahlah. Aku ingin mencari gadis itu sekarang." Perempuan yang datang betsama pria setengah wanita itu mulai bicara.
"Oh, Ana di dapur. Dia sedang membantu saya memasak."
"Apa! Memasak?" Ucap keduanya tak percaya.
****
"May, apa kali ini kau yakin dengan gadis pilihan Sarah?" bisik Inces di telinga maya. Sementara pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sudah cukup mahir berlenggak lenggok di depan dinding kaca.
"Entahlah." Menjawab datar, Maya bahkan sulit berpendapat.
Maya yang merupakan Asisten pribadi Sarah, tak begitu tau dengan rencana yang tengah Sarah lancarkan. Memang selama beberapa tahun bekerja pada Sarah, model itu kerap menarik beberapa model lokal pendatang baru untuk diorbitkan menjadi modek terkenal, ya tentunya jika nasip para gadis-gadis itu mujur.
Memang tak semua gadis bimbingannya akan memiliki karir yang cemerlang, namun Sarah pun mendapatkan konpensasi andaikata gadis-gadis itu mampu menembus kancah dunia permodelan dan mendapatkan banyak kontrak dengan rupiah yang menggiurkan.
Maya menelan saliva berat. Ia menatap nanar gadis yang masih sangat polos itu. 'Benarkah gadis itu akan bertahan'?. Maya yakin jika gadis itu tak tentang konsekuensi yang akan ditanggung, andaikata ia benar-benar akan menjadi bintang yang bersinar kelak.
Hidup dalam lingkungan dunia model, tak semudah yang kebanyakan orang bayangkan. Populer, dan bergelimang harta. Nyatanya, itu hanyalah satu sisi, diantara banyak sisi lain yang hanya mampu dipahami orang tertentu saja.
'Hidup itu keras' Satu slogan yang mampu membuat Maya tersenyum miring saat mendengar kalimat yang kerap terucap dari bibir Sarah.
Ah sudahlah, bukankah gadis ini yang menjadi tugasnya kini.
"Cess, kau lihat penampilannya?"Aya mengarahkan pandangannya pada Incess seolah meminta persetujuan.
"Hem."
"Apa kau juga berfikir untuk mengubah penampilannya?"
"Tentu!" sambar Inces cepat seraya bangkit dari posisinya.
Maya yang terkesiap, nyaris terjungkal dari kursinya.
"Sialan kamu. Biasa aja, ga usah gitu juga," gerutu Maya menahan amarah.
"Nah tunggu apa lagi, cap cip cus." Inces memutar badan, mengayunkan langkah kearah Anastasya dengan senyum merekah.
Maya hanya mampu menatap nanar pantat kempes yang sengaja digeol-geol tak beraturan oleh pemiliknya.
"Dasar waria," gumam Maya dengan memanyunkan bibirnya.
*****
"Tuan, bagaimana hasilnya." Seorang perempuan yang dipercaya merombak penampilan Anastasya, meminta penilaian.
Inces dan Maya tercengang. Akan tetapi, dari awal pun keduanya sudah meyakini jika Anastasya sudah cantik meski hanya diberi sentuhan sedikit saja.
"Waw, Am.. am.. amazing." Inces bertepuk tangan riang. Sementara Maya tak menunjukan ekspresi berlebih.
"Ya tuhan, Maya. Apa kau tak berniat memujinya?" sungut Inces tak terima. Kenapa harus dia yang marah, sementara Anastasya hanya diam saja.
"Kenapa? Aku kan sudah bisa menilai jika memang dia sudah cantik tanpa dipermak. Tidaj seperti dirimu yang wari wiri di dunia per permakan, tapi hasilnya? Nol."
Inces melotot. Hendak menelan Maya hidup-hidup.
"Heh, biasa aja. Ga usah marah. Terima kodratmu sebagai laki-laki, bukan banci," ucap Maya ketus seraya merebut paper bag berisi pakaian ganti Anastasya dari tangan inces.
Tubuh Inces melemah, serasa tanpa tulang. Ia merosot, kakinya serasa tak mapu menahan bobot tubuh. Ia bersimpuh mengenaskan di atas lantai. Berusaha abai saat beberapa pasang mata terbelalak dan bersimpati dengan ulahnya. Namun tak jarang, pengunjung salon justru tergelak dan geleng-geleng kepala.
"Ya tuhan, apa salahku. Aku hanya ingin terlihat cantik seperti mereka." Sesekali inces melirik kearah Maya yang meninggalkannya. Ia berharap jika gadis itu akan menghampiri, menenangkan dan mengusap air matanya.
"Ces, bangun! Bikin malu aja, kamu ga malu jadi bahan tontonan? Bagusan juga lihat topeng monyet, dari pada lihat tangisan buaya kamu." Tak ambil pusing, Maya justru meminta pada Anastasya untuk mengganti pakaiannya.
"Sialan kamu maya, dasar ga ada ahlak. Udah lelah pikiran, lelah hati, tapi kau tetap tak menganggapku ada." Sesekali Inces mengusap buliran bening di wajah dengan gerakan slow motion, seolah-olah dirinya menjadi pihak yang tersakiti. Capek berakting dengan tangis buayanya, mau tak mau inces pun bangkit. Terlebih saat didapati tatapan pengunjung salon yang memandangnya aneh.
"Apa lihat-lihat, emang aku pisang. Monyet lo..." Inces terlebih dulu menjulurkan lidah kearah beberapa pasang mata yang menontonnya, sebelum lari terbirit-birit menemui Maya di ruang ganti.
*****
"Bagaimana, cantik bukan?"
Lagi-lagi Inces terhipnotis. Bibirnya refleks terbuka, memindai penampilan Anastasya.
"Astaga. Mingkem dong. Entar keselek nelan nyamuk." Maya menarik lembut tangan Anastasya untuk keluar dari ruang ganti.
"Ya tuhan, Ana. Kau terlihat lebih segar," puji inces selepas mengelap liur dari sudut bibirnya yang sempat terbuka.
"Inces, kau bahkan sampai terliur. Apakah ini tanda-tanda kau akan insaf dan kembali kekodratmu?"
Inces gelagapan. Sementara Anastasya dan Maya justru tergelak kencang.
"Sialan."
Akan tetapi, tak dipungkiri penampilan Anastasya kini terlihat lebih segar. Meski hanya menggunakan pakaian sehari-hari.
Bersambung
tetap semangat utk terus berkarya 💪💪😍😍😍
ditunggu kelanjutan kisah mereka 😍😍😍
lanjut kak 🙏💖💖💖
semangat 💪💪
makasih up nya kak...tetep semangat 💪💪💪