NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Anjing Menggigit Anjing

Rayhan pulang menjelang subuh.

Kemejanya kusut. Buku jarinya memerah. Di wajahnya tidak ada rasa bersalah, hanya sisa marah yang belum sepenuhnya padam. Udara dingin dari luar ikut masuk saat ia membuka pintu apartemen, membawa bau rokok tipis yang tidak biasa menempel padanya.

Keira duduk di sofa ruang tengah, selimut tipis menutup lutut. Ia tidak bertanya ke mana Rayhan pergi. Ia sudah tahu.

Rayhan berhenti di depan pintu. "Kamu belum tidur."

"Menunggumu membuat berita."

"Tidak ada berita."

"Berarti kamu cukup rapi."

Rayhan menatapnya lama, lalu berjalan mendekat. "Aku menghapus kontaknya dari ponselmu."

"Kamu membuka ponselku?"

"Alarmmu berbunyi."

"Dan jarimu tersesat sampai WhatsApp?"

Rayhan tidak membela diri. "Aku tidak suka dia menghubungimu."

"Denny?"

"Dia tidak akan menghubungimu lagi."

Ada memar kecil di tangan Rayhan, kulit pecah di tulang buku jari. Keira tahu Denny pasti lebih buruk. Sangat buruk. Namun Rayhan berdiri di depannya seperti anak kecil yang menunggu ditanya apakah ia menang berkelahi.

"Apa kamu bangga?" tanya Keira.

"Dia menggoda perempuan yang tinggal denganku."

"Itu bukan alasan hukum."

"Aku tidak sedang bicara hukum."

"Justru itu masalahnya."

Rayhan menegang. Kemarahan di matanya belum hilang, tetapi ia menahannya. Mungkin karena ia ingat malam London. Mungkin karena Keira tidak mundur satu langkah pun.

Keira berdiri, mengambil kotak P3K, lalu duduk kembali.

"Tangan."

Rayhan membeku. "Kamu mau merawatku?"

"Aku tidak mau noda darah di sofa."

Rayhan langsung duduk, terlalu cepat untuk orang yang baru saja berusaha terlihat dingin. Saat Keira membersihkan luka di tangannya, sudut bibirnya nyaris tidak bisa turun.

"Kamu senang sekali?" tanya Keira.

"Kamu yang menyuruhku memberi tangan."

"Untuk diobati."

"Tetap hadiah."

Keira menekan kapas sedikit lebih keras. Rayhan meringis, tetapi tidak menarik tangan.

"Denny masih hidup?" tanya Keira.

"Tentu."

"Rayhan."

"Aku tidak membunuh orang karena pesan WhatsApp." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan, "Aku hanya ingin dia mengerti bahwa ada batas."

"Batas itu milikku untuk ditentukan."

Kalimat itu membuat Rayhan diam. Keira selesai membalut lukanya. Karena rencananya berjalan, karena Denny sudah masuk perangkap, karena Rayhan terlihat terlalu mudah dibaca, ia mencondongkan tubuh dan mencium pipi Rayhan sekilas.

Rayhan benar-benar diam.

Lalu wajahnya berubah seperti pria yang baru diberi seluruh kota.

"Kei."

"Jangan berpikir terlalu banyak."

"Sudah terlambat."

"Itu hanya karena kamu pulang tanpa masuk berita."

"Aku bisa pulang tanpa masuk berita setiap hari kalau hadiahnya begini."

Keira menatapnya datar. "Jangan menawar dengan kekerasan."

Rayhan mengangkat tangan yang sudah diperban. "Baik. Aku dengar."

Keesokan harinya, kabar datang dari jalur Kevin.

Denny Kurniawan masuk rumah sakit dengan gegar otak ringan, tulang rusuk retak, dan beberapa luka memar serius. Keluarga Kurniawan berusaha menekan kabar, tetapi bisnis mereka mulai digerogoti Hartono Group dalam satu malam. Proyek pergudangan yang hampir ditandatangani batal. Dua bank mendadak meminta klarifikasi risiko. Investor yang kemarin masih tersenyum mulai tidak mengangkat telepon.

