Mentari Handoyo, seorang putri angkat dari Mirna Arzeta Wijaya. Ia harus menyembunyikan identitas aslinya dari Laura, putri kandung Mirna. Mentari bekerja sebagai seorang pengasuh untuk mengelabui kakak angkatnya itu.
Ia hanya menandatangani surat kontrak kerja selama setahun. Siapa sangka, ia terjebak dalam jeratan ayah dari anak yang diasuhnya. Waktu setahun itu bertambah panjang, karena ia melakukan pernikahan kontrak dengan sang majikan.
Siapa sebenarnya Mentari? Mungkinkah mereka bisa saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu!
Wanita yang memakai jaket hoodie itu menghadang taksi. Ia meminta sang sopir membuka pintu, lalu melempar sopir itu keluar dari mobil. Wanita misterius itu mengambil alih kemudi. Ia menutup mulutnya dengan masker hitam senada dengan warna jaket.
"Siapa kamu? Apa yang kau mau?" tanya Tari sambil berusaha membuka pintu. Namun, sialnya, pintu itu sudah dikunci oleh wanita misterius yang wajahnya ditutup masker.
Tari melirik wanita itu dari kaca spion. Meski wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi ia mengenali sorot mata penuh dendam itu. Dengan was-was, ia memberanikan diri memanggil wanita itu.
"Kak … Laura," panggil Tari dengan suara bergetar. Ia berharap kalau ia salah sangka. 'Wanita itu pasti bukan kak Laura. Aku hanya salah menebak.' Ia berusaha menghilangkan prasangka buruknya tentang Laura.
"Ternyata kau bisa mengenaliku meski aku memakai masker."
Jedarr!
Kilat menyambar bumi, gemericik air hujan mulai turun, membasahi kaca mobil taksi yang entah akan dibawa kemana oleh Laura. Tari tidak menyangka, kakak angkatnya bisa berbuat segila ini. Ia mengambil ponsel diam-diam dan menghubungi kontak darurat nomor satu dengan nama 'Laki-laki brengsek'.
Tari menyembunyikan ponselnya di belakang punggung. Panggilan itu sudah terhubung, tapi Tari sengaja mengecilkan volume suara telepon agar Laura tidak mendengar suara Will dari ujung telepon lainnya. Ia merasa dirinya akan menghadapi bahaya yang tidak biasa.
"Kakak … mau membawaku kemana?"
"Yang pasti sejauh mungkin dari William," jawabnya sambil melepas masker dan melirik ke arah Tari sambil menyeringai.
"Apa maksud, Kakak?" Tari semakin bingung saat wanita itu membawa nama suami kontraknya.
"Aku mencintai William sejak lama, tapi dia justru bertunangan dengan Sarah, sahabatku. Yang membuatku semakin marah adalah kamu! Kenapa dia tiba-tiba menikahi kamu? Kamu hanya anak pungut, jelek, pendek. Apa yang dilihat William dari gadis sepertimu?
"Aku lebih cantik, lebih pintar, lebih tinggi, lebih kaya darimu. Tapi, kenapa dia justru tertarik padamu. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya," ucap Laura panjang lebar dengan penuh emosi.
"Ja-jadi …."
"Ya. Aku akan membuangmu jauh dari sisi William dan aku akan menggantikan posisimu. Haha …."
***
"Maafkan papa, Will. Papa tidak tahu kalau Sarah wanita seperti itu."
"Papa tidak salah. Papa hanya ingin membalas budi kepada penyelamat hidup Papa. Tapi, ada banyak cara untuk membalas budi. Maaf, Will tidak bisa mengikuti keinginan, Papa. Selama beberapa bulan ini, Will terus mencari tahu tentang kehidupan Sarah, tanpa sepengetahuan, Papa."
"Tidak apa-apa. Papa tidak marah. Papa hanya ingin kamu bahagia dan menikah lagi. Tidak disangka, calon yang papa pilihkan tidak sesuai dengan harapan."
Ponsel yang tadi diberikan kepada ayahnya itu, berada di tangan Jono. Dengan tergesa-gesa, laki-laki itu memberitahukan kepada William dengan suara pelan. Ia takut sang tuan besar mendengar dan tidak setuju dengan pernikahan rahasia Will dan Tari.
Wajah William merah padam mendengar laporan dari Jono. Dirga melihat kemarahan, kecemasan, dan kekalutan di wajah putranya. Dirga tahu, ada yang tidak beres dengan putranya.
"Ada apa? Kenapa kalian berbisik-bisik?"
"Will akan jelaskan nanti, Pa. Will ... harus pergi menyelamatkan istri Will." William menjawab sambil menelepon Pramuda. "Bawa anak buah sebanyak mungkin menuju jalan utama di barat kota!"
"Istri? Kamu benar-benar sudah menikah, Will?" tanya Dirga dengan wajah tak percaya.
"Will harus pergi, Pa!" William menjawab sambil masuk ke mobilnya. Ia tidak bisa membiarkan istrinya menunggunya terlalu lama. Will takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Tari, gadis yang diam-diam sudah mencuri hatinya.
***
Laura membawa mobil itu terus melaju menuju luar kota. Ia tidak tahu jika ponsel Tari terus aktif, sampai terdengar suara baterai ponsel itu lemah. Ia berhenti dan merampas ponsel itu, lalu melemparnya keluar.
"Mau meminta bantuan kepada suamimu? Jangan bermimpi!"
Wanita itu belum tahu, kalau ada helikopter yang sedang terbang mengikutinya. Will terlalu panik dan takut, baru ia meminta Pramuda mengirim helikopter yang bisa mengejar lebih cepat. Will dan beberapa orang yang pandai bertarung, duduk di belakang sang pilot.
Laura terus melaju sampai ia tiba di sebuah tebing jurang yang terjal. Bisa dipastikan, jika Tari dilempar kesana, gadis itu pasti akan mati dan tubuhnya hancur berserakan. Wanita itu menyeret Tari keluar dari mobil taksi. Sementara sang pilot helikopter sedang kebingungan mencari lahan terbuka untuk menurunkan Will.
*BERSAMBUNG****
Waduh! Bagaimana dengan Tari dong?
Simak kisah selanjutnya, ya Reader. Terima kasih.
next chap.. jgn terlalu panas thor.., diluar cuaca nya udh panas.. 😁😁
dear Laura.., knp Will milih Tari.., krn hati nya Tari putih bersih jd terpancar di aura nya.. sementara lau.. hati lau hitam kotor penuh dengki.. jd nya aura lau tuh gelap.. 😡😡
#readersebel (😂😂)
semangat othor.. ☕
bakalan malu tuh si model karbitan.. 😁😁
ayo thor.. lanjut.. 😍😍
tengah hari dibikin makin panas.. hahay.. 😂
mmng yg paling enak itu belah duren yg jatuh dr pohon nya.. (bkn terpaksa) 😁😁
kuy.. ditunggu bunyi gedebuk nya duren yg jatoh.. 😅😅
btw, gimana reaksi ayah nya william.. klo tau anaknya nikah dgn wanita lain yg bkn pilihan nya.. 🤔🤔
next>> 😁
GPL yak.. 😁😁 pinisirin nih.. 🙈