“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Ini Salah
“Lala! Masuk ke dalam mobil!” Titah Iren kepada Lala dengan mata sembab dan jauh dari kata rapi. Padahal, sebelum berangkat sekolah Iren sudah memastikan anaknya siap segalanya.
Nasya tidak bisa berbuat apa-apa jika saat ini harus melepaskan Lala. Meskipun, dia sangat mengkhawatirkan kondisi mental Lala yang tertekan lantaran foto dan juga hinaan dari teman-temannya. Lala yang selalu menjadi penurut apa yang Iren katakan hanya bisa melangkah berat menuju mobil.
“Mama jangan marah ya ke Tante Nasya. Salah Lala yang membolos sekolah,” ujar Lala.
“Sudah tahu membolos itu salah, tapi masih Lala lakukan. Kamu tidak perlu ikut campur, Lala. Sekarang masuk dan pikirkan baik-baik mengenai kesalahanmu!” jawab Iren dengan tatapannya yang selalu serius.
Nasya meminta nomor Iren kepada Elgan untuk dihubungi. Elgan pun terkejut mendapat kabar Lala sedang bolos dari sekolah. Nasya tidak memberitahu alasannya pada Elgan, dia pun tak bertanya banyak selagi bertemu dengan Reina.
“Hal yang menimpa padaku, apa karena pertemuan kita imi, ya? Padahal, aku selalu berusaha menjadi yamg terbaik. Tetapi terbaik juga tidak menghasilkan hasil yang baik,” kata Iren.
“Apakah harus menyalahkan aku atas hal-hal buruk yang terjadi pada keluarga kalian? Bahkan, anak seusia Lala pun harus diajarkan sempurna tanpa kalian orangtua tahu keadaannya di sekolah. Dulu aku pernah jadi tempat curhat anak seperti Lala saat bekerja jadi tutor privat. Dia lagi gak baik-baik aja, dia perlu pendampingan khususnya orangtua,” jelas Nasya yang sangat cemas dan tidak ingin terjadi apa-apa.
Iren tertawa getir mendengarnya. “Sok tahu kamu! Untuk terakhir kalinya, jangan pernah dekati Lala meski satu langkah! Dan jangan sampai Kak Elgan dan keluarga tahu kejadian hari ini. Jika itu terjadi, aku akan pastikan hidupmu gak akan pernah tenang meski sehari!” Iren beranjak pergi dari tempatnya dan meninggalkan Nasya dengan amarah besar.
“Egois banget, sih,” gumam Nasya berdecih kesal.
***
Nasya membawa dua plastik besar hasil dirinya berbelanja di pasar. Masih menggunakan ojek untuk melanjutkan perjalanannya. Namun, Nasya menangkap sesuatu di perjalannya. Tadi Nasya mendengar suaminya sedang dikantor bersama mantannya. Saat ini, dia tidak sengaja melihat Elgan bersama Reina masuk ke suatu kafe.
Nasya mengalihkan pandanganya. Meskipun, pikirannya mulai terganggu. Dengan apa yangtelah dilalui bersama, Nasya takut dengan perasaannya. Seharusnya, menempatkan pernikahan ini hanya sebatas pekerjaan.
“Sudahlah, Nasya. Tugasnya hanya sebatas memanas-manasi mantannya. Wajar jika mereka nantinya bersama kembali,” batin Nasya.
Sesampainya di rumah, Nasya mengetuk pintu rumah yang lumayan lama dia tinggal setelah menikah. Orang yang pertama kali dilihatnya, bukan ibu maupun adiknya. Melainkan ada Revan yang tersenyum menatap Nasya.
“Ternyata kamu beneran pulang. Ibu ada di dalem, lagi masak. Aku usah dari tadi nungguin kamu. Sekarang emang lagi gak di rumah, ya? Kerjanya jauh?” kata Revan terlihat bersemangat.
“Apa hubungannya sama kamu, sih, Van? Aku mau kemana dan dimana juga. Minggir aku mau masuk,” jawab Nasya dingin.
Revan sigap mengambil kedua kantong plastik yang memenuhi kedua tangan Nasya. Hendak dipertahankan, tapi kekuatan Revan lebih besar sehingga Nasya membiarkannya. Revan ikut masuk ke dapur mengikuti langkah Nasya.
“Buk, kok nunggu Nasya sih? Biar Nasya bantuin,” ujar Nasya.
Mira menoleh ke arah sumber suara. “Loh, udah dateng. Gak papa, Ibu kan kerjaannya cuma gini-gini aja. Kamu kok banyak banget sih belanja? Apalagi sayuran tuh banyak di kulkas. Ibu loh baru aja ke pasar dianter Revan tadi,” balas Mira.
Nasya tersenyum sekilas. Baru kali ini dia mendengar bahwa ibunya sudah belanja banyak dan bahkan punya kulkas yang tidak perlu menunggu diminta sudah ada isinya penuh. Dulu sebelum dirinya menikah, perkara hal-hal kecil selalu menjadi masalah. Beras habis, sayur yang lebih sering itu-itu saja, sibuk menyisihkan uang, dan apapun itu selalu meminta pada Nasya jika yang ibunya kurang.
“Buk, ini Revan taruh atas meja, ya. Revan tunggu di luar, mungkin Nasya masih mau istirahat atau gak mau nemenin Ibu,” ujar Revan yang memberi ruang keduanya.
Mira mengangguk. “Iya, makasih, ya.”
Nasya mendekati ibunya. “Ibu kenapa biarin Revan kesini? Ibu kan tau kalau aku udah nikah. Ibu gak kasih tau Revan?” Nasya mengatakannya begitu pelan.
“Iya biarin, lah. Adanya Revan, Ibu juga terbantu. Dia sering kesini nanyain kamu, tapi gak Ibu jawab. Kadang anterin Raya sekolah, sering juga ngasih uang jajan. Lagipula, kamu bilang waktu itu kalau nikahnya cuma setahun. Berarti nanti kan balikan lagi sama Revan, Nas,” balas Mira dengan sangat mudah mengatakannya, tapi tidak tahu konsekuensi yang akan Nasya tanggung.
Nasya tidak ingin berkomentar lagi. Dia akan tetap salah memberikan pendapat. Seperti waktu yang sudah berlalu, ibunya marah dan tersinggung padanya. Nasya tidak ingin mengulanginya. Tugasnya saat ini yakni membuat Revan menjauh sejauh-jauhnya dari keluarga dan kehidupannya.
Menjelang sore, Revan yang masih ikut makan bersama dengan keluarga Nasya masih menunggu waktu untuk mengobrol. Selain itu, Nasya juga masih sibuk menemui bapak dan berbincang pada Raya. Setelahnya, Nasya hendak berpamitan pulang. Bisa gawat jika dirinya pulang telat. Apalagi, kalau sudah ada mertuanya yang mendadak saja datang. Pasti akan sangat merepotkan.
“Nasya, ayolah kasih aku waktu untuk ngobrol sama kamu. Aku kangen, pingin ketemu, tapi Ibu kamu gak mau kasih tahu keberadaan kamu sekarang. Aku sayang Nasya sama kamu. Kenapa kamu gak mau kasih aku kesempatan sekali lagi,” pinta Revan yang membujuk.
“Van, kesempatan itu kayak kemustahilan. Takutnya nanti kalau kita bareng lagi dan aku punya temen deket. Kamu bakalan ngelakuin hal yang sama? Masih mau ke jenjang serius? Aku, nggak!” jawab Nasya.
Bohong bagi dirinya sudah bisa melepaskan Revan sepenuhnya. Namun, dia juga harus mempertimbangkan banyak hal. Selain dia hanya menikah kontrak, dia tetap sudah bersuami. Nasya ingin menjaga semuanya dengan baik sebelum kontraknya selesai.
“Yaudah, aku jujur. Mungkin selama ini aku gak mau hubungan kamu sama Cika renggang kayak sekarang. Apa boleh buat kalau udah begini. Kenapa aku mau sama Cika, dia ancem aku, Nasya. Dia mau nyakitin dirinya. Dia ngerasa sendiri, apalagi waktu ibunya meninggal. Kamu inget kan waktu itu, dia sangat terpuruk,” jelas Revan.
“Oh, jadi sejak saat itu juga? Kenapa kamu gak hubungi aku dan malah kamu langsung yang kesana? Alasan kamu itu susah diterima. Kita udah gak ada hubungan, jadi jauhi keluargaku. Cukup, Van.” Nasya melangkah menjauh, tapi dari belakang Revan mengejarnya dan memeluknya.
Nasya terdiam di tempat, pelukan yang pernah dia rasakan saat dirinya terjatuh dari segala keadaan yang memuakkan. Pelukan yang hampir didapatkannya saat pulang kerja di jemput Revan. Dia selalu memberi kejutan dari belakang, bilang tidak bisa tetapi tetap datang menjemput Nasya. Ingatan itu kembali mengulang masa cintanya dengan Revan.
“Aku harus apa biar kamu percaya, Nasya?” bisiknya di dekat telinga Nasya.