Keira membaca laporan itu di ruang kerja apartemen. Di layar laptop, ada nama-nama perusahaan yang mundur satu per satu.

Rayhan tidak pernah bertanya apakah ia boleh menghancurkan bisnis Denny.

Ia hanya melakukannya.

Dua minggu kemudian, keadaan memburuk.

Keira menerima folder dari Kevin. Bukan tentang Hartono Group, melainkan tentang hubungan Denny dengan perempuan simpanan Brandon Oei. Foto dari lift apartemen. Rekaman CCTV parkiran. Tangkapan layar chat. Semua cukup jelas untuk menusuk harga diri Brandon yang sudah rapuh sejak Oei Group jatuh.

Kevin menelepon.

"Kamu yakin mau kirim ini ke Brandon?"

"Ya."

"Keira, Brandon sedang tidak stabil. Oei Group jatuh, keluarganya menyalahkan dia. Kalau dia tahu Denny tidur dengan perempuan simpanannya, dia bisa melakukan hal bodoh."

"Mereka akan saling menggigit."

Kevin diam.

"Aku tidak menyuruh siapa pun membunuh," kata Keira. "Aku hanya mengirim kebenaran ke orang yang paling tidak bisa menerimanya."

"Itu kalimat yang sangat dingin."

"Kebenaran memang jarang hangat."

"Safira tidak akan bangun hanya karena mereka jatuh."

Jari Keira berhenti di atas touchpad.

Di ruangan, suara AC mendadak terdengar terlalu jelas. Kevin tidak sedang menuduh. Justru karena ia tidak menuduh, kalimat itu masuk lebih dalam.

"Aku tahu," jawab Keira akhirnya. "Tapi mereka tidur nyenyak delapan tahun. Itu juga tidak membangunkan Fira."

Kevin menghela napas. "Aku akan tetap kirim jalur aman. Tidak ada jejak ke kamu."

"Terima kasih."

"Aku melakukan ini untuk Fira."

"Aku juga."

Malam itu, paket anonim masuk ke ponsel Brandon. Foto. Video. Rekaman pesan Denny. Semua cukup jelas untuk menghancurkan sisa harga diri seorang pria yang sudah kehilangan perusahaan.

Brandon tidak langsung percaya. Ia menelepon perempuan itu berkali-kali, tidak dijawab. Ia menelepon Denny, dijawab dengan suara malas dari kamar rumah sakit.

"Lo tidur sama dia?" suara Brandon rendah.

Denny tertawa, mungkin karena obat pereda nyeri, mungkin karena ia terlalu bodoh untuk takut. "Perempuan lo? Yang mana?"

Kalimat itu menjadi bensin.

Pertemuan Brandon dan Denny terjadi di sebuah rumah kosong milik teman mereka di pinggir Jakarta. Tidak ada kamera resmi. Hanya ada dua pria yang sama-sama terbiasa menyakiti orang lebih lemah, kini saling berdiri sebagai musuh.

Menurut laporan polisi kemudian, pertengkaran dimulai dari makian. Brandon menuduh Denny mengkhianati. Denny membalas dengan menyebut Brandon sudah miskin gaya. Mereka saling pukul. Kursi terbalik. Botol pecah. Denny, yang tubuhnya belum pulih, membawa pisau lipat kecil untuk menakut-nakuti. Pisau itu masuk ke tubuh Brandon di area berbahaya.

Brandon panik.

Dalam panik, manusia seperti Brandon tidak mencari ambulans. Ia mencari cara menang.

Ia meraih benda keras dari meja dan memukul Denny. Sekali. Dua kali. Ketiga kali membuat Denny jatuh dan tidak bangun lagi.

Tetangga mendengar suara pecahan kaca dan teriakan. Polisi datang sebelum keluarga mereka sempat membersihkan apa pun.

Keesokan paginya, berita muncul.

Denny Kurniawan tewas.

Brandon Oei ditangkap atas dugaan pembunuhan.

