NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Tetapi pelukan Keira tetap tinggal.

Dua hari setelah Pak Dharma masuk rumah sakit, Ong Corporation menerima surat pemutusan kerja sama dari tiga anak perusahaan Lim Group.

Pagi itu, ruang direksi Ong mendadak seperti kapal bocor. Telepon berdering tanpa henti. Kepala legal meminta rapat darurat. Finance melaporkan fasilitas kredit yang terancam ditinjau ulang karena kontrak dengan Lim Group menjadi jaminan tidak langsung. Ong Gunawan memukul meja, sementara Kevin berdiri di depannya dengan wajah pucat.

"Apa yang kamu lakukan lagi?" bentak ayahnya.

"Saya tidak melakukan apa-apa!"

"Lim Group tidak memutus kontrak tanpa alasan."

Kevin menggenggam ponsel. Ia tahu alasan itu punya nama.

Keira.

Ia keluar dari ruang rapat dan menelepon tanpa berpikir panjang.

Di Villa Awan, Keira sedang duduk di ruang kerja kecil, membaca draft audit proyek yang dikirim Arief. Arief bekerja cepat, rapi, dan jauh lebih profesional daripada Pak Dharma. Itu kabar baik. Kabar buruknya, Richard bekerja lebih cepat dari rencana Keira.

Ponselnya bergetar.

Kevin.

Keira menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.

"Ada apa?"

"Ini semua gara-gara kamu, kan?" suara Kevin pecah oleh marah. "Kamu lapor apa ke Om Lim sampai dia menghentikan kerja sama dengan Ong?"

Keira melirik ke arah pintu. Richard ada di ruang utama bersama Jason, membahas laporan legal Pak Dharma. Ia sengaja menyalakan speaker ponsel, tetapi volumenya rendah.

"Kevin, aku tidak mengerti."

"Jangan pura-pura bodoh! Kamu pikir karena sekarang tinggal di rumah dia, kamu bisa hancurkan keluarga saya?"

Pintu ruang kerja kecil terbuka.

Richard berdiri di sana.

Keira menatapnya, lalu menunduk. "Aku tidak pernah minta Om menghancurkan Ong."

Kevin tertawa kasar. "Om? Kamu masih panggil dia Om? Keira, jangan sok suci. Semua orang juga bisa menebak kenapa dia melindungi kamu."

Udara di sekitar Richard berubah.

Keira menekan layar, mematikan speaker, lalu berkata lirih, "Jangan bicara sembarangan."

"Kalau kamu masih punya sedikit rasa malu, hentikan dia. Saham kamu juga ada di Ong. Kalau perusahaan ini jatuh, kamu juga rugi."

Itu benar.

Keira menutup mata sebentar. Dalam mimpi profetik, saham kecil di Ong menjadi salah satu alat yang dipakai Kevin untuk mengikatnya. Di hidup ini, saham itu harus ia ambil kembali dengan nilai maksimal, bukan dihancurkan bersama kapal.

"Aku akan bicara," katanya.

"Pastikan. Kalau tidak, jangan salahkan saya kalau keluarga Tan tahu apa yang kamu lakukan di Villa Awan."

Telepon terputus.

Keira meletakkan ponsel pelan. "Om mendengar?"

"Cukup."

"Jangan hancurkan Ong Corporation sekarang."

Richard tidak menjawab.

Keira berdiri. "Saham saya ada di sana. Kalau Ong jatuh terlalu cepat, Kevin hanya akan menjual narasi bahwa saya menghancurkan tunangan sendiri demi pria lain. Saya butuh dia tetap berdiri sampai acara pertunangan formal."

"Kamu masih ingin acara itu."

"Saya butuh panggung itu."

"Kamu bicara seolah hidupmu rapat pemegang saham."

"Kadang memang begitu."

Richard menatapnya tajam. "Dan tubuhmu?"

Keira terdiam.

"Reputasimu? Rasa takutmu? Semua itu juga bagian dari strategi?"

Kalimat itu mengenai tempat yang belum sempat ia lindungi. Keira duduk kembali, tiba-tiba lelah.

"Kalau saya tidak menjadikannya strategi, semuanya hanya luka, Om."

Richard tidak langsung bicara. Ia berjalan mendekat, berlutut di depan kursi Keira.

Keira kaget. "Om?"

"Kakimu kenapa?"

