Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.
Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.
Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Hamil
"Iya Mas nggak papa... iya, waalaikum salam."
Seiring hilangnya suara Aryo layar ponselnya pun berubah gelap. Di tatapnya persekian detik, yang akhirnya desahan ringan dan hembusan nafas tertahan bersamaan dia keluarkan.
Bukan lagu lama jika Aruna harus kembali di tinggal sendiri. Aryo yang selalu mendadak pergi sibuk dengan urusan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya, mengunjungi proyeknya di Surabaya, yang katanya tidak bisa diwakilkan, karena ini merupakan proyek besar yang tidak sembarang orang patut Aryo percayai.
Cuaca sore yang cerah, tidak hujan, tidak mendung, tidak juga matahari dan langit pun masih menyisakan hawa panas walau penampakannya terlihat teduh. Aruna menyisir jalanan, tugasnya hari ini sudah selesai, dia bisa pulang setelah pekerjaan di toko rampung dia kerjakan. Mungkin olahraga kaki hingga perempatan jalan akan lebih menyenangkan, mengulur waktu karena tak ada siapapun yang menunggunya di rumah.
Bukan hanya dirinya, ternyata banyak di antara mereka yang menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Mengejar ketertinggalan yang tidak bisa mereka abaikan, mengharap minta dikasihani, menengadah minta diberi, semuanya harus berjuang, melawan keras dan getirnya kehidupan di Ibu Kota.
Jarak beberapa meter, seorang wanita berjalan sempoyongan, tangannya berpegang kuat pada besi taman di sepanjang trotoar. Beberapa kali mulutnya dikunci, menghentikan suara yang pasti menarik perhatian orang jika mereka mendengarnya.
"Mbak baik-baik saja?"
Aruna menopang tubuh si wanita itu yang hampir oleng menyentuh tanah.
"Duduk disini dulu Mbak." Di tuntun pada kursi yang tersedia di halte bis.
"Terima kasih."
"Mbak mau kemana?"
"Saya mau ke..." Jawabannya mengambang, menahan pergolakan perut yang mendorong ingin keluar.
"Sepertinya Mbak sakit, saya antar ke Dokter ya?"
Wanita itu menggeleng, mengusap keringat dingin yang menghiasi dahinya yang berponi,"Tidak usah, saya tidak apa-apa... saya hanya mual dan pusing, mungkin karena saya sedang mengandung."
Aruna mengusap punggung si wanita itu, berharap bisa sedikit meredam rasa mual walau dia sendiri tidak memiliki pengalaman dalam hal itu,"Mungkin ada seseorang yang bisa saya hubungi, siapa tahu saudara atau suami Mbak bisa jemput kesini, wajah Mbak pucat sekali, saya takut Mbak kenapa-kenapa di jalan."
Perempuan itu menoleh sekilas, kemudian memperbaiki rambutnya yang kusut tertiup angin,"Tidak perlu saya sudah memesan taxi."
"Tapi apa Mbak yakin..."
Wanita itu beringsut bangun,"Sepertinya itu taxi saya, saya harus segera pergi....terima kasih bantuannya." Mengambil langkah seribu wanita itu bergegas pergi.
Aruna tertegun, wanita itu sangat terburu-buru hingga jalan yang di pijak tak sempat dia perhatikan.
"Hati-hati Mbak." Seru Aruna saat wanita itu hampir jatuh karena menginjak kerikil berukuran besar.
Aruna menggeleng, wanita itu sangat sembrono. Namun dia wanita yang cantik, tubuh yang bagus dan penampilan yang menarik. Mengandung buah hati yang tidak sembarang wanita bisa mudah mendapatkannya. Alangkah sempurnanya hidup wanita itu, bisa mendapatkan anugerah terindah yang Tuhan percayakan kepadanya.
Memperhatikan sekelilingnya beberapa saat, Aruna kembali beranjak, hari sudah beranjak senja, sudah tibanya untuk dia pulang. Namun kilatan mata sebelah kiri menangkap sebuah benda yang tergeletak.
Aruna meraihnya, amplop putih bertinta biru yang menuliskan nama sebuah klinik kandungan Ibu dan Anak.
Di keluarkannya foto hitam bergambar buram, setitik kehidupan yang tumbuh pada sebuah janin yang berbentuk lingkaran. Wanita itu mengabaikan barang ini, melupakan benda yang begitu berarti bila Aruna mendapatkannya. Senyuman getir menyembul begitu saja, Hah.... sayangnya.
Jeritan ponsel membangunkannya dari belenggu hati yang tengah mengadu. Berderet dua belas nomor yang tertera tanpa nama.
"Halo..."
"Halo.... lagi apa sendirian?"
Kening Aruna berkerut,"Ini siapa?"
"Kamu tidak mengenal suaraku?"
Aruna kembali berpikir, ingin menebak tadi takut keliru.
"Baru tadi kita bertemu kamu sudah melupakan suaraku?"
"Nuno?"
Terdengar kekehan kecil, dan Aruna pun ikut tersenyum.
"Wanita cantik dilarang bengong, apalagi duduk sendirian di tempat umum."
Aruna berjinjit, menyisir sekitar, menengok ke kanan dan ke kiri,"Kamu ada di sini...dimana?"
Bunyi klakson yang keras berhasil membuat jantungnya mengelepar hebat, mobil yang semula tidak ada, tiba-tiba maju dan berhenti di depannya, terparkir menggantikan posisi taxi yang dipesan wanita hamil tadi.
Aruna menelisik kaca mobil yang perlahan turun, melihat si pengemudi berkaca mata hitam yang melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Mau ikut ke mobilku?"