Publik menyebutnya tragedi anak kaya yang lepas kendali. Media bisnis mengaitkan dengan kejatuhan Oei Group dan tekanan keluarga. Akun gosip mengunggah foto lama Brandon dan Denny saat masih sekolah, tersenyum dengan seragam rapi, lalu menulis caption tentang sahabat jadi musuh.

Keluarga Kurniawan mengirim pengacara ke kantor polisi sebelum jenazah Denny selesai diperiksa. Keluarga Oei mengirim pernyataan bahwa Brandon mengalami tekanan psikologis akibat krisis bisnis. Dua keluarga yang dulu bisa menutup berita perundungan Safira dengan telepon dan amplop kini saling membuka aib di depan media.

Seorang mantan teman sekolah mereka mulai bicara di forum anonim. Ia tidak menyebut nama Safira, tetapi menulis tentang geng anak kaya yang dulu sering mengunci siswi baru di toilet dan menyuruh orang lain merekam. Komentar itu segera dihapus, lalu muncul lagi dalam bentuk tangkapan layar.

Keira membaca semuanya dengan tangan dingin.

Tidak ada yang menyebut Safira.

Tidak ada yang menyebut Keira Salim.

Namun Keira membaca setiap komentar. Ada yang kasihan pada keluarga Denny. Ada yang menghina Brandon. Ada yang menyebut mereka korban pergaulan. Keira menutup aplikasi saat melihat kata korban dipakai untuk dua nama itu.

Malam itu ia pergi ke rumah perawatan tanpa memberi tahu Rayhan. Di kamar Safira, lampu redup menyentuh wajah Fira yang tenang. Keira duduk di samping ranjang dan membacakan berita dengan suara datar, hanya bagian fakta, tanpa sensasi.

"Denny sudah tidak bisa menyakiti siapa pun lagi," katanya.

Monitor tetap berbunyi stabil.

Tidak ada kemenangan yang terdengar seperti ini.

Keira menunggu satu gerakan kecil, satu perubahan napas, satu tanda mustahil bahwa dunia akhirnya sedikit adil. Tidak ada. Hanya mesin, selimut putih, dan tangan Safira yang tetap diam di bawah jarinya.

"Aku tahu," bisik Keira. "Ini tidak cukup."

Saat kembali ke apartemen, foto Safira masih berada di meja samping laptopnya, wajah damai dalam tidur yang terlalu panjang.

Rayhan masuk membawa mangkuk kecil. "Aku buat bubur."

Keira menatapnya.

"Jangan lihat begitu. Steven yang suruh resepnya."

Bubur itu terlalu kental dan topping-nya tidak seimbang, tetapi Rayhan menaruhnya dengan hati-hati seperti sedang mempersembahkan kontrak miliaran. Ia tidak tahu bahwa di layar laptop Keira baru saja ada berita kematian. Atau mungkin ia tahu dan memilih tidak bertanya.

Ponsel Keira bergetar.

Kevin mengirim pesan.

Tiga target sudah jatuh. Setelah Vanessa selesai, kamu akan pergi dari Jakarta?

Keira menatap pesan itu lama.

Di depannya, Rayhan menyodorkan sendok. "Coba sedikit. Kalau tidak enak, aku pecat Steven dari posisi penasihat dapur."

"Steven bukan pegawaimu untuk urusan dapur."

"Semua orang bisa jadi pegawaiku kalau situasi menuntut."

Keira hampir tersenyum, tetapi ponselnya kembali menyala.

Karena Rayhan?

Pertanyaan Kevin tinggal di ruangan seperti asap tipis.

Untuk pertama kalinya, Keira tidak langsung menjawab. Ia mengetik lalu menghapus. Mengetik lagi.

Belum tahu.

Ia mematikan layar sebelum Kevin membalas.

Malamnya, saat Rayhan tidur di sofa karena mengaku ingin menunggu Keira selesai bekerja, Keira mengambil foto Safira dari meja. Ujung jarinya mengusap permukaan layar yang bersih. Di foto itu, Safira tampak sangat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang masa mudanya dicuri.

"Tinggal satu lagi, Kak," bisiknya.

Vanessa Tanujaya.

Nama terakhir di daftar itu tidak boleh jatuh terlalu cepat.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!