Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 - Pesan dari Masa Lalu
Alea menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Dua pesan.
Dua orang yang berbeda.
Dua peringatan yang saling bertolak belakang.
> **Lea, aku harus bicara soal suamimu. — Nadira**
Dan...
> **Jangan temui Nadira. Dia sedang memancingmu.**
Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Siapa yang mengirim pesan kedua?"
Nomor itu tidak tersimpan di kontaknya. Saat ia mencoba menelepon balik, suara operator langsung terdengar.
> "Nomor yang Anda tuju sudah tidak aktif."
Alea menggigit bibir bawahnya.
Semuanya terasa semakin rumit.
Baru beberapa hari menikah, hidupnya seolah berubah menjadi teka-teki yang tak berujung.
---
Di sisi lain kota...
Raka baru saja keluar dari sebuah gedung tua yang sejak pagi menjadi lokasi penyelidikan.
Komisaris Adrian berjalan di sampingnya sambil membawa sebuah map berisi salinan dokumen.
"Kita terlambat beberapa jam."
Raka mengangguk pelan.
"Mereka sudah membersihkan hampir semua jejak."
"Kecuali satu."
Adrian mengeluarkan sebuah foto buram hasil rekaman CCTV.
"Orang ini."
Raka menerima foto itu.
Wajah pria dalam gambar tidak terlihat jelas karena mengenakan topi dan masker.
Namun ada satu benda yang menarik perhatian.
Cincin hitam bermotif burung garuda.
Raka mengepalkan foto itu.
"Cincin yang sama..."
"Aku juga berpikir begitu," sahut Adrian.
"Mereka mulai muncul lagi."
Suasana mendadak hening.
Beberapa tahun lalu, cincin itu hanya dikenakan oleh orang-orang yang berada di lingkaran dalam sebuah organisasi yang selama ini mereka selidiki.
Organisasi yang diduga terlibat dalam penggelapan dana, pencucian uang, dan kematian beberapa saksi penting.
Kalau mereka mulai bergerak lagi...
Artinya permainan baru saja dimulai.
---
Sementara itu, di rumah...
Alea akhirnya memutuskan membalas pesan Nadira.
> **Apa yang ingin kamu bicarakan?**
Balasan datang kurang dari satu menit.
> **Jangan lewat telepon. Kita bertemu sore ini. Sendirian.**
Alea menatap pesan itu cukup lama.
Logikanya mengatakan untuk menolak.
Namun hatinya belum bisa menerima semua pengkhianatan yang terjadi tanpa mendengar penjelasan langsung.
"Kalau aku tidak datang..."
"Mungkin aku akan terus bertanya-tanya."
Ia menghela napas panjang.
Lalu mengetik satu balasan.
> **Baik. Di mana?**
---
Menjelang sore...
Raka pulang lebih cepat dari biasanya.
Ia langsung menyadari rumah terasa sepi.
"Alea?"
Tidak ada jawaban.
Di meja makan hanya ada secarik kertas.
> **Aku keluar sebentar. Tidak akan lama.**
Raka mengernyit.
Bibi Maya keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah.
"Kalian berpapasan?"
"Tidak."
"Tadi Alea bilang mau ketemu teman."
Raka langsung menoleh.
"Teman?"
"Iya."
"Dia kelihatan sedikit gugup."
Perasaan tidak enak tiba-tiba muncul.
Raka segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alea.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tetap sama.
Saat itulah ponselnya bergetar.
Pesan dari Adrian masuk.
> **Kami menemukan aktivitas nomor milik Nadira. Dia baru aktif lagi hari ini. Hati-hati.**
Wajah Raka berubah tegang.
"Nadira..."
Ia langsung mengambil kunci mobil.
"Bibi, kalau Alea menghubungi, bilang aku sedang mencarinya."
Tanpa menunggu jawaban, ia berlari keluar.
---
Di sebuah kafe kecil yang berada di pinggir danau...
Alea duduk di dekat jendela.
Tangannya menggenggam cangkir teh hangat yang sejak tadi belum diminum.
Sudah hampir lima belas menit ia menunggu.
Hingga akhirnya...
Seorang perempuan dengan topi dan masker memasuki kafe.
Begitu duduk di hadapan Alea, perempuan itu perlahan melepas maskernya.
"Nadira..."
Wajah perempuan itu tampak jauh berbeda.
Lebih kurus.
Matanya sembap.
Seolah sudah lama tidak tidur nyenyak.
"Aku tahu kamu membenciku."
Suara Nadira bergetar.
"Aku tidak datang untuk minta maaf."
"Lalu?"
"Aku datang untuk menyelamatkanmu."
Alea tertawa hambar.
"Menyelamatkanku?"
"Setelah menghancurkan hidupku?"
Nadira menundukkan kepala.
"Aku pantas dibenci."
"Tapi kali ini... tolong dengarkan aku."
Ia membuka tas kecil yang dibawanya.
Mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam.
Lalu mendorong benda itu ke arah Alea.
"Di dalam sini ada semua jawabannya."
"Jawaban tentang Arga."
"Jawaban tentang ayahmu."
"...dan jawaban tentang siapa sebenarnya Raka."
Alea membeku.
"Kenapa kamu memberikannya kepadaku?"
Karena kalau aku tidak melakukannya sekarang...
Nadira menoleh ke arah luar jendela dengan wajah pucat.
"...besok mungkin aku sudah tidak hidup lagi."
Belum sempat Alea mencerna ucapan itu...
**BRAK!**
Suara benturan keras terdengar dari luar.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan kafe.
Empat pria berbadan besar turun dengan tergesa-gesa.
Salah satu dari mereka menunjuk ke arah jendela.
"Itu mereka!"
Wajah Nadira seketika kehilangan warna.
"Mereka menemukanku..."
**Bersambung...**