Baru saat itu Keira sadar ia menekan pergelangan kaki kiri sejak tadi. Kemarin saat turun dari mobil, ia hampir tersandung karena tubuh masih lemah. Tidak parah. Hanya pegal.

"Tidak apa-apa."

"Jawaban itu selalu berarti ada apa-apa."

Keira ingin menarik kaki, tetapi Richard sudah melihat cara ia menahan beban sejak pagi. Di Lim Group, tidak ada laporan kecil yang lolos dari matanya. Rupanya di Villa Awan pun tubuh Keira menjadi laporan yang ia baca tanpa diminta.

Richard mengangkat kaki Keira ke atas lututnya. Gerakannya natural, seolah berlutut di depan perempuan muda di ruang kerja bukan sesuatu yang bisa membuat dunia miring. Tangannya memijat perlahan di sekitar pergelangan kaki, mencari bagian yang bengkak.

Keira menggigit bibir.

"Om, Jason bisa masuk."

"Biarkan."

"Ini kantor rumah."

"Ini rumahmu."

Jari Richard menekan titik yang sakit. Keira meringis kecil. Ia langsung melonggarkan tekanan.

"Sakit di sini?"

"Sedikit."

"Kompres nanti."

"Om belum jawab soal Ong."

Richard tetap memijat. "Aku akan menunda."

Keira menghembuskan napas lega.

"Menunda bukan membatalkan," tambah Richard.

"Saya tahu."

"Kevin tidak akan memakai sahammu untuk menyentuhmu lagi."

"Dia belum menyentuh saya."

Tangan Richard berhenti. Ia mengangkat mata. "Jangan ucapkan seolah itu kemungkinan."

Keira menatapnya.

Di bawah meja, jari mereka bersentuhan. Awalnya karena Richard sedang menurunkan kaki Keira. Lalu Keira tidak menarik tangan. Richard juga tidak. Ujung jari mereka saling menekan ringan, tersembunyi oleh bayangan meja, seperti rahasia kecil yang lebih berbahaya daripada dokumen apa pun di folder audit.

"Kalau Ong masih berdiri," kata Richard pelan, "itu karena kamu memintanya."

"Untuk sementara."

"Aku akan ingat kata itu."

"Om selalu mengingat semuanya?"

"Hal tentang kamu, iya."

Keira pura-pura menunduk karena malu. Padahal ia sedang menahan sesuatu yang lebih sulit. Pernyataan Richard tidak keras, tidak manis berlebihan, tetapi justru karena itu terasa seperti tanda tangan di atas kontrak yang tidak pernah ia ajukan.

"Kalau saya salah hitung?" tanyanya.

"Aku koreksi."

"Kalau saya sengaja salah?"

Jari Richard menekan ujung jarinya. "Aku tetap koreksi."

Keira tersenyum kecil. "Om galak."

"Kamu perlu."

Keira tidak membantah. Ia memang perlu banyak hal yang dulu tidak pernah berani ia minta: orang yang membaca sakitnya sebelum ia mengeluh, orang yang menghentikan perang ketika ia terlalu lelah menghitung, orang yang cukup kuat untuk menunda kehancuran musuh hanya karena ia berkata belum waktunya.

Masalahnya, kebutuhan seperti itu mudah berubah menjadi ketergantungan. Dan Keira belum tahu apakah ia boleh bergantung pada Richard tanpa kehilangan kendali.

Pintu terbuka.

Jason masuk membawa tablet. "Boss, legal sudah..."

Kalimatnya terputus.

Ia melihat Richard berlutut di depan Keira, satu tangan masih memegang pergelangan kaki Keira, tangan lain terlalu dekat dengan jari perempuan itu. Keira duduk dengan wajah merah, tetapi tidak menarik diri.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja pada Richard, Jason terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.

"Saya... kembali nanti."

Richard menoleh. "Bicara."

Jason menutup mulut sebentar, lalu memaksa wajah profesionalnya kembali. "Ong Corporation meminta pertemuan darurat. Pak Ong menawarkan renegosiasi kontrak."

"Tolak."

"Baik."

"Tapi jangan lanjutkan pemutusan baru sampai aku perintahkan."

Jason melirik Keira sepersekian detik. "Baik, Boss."

Ia keluar dan menutup pintu.

Di lorong, Jason berhenti. Ia menatap tablet yang masih menyala, lalu menekan pangkal hidungnya.

"Ini bukan hubungan paman-keponakan," gumamnya.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!