"Kenapa harus ikut?"
"Aku mengajakmu."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena aku mau pulang."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak usah."
"Aku memaksa."
Keduanya terdiam, masih dalam posisi yang sama, memegang ponsel yang direkatkan di telinga, seolah jarak yang dekat masih kurang mampu menangkap suara mereka yang sangat ingin bersua.
Nuno membuka kaca mata dan menatapnya penuh harap, sedangkan Aruna masih bergeming, menimang tawaran yang sepertinya sayang untuk dilewatkan.
"Aku bukan sopir ugal-ugalan."
Pernyataan Nuno membuat Aruna tergelak,"Baiklah."
Disegerakannya langkah, menerima tawaran Nuno yang sudah berbaik hati memberikannya tumpangan gratis.
Dengan sigap Nuno turun, memutari mobil membantu Aruna membukakan pintu seraya mengulas senyum kemenangan,"Silahkan Nona Aruna."
"Terima kasih Tuan Nuno." Balasnya dengan tersenyum simpul.
Penuh semangat Nuno mengemudi, memilih laju santai demi kenyamanan Aruna yang duduk cantik disampingnya.
"Kita mau kemana?"
Aruna menoleh, pertanyaan sarkas Nuno mematik hatinya kembali bertanya,"Nganterin aku pulang kan?"
"Itu nanti." Jawabnya nyeleneh.
"Maksudnya?"
"Kamu tidak ingin Jalan-jalan denganku? aku baru beberapa hari tinggal disini."
"Ayah Bunda mu ikut pindah juga?"
Nuno melirik sekilas, fokusnya masih dengan jalanan yang harus dia kendalikan agar tidak melewati jalur.
"Kamu masih ingat dengan Ayah Bunda ku?"
Tanya Nuno ingin tahu. Aruna belum mengetahui bagaimana kehidupan keluarganya pada waktu itu. Dia hanya tahu kalau Nuno kecil hanya memiliki satu Bunda dan satu Ayah, Bunda Arini dan Ayah Radit. Ibu kandung dan Papah sambungnya yang dulu tinggal di Surabaya bersama dengan adik kembarnya Nakesya dan Naresya.
"Tentu saja.... bagaimana kabar mereka?"
"Alhamdulilah sehat, tapi sekarang Bunda dan Ayah tinggal di Singapura."
"Jauh sekali."
"Setelah adik ku lulus SMA, Bunda menyusul Ayah ke Singapura. Kebetulan Ayah ada kerja sama dengan salah satu Rumah Sakit yang ada di Singapura, jadi akhirnya mereka stay di sana sementara waktu."
"Jino?" Aruna masih belum mengerti, penjelasan Nuno membuatnya sedikit bingung, bukannya Jino ada di Indonesia selama ini.
Nuno terkekeh,"Jino, dia adik ku dari Papah dan Mama sambung ku yang ada di Jakarta."
"Oh...." Sekarang Aruna baru paham, bahwasanya Nuno memiliki dua pasang orang tua dan adik dari Ayah dan Ibu yang berbeda.
Matanya beralih pada jalan aspal yang sangat pekat. Lagi-lagi Aruna merintih, kenapa kehidupannya tidak seberuntung orang yang ada di sekitarnya, memiliki keluarga utuh dan saling menyayangi.
"Arun..."
Aruna tersentak,"Ya?"
"Kalau kamu sendiri gimana.... bagaimana kabar Bude mu?"
Aruna diam sesaat, mengingat orang tua satu-satunya yang sudah lama tiada,"Bude sudah meninggal satu tahun yang lalu." Ucapnya pelan, menyembunyikan rasa sedih yang tak ingin dia tunjukkan.
"Maaf aku tidak bermaksud buat kamu merasa sedih."
Aruna tersenyum tipis,"Tidak apa-apa." Menyembunyikan matanya yang perih bila nama Bude kembali di sebut. Ditengoknya kaca samping, menghapus genangan air yang berkumpul di bagian sudut mata.
Tapi ada sesuatu yang membuatnya tertegun.
"Jadi sekarang kamu tinggal dengan siapa?"
Telinganya mendadak tuli, Aruna meraba kaca yang menjadi penghalang dirinya dengan dunia luar.
Deg... Deg....
Lampu berubah hijau, laju kendaraan pun kembali ramai. Terpaksa Aruna memutar kepala, melihat seorang wanita yang di giring masuk ke dalam mobil yang terparkir di bahu jalan.
"Arun..."
Jarak yang sudah tak dapat dijangkau, tak segera mengusik Aruna dengan pikirannya yang berkecamuk.
"Run, kamu lihat apa sih?"
Sentuhan di tangannya yang menegang membuat dia tersentak, sadar dengan keberadaan Nuno yang sudah dia abaikan.
"Kamu kenapa?"
Aruna menggeleng,"No, aku turun di depan sana."
"Loh kenapa?"
"Aku lupa sesuatu."
"Aku bisa mengantarmu."
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Tapi..."
"No..."
Wajah Aruna mengiba, mengusik kata tanya dalam diri Nuno, sikap yang sesaat bisa berubah hanya dalam hitungan detik saja.
Saat mobil sudah berhenti, Aruna segera membuka pintu,"Terima kasih, maaf aku sudah merepotkan mu... lain waktu aku akan mengantarmu jalan-jalan."
"Hati-hati Run."
Tanpa menoleh lagi, Aruna melangkah tergesa, menghentikan sebuah taxi yang melintas setelah dua meter menjauh dari mobilnya Nuno.
*Ada apa dengan Aruna....
🥀
🥀
🥀
_ Bersambung* _